Brave Shine

Brave Shine
Chapter 3


__ADS_3

“Apa kau sungguh percaya pada cerita fiksi? Tak ada untungnya kau percaya. Tak ada kesatria berzirah perak yang gagah berani yang akan datang menyelamatkanmu. Sungguh naif dirimu. Kenaifan itulah yang membuat manusia terlalu berharap pada datangnya keajaiban—yang naasnya tak jua datang.”


--------------------{ Arion }-------------------


“Membaca buku takkan membantumu untuk melihat dunia. Mereka—buku hanya akan menyegel kebebasanmu bila kau menjadikan dia satu-satunya jendela duniamu.”


Suara yang tak asing di telinga Violetta mengalihkan perhatiannya dari lembaran berisi coretan tinta yang dia baca. Manik violet itu melirik sekilas pada seorang pemuda bersurai pirang keemasan. Sebuah senyuman tersunggingkan di bibirnya.


“Ravus,” Violetta menutup bukunya yang berjudul “The World of Wonder”. Gadis itu masih menatap pemuda yang selalu ia tunggu kembali dari medan perang. Satu-satunya manusia yang dapat menerangi suramnya hidup Violetta. Bagaikan nyala api, bersinar, dan hangat. Ravus adalah cahaya Violetta, sosok yang memiliki tempat istimewa di hatinya.


Sosok yang menyelamatkannya dari nestapa yang tak kunjung enyah.


Duduk di samping Violetta, pandangan Ravus tertuju pada tanaman bunga di hadapannya. Mereka berada di taman belakang istana, sebuah tempat di mana Violetta dapat menikmati dirinya sendiri. Persembunyian rahasia mereka. “Tidakkah kau ingin keluar istana dan melihat dunia dengan matamu sendiri?” tanya Ravus.


“Aku tidak diizinkan keluar.” ungkap Violetta. Seakan hal itu bukan masalah baginya, Violetta kembali membuka halaman bukunya. Menyibukkan diri dalam lautan aksara dan imajinasinya.


Ravus terkekeh mendengar jawaban Violetta. “Kitalah yang menentukan nasib kita sendiri, Vi. Semua orang pantas bahagia.”


Andai dunia mengizinkan, andai hati Violetta masih bisa terbuka, gadis itu ingin percaya pada apa yang Ravus katakan. Sama seperti kata ibunya dulu. “Suatu hari, kau juga akan bertemu dengan seorang penyelamat. Seseorang yang akan membahagiakanmu.” Namun, apa yang bibir Violetta ucapkan adalah sebuah kontradiksi. “Ini takdirku, aku pantas mendapatkannya.”


“Itu tak benar.” sanggah Ravus.


Ingin menghindari percakapan, Violetta memilih meninggalkan Ravus di tempatnya. “Tunggu,” seru Ravus sembari menahan Violetta pergi. “Kenapa kau selalu menghindari percakapan ini?”


“Rav,” Violetta melepaskan cengkeraman Ravus perlahan dari pergelangan tangannya. “Aku tak pantas bahagia.”


Orang-orang di sekitarku menderita. Mereka menderita karenaku. Aku tak ingin kau bernasib sama seperti mereka—seperti Ibu. Aku pembawa petaka.


Seakan alam pun turut berbicara. Angin berhembus meniupkan kelopak-kelopak bunga dan dedaunan yang berguguran. Ravus tahu, tak seharusnya Violetta hidup seperti ini. Gadis itu pantas mendapatkan kehidupan yang lebih layak—yang lebih baik. Bukan hidup yang dikekang belenggu raja.


Ravus mendekatkan diri pada Violetta, tersenyum kecil. Sebuah senyuman yang menyembunyikan, senyuman yang Violetta tak sukai dari pemuda yang biasanya riang itu. “Semua orang pantas bahagia, Vi. Begitu pun dirimu.”


“Aku tak keberatan dengan kehidupanku saat ini.”


“Bohong.” tukas Ravus.


