Boyz Chase: Mystery Of Saranjana City

Boyz Chase: Mystery Of Saranjana City
25.Pemuda Yang Dicari?


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang agak sempit pada salah satu rumah yang ada di kota Saranjana ini, tampak seorang pemuda tengah terikat dalam posisi duduk. Keadaannya sangat memprihatinkan. Banyak luka memar dan lebam yang mulai membiru di wajahnya.


Kondisinya sangat lemas, sampai-sampai dia hanya bisa tertunduk. Tangannya diikat ke belakang, tepat di penyangga kursi kayu itu. Kedua kakinya juga diikat. Bahkan mulutnya juga dibekap oleh kain.


Ruangan gelap itu menjadi tempatnya menghabiskan beberapa hari belakangan ini. Ruangan yang pengap dilengkap dengan beberapa balok kayu di dalamnya menjadi pemandangan yang selalu dia lihat ketika memiliki sedikit tenaga untuk mendongak.


Darah segar tampak mengalir dari pelipis sebelah kanannya. Pertanda kalau luka itu baru saja dibuat karena darahnya masih berwarna merah dan belum mengering. Sudut bibir yang berdarah sudah mengering dan tampak menembus kain putih tipis yang diikat dimulutnya.


Dalam diamnya yang cukup lama, tiba-tiba seberkas cahaya terang masuk bersamaan dengan pintu yang dibuka. Sorot cahaya itu tepat mengenai mata pemuda yang disekap itu hingga dia kesulitan untuk melihat siapa yang datang.


Kain yang terikat dimulutnya menjadi penghalang untuk sekedar berteriak. Pemuda itu hanya bisa menatap sosok yang baru masuk itu dengan tatapan lemah. Matanya terus berkedip untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


Jantungnya kembali berdegup kencang kali ini. Langkah kaki itu perlahan mian mendekat ke hadapannya. Jujur, dia sangat takut kejadian tadi setelah jamuan makan berakhir. Sosok yang sangat dia kenal memberikan sebuah bogeman dan mengenai rahangnya yang kini terasa ngilu. Ditambah lagi dengan kehadiran orang lain yang masuk ke ruangan itu.


“Gimana? Suka ga lu disini?” tanya sosok yang baru masuk itu dengan tawanya yang menggema di ruangan kosong itu.


Tangannya terulur untuk mencari dan menghidupkan saklar lampu. Hingga sebuah lampu menyala tepat di atas kepala pemuda yang terduduk di kursi kayu dengan badan yang diikat disana.


“Gue harap lu bisa senang disini, Kak Marka. Karena hanya tinggal menghitung hari untuk lu bisa bebas dari sini,” ucap pemuda itu.


Ternyata pria yang terikat di tengah ruangan gelap itu adalah Marka Adrian yang kerap dipanggil Marka. Pemuda yang selama ini dicari oleh Yohan dan juga yang lainnya karena menghilang secara tiba-tiba.


Dengan sedikit tenaga yang dimiliki, Marka berusaha mendongak untuk menatap ke arah pria yang baru datang itu. Namun, alangkah terkejut dirinya ketika mendapati sosok yang dia kenal menghampirinya.


“Sial. Ternyata orang ini juga ikut terlibat, gue kira dia anak baik!” —umpat Marka dalam hati.


Pemuda itu tertawa keras melihat keterkejutan Marka. Dia terus mendekat dan akhirnya menarik paksa kain yang terikat di mulut Marka, hingga sang empu hampir terjatuh ke depan.


“Bodoh!” seru Marka saat kain itu terlepas.


Pemuda itu menunjukkan senyum miringnya dan menatap remeh pada orang dihadapannya itu.

__ADS_1


“Oh, udah ada tenaga buat maki-maki gue?”


Marka mendengus kesal mendengarnya, “lepasin gue, Harris! Gue ga ada hubungannya sama kalian!” bentaknya.


“Lu bilang ga ada hubungannya? Salah! Tentu ini semua ada hubungannya dengan lu dan juga teman-teman lu!” pekik pemuda yang dipanggil Harris itu sambil menendang kursi tempat duduk Marka hingga dia sedikit oleng.


“Gue ada salah apa sih sama kalian? Lepasin gue, gue mau pulang!” ronta Marka ingin dibebaskan.


“Tunggu sebentar lagi. Nanti juga lu bakal pulang. Tapi, ke rumah Tuhan,” balas Harris sambil terkekeh pelan melihat perubahan drastis ekspresi kakak kelas di depannya itu.


“Kenapa, Kak? Kaget lu?” tanya Harris lagi.


Marka menatap sinis pemuda yang lebih tinggi dihadapannya itu, “lu mau bunuh gue?” tanyanya.


Terdengar dari nada bicaranya tang penuh keterkejutan, ketakutan, dan ketidakpercayaan. Harris hanya tersenyum pelan mendengar pertanyaan yang dilontarkan Marka.


