
Arashya dan Eric masuk kembali ke dalam rumah tinggal mereka di tempat terkutuk itu. Ketika mereka masuk, ternyata semua orang telah menunggu kedatangan mereka. Eric dan Arashya menjadi sedikit tegang saat Jevan memberikan tatapan mematikan pada keduanya.
“Kemana aja kalian?” tanya Jevan mengintimidasi. Sementara yang lain menganggukkan kepalanya setempat, menunggu jawaban mereka berdua.
Arashya menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menunjukkan cengiran khasnya. “Tadi gue sama Eric keluar buat explore bentar. Aneh banget ini tempat,” balas Arashya seadanya.
Narendra mengernyit, “kok pada ga bilang sama kita? Tahu gitu kan kita bisa ikut,” ucapnya tak terima.
Eric merotasikan matanya, lalu berdecak kesal. “Gue udah bilang tadi mau keluar, terus kebetulan Arashya ikutan. Lu pada aja sih yang ga dengar karena tadi sibuk beres-beres.” Jawabnya menjelaskan.
Jean menghela nafasnya, “oke, enough. Sekarang kita pikirin apa yang bakal terjadi selanjutnya. Liburan kita ga bakal tenang disini.” Jean menengahi.
Yohan setuju dengan ucapan Jean barusan. “Jean benar. Oh ya, tadi Arashya sempat bilang kalau tempat ini aneh, kenapa?” tanya Yohan yang membuat perhatian para pemuda lainnya beralih ke Arashya.
“Katanya, hari Selasa bakal ada perayaan disini. Warga tempat ini juga sekarang lagi sibuk siap-siap buat segala keperluan acaranya di lapangan sana,” sela Eric dan semuanya dibuat kebingungan.
“Perayaan apa?” Jevan bertanya sambil menaikkan salah satu alisnya.
“Entahlah, sebenarnya gue sama Eric juga ga terlalu tahu pasti. Tapi, tadi kita dapat informasi kalau diperayaan itu mereka buat api unggun gitu. Dan ya, dilaksanakan tiap bulan purnama yang terjadi di hari Selasa,” jelas Arashya mengingat penjelasan dari gadis aneh yang sempat mereka berdua temui tadi.
“So? Kita di undang ke sini cuma untuk ikut di perayaan itu gitu?!” tanya Narendra tidak santai, kemudian dibalas anggukan oleh Eric dan Arashya.
“Kayak perayaan malam tahun baru dekat Gereja ga sih? Biasanya kita ikutan tuh buat lihat orang nyalain api untuk api unggun. Terus akhirnya kita lanjut main kembang api,” tanya Yohan yang membuat orang-orang dalam ruangan itu terdiam sejenak.
“Gue rasa ada yang ga beres. Banyak pertanyaan yang muncul. Mulai dari kenapa ada perayaan api unggun? Dan, kenapa harus disaat bulan purnama yang terjadi di hari Selasa,” ucap Eric sambil merapikan kerah kemejanya dan berpikir.
Lagi-lagi mereka semua diam dan tak ada yang melanjutkan obrolan itu. Dan sampai pada saat mereka dibuat terkejut karena ada ketukan dari pintu rumah tinggal mereka.
TOK! TOK! TOK!
“Pintu diketuk 3 kali dalam satu waktu. Berarti tipe orang yang disiplin, dan orang yang canggung. Itu pasti salah satu warga disini,” ucap Eric memperhatikan Jevan yang berjalan untuk membukakan pintu.
Jevan membuka pintu dengan pelan dan dibuat terkejut dengan kedatangan 2 orang pria dengan jubah hitam menjuntai tak lupa dengan tongkat kayu panjang di masing-masing tangan mereka.
“Permisi,” ucap salah satu dari pria berjubah itu.
__ADS_1
Jevan buru-buru menetralkan ekspresinya, “what’s going on? Hm, maksud saya apa yang terjadi? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Jevan agak gugup karena takut melihat tongkat kayu yang mereka pegang.
“Pimpinan kami mengundang seluruh tamu untuk hadir di jamuan makan malam hari ini di tanah lapang. Sudah tradisi kami untuk menjamu tamu dalam makan malam seperti ini,” jelas pria lainnya yang diangguki oleh Jevan.
“Baiklah, jam berapa kami harus ada disana?” tanya Jevan.
“Sekitar pukul 7 malam, bersiaplah.” Kata pria yang mengetuk pintu itu.
“Saya dan yang lain pasti akan datang, terima kasih.” Ucap Jevan sebelum kembali menutup pintu dan melihat 2 orang itu berjalan menjauh.
“Kenapa?” tanya Narendra tiba-tiba setelah Jevan menutup pintu dan menampilkan wajahnya yang pucat.
“Kita dapat undangan buat datang ke jamuan makan malam nanti jam 7, kita harus siap-siap sekarang!” Perintah Jevan yang segera dilaksanakan oleh yang lainnya.
