
Hari yang mereka berenam tunggu, akhirnya telah tiba. Hari Minggu yang bertepatan dengan hari libur sekolah hingga 2 minggu ke depan sepertinya akan menjadi suatu awalan untuk liburan semester yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.
Kini mereka semua telah bersiap dan tengah menunggu jemputan seperti yang telah dijanjikan dalam surat itu di sebuah halte kecil dekat rumah Arashya sesuai dengan perintah yang juga tertulis disana. Sekitar 15 menit mereka menunggu, akhirnya sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan mereka berenam.
Mereka semua takjub ketika melihat mobil itu dan seorang pria paruh baya turun mendekati mereka.
“Wow! Gue ga expect kalau kita bakal dijemput pakai limosin,” gumam Jean menyenggol Arashya yang berdiri disebelahnya yang tengah menggendong sebuah ransel.
“Gue juga sama, Kak. Berarti dia bukan golongan orang biasa,” sahut Arashya mendekati Eric karena pria itu menghampirinya.
Pria tersebut menatap mereka satu persatu secara intens. Kemudian dia membungkuk sebentar memberikan hormat.
“Selamat pagi, Tuan Muda Pratama,” sapanya dengan senyum yang terulas di wajah. Namun, alih-alih membalas sapaan tersebut, Arashya malah menatapnya dengan ekspresi datar.
“Selamat pagi, Pak. Apakah anda orang yang menjemput kami sesuai dengan surat dan tiket ini?” tanya Eric sambil mengeluarkan amplop yang mereka temukan kemarin.
“Benar. Anda adalah?” Pria itu menaikkan kedua alisnya agak ragu untuk menyebut nama Eric.
Jevan yang melihat itu menghela nafas panjang, “saya Jevan Devandra. Kelanjutannya pasti anda sudah tahu, Pak,” selanya yang membuat pria itu mengangguk.
“Baiklah. Eric Devandra, Jevan Devandra, Narendra Nasution, Arashya Pratama, Yohantha Sagara, dan…” Pria itu menunjuk masing-masing dari mereka sambil menyebutkan nama, tapi jarinya terhenti tepat di depan Jean.
“Jeandra Samudra, just call me Jean,” ucapnya pelan yang lagi-lagi membuat pria itu mengangguk paham.
“Ah iya, silahkan kalian masuk ke dalam mobil. Kita akan berangkat sekarang karena sudah ada yang menunggu kalian.” Ajakan pria itu langsung diiyakan oleh keenamnya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, mereka akhirnya masuk ke dalam mobil. Pria itu juga dengan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
Dalam perjalanan,hanya keheningan yang meliputi mereka disana. Tak ada satupun yang hendak membuka suara terlebih dahulu. Mereka semua fokus dengan pikiran masing-masing dan mengamati pria tadi sebagai supir dengan tatapan mengintimidasi.
Mungkin sadar dengan tatapan mereka semua, pria itu tersenyum tanpa menoleh. “Saya bukan seperti yang kalian pikirkan sebenarnya, saya hanya orang suruhan yang diminta untuk menjemput kalian. Dan sisanya selesai,” ucapnya membuka topik pembicaraan.
“Apa disini ada kamera pengintai? Atau perekam suara dan lainnya?” tanya Narendra dengan menatap tajam supir itu yang bisa dilihat dari spion depan mobil.
Pria itu tertawa renyah mendengar pertanyaan Narendra. “Disini aman,” ucapnya pelan.
“Anda tahu siapa yang meminta anda menjemput kami? Dan apakah anda tahu siapa kami?” tanya Arashya yang baru membuka suaranya setelah sekian lama terdiam.
Senyuman pria itu semakin mengembang diwajahnya ketika mendengar Arashya bertanya.
“Tentu saja. Siapa yang tak kenal dengan anda, Tuan Muda Pratama? Anak dari seorang pejabat pemerintahan yang bertugas di kementrian luar negeri, Tuan Algendra Pratama,” jawab pria itu.
“Untuk pertanyaan tentang siapa orang yang meminta saya untuk melakukannya, saya tidak yakin. Karena kami belum pernah bertemu sebelumnya,” balas pria itu yang kini menampilkan wajah muramnya.
