Brave Shine

Brave Shine
Chapter 1


__ADS_3

“Dahulu, seorang anak dinubuatkan untuk mati di usia tujuh belas tahun. Maka ketika usianya nyaris tujuh belas tahun, Sang Ayah memberikannya kutukan. Anak itu tak pernah tumbuh, baik fisiknya, maupun sifatnya. Waktu terhenti di hadapannya, anak itu menjadi abadi.”


----------------------------{********* Kisah Usang Sang Anak Abadi *********}---------------------------


Violetta tak pernah membayangkan kehidupan indahnya hancur oleh satu perihal yang membuatnya berbeda. Gadis itu tak pernah menginginkannya, dia ingin melakoni hidup lir manusia lainnya. Sesederhana itu. Naas, Violetta kehilangan semuanya. Keluarga, teman, harapan, dan kebebasan. Semua lenyap begitu mudahnya bak tertiup angin.


Dunia Violetta serasa jungkir balik. Semua kenangan indahnya hancur menjadi fragmen-fragmen tiada ubahnya pecahan kaca. Semuanya tak bisa kembali seperti semula. Satu perihal yang dapat disyukuri ialah, dia memiliki seorang penyelamat. Satu-satunya yang mengulurkan tangan ketika gadis itu berada di palung kesedihan.


Dialah cahaya Violetta. Layaknya nyala api yang menerangi pekatnya dunia Violetta yang mala nan suram. Gadis itu terlambat menyadari bahwa pada hakikatnya api pun dapat padam. Dia juga meninggalkannya, sama seperti yang lain.


Mengapa? Mengapa? Mengapa?


Fantasi yang dia kagumi


Penyelamat yang dia dambakan


Kebebasan yang dia harapkan


Pecah menjadi fragmen-fragmen angan


Serpihan memori itu takkan bisa diperbaiki


Euforia itu hancur oleh beratnya dunia


Mengabu terhanguskan bara realitas


Ada kalanya, kehidupan Violetta begitu indah. Sayang, semesta tak mengizinkanya untuk tahu lebih awal, bahwa dia lain. Dia adalah seseorang yang diberkati oleh Sang Pemilik Kehidupan.


Orang-orang menyebut Aretta—ibu Violetta sebagai seorang dewi. Yang lain menyebutnya sebagai manusia terkutuk. Hal itu karena Aretta diberkahi mata yang dapat melihat masa depan dan masa lalu. Sebuah tuah yang kini diwarisi oleh Violetta. Tuah yang begitu didambakan para fana itu diberikan para dewa kepada Aretta.


Violetta juga dapat melihat kilasan waktu. Dia dapat menarik benang waktu dan merubah ketetapan alam. Namun, Violetta memilih untuk menjalani lakon sebagai manusia biasa. Violetta tak dapat melihat kilasan waktu sesuai keinginannya. Kilasan itu datang dan pergi secara tak pasti. Berkah mata terangnya terlalu berat buat seorang gadis kecil.


Lain dari Violetta, Aretta dapat mengintip kilasan waktu sesuai keinginannya. Kemampuan yang luar biasa namun juga mengerikan. Naas, berkah mata terang yang dimilikinya tak hanya menjadi anugerah, namun juga nestapa bagi empunya.


Delapan tahun silam, sekelompok orang datang ke rumah Violetta. Itulah awal dari mimpi buruk Violetta. “Penguasa Nighthalia, Ratu Zeira ingin bertemu dengan pemilik mata terang.” Rhein, sang pemmpin rombongan itu bersabda.


“Tidak,” sangkal Aretta tenang. “Perkataan kalian hanyalah dusta, Ratu Zeira tak memiliki ihwal apa pun yang berhubungan denganku.” jelas Aretta. “Mataku telah melihatnya.”


Alih-alih kesal dan terhina oleh ucapan Aretta, Rhein tersenyum. “Sungguh benar kabar yang beredar. Maafkan ketidaksopananku, Nyonya.” lanjutnya seraya membungkuk hormat. “Kami di sini untuk meminta bantuanmu. Kerajaan kita, Nighthalia , seperti yang anda tahu, sedang dalam kondisi yang tidak baik. Kelaparan melanda banyak kota, kemiskinan sudah tak asing lagi dijumpai. Negeri ini sedang sekarat.”


“Lalu?” Aretta masih menunggu Rhein melanjutkan.


“Dengan hormat, kami ingin anda membantu kami dalam revolusi kami. Kemampuan yang anda miliki amat akan berguna dalam revolusi ini. Kita akan bangkit melawan diktator yang menduduki tahta Nighthalia. Ratu itu tak pantas berada di atas kerajaan kita.” jelas Rhein. “Dan jelas, bantuan yang anda berikan akan mendapatkan imbalan yang pantas.”