Mereka semua segera bersiap-siap sesuai arahan dari Jevan dan menunggu jam menunjukkan pukul 7 malam.
Setelahnya mereka bergegas untuk pergi ke tanah lapang dan mendapati tempat itu sudah ramai.
“Ternyata yang gue sama Eric lihat tadi itu lagi siapin jamuan makan malam, ya… Tapi, balok-balok kayunya?” ucap Arashya pelan dan melangkah mencari tempat kosong untuk duduk.
“Banyak juga tamu disini,” bisik Narendra menyenggol lengan Yohan disebelahnya.
Mereka berenam bisa lihat kalau orang-orang yang merupakan tamu undangan itu saling berbisik satu sama lain. Mereka membicarakan dan menanyakan pimpinan tempat ini yang belum kunjung menampakkan diri.
“Pimpinan disini itu apa? Kayak kepala desa gitu?” tanya Arashya sambil membenarkan kemejanya yang agak kusut.
“Ah ngga, ini kan kota. Kalau kepala desa ya mimpinnya desa, sih,” celetuk Yohan tak setuju.
“Terus apa? Kepala suku?” sela Jean diujung sana.
“Ya kali, Kak. Kepala suku malah jatuhnya primitif,” balas Eric yang kesal dengan perdebatan mereka.
“Walikota kali karena mimpinnya di kota. Berisik amat dah, tinggal tenang setelahnya lihat apa yang terjadi. Nanti pasti pertanyaan kita terjawab,” jawab Jevan meninggikan nada bicaranya dan membuat kelima temannya itu langsung bungkam.
Setelah agak lama mereka menunggu, tiba-tiba ada seorang pemuda lainnya datang. Pakaiannya begitu rapi dan modis. Dia menggunakan kaos hitam dilapisi jas, kemudian menggunakan jeans hitam yang sedikit robek-robek sebagai bawahannya.
__ADS_1
“Kalian udah kasih anak itu minum?” tanya pria itu membuka suara dan dibalas anggukan oleh lawan bicaranya.
Suara pemuda itu sontak membuat anak Boyz beserta Jean dan Yohan menaruh atensi penuh padanya.
Pemuda itu berjalan mendekat ke arah mereka semua yang tertegun memandangi kedatangannya dan duduk di kursi yang lebih tinggi daripada semua kursi yang ada ditengah lapang.
Pemuda itu duduk, lalu membuka kacamata hitam yang sedari tadi dia kenakan.
“Evening, guys. Enjoy your time?” tanyanya dalam bahasa Inggris yang fasih sembari menatap satu persatu tamu undangannya sampai tepat pada Eric dan kawan-kawannya, dia malah menyeringai.
“Welcome to Saranjana City!” Sambutnya dengan pandangan yang masih mengarah pada mereka. Itu membuat tamu undangan lainnya juga menatap aneh pada mereka.
“Sial, kenapa harus dia?” umpat Jean ketika menyadari siapa pemuda yang tengah menatap mereka.
“Lu kenal, Kak?” tanya Eric kaget karena dialah yang paling jelas dalam mendengar umpatan Jean tadi.
“Beberapa kali gue pernah ketemu dia di Polandia, dan posisinya selalu ga menguntungkan buat gue,” balas Jean membuang wajahnya karena dia malah ditatap terus oleh pemuda itu.
“Bukannya itu Kak Harshaya Pramudya? Kakak kelas kita di sekolah..” Arashya menimbrung dalam pembicaraan keduanya dan Jean terkejut mendengarnya.
“Serius dia sekolah di tempat kalian? Gue kira dia sekolah di Polandia, soalnya gue pasti ketemu dia tiap menjelang libur panjang di taman dekat rumah,” lanjut Jean yang sepertinya menjadi tertarik dengan obrolan itu.
“How’s your day, Jean? Udah lama ga ketemu…”kata pemuda itu sambil terkekeh pelan menatap Jean.
“Shut up, Pram! I don’t talk with the freak stranger!” bentak Jean dari seberang sana mengacuhkan pertanyaan Harshaya Pramudya itu.
“You call me stranger, but you know my name,” balasnya tak mau kalah.
“Just name, not at all!”
“No matter what you say!” Harshaya Pramudya ikut berteriak yang membuat suasana jamuan makan malam itu menjadi panas.
“Stop it! Can both of you don’t make some noise?! Just shut up and don’t talk about anything! Gue cuma pengen dinner dengan tenang tanpa keributan!” Eric membentak keduanya dan akhirnya mereka semua bungkam karena takut melihat kemarahan Eric yang mendadak itu.
Acara makan malam mereka pun segera dilaksanakan. Harshaya terus menatap ke arah Eric dambik menunjukkan senyum miringnya.
__ADS_1
“That’s so amazing, Ric! Lu udah buat surprise ke gue karena nunjukkin pengaruh lu terhadap orang lain. I’m still waiting for Tuesday!” —batin Harshaya.