
“Dahulu kala, ketika zaman para dewa kian mendekati akhirnya, Dewi Kehidupan—Arthelia memberikan tiga kunci kehidupannya pada makhluk bumi. Ketiganya; jiwa, raga, dan hati, diberikan pada tiga makhluk berbeda.
Para pemegang kunci Arthelia dikenal sebagai para Penjaga Kehidupan. Barang siapa yang dapat memiliki ketiga kunci kehidupan, niscaya dia akan menjadi Penguasa Kehidupan.”
--------------------{*** Sepenggal Dongeng Pengantar Tidur dari Nighthalia ***}-------------------
Violetta memandangi pemandangan ibu kota dari jendela kamarnya di istana. Ingin rasanya gadis itu berhambur keluar dari kamarnya, melarikan diri dari penjara kebebasannya dan melepas segala belenggu kebahagiaan yang mengekang hidupnya.
Ibu kota nampak damai di pagi hari. Mentari menerangi kota dengan cahaya kehidupannya. Awan-awan menghiasi angkasa raya, membentuk ombak putih nan polos. Manik mata violet indah Violetta tertuju pada satu blok di pinggir kota. Lain dengan sekitarnya, atap-atap di sana hitam lebam. Terhangus oleh nyala api barangkali. Beberapa dinding hancur menjadi puing, seakan terkena benturan yang teramat keras.
“Apa kau penasaran?” tanya sebuah suara. Violetta menoleh, dia mendapati seorang wanita paruh baya di ambang pintu. Shinna, dia adalah pelayan Violetta. Dalam artian, dialah yang menyiapkan pakaian Violetta setiap hari dan yang membawakannya makanan. Walau istana dihuni oleh banyak orang, namun yang Violetta kenal bisa dihitung dengan jemarinya. Shinna salah satunya.
Violetta menggelengkan kepalanya, menyangkal keingintahuan di benaknya. Tak ada gunanya menanyakan sesuatu yang tidak dan takkan memengaruhi kehidupanku.
Tersenyum kecil, Shinna mendekati Violetta dan kini duduk di tepi tempat tidurnya. “Vi, apa kau tahu kisah tentang Kesatria Perak Nighthalia?” tanyanya seraya menunjuk pinggiran kota yang nampak hangus terbakar.
“Tidak.” tanggap Violetta.
“Dahulu, ketika Ratu Ziera masih menduduki tahta kerajaan, negeri kita sempat mengalami masa yang begitu suram. Seekor naga bersisik semerah ruby menyerang ibu kota. Tebasan sayapnya mendatangkan angin badai, sementara nafasnya menyemburkan lidah api. Semua mengabu di hadapan sang naga. Banyak orang mati, jika bukan karena nafas Sang Api Abadi, mereka mati kelaparan. Nighthalia dilanda ketakutan dan petaka yang tak terkira. Bisa kau bayangkan itu, Vi?”
Mengangguk. Violetta lebih dari tahu. Tak perlu menjadi jenius atau hidup di tahun-tahun itu untuk membayangkannya. Kehidupan gadis bersurai coklat itu kini tak ubahnya sebuah boneka. Dia telah patah, kosong, Violetta bisa saja memberontak pada Eladriel, namun gadis itu telah kehilangan semangat hidupnya.
Dan semua itu adalah salah kemampuannya. Violetta benci akan mata terangnya. Andai dia bisa menukar nasib, Violetta rela mengorbankan apa pun deminya.
__ADS_1
“Singkat cerita. Suatu hari, Ratu mengirim pasukannya untuk membunuh Sang Naga Api.” lanjut Shinna. “Siapa pun yang dapat membunuhnya, akan mendapat belati berlian yang merupakan salah satu pusaka keluarga kerajaan. Namun, tidak ada yang dapat mengalahkan Sang Naga. Para prajurit tewas bahkan sebelum sempat menatap mata naga itu.
“Langit menjadi gelap gulita, tanah yang dulunya ditumbuhi rerumputan pun terhanguskan lidah api. Sang Naga tak kenal welas asih. Semua prajurit ratu mati, kecuali seorang kesatria bernama Enzo. Dia mengalahkan naga itu dengan pedang ajaibnya yang dapat mengeluarkan petir perak. Membawa taring Sang Naga ke ibu kota, Sang Ratu pun memberikannya belati berlian yang dia janjikan.
“Semenjak itu, nama Enzo kian besar hingga semua orang segar berhadapan dengannya. Orang-orang Nighthalia pun mulai menyebutnya Sang Kesatria Perak, karena dia selalu memakai zirah argentum dan memiliki pedang yang diberkahi petir perak. Namun, eksistansinya menghilang beberapa tahun lalu. Tepatnya, sekitar lima tahun lalu.”
Entah kenapa Violetta tahu kemana arah cerita ini. Dia tidak ingin mendengar kelanjutannya. Bayang-banyang masa lalu itu kembali menghantui benaknya. Tahun-tahun kesedihannya, ketika mendengar ibunya meninggal. Violetta masih ingat betul kenangan itu. Tahun yang bertepatan dengan kematian ratu pula.