Aretta terdiam untuk beberapa saat, nampak tak tertarik pada penawaran Rhein. “Percuma,” ucap Aretta acuh tak acuh. “Nighthalia akan hancur oleh penguasanya sendiri. Biarlah kehidupan berjalan menurut ketentuan, dan penguasa baru akan menggantikan yang lama.”

__ADS_1


Dari kamarnya, Violetta mengintip apa yang terjadi. Gadis kecil itu bersyukur, bernapas lega. Ibunya takkan pergi meninggalkannya. Namun, euforia itu perlahan hancur oleh apa yang selanjutnya terjadi.


Tak terima akan penolakkan, orang-orang itu memaksa Aretta untuk ikut dengan mereka. Wanita itu memberontak dalam kesia-siaan. Violetta kecil segera beranjak dari kamarnya. “Lepaskan ibuku!”


Violetta berusaha menggapai Aretta, namun salah seorang dari rombongan itu menahannya. “Ibu!” Semuanya menjadi kacau. Violetta tak pernah mengharapkan ini. Alih-alih berhasil menyelamatkan ibunya, kini Violetta yang harus diselamatkan.


Rhein mengancam akan membunuh Violetta bila Aretta tidak ikut bersama mereka. “Ibu ....” kegetiran melanda Violetta, bilah pedang berada tepat beberapa senti dari lehernya.


Aretta berusaha membebaskan dirinya dan ingin segera mendekap Violetta. Usaha itu sama sekali tak membuahkan hasil. Hingga Aretta mulai menyerah, dan Violetta tahu apa artinya. Lebih kelam dari mimpi buruk. Para pengikut Rhein melepaskannya, Aretta pun segera mendekati putrinya.


“Ibu, jangan pergi.” isak Violetta. Setiap kali bernafas, rasanya Violetta menghirup serpihan logam tajam yang melukai paru-parunya.


Terlambat. Aretta tak punya pilihan. Dia menghampiri Violetta, mendekapnya, membiarkan diri menelan pil pahit. “Violetta, jadilah anak yang baik.” katanya lembut. “Senyumlah. Kau harus tersenyum, berjanjilah padaku, jangan jadi anak yang cengeng.”


“Ibu ....” kata-kata Violetta terputus karena tangisnya. “Ibu ... jangan meninggalkanku.”


“Tidak, sayang.” hibur Aretta. “Ibu akan selalu ada dalam hatimu. Vio, apa kau ingat dengan kisah yang selalu aku bacakan sebelum kau tidur? Tentang seorang putri yang diselamatkan oleh kesatria pemberani.”


Mengangguk, Violetta mengiyakan.


“Suatu hari,” ucap Aretta. “Kau juga akan bertemu dengan seorang penyelamat. Seseorang yang akan membahagiakanmu. Karena itu, kau harus kuat. Ibu mencintaimu. Ibu sangat menyayangimu.”


Dunia tidak senaif itu. Violetta tahu, dia bukan seorang putri. Takkan ada yang menyelamatkannya.Kata-kata kian jadi garam yang ditabur pada luka. Violetta tak bisa mencegah kepergian ibunya. Mengapa? Takdir begitu kejam.


Tiga setengah tahun berlalu sejak saat itu. Violetta tinggal sendirian. Walau begitu, tetangganya selalu datang setiap hari. Membawakan makanan atau sekedar berkunjung. Violetta tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, seperti ibunya. Dia memiliki mata Aretta, sepasang manik mata violet yang indah. Rambut cokelatnya diikat rapi dengan pita. Orang-orang berkata bahwasanya Violetta adalah seorang putri.


Violetta merasa puluhan jarum menusuk hatinya. Sesak. Gadis itu masih berharap bahwa suatu hari, dia akan bisa bertemu Aretta. Kini, harapan itu pupus.


Lir sebuah kutukan. Nestapa pun datang menghampiri. Semua berawal ketika Violetta menceritakan kilasan waktu yang dia lihat pada teman-temannya. Dia melihat rumah tetangganya akan dirampok oleh beberapa perampok. Namun, berkat peringatan Violetta, mereka berhasil menangkap perampok itu. Memang tak ada yang salah. Violetta merasa dia harus membantu tetangganya yang selalu memberinya makanan.


Seharusnya Violetta menjadi anak baik. Diam adalah emas. Sayangnya, Violetta malah membuka mulut. Kabar tersiar mengenai gadis yang bisa melihat kilasan waktu. “Keturunan pemilik mata terang, dia diberkahi oleh kemampuan yang sama.” Cerita mengenai kehebatan Violetta tersebar ke sepenjuru Nighthalia.


