
Selama perjalanan dilanjutkan, tidak ada yang mau untuk membuka suara terlebih dahulu. Bahkan sekedar untuk bertanya mereka sekarang ada dimana pun tidak ada. Walaupun sebenarnya mereka memiliki banyak pertanyaan dalam benak masing-masing.
Mobil limosin yang menjemput mereka tadi berjalan tenang di antara padatnya lalu lintas yang ada di pusat kota. Melewati banyak lampu lalu lintas, dan juga beberapa belokan serta tikungan. Mengingat hari ini adalah hari Minggu dan awal libur sekolah, jadi wajar saja kalau banyak orang yang bepergian untuk sekedar jalan-jalan, pergi ke tempat wisata, atau sebagainya.
Mobil yang mereka tumpangi melaju perlahan meninggalkan pusat kota yang ramai itu. Kini perjalanan mereka sudah sampai di tempat sepi, yang di kiri jalan berupa hutan dan tampar tak terlalu lebat, sedangkan di kanan jalan mereka adalah jurang yang agak terjal. Keenamnya merinding melihat pemandangan itu. Sampai pada akhirnya mobil ini memasuki area hutan dan juga sepasang gapura besar berwarna hitam.
Mereka semua membeku di posisi masing-masing menatap keluar jendela mobil yang menampilkan pemandangan yang sedikit horor karena mereka harus pergi ke tempat terpencil yang bahkan mereka tidak benar-benar ketahui asal usulnya.
“Jadi ini Saranjana? Sebuah tempat terpencil yang pintu masuknya berupa gapura besar berwarna hitam yang disebelahnya juga tumbuh sepasang pohon beringin kembar?” tanya Jevan ketika pria supir itu menghentikan mobilnya setelah memasuki areal gapura.
Pria itu menoleh, “benar. Liburan kalian akan menjadi sebuah kejutan yang menarik di tempat ini,” jawabnya.
Mereka semua mengangguk yakin walaupun ada sedikit keraguan dan beranjak keluar dari mobil. Baru saja mereka menginjakkan kaki di tanah itu, tiba-tiba datang sekelompok pria lain dengan membawa tongkat kayu panjang di masing-masing tangan mereka. Ada sekitar 5 orang banyaknya. Kelompok pria itu menatap tajam ke arah Eric dan teman-temannya.
Pria supir tadi tidak ikut keluar bersama mereka. Setelah mereka turun dari mobil, orang itu dengan segera melanjutkan mobilnya lagi untuk keluar dari tempat itu.
“Sial, kita ditinggal.” Umpat Arashya saat melihat mobil limosin berwarna hitam mewah itu mulai menjauh dari pandangan mereka.
“Kalian dari pusat kota? Apakah kalian juga tamu seperti mereka?” tanya salah satu pria yang menodongkan ujung tongkatnya tepat di depan wajah Narendra sambil menunjuk beberapa orang lainnya dengan dagu.
Eric dan Jevan reflek berpaling dan mendapati beberapa orang yang tengah mengemasi barangnya, lalu masuk ke dalam sebuah rumah tinggal.
“Mungkin bisa dibilang begitu,” ucap Jevan pelan.
“Serahkan bukti kalau kalian adalah tamu undangan kami!” seru salah satu pria yang membuat Yohan menggerutu kesal. Dengan cepat dia merogoh sakunya dan mengeluarkan amplop berisikan 6 buah tiket aneh itu.
Para pria dengan tingkat itu menerima amplop Yohan dan memeriksanya. Setelah percaya kalau mereka adalah tamu, salah satu dari mereka mendekat.
“Rumah tinggal kalian semua ada di sebelah sana,” kata pria itu sambil menunjuk sebuah rumah yang lebih cocok disebut sebagai sebuah gubuk dengan tongkat ditangannya.
Mereka menoleh sebentar mengikuti arah yang ditunjukkan dan mengangguk paham. Tanpa basa-basi lagi, mereka bergegas untuk pergi ke rumah tinggal itu.
