
Esok yang menyaru dalam enigma, ditentukan oleh diri yang terluka. Kegelapan nirbatas mengukir akhir dari mimpiku. Memudarkan kenangan yang kian membekas. Menyelubungi tiap-tiap cercah harapan yang terlahir dari relung hatiku.
Benakku kian kubalut dengan dusta, hanya untuk meyakinkan bahwa di semesta yang fana ini, masih ada secercah harapan yang dapat kugapai. Alih-alih, kala tangan ini berusaha menggapainya, harapan itu pupus disapu nestapa. Tenggelam oleh lautan lara. Mengapa dunia ini rasanya tak adil?
Berdiri di antara kebenaran dan kebatilan, kurela kehilangan semuanya asalkan aku bisa menemukan kembali asaku yang pernah hilang. Adakalanya aku percaya, bahwa akhir dari segalanya adalah ketika kita menyerah pada diri sendiri.
Aku percaya, ada cahaya yang akan menerangi jalanmu, selama kau masih percaya pelita yang bernama harapan. Karena itu, walau waktu yang bagai garis lurus nirbatas perlahan mengikis harapanku menjadi serpihan fantasi, aku masih akan melangkah menuju esok. Seraya hatiku dibakar oleh api keputusasaan, tangan fana ini terus mengumpulkan serpih impian yang kian berjatuhan.
Waktu kian jadi belati, perlahan menerkam anganku menjadi serpihan fantasi. Seraya relung hatiku dibakar bara keputusasaan, tangan fana ini takkan jemu mengumpulkan fragmen-fragmen impian indahku. Sebelum diriku hancur sepenuhnya dan menyisakan memori, akan kukunci semua anganku hingga mampu melewati malam ini.
Hati kaca yang diselumbungi luka ini, telah berkobar tanpa kusadari. Akan kutempa kembali serpihan cahaya impianku menjadi sebuah pedang harapan nan elok. Meskipun takdirku dipenuhi luka, namun sanubariku masih merona.
Dulu, pernah aku putus asa dengan impianku. Aku ingin membuka mataku dan melihat kenyataan. Sayangnya pemandangan yang selalu kubayangkan telah lenyap tertiup angin malam. Terkikis ombak takdir.
__ADS_1
Hingga mata terbuka, aku melihat diriku ternggelam dalam dinginnya lautan. Kuberikan kebaikan pada
lintah yang mengisap habis usahaku.
Namun apa?
Mereka khianat akan abdiku!
Bahwasanya tanah perak indah yang aku pijak ternyata adalah es tipis di atas sebuah danau
Dunia tidaklah senaif itu. Aku mendengarkan dunia tertawa,
Jemu karena manusia belum pula menyadari.
__ADS_1
Tak semua kebaikan dibalas kebaikan pula.
Hidup ini kadang memang tak adil.
Apakah ini kutukan? Atau semacam hukuman dari para dewa?
Bukan, itu tidak benar. Paradigma itulah kesalahanku. Bila aku hanya mengeluh akan hidupku, maka harapanku hanya sebatas di sana saja. Melangkahlah walau kau tahu tujuanmu jauh di sana. Setidaknya, lebih baik daripada membatu di tempat.
Mungkin kau pernah mengira kalau hidup di dunia dengan segala hal-hal ajaib itu seindah kisah Cinderella. Namun kisahku tidak demikian. Nyatanya semesta kita tidaklah senaif fantasi yang selalu kita banyangkan.
Tiada kebahagiaan yang absolut. Tiada yang bisa terselamatkan tanpa korban. Karena fantasi seperti itu hanya bisa kau dapatkan di surga, bukan di semesta kita. Namun di semesta kita selalu ada cerita. Entah itu cerita yang terlupa, atau pun yang dikenang.
Namun, ada satu kisah yang memiliki arti tersendiri bagiku. Walau kisah ini mungkin hanya cerita fiksi murah yang tak layak kalian baca, namun bagiku, kisah ini adalah sebagian dari dunia fantasiku. Dunia indahyang ingin kubagi denganmu, Kawan.
__ADS_1