
Jamuan makan malam yang membuat naik darah itu akhirnya selesai tepat di pukul 8 malam. Ada beberapa dari tamu undangan yang memilih tetap diam di tanah lapang Kota Saranjana untuk berbincang-bincang antara satu sama lain. Dan apa pula yang memutuskan segera kembali ke rumah tinggal, seperti keenam pemuda yang sedang diuji kesabarannya itu.
Mereka kini sudah ada di dalam rumah tinggal sementara mereka disana dengan posisi duduk melingkar di lantai. Tampak ekspresi wajah mereka tidak ada yang senang dengan tempat, kegiatan, bahkan orang-orang aneh yang ada disini.
“Gue jadi penasaran tujuan kita disini itu apa sebenarnya?” tanya Jean yang benar-benar dibuat emosi sebab kejadian di tanah lapang tadi.
“Gue ke sini cari Marka, sahabat gue. Sedangkan anak-anak Boyz ini pada mau mecahin kasus mereka yang dibuat jadi teka-teki kaya gini sama pelakunya. Sedangkan, lu sendiri dapat tiket juga untuk ke empat ini,” jawab Yohan lelah.
“Gue jadi curiga kalau otak dan dalang ini semua itu Kak Harshaya tadi. Dia tuh gerak-gerik ya mencurigakan banget. Tapi, karena ga mungkin bisa kerja sendirian, jadi dia peralat Harris dan si hoodie hitam itu buat memihak sama dia,” ucap Eric yang menjentikkan jarinya berkali-kali tanda dia sedang berpikir.
Arashya mengernyit heran, “sebentar deh, gue ada pertanyaan. Kalau memang Kak Harshaya ngelakuin ini semua, motifnya apa? Terus kenapa Harris ada di pihak mereka?” tanyanya beruntun yang diangguki pemuda lainnya.
“Apa Harris di bayar buat ngelakuin ini semua? Kalau iya, nominalnya sebesar apa coba sampai dia mau ngelakuin pembunuhan?!” Narendra bertanya sambil membulatkan matanya tak percaya.
“Itu kan baru asumsi. Bisa aja mereka itu ada hubungan antara satu sama lain dan jadi terikat sampai dia mau nurut sama Harshaya,” balas Jevan coba menenangkan mereka.
Dalam keheningan mereka di tengah gelapnya malam itu, tiba-tiba suara deru mobil masuk ke dalam area tempat terkutuk itu. Reflek Yohan dan Narendra memeriksanya karena kebetulan posisi berdirinya berada di dekat jendela kamar.
“Woy, siapa tuh?!” pekik Narendra ketika dia melihat sebuah mobil hitam melaju dan berhenti di dekat rumah yang ada di pojok tempat itu.
“Itu bukannya rumah tinggal si Harshaya itu, ya? Tadi terakhir setelah jamuan makan malam selesai, gue lihat dia masuk ke rumah itu.” Sela Yohan menyenggol lengan Narendra.
“Siapa yang keluar? Coba lihat baik-baik,” suruh Arashya pada keduanya.
Yohan dan Narendra kembali berbalik dan menatap lekat-lekat 2 sosok yang keluar dari mobil dan menyatu dalam kegelapan malam di luar sana. Narendra semakin memicingkan matanya untuk memfokuskan pengelihatannya. Namun, sayang sekali karena orang itu benar-benar tak terlihat karena mobil itu menghalangi jarak pandangnya.
“Itu mobil bisa minggir ga sih? Jadi ga kelihatan orangnya,” gerutu Narendra kesal.
Perlahan akhirnya mobil itu berjalan meninggalkan pemuda yang baru turun. Mereka berdua berjalan mendekati rumah tinggal yang diyakini sebagai rumah kepala suku disini —Harshaya Pramudya.
Wajah mereka akhirnya tampak ketika keduanya tengah berdiri tepat di depan pintu rumah yang mereka tuju. Terdiam sebentar kemudian mengetuk pintu beberapa kali.
“Itu bukannya teman lu, Ric?” tanya Yohan tanpa mengalihkan pandangannya untuk memantau pergerakan 2 pemuda tadi melalui jendela.
Eric yang dipanggil namanya menoleh dan mendekat ke arah mereka dan ikut melihat siapa yang dimaksud Yohan.
__ADS_1
“Harris sama Felix? Ngapain mereka?” gumam Eric.
“Siapa, Ric?” tanya Jevan agar adiknya mengulangi perkataannya tadi yang tidak di dengar jelas olehnya.
“Harris sama Felix!” Ulang Eric agak keras.
“Felix? Ngapain dia disini? Jangan bilang kalau dia juga komplotannya si Harris dan Kak Harshaya,” ucap Arashya waspada.
“Plot twist kasus ini bakal lebih seru, kalau ternyata si hoodie hitam yang hampir bunuh gue itu adalah Felix,” kata Eric pelan yang membuat teman-temannya bergidik ngeri.
“Lupain sebentar tentang Harris dan Felix. Gue dari tadi itu berpikir, apa Marka beneran ada di tempat ini?” tanya Yohan yang mulai menjauh dari jendela. diikuti Narendra dibelakangnya.