“Jika kalian belum pernah bertemu, kenapa anda mau melakukan permintaannya?” tanya Yohan mengernyit heran.
“Atas dasar terpaksa,” jawab pria itu lirih, “anak saya diculik dan disekap oleh seseorang di suatu tempat terkutuk katanya. Karena kejadian itu, teror mulai mendatangi saya dan istri saya.Tiap hari akan ada beberapa pesan ancaman yang masuk. Karena tidak mau anak saya dalam bahaya, jadi saya harus melakukan ini,” jelasnya yang membuat keenam remaja itu mengangguk.
“Jangan khawatirkan itu, Tuan. Tapi, dimana anak anda disekap? Dan kenapa disebut tempat terkutuk?” tanya Jevan yang penasaran dari tadi.
“Tempat itu adalah tempat yang akan kalian kunjungi setelah ini. Saya hanya bertugas untuk mengantarkan kalian dengan selamat sampai disana.”
__ADS_1
“Apa yang membuat tempat itu disebut terkutuk?” tanga Jean menyela obrolan mereka.
“Mereka percaya kalau ada orang yang masuk ke tempat itu, maka mereka tidak akan pernah bisa kembali dengan selamat,” kata pria itu lagi.
“Haha.. Bukannya itu cuma takhayul yang masih dipercayai sampai sekarang? Tempat itu berupa perkotaan kuno, kan? Katakanlah seperti sebuah desa terpencil. Bukan begitu, Tuan?” tanya Eric yang sama sekali tidak termakan oleh bualan manusia yang disebut takhayul itu.
“Mungkin takhayul, tapi itu kenyataan yang terjadi. Anda benar, tempat itu menyerupai desa terpencil. Penduduknya sama seperti kita, dan juga agak berbahaya.” Ujar pria itu seperti memberikan sebuah peringatan untuk berjaga-jaga.
“Apakah akan terjadi sesuatu disana yang mengharuskan kami semua dijemput dan dibawa ke tempat itu?” Narendra bertanya sambil menegakkan posisi duduknya.
“Mungkin sebuah ritual seperti perayaan pesta kembang api bisa kalian lihat disana, dan mungkin juga itu alasan kalian di undang untuk datang.” Pria itu fokus pada jalanan di depannya, laku memutar stir dan berbelok ke kanan.
Setelah mendengar jawaban dari pria itu, semuanya terdiam dan keheningan terjadi diantara mereka semua. Mereka memikirkan bagaimana bisa kalau akhirnya mereka akan bernasib sama dengan anak pria ini? Apa yang akan dilakukan oleh penculiknya? Dan apakah anak itu disekap bersama dengan Marka? Banyak pertanyaan tiba-tiba muncul dan semuanya tampak masuk akal.
Dalam keheningan itu, Eric menghela nafasnya lelah. “Berapa lama lagi kita akan sampai?” tanyanya.
Pria yang menjadi supir mereka sekarang itu melirik sebentar ke arah arloji yang dia gunakan dit pergelangan angan kirinya.
“Sekitar 1 jam lagi,” balas pria itu singkat.
Eric mengangguk dan dia segera menoleh untuk melihat temannya satu persatu. “Kalian nikmati saja perjalanan ini. Ayolah ini hanya sebuah permainan dan kita akan dapatkan kejutan,” ucap Eric dan dia mencari posisi nyaman untuk beristirahat.
Arashya dan Jean yang mendengar itu berakhir saling pandang satu sama lain. Jean menyikut lengan Arashya yang membuat si pemilik lengan menatap Jean dengan tatapan tajam.
“Gue rasa yang sebenarnya psikopat itu Eric, bukan lu ataupun gue,” bisiknya pada Arashya.
__ADS_1
Anak itu mengangguk menyetujui, “kadang gue juga berpikir kayak gitu, Kak.”
Mereka semua memilih untuk diam dan menikmati perjalanan dengan tenang sambil memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi nanti sesampainya mereka di tempat terkutuk yang dari tadi disebutkan itu.