“Bagaimana kau tahu apa yang kurasakan?” kata Violetta dingin. “Kau tidak berhak menentukan nasibku. Aku yang memutuskan, Ravus.” kata-kata itu sesasa seperti sebuah silet di lidah Violetta. Dia hanya tak ingin Ravus mendapat masalah karenanya. Dalam hati, gadis itu menjerit pilu, memohon maaf. Namun bibirnya tak sanggup menuruti apa kata sanubarinya.


“Maaf,” gumam Ravus, paras rupawannya memperlihatkan rasa bersalah. Kata-kata Violetta serasa tikaman belati. Aku hanya ingin kau bahagia.


Untuk sesaat yang serasa berjam-jam, hening menyelimuti sekitar. Dan Violetta merasa dia akan hancur bila terus di sini. Dia tidak ingin mendapatkan kebaikan Ravus.


Aku tak pantas untuknya. Dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari seorang gadis terkutuk sepertiku.


“Vi,” panggilan Ravus membuat gadis bersurai kelam itu kembali menatap matanya. “Temui aku minggu depan, aku ... Yang Mulia memanggilku untuk sebuah misi. Aku takkan bisa menemuimu untuk seminggu ke depan.”


Mengangguk paham. Sebuah kebohongan lain yang terlontar. Violetta tak menyukai ketika Ravus pergi. Namun apa daya. Gerangan apa yang dapat gadis itu perbuat? Ravus adalah seorang ksatria—prajurit yang menerima perintah raja. Violetta bersyukur, setidaknya Arthelia—Sang Dewi Kehidupan belum memanggil pemuda itu menghadapi akhir hidupnya di neraka yang di sebut medan perang.

__ADS_1


“Berjanjilah padaku,” ucap Violetta. “Kau akan pulang dengan selamat.” Violetta berharap. Namun, apakah benar ada harapan di dunia nyata yang kejam ini? Entahlah. Yang Violetta tahu, dia hanya bisa berdo’a kepada Artheila, memohon perlindungan demi cahayanya—demi Ravus. “Kau akan kembali padaku ‘kan?”


 “Aku berjanji.”


***


Dulu, Violetta pernah bermimpi melihat sebuah kilasan. Entah itu pertanda, peringatan, atau hanya bunga tidur semata. Dalam negeri impian itu, Violetta melihat dirinya berada di tengah kegelapan pekat. Semuanya nampak hitam bak bentangan layar kelam nirbatas. Kemudian, Violetta melihat sebuah cahaya—sinar yang begitu menyilaukan. Perlahan, kakinya melangkah menuju sinar indah di ujung sana.


Heran. Kian gadis itu mendekati sumber cahaya, kian redup pula sinarnya. Violetta ketakutan, kegelapan mengelilinginya lir serigala di kegelapan malam yang menatap dingin mangsanya. Namun, kali ini Violetta yang menjadi mangsanya.


Panik. Violetta berlari ke arah cahaya yang kian redup menjadi temaram. Kegelapan makin mendekat. Langkah Violetta semakin berat, seperti ada tangan-tangan tak kasat mata yang menariknya—memaksanya untuk berhenti berlari. Mengepalkan tangan, rasa hangat di telapak tangannya yang berisi kehampaan kian memanas layaknya ada harapan bagi gadis itu. Seraya menggenggam harapan, Violetta terus berlari.


Mengangkat satu lengannya, Violetta berusaha meraih cahaya temaram yang masih tersisa. “Hampir sampai ....” Nafasnya memburu, kakinya serasa terbakar, peluh dingin bercucuran bersamaan dengan ketakutan yang kian melanda.


Violetta terus berlari, tak ada yang dapat menghentikannya. Dia tidak ingin sendirian, dia tak ingin kesepian, dia tak ingin ditinggalkan. Lega. Gadis itu berhasil meraih cahaya, tepat di genggaman tangannya. Dengan penuh rasa bersyukur, Violetta tersenyum. Perlahan, gadis berambut kelam itu membuka telapak tangannya. Namun yang ada di sana adalah pecahan kaca yang penuh darah.