Dengan segera mereka masuk dan merapikan barang-barang yang mereka bawa di dalam rumah tinggal sementara di tempat terpencil itu.
__ADS_1
“Gila, baru sampai ada udah ditodong tongkat, gimana kelanjutannya coba.” Kata Narendra yang sedikit kesal karena diperlakukan dengan cara tak lazim.
“Gue rasa itu ucapan selamat datang yang emang dilakukan orang-orang sini deh,” celetuk Eric yang membuat Narendra memijat pelipisnya tak habis pikir.
“Sedikit bersyukur, Ren. Setidaknya bukan ditodong tombak atau semacamnya, itu jauh lebih bahaya,” balas Jean yang menaruh ranselnya di salah satu sudut ruangan kamar mereka.
“Iya, Kak Jean benar. Apalagi kalau plot twistnya di ujung tombak dilumuri racun,” sela Jevan yang merenggangkan otot-otor tubuhnya.
“Lu kebanyakan nonton film, Jev.” Yohan menjawab sambil memutar bola matanya malas. Arashya dan Eric yang melihat itu hanya bisa tersenyum meratapi kelakuan teman-temannya yang di luar nalar.
Eric menghela nafas dan sedikit mengusap wajahnya dengan kasar. “Udahan debatnya, kalian istirahat dulu sana. Gue mau lihat-lihat tempat ini dulu,” ucap Eric menengahi dan hendak beranjak karena dia sudah selesai merapikan barang miliknya.
Arashya yang sedang berjongkok untuk menaruh ranselnya mendongak menatap Eric yang mulai melangkahkan kakinya menuju pintu. “Eh, kemana lu, Ric?” tanyanya.
“Keluar bentar mau explore tempat, kali aja nemu petunjuk atau apapun yang berguna buat kasus kita,” jawab Eric singkat dan mengangkat bahunya acuh.
“Eh, gue ikut!” Arashya berseru dan diangguki oleh Eric. Dengan cepat dia menyelesaikan acara merapikan barangnya dan bergegas mengikuti Eric dari belakang.
Kini mereka berdua keluar dari rumah tinggal sederhana itu dan berkeliling di sekitar sambil mengamati kemungkinan hal-hal yang bisa dijadikan untuk kasus yang sepertinya tak berujung ini.
“Gue hampir sama sih kayak pemikiran lu. Lagian gimana warganya ga aneh? Mereka semua pakai jubah yang menjuntai gitu, terus warna hitam juga. Gue jadi mikirnya ini kayak para pemuja setan gitu,” celetuk Eric.
Kebiasaan Eric memang seperti ini. Ketika dia bicara dengan Narendra, sisi misteriusnya akan lebih mendominasi. Sementara, ketika bersama saudara kembarnya dia jadi lebih suka menentang dan banyak tingkah, namun tak banyak bicara. Beda halnya ketika dia bersama Arashya, sisi konyolnya malah mendominasi. Entah itu karena secara alamiah mengikuti pembawaan masing-masing lawan bicara atau memang Eric yang aneh.
“Nah, karena itu juga gue penasaran. Apa yang bakal terjadi di tempat ini, dan kenapa ada banyak orang yang datang? Mereka bilang itu tamu, berarti sudah tentu mereka mendapatkan undangan untuk hadir.” Kata Arashya memperhatikan sekitarnya dengan intens.
Eric mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena berpikir sebentar. “Lu benar, Rash. Kira-kira acara apa atau hal apa yang akan terjadi sampai harus ngundang orang begitu? Aneh juga sih, orang-orang sini pada jalan ke satu tempat. Apa kita coba cek aja ya?” tanya Eric sekaligus mengajak Arashya untuk ikut dengannya.
Dengan segera ajakan itu diangguki oleh Arashya dan mereka berdua menunggu salah satu warga yang akan pergi ke satu tempat seperti warga lainnya. Setelah ada, mereka langsung mengikuti langkah mereka sampai tiba disebuah tanah lapang yang terlihat luas. Melihat perkumpulan warga ada di lapangan itu, keduanya memilih untuk bersembunyi dibalik pohon besar yang kebetulan ada disebelah mereka.