“Kata bunuh itu terasa lebih kasar dan keras, gimana kalau kita ganti dengan kata ‘pengorbanan’?” Harris balik bertanya dan menekankan pada kata ‘pengorbanan’ yang membuat Marka kembali pucat.


Harris berdecih pelan dan mengangkat tangannya yang sedari tadi memegang puntung rokok, lalu berjalan ke belakang Marka.


Setelah pria itu diam dan mulai mendekat, Marka tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Namun, dengan brutalnya pemuda yang bernama Harris itu mengarahkan puntung rokoknya yang masih menyala ke telapak tangan Marka. Selanjutnya, hanya erangan kesakitan Marka yang memenuhi tempat itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam kamar rumah tinggal sementara mereka di kota Saranjana itu, Yohan, Eric, Arashya, dan juga Narendra tidak bisa tertidur. Bahkan untuk sekedar memejamkan mata pun tak bisa. Mereka terus bergerak tak nyaman sembari memikirkan banyak hal di benak masing-masing.


“Kira-kira keadaan Marka sekarang gimana ya?” ucap Yohan yang memandangi plafon rumah tinggal itu.


Narendra yang merebahkan tubuhnya di sebelah Yohan hanya bisa menghela nafas pasrah dan berusaha untuk menenangkan kakak kelasnya itu.


“Besok kita cari Kak Marka ya, Kak. Gue yakin dia baik-baik aja. Sekarang lu istirahat dulu, mata lu udah kaya panda!” kata Narendra yang membuat Yohan memutar bola matanya malas.

__ADS_1


“Lu niat nenangin gue apa gimana? Segala ngejek lagi lu,” ketus Yohan yang membalikkan badannya ke dinding. Sementara Narendra terkekeh pelan melihat respon Yohan.


“Gue jadi khawatir tentang keadaan dia. Lu pada yakin ga sih kalau dia memang ada di Saranjana ini?” tanya Yohan lagi.


Eric mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu tapi tidak dilihat oleh Yohan.


“Kalau menurut gue sih pasti benar, karena petunjuknya memang berakhir dari tempat ini. Kasus kematian Kak Brian bawa kita ke kota Saranjana. Terus disusul kasus kematian Kak Denan bawa kita ke sini, dan ya juga hilangnya Kak Marka pun ke sini,” sahut Eric menanggapi.


“Benar sih. Pada ngerasa aneh ga sih sama kota Saranjana ini, terus sama acara yang katanya bakal diadain di hari Selasa mendatang itu,” tambah Narendra yang membuat Yohan kembali berbalik menatap mereka.


“Yang paling aneh itu eksistensinya si Harshaya yang ada di tempat ini dan ternyata kepala suku, ekhem maksud gue pemimpin di kota ini. I mean kaya kok dia bisa jadi pimpinan disini? Ceritanya gimana,” ucap Yohan yang sepertinya selalu ingin membahas teori tak terpecahkan ini.


“Untuk itu kita bakal dari besok, Kak. Banyak hal mencurigakan disini,” kata Eric yang membuat keduanya kembali terdiam dan berusaha terlelap.


Arashya membaringkan dirinya dan diam tanpa bersuara. Dia sedang mencoba untuk tidur dan masuk ke alam mimpinya. Dia perlu istirahat sekarang untuk mengoptimalkan tubuhnya untuk melakukan pencarian besok.


Sedangkan Eric yang tadi tubuhnya tergeletak disamping Arashya kini malah terbangun dan mondar-mandir sebanyak 5 kali. Dia memikirkan kemana kasus ini akan membawa mereka dan kemana Jevan setan Jean pergi.


Jelas-jelas tadi Jean izin untuk merokok, dan Jevan ingin jalan sebentar menikmati suasana malam di kita Saranjana. Namun, kenapa mereka tak kunjung kembali?


“Mereka kemana sih? Dari tadi ditungguin ga masuk-masuk juga. Apa mereka dalam masalah?” gumam Eric disela-sela kegiatan mondar-mandirnya itu.


Dia kemudian berjalan pelan melangkah menuju pintu keluar. Namun, langkahnya dicegah oleh sebuah suara.


“Mau kemana, Ric?” tanya Narendra menatap Eric.


Yang ditanya menoleh, “mau cek Kak Jean sama Jevan. Mereka diluar dari tadi tapi belum balik. Gue jadi curiga,” balas Eric seadanya dan kembali melanjutkan langkahnya.


“Ya, berdoa aja semoga Jean ga ngajarin Jevan yang aneh-aneh.” Gumam Yohan lirih dan memejamkan matanya.


Ketika ingin meraih gagang pintu dan membukanya, dia urungkan niatnya itu sebab mendengar beberapa suara yang bersahut-sahutan di luar sana. Dia memutuskan untuk mendengarnya dari balik pintu kayu tua itu.

__ADS_1


__ADS_2