“Tidak!” Violetta menjerit histeris dan melempar pecahan kaca itu. Dia menunduk dan melihat kedua tangannya yang bersimbah darah. Namun yang paling buruk masih menanti. Di hadapannya ada sosok misterius yang menyaru dalam kegelapan. Manik violet milik Violetta menatap horor sosok tersebut. Gadis itu tak bisa melihat wajahnya, namun pandangannya dapat melihat bahwa sosok itu menahan luka di dadanya. Darah segar mengucur, menganak sungai di bawah kaki Violetta.


Gadis itu melihat pecahan kaca yang baru dia lempar, kemudian kedua tangannya, lalu sosok asing itu. Enigma yang terjadi mulai terungkap. Tak lama, sosok di hadapannya roboh, jatuh tak berdaya. Layaknya menyususn puzzle, Violetta menghubungkan apa yang ia lihat dan mendapat satu kesimpulan: Violetta telah membunuhnya.


***


Seminggu berlalu semenjak kepergian Ravus. Raja Eladriel kembali memanggil Sang Pemilik Mata Terang. Duduk di singgasana agungnya, mata Eladriel nampak kosong bak telah mati. Mahkota emas bertengger di atas kepalanya. Di belakangnya, berdirilah tangan kanannya—orang yang paling ia percaya, Arzell.


Jujur, Violetta tak menyukai pria bernama Arzell itu. Tak memiliki emosi maupun ekspresi, ajudan Eladriel itu layaknya buku yang tak bisa Violetta baca. Sesuatu tersirat dari dalam dirinya. Menurut Arzell, mata terang Violetta adalah berkah. Sebuah pion bagi Eladriel untuk dapat menjadikan Nighthalia sebagai kerajaan terkuat.


Tak ada yang berbeda, kilasan yang Violetta lihat selalu sama. Darah, kematian, langit yang kelam, mayat-mayat tentara. Namun, visual Violetta melihat sosok yang dia kenal. Ravus, terbaring tak berdaya dengan luka tusuk di dadanya.


Violetta tak ingin menyaksikannya—kematian Ravus. Gadis itu seakan berada di kehampaan. Indranya tak dapat merasakan apa-apa. Namun, matanya melihat kilasan yang berganti. Para prajurit Nighthalia pulang membawa kemenangan. Bersorak-sorai atas keberhasilan mereka.


“Bagaimana?” tanya Eladriel yang nampak bosan. “Apa yang kau lihat?”


“Sebuah kemenangan. Seperti yang anda harapkan.”


“Sudah kuduga.” ujar Arzell. Sosok itu melangkah ke samping Penguasa Nighthalia. “Hanya tinggal masalah waktu, hingga Nighthalia menjadi penguasa benua, Yang Mulia. Arthelia, Sang Dewi telah memberikan takdir itu pada—“


“Tapi,” sela Violetta. “Yang Mulia juga akan kehilangan beberapa kesatria terbaik Nighthalia.”


“Tak masalah,” tukas Arzell mewakili Eladriel. “Kemenangan takkan dapat diraih tanpa pengorbanan. Itulah hukum alam.”


Tidak, Violetta tak ingin bungkam lagi. Ravus. Dia melihat kematian pemuda itu, tak mungkin Violetta akan bungkam lagi


Langkah kecil saja, cari pemicumu


Nyalakan kayunya


Menelan ludah, Violetta memantapkan dirinya untuk membela hidup Ravus. “Tapi, Yang Mulia—“

__ADS_1


“Violetta Asteria,” bungkam Eladriel. “Tahukah dirimu berapa banyak aku telah kehilangan kesatria terbaik yang kumiliki? Kali ini pun tiada bedanya. Kau bahkan sudah melihatnya berkali-kali, dengan mata terangmu. Atau ...” Sang Raja sengaja memberikan jeda pada kalimatnya.


Hati Violetta ingin menjerit sekarang juga. Mengapa? Arthelia, kumohon, jangan ambil dia dariku.