Violetta beralih pada pelayannya. Shinna menundukkan kepalanya, mengingat masa-masa kelam yang masih terukir dalam ingatan. “Nighthalia berada di ambang kehancuran. Ratu Ziera membiarkan rakyat kelaparan, dia merampas harta dari para aristokrat, menyulut rasa murka rakyat yang tenggelam oleh nestapa. Sebuah revolusi
dimulai. Dan apa kau tahu siapa yang memimpinnya, Vi?”
“Maaf,” jawab Violetta. “Aku tidak tahu.”
Untuk sesaat, Violetta merasa sesuatu menggetarkan hatinya. “Dia adalah Enzo." Bagaimana bisa? Bagaimana bisa seseorang memberontak jeruji nasib tanpa rasa takut? Gadis itu tak mengerti.
***
Eladriel kembali memanggil Violetta untuk melihat kilasan waktu. Menurut. Berdiri di hadapan Penguasa Nighthalia, Violetta memejamkan matanya berusaha menarik benang waktu. Violetta bahkan tak tahu mengapa dia mengabdi pada raja bertangan besi itu. Dia tidak punya pilihan.
Tentu selalu ada pilihan lain.
Hanya dirimu tak cukup berani mengambilnya.
__ADS_1
Jangankan berbelok ke persimpangan asing.
Mengikuti jalan yang pasti pun langkahmu masih saja ragu.
Benak Violetta tenggelam dalam bayangan medan pertempuran. Semuanya mengerikan, tapi Violetta abai. Entah karena dia sering melihatnya, atau karena apati hatinya. Yang mana pun, Violetta tidak tahu. Pedang-pedang beradu, teriakan para kesatria, kuda-kuda berlarian menerbangkan debu yang menghalangi pandangan, semua begitu jelas.
Hingga, Violetta melihat sebuah keganjilan. Seekor naga bersisik merah terbang di atas medan perang. Api menyembur dari mulutnya, membakar semua pemandangan yang ada. Kilasan berlangsung cepat. Kobaran api kian lenyap, namun apa yang selanjutnya terlihat adalah sebuah kesalahan.
Di antara daratan pekat dan bentangan langit berawan hitam, naga itu berdiri. Sisik-sisik merah sekeras baja hitamnya menghiasi tubuh agungnya. Sepasang sayap indah di belakang punggungnya membentang mengundang kagum makhluk fana.
Semuanya hangus, menyisakan asap dan tanah yang hitam. Tetapi, semua prajurit masih di sana. Mereka hidup. Sang naga berbicara dalam bahasa yang tak Violetta mengerti. Bahasa naga, barangkali. Manusia di sekitarnya menyuarakan jawaban dengan riuh, namun tak satu pun dimengerti Violetta. Naga api pun nampak tak menerima tanggapan dari prajurit di sekitarnya. Asap keluar dari lubang hidungnya, hawa panas menyebar ke sekitar, bertanda bahwa dia akan menyemburkan api.
Sang naga kembali bersabda, mata keemasannya menatap tajam bak belati. Para manusia ketakutan, mereka pun mundur, meninggalkan medan perang. Kilasan berlanjut. Tiga orang kesatria berlutut di hadapan Eladriel, menceritakan apa yang terjadi. Sang raja sama sekali tidak senang, dia melempar gelas minumnya ke lantai. Berteriak, murka akan kegagalannya.
Violetta membuka matanya, kembali pada kenyataan. “Bagaimana?” tanya Eladriel.
Sempat ragu, akhirnya Violetta menjawab. “Anda takkan mendapat kemenangan, semua prajurit akan terpukul mundur, Yang Mulia.” gelar itu serasa kutukan di lidah Violetta.
Eladriel mendesah, tak puas dengan jawaban Violetta. Dia mengusir jauh-jauh gagasan untuk mengirim pasukannnya fajar nanti. Begitu licik, cara apa pun tak masalah bagi Eladriel. Kemenangan, kejayaan, hanya itu yang penting baginya. Seakan bagi Raja Nighthalia itu, kehidupan layakya permainan catur. Dia hanya harus menang. Mengorbankan semua pion demi raja.
Setelah melihat naga dalam kilasan itu, Violetta teringat akan kisah yang diceritakan Shinna. Enzo. Violetta merasa iri padanya. Bagaimana dia berhasil melawan? Bagaimana agar Violetta dapat memberontak?
Dari jendela aula, Violetta melihat seekor elang yang membawa ular. Sang pemilik bisa tak dibawa tanpa perlawanan. Dia memberontak, melukai kaki elang berkali-kali hingga burung itu kesakitan dan melepaskannya.
__ADS_1
Kuncinya sederhana. Keinginan. Violetta tak memiliki keinginan untuk memberontak. Dia selalu berpikir, selama dia memiliki mata terang, hidupnya hanya akan membawa derita. Maka detik ini, sepercik api menyala dalam jiwanya.
Hanya butuh sedikit bensin untuk membuat api berkobar.