Hingga suatu hari, sekelompok pasukan datang dari ibu kota. Mereka mengatakan bahwa Raja Eradriel ingin bertemu dengan pemilik mata terang. Violetta tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tak ingin bernasib seperti ibunya. Ia tak ingin dijadikan alat. Violetta lebih baik mati daripada dipaksa hidup dalam jeruji jiwa.


Berharap para tetangga yang biasa berbaik hati padanya akan membela Violetta, yang dia dapati adalah mimpi buruk. Mereka hanya menatap iba Violetta yang dipaksa meninggalkan kehidupan damainya yang sederhana. Mereka merasa sedih, namun tak berbuat apa-apa. Saat itulah Violetta sadar, mereka hanya peduli pada keadaan Violetta, bukan peduli pada diri Violetta sendiri.


Takir pun menyeringai, tertawa dalam jemu


Karena manusia belum pula menyadari


Tak semua kebaikan itu tulus


Kini, Violetta tahu bahwa tak semua yang indah itu baik. Tak semua senyum itu tulus. Tak sekali pun Violetta menyangka hidupnya akan berakhir menjadi mesin perang penguasa baru Nighthalia.


Semua berubah. Kerajaan berperang memperebutkan wilayah yang kaya akan sumber daya. Berperang demi air dan makanan. Mengingat penguasa sebelumnya tak memimpin dengan benar, penguasa baru ingin memperbaiki kerajaan. Namun, menurut Violetta, metodenya salah.

__ADS_1


Para pemuda akan dikirim ke medan perang setelah mereka beranjak dewasa. Pulang dalam bentuk gulungan kertas dengan pita merah bercap kerajaan, yang berisi ucapan terima kasih atas perjuangannya. Perang ini sama sekali bukan solusi yang paling.


Dan Violetta tergabung di dalamnya. Sebelum mengirim pasukannya, raja akan meminta Violetta melihat kilasan waktu. Andaikata Violetta melihat kemenangan di sisi Nighthalia, maka Raja Eladriel akan mengirim pasukannya. Sebaliknya,  jika kekalahan adalah takdir Nighthalia, maka takkan ada kesatria yang dikirim ke medan pertempuran. Sebuah berkah kecil yang patut disyukuri. Karena Violetta tahu betapa mengerikannya perang.


Menggantung hidup di ujung pedang


Berkawan hampa dengan nestapa


Menyaru derita di balik kemuliaan


Menimbun darah demi kemenangan


Pergi diri bersama harapan


Pulang raga membawa luka


Di usianya yang genap enam belas tahun, Violetta mulai dapat mengendalikan kekuatannya. Dia dapat melihat kilasan waktu yang diinginkannya. Namun untuk bisa melihat kilasan berikutnya, dibutuhkan jeda waktu minimal seminggu.


Terkadang, Violetta mendapati kilasan acak yang datang dengan sendirinya. Beberapa memiliki arti penting, beberapa dia hiraukan tak ubahnya mimpi yang datang bersama gemintang di malam hari.


"Bolehkan perasaan ini aku ungkap dengan kalimat aku kesepian?"


Ketika gadis-gadis seusia Violetta sibuk memilah gaun indah dan melihat perhiasan cantik. Nubuat membuat Violetta sibuk melihat pertumpahan darah. Visual Violetta selalu menangkap gambaran yang sama: kilasan waktu, wajah dingin Raja Eladriel, tembok istana, segala yang membuat hidupnya nirwarna. Hanya satu cara Violetta dapat melihat dunia luar. Melalui buku.


Jiwa Violetta telah mati. Dia bahkan tak lagi melawan perintah Eladriel. Gadis itu telah membunuh emosinya. Walau wajahnya nampak cerah, namun kekosongan ada di balik ekspresinya. Senyumnya ada ‘tuk menyarukan lara. Keceriaannya yang palsu mengeras, beku, dan menopengi masygul hatinya. Sungguh kehidupan yang menyedihkan.


Dulu, aku adalah putri dari api


Hatiku terbuat dari kaca


Mataku tiada ubahnya berkah


Kini, panasku telah padam


Aku bukan lagi api yang marak lir kelopak mawar di bawah sinar mentari


Yang merah pekat bak darah yang mengalir di nadi


Yang indah sewarna batuan biram dan rubi


Karena begitu api padam


Yang tersisa hanyala jelaga


Harapanku, impianku, kebebasanku, mereka telah mengabu

__ADS_1


Dibakar oleh mata terangku


__ADS_2