“Apa dia seseorang yang istimewa bagimu? Apa kau mengenalnya, Violetta?”


“Tidak, Yang Mulia.” dusta Violetta. Mental gadis itu sudah tak sanggup menahan hatinya yang serasa ditusuk sebilah pedang. Dia menatap Arzell sekilas, dan yang dilihatnya adalah sebuah senyuman kecil yang begitu ingin Violetta enyahkan.


***


Jantung Violetta berdebar hebat, seolah bisa saja melompat dan meninggalkan tubuhnya. Perih. Hatinya serasa dicabik-cabik. Gadis itu segera menuju tempat persembunyiannya. “Temui aku minggu depan,” Kata-kata Ravus masih terukir di kenangan. Tidak, Violetta takkan membiarkan kematian mengambilnya. Ravus! Benaknya meneriakkan nama pemuda yang begitu ia rindukan.


Lari Violetta terhenti kala matanya melihat sosok Ravus yang tertidur di bawah naungan pohon rindang. Seakan merasakan kehadiran Violetta, mata Ravus perlahan terbuka. Dia tersenyum ke arah gadis yang masih membatu dengan wajah cemas. “Vi, aku baru saja ingin berpamitan.”


Deg!


Kata-kata Ravus serasa sayatan silet di hati Violetta. “Tapi—“


Ravus bangkit, berjalan mendekati Violetta. “Aku akan pergi berperang. Kupikir, aku ingin bertemu denganmu sebelum aku pergi.”


Kumohon, jangan pergi.


Bulir bening terjatuh bergulir di pipi Violetta, mata violet itu tak kuasa lagi memendam kesedihannya. “Kenapa?” Ravus membelai pipi Violetta, jemarinya mengusap tetes pilu dari gadis yang telah memiliki hatinya. Seakan berhasil memecahkan sebuah teka-teki, Ravus menunduk menatap kakinya yang dilindungi zirah. “Apa kau melihat masa depanku, Vi?”


Mengangguk. Pemandangan kian buram di mata Violetta yang berlinang air mata.


Ravus mengangkat kepalanya. Dia tersenyum. Dan mungkin itu adalah kali terakhir Violetta bisa melihat senyumnya yang indah. “Tenang saja,” hibur Ravus. “Aku akan kembali padamu. Aku sudah berjanji, bukan?”


“Tidak, kau takkan kembali.” sangkal Violetta. “Dengar—“


“Aku akan kembali.”


“Tapi ....” Violetta telah kehilangan suaranya. Gadis itu benci saat ketika dia hanya bisa bungkam dan melihat petaka terjadi. Mengapa dunia begitu kejam? “Berjanjilah, kau akan kembali.”


Ravus mendekatkan dirinya, mengecup pipi Violetta. “Aku berjanji.”


Tiap hari yang berlalu serasa setahun bagi Violetta. Dia berdo’a agar Arthelia memberikan perlindungan pada Ravus. Shinna, pelayan itu terus meyakinkan Violetta bahwa Ravus akan pulang padanya. Namun tidak. Para prajurit Nighthalia telah kembali membawa kemenangan. Akan tetapi, kemenangan tak bisa membawa Ravus kembali pada Violetta.


“Kau bohong! Kau sudah berjanji padaku! Pembohong!” Ketika semua orang merayakan kemenangan Nighthalia, Violetta hanya bisa terisak di kamarnya. Menangisi kehilangannya. Kini dia benar-benar mati. Cahayanya telah diambil darinya.


Maaf aku tak bisa menyelamatkanmu. Maaf, maaf, maaf. Maafkan aku.


Tidak ada harapan di dunia ini. Tidak ada takdir yang tak bisa diubah. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Jangan tinggalkan aku. Aku tak mau sendirian lagi. Seseorang, selamatkan aku!


Arthelia? Ibu? Seseorang ....


Tolong aku ....

__ADS_1


Ravus ... maafkan aku.


Aku mencintaimu.


__ADS_2