“Bukannya petunjuk itu nyebut Saranjana? Dan sekarang kita berakhir di Saranjana juga, kan?” tanya Jevan bingung.
“Tapi, masalahnya kita ga nemuin petunjuk apapun tentang keberadaan Kak Marka disini,” balas Arashya mengerang frustasi.
“Bukan ga nemu, tapi belum nemu, Rash.” Tukas Eric tidak setuju dengan pendapat Arashya.
Jean yang sedari tadi diam mulai menatap mereka satu persatu bergantian. “Jadi sekarang rencana kita gimana? Mau telusuri tentang sosok dibalik kegelapan malam tadi? Atau mau cari tahu tentang Marka ada disini atau ngga?” tanyanya sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok serta sebuah korek.
“Bagi tugas gimana?” tanya Yohan penasaran.
“Kita bakal bagi jadi beberapa kelompok yang tiap kelompok terdiri dari 2 orang. Kak Yohan dan Narendra, gue minta kalian untuk cari tahu keberadaan Kak Marka. Sementara Kak Jean dan Jevan, gue minta kalian untuk cari tahu tentang Saranjana dan acara apa yang bakal mereka lakuin di hari Selasa itu. Sedangkan gue sama Arashya, kita bakal cari tahu hubungan antara Harris, Felix, dan juga Harshaya itu. Gimana?”
Penjelasan Eric itu disetujui oleh semuanya.
“Kita bisa cari tahu besok dan harus optimal. Karena waktu kita ga banyak,” lanjut Eric.
Setelahnya semua orang beranjak untuk mencari posisi tidur masing-masing kecuali Jean. Anak itu berjalan keluar untuk merokok.
“Gue keluar sebentar ya, mau ngerokok.” Kata Jean meminta izin, kemudian berjalan keluar rumah secara perlahan agar tak menimbulkan kebisingan.
Diluar rumah sangat gelap dan sunyi. Semua rumah tinggal sudah gelap dan tak ada orang lagi di luar. Yang terdengar hanya suara jangkrik.
Dia mulai mengeluarkan sebatang rokok dan menghidupkannya. Kepulan asap rokok milik Jean mengepul di udara. Matanya menelisik setiap inci dari tempat dia berada sekarang.
__ADS_1
“Kenapa sih gue harus ada di posisi ini? Ketemu orang ga jelas itu lagi di kehidupan gue yang baru. Sialan!” Jean mengumpat sambil sesekali menghisap rokoknya dan mengeluarkan asap yang sengaja dibentuk menjadi sebuah cincin dari mulutnya.
“Ga puas banget kayanya hidup lu, Pram. Dari dulu juga gini terus, ga bosan apa?! Lu ga bisa ikhlasin aja apa yang udah terjadi, atau gimana sih?!” gumam Jean yang merasakan dinginnya udara malam di kota Saranjana.
“Kak..”
Sebuah suara berat menyapa indra pendengarannya, diikuti dengan sebuah tangan menyentuk pundak kirinya. Dengan segera Jean menoleh dan tersenyum tipis.
“Belum tidur, Jev?” tanya Jean pada Jevan yang kini ikut duduk disebelahnya menikmati suasana malam penuh bintang itu.
Jevan menggeleng pelan sebagai respon pertanyaan Jean. “Belum, Kak. Gue belum ngantuk,” balasnya singkat.
“Lagipula, gue ga yakin juga mereka yang di dalam bisa tidur, karena mereka sadar lagi ada di posisi yang ga biasa,” sahut Jevan lagi yang diangguki Jean.
Keduanya terdiam sejenak, hanya ada suara burung hantu dan jangkrik yang biasa hidup di hutan diiringi dengan kepulan asap dari rokok Jean yang hampir habis.
“Kak, lu punya kebiasaan ngerokok, ya?” tanya Jevan agak canggung memulai suaru obrolan.
Jean tertawa kecil dan membuang puntung rokok di tanah, lalu menginjaknya agar apinya mati. Dia menatap Jevan yang bertanya penasaran.
“Kebiasaan buruk, Jev. Tapi, makin ke sini makin berkurang sih. Gue ngerokok cuma pas stress doang,” jawab Jean yang membuat Jevan mengangguk paham.
“Oh ya, Kak. Pas jamuan makan malam tadi, kayaknya lu kesal banget lihat Kak Harshaya disana. Lu sebelumnya kenal sama dia, Kak?” Jevan memiringkan kepalanya dan menatap Jean dengan tatapan mengintimidasi yang membuat laaan bicaranya terkekeh pelan.
“Pramudya, maksud lu?” tanya Jean dan Jevan mengangguk. “Dia itu—“
Ucapan Jean terputus ketika mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka.
“Musuh lama.” Ucap seseorang yang muncul dari balik gelapnya malam dengan sepuntung rokok diantara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
“Lu—?” Jevan sontak terkejut dengan orang yang ada dihadapannya dan suaranya mendadak tercekat seperti seseorang tengah mencekiknya.
Sementara Jean disebelahnya hanya menatap
datar ke arah pemuda yang baru datang itu.
__ADS_1
“Ngapain lu disini?” tanya Jean dingin, tapi sosok itu malah tertawa.