“Mereka ngapain ya, nyusun meja-meja gitu di lapangan? Terus ada beberapa balok kayu sama ranting kayu. Buat apa coba?” tanya Arashya berbisik memperhatikan pergerakan orang-orang dilapangan.
“Kayak perayaan gitu sih jatuhnya, gimana kalau kita balik dulu? Kita tanya salah satu tamu tentang acara ini dan kita harus kembali sebelum mereka curiga sama kita,” ucap Eric pelan dan berjalan mendahului Arashya.
__ADS_1
Mereka kini sudah kembali ke tempat dimana beberapa rumah tinggal berjajar. Bisa Eric hitung kalau ditempat mereka saat ini ada sekitar 20 orang. 15 orangnya adalah laki-laki dan sisanya adalah perempuan. Tampaknya memang tempat ini didominasi oleh kaum laki-laki.
“Gimana? Jadi tanya?” Arashya menaikkan sebelah alisnya dan menatap Eric yang mengangguki pertanyaannya.
“Tanya aja sebelum kita mati penasaran,” sahut Eric dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal karena mereka tadi berlari untuk kembali ke sini.
Arashya mendekati salah satu orang disana. Dan itu adalah seorang wanita. Kelihatannya dia lebih tua setahun daripada dirinya.
“Excuse me?” Arashya memanggil wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
Wanita itu menoleh dan terkejut mendapati ada 2 pria tampan dihadapannya sekarang. “Iya? Ada apa?” tanyanya lembut.
“Apakah anda tamu disini?” tanya Arashya berbasa-basi.
“Of course. By the way ngomongnya biasa aja ga usah formal, jatuhnya aneh. Gue ga kebiasa soalnya,” balas wanita itu dan tertawa pelan.
“Oh iya, ini gue sama teman gue penasaran sih karena kita ke sini juga di undang gitu jadi tamu. Cuma ga dijelasin kita bakal menghadiri acara apa disini. Kira-kira lu tahu ga?” tanya Arashya yang kali ini sedikit mencairkan suasana.
Gadis itu sempat mengernyit sedikit heran, lalu kembali menetralkan ekspresinya. “Wah sayang banget…” kata gadis itu menggantung.
“Kenapa sayang?” Reflek Eric menjawab seperti itu yang membuat gadis dihadapannya tersipu.
“Hm, maksud gue itu sayang kenapa? Apa ada hal penting?” ulang Eric dengan nada jauh lebih dingin daripada sebelumnya dan dengan ekspresi datarnya.
Sang wanita yang ditatap seperti itu sedikit menciut. Merasa salah dalam memilih teman bercanda.
“Oh iya, lusa nanti ada acara. Tepat di hari Selasa dibawah bulan purnama. Kita bakal lihat acara api unggun kayak perayaan tahun baru gitu. Tapi ini dilakukan setiap bulan purnama yang terjadi di hari Selasa,” balas gadis itu dan memilih untuk tidak terlalu banyak berinteraksi pada 2 orang pemuda didepannya itu. Karena Arashya dan Eric memiliki tatapan yang sangat mengintimidasi.
Keduanya mengucapkan terima kasih dan berlalu bergitu saja untuk kembali ke rumah tinggal mereka.
“Aneh banget, kan? Acara api unggun di bulan purnama,” gumam Eric yang diangguki oleh Arashya.
“Banyak kesan misterinya. Dan kita juga harus selesaikan kasus ini segera, mengingat kita juga perlu cari Kak Marka disini,” tambah Arashya dan mereka berusa mempercepat langkah untuk menuju rumah tinggal mereka.
__ADS_1
“Definisi tempat terkutuk yang nyata.” Eric berkata sambil membuka pintu rumah tinggal mereka dan menampilkan beberapa orang yang sedang menunggu mereka kembali.