Brave Shine

Brave Shine
Chapter 5


__ADS_3

Dahulu, hiduplah seekor burung api yang amat elok. Sayapnya marak sewarna rubi. Air matanya yang sebening kristal dapat menyembuhkan segala penyakit. Sang Phoenix terbang melesat layaknya kilat merah. Dialah Elpida, Sang Raja Phoenix dari Timur.


Atas kebaikan dan kebijaksanaannya, Arthelia memberikan salah satu kunci kehidupan pada Elpida. Naas, Sang Api Abadi terbutakan oleh berkah yang dia terima. Menyombong, bangga akan dirinya yang terpilih menjadi salah satu dari tiga pemegang kunci Arthelia.


Jemu dengan perangai Elpida, Sang Dewi mengutuk burung api itu menjadi sebuah cermin. Sebuah tuah yang dapat menghidupkan sesuatu yang mati, bahkan dapat menghidupkan sebuah mimpi ke dunia nyata. Cermin reinkarnasi, pusaka yang dapat mengabulkan apa saja.


--------------------{ Elpida }-------------------


Violetta membuka jendela kamarnya, manik violet gadis itu dapat melihat suasana pasar di pagi hari. Mentari menampakkan rupa, menyinari angkasa raya dengan cahaya kehidupan. Langit lazuardi membentang tanpa terhalang awan. Violetta dapat merasakan udara pagi yang begitu dingin dan tajam.


Para pedagang nampak menawarkan dagangan mereka dengan riuh. Seorang wanita tengah menata bunga-bunga indah di tokonya. Beberapa kereta kuda berlalu-lalang di sekitar. Inilah kehidupan yang begitu Violetta rindukan. Hidup tanpa paradigma mengenai kehidupan bak burung dalam sangkar emas. Sebuah kehidupan sederhana namun terasa begitu hidup dan nyata.


Segera, gadis itu menyiapkan barang-barangnya dan membayar kamar penginapan yang dia sewa semalam. Violetta teringat akan perjalanannya yang masih panjang. Menurut peta yang dia miliki, Silverion berada jauh di timur Nighthalia. Setelah sampai di perbatasan, gadis itu harus melewati sebuah kota bernama Fiore.


Violetta pernah mendengar nama itu setidaknya beberapa kali. Arzell—tangan kanan raja menyebutnya sebagai kota matahari terbit, karena letaknya yang berada di timur Nighthalia. Beberapa minggu lalu, Arzell juga menyebutkan bahwa Eladriel berencana menyerang Fiore. Dan tentu saja Sang Raja meminta Violetta melihat masa depan.


Kemenangan. Itulah yang Violetta lihat. Sebuah hasil yang sesuai dengan apa yang Eladriel harapkan. Waktu itu Violetta hanya dapat melihat Fiore lewat kilasan waktu. Kini, dia akan melihat tempat itu dengan mata kepalanya sendiri. Haruskah ia merasa bersalah akan nasib Fiore yang jatuh ke tangan besi Eladriel?


Violetta melihat sekitar, bertanya-tanya apakah ada kereta kuda yang akan berangkat ke timur. Akhirnya ada seorang pedagang keramik yang bersedia mengantar Violetta sampai ke perbatasan. Katanya pria itu ingin mengantar keramik pesanan seorang saudagar kaya di Fiore.


Perjalanan hanya dipenuhi oleh suara derap kaki kuda. Violetta memilih bungkam dan memandangi jalanan di hadapannya. Rasanya agak canggung, namun apalah daya. Dia tak pandai dalam memulai percakapan.


Sesekali, si pedagang bernyanyi dengan suara seraknya mengenai kisah Sang Kesatria Perak yang membunuh seekor naga dan membebaskan Nighthalia dari penderitaan. Kisah tentang Enzo. Violetta berpikir, andai saja dia juga memiliki seorang kesatria seperti itu. Seseorang yang dapat membebaskan dirinya dari nestapa yang entah kapan akhirnya.


Senandung pria itu terhenti ketika mereka sampai di gerbang. Dua orang penjaga menghentikan laju kereta pedagang itu. Mereka mengenakan zirah yang berkilau terkena paparan sinar matahari. “Permisi, Tuan, apa yang kau bawa?” tanya salah satu penjaga. Violetta menarik maju tudungnya. Berharap penjaga itu tidak mengenalinya sebagai Pemilik Mata Terang.


“Guci, gelas, tembikar, dan beberapa benda seni buatanku sendiri.” jawab si pedagang.


Penjaga yang satunya menatap curiga pada Violetta. Untuk sesaat, gadis itu dapat merasakan detak jantungnya yang kian berdebar. Cairan empedu serasa naik ke tenggorokannya ketika penjaga itu mendekat. “Dan siapa dia?”


Dalam diam Violetta berharap Arthelia masih memberinya perlindungan. Violetta tak ingin usahanya sia-sia. Dia tak ingin kembali lagi hidup dalam sangkar. Namun nasibnya kini tengah tergantung pada jawaban si pedagang. Apa ini yang dirasakan para prajurit Eladriel? Pergi tidak mereka ke medan perang tegantung dari apa yang Violetta lihat. Inilah rasanya ketika nasibmu tergantung dalam ketidakpastian.


“Ahahaha,” si pedagang tertawa dan berkata, “Ini keponakanku. Dia ingin ikut berkunjung ke Fiore. Katanya dia ingin melihat festival kembang api di sana.”


Si penjaga nampak mempercayai kata-kata pria itu. Lantas dia berbalik dan membiarkan rekannya berteriak, “Lewat!” Kereta pun melanjutkan perjalanan. Violetta begitu berterima kasih pada pria baik hati yang telah menyelamatkannya.


Ketika mereka sudah cukup jauh dari gerbang, barulah Violetta memberanikan diri bertanya. “Tuan, mengapa anda berbohong?”


Pria itu menoleh ke tempat Violetta untuk sesaat. “Ya, kupikir mengatakan yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang bijak.” katanya.


“Aku tidak mengerti.” gumam Violetta bingung.


Si pria tertawa mendengar perkataan Violetta. Gadis itu mengernyit, sementara si pria berusaha menghentikan tawanya. “Nak, terkadang sesuatu tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Kenapa ini? Kenapa itu? Kau hanya perlu melakukan apa yang menurutmu benar. Seseorang pernah berkata padaku bahwa melihat dunia bukan tentang yang benar atau salah. Hidup ini dipenuhi enigma. Ikuti kata hatimu, kebajikan atau kebatilan hanya masalah sudut pandang semata.”


Walau begitu, Violetta masih tidak mengerti akan kebaikan pria itu. Sama halnya dengan kebaikan Shinna dan Ravus. Yang Violeta asumsikan, manusia biasa memiliki niat tertentu ketika mereka memberikan pertolongan. Setidaknya itulah yang dia pelajari dari Eladriel dan tangan kanannya—Arzell.

__ADS_1


“Lagi pula,” tambah si pedagang. “Kau nampak begitu ingin pergi ke timur. Ke manakah tujuanmu?”


“Silverion.”


“Itu jauh sekali, Nona. Kau harus melewati Hutan Kelam, percayalah kau tidak akan menyukai tempat itu.”


“Aku tahu.” Violetta menarik tudungnya, membiarkan semilir angin menerpa paras cantiknya. Dia menyukai bagaimana sinar matahari serasa hangat di kulitnya. Gadis itu dapat melihat pemandangan ladang gandum keemasan di kiri dan kanannya. Para petani tengah bekerja di bawah sinar mentari. Sesekali ada anak-anak yang berlarian di jalanan sambil tertawa. “Setidaknya, tempat itu tidak seburuk Nighthalia.”


“Begitukah?” pria itu terkekeh. “Nona, wali kota Fiore menyerah tanpa syarat kepada Nighthalia.”


“Raja Nighthalia tidak menyerang Fiore?”


“Ya,” jawabnya. “Awalnya kupikir keputusan itu amatlah pengecut. Namun seorang pemuda memberitahuku bahwa Fiore tak memiliki prajurit yang cakap. Untuk apa ada pertempuran darah? Raja hanya menginginkan kekuasaan, hal yang wajar untuk manusia.”


Terdiam. Manik mata violet itu memilih untuk memandangi pemandangan sekitar. Mengingat Eladriel hanya membuatnya ngeri. Gadis itu berharap orang-orang di istana belum mengetahui mengenai pelariannya. Ya, Violetta harus pergi sejauh mungkin dari Nighthalia.


***


Pedagang itu mengantar Violetta sampai ke Fiore. Awalnya Violetta bermaksud turun di perbatasan, namun pria itu menyarankan agar Violetta ikut bersamanya hingga ke Fiore. Gadis itu mematuhi nasihatnya, setidaknya jika Violetta sampai di Fiore, dia bisa mencari penginapan di sana. Butuh sehari penuh untuk menempuh perjalanan hingga sampai di tujuan.


Fiore di malam hari begitu membuat kagum Violetta. Di bawah naungan langit berbintang, kota ini begitu ramai. Begitu banyak kios-kios yang menawarkan aneka macam barang. Untuk sesaat, gadis itu begitu tergoda untuk membeli beberapa pernak-pernik cantik di sana. Tetapi uang yang dibawanya terbatas. Dia harus menghematnya untuk menyewa penginapan atau kereta kuda lain.


“Tuan, terimalah ini.” kata Violetta dengan sopan sembari menawarkan empat keping koin perak yang telah ia janjikan.


Si pedagang menggelengkan kepalanya. “Simpanlah,” katanya. “Kau lebih membutuhkannya dariku.”


“Tidak apa, Nak. Simpanlah untuk perjalananmu.” ujarnya. Mengangguk, Violetta pun berterimakasih. Namun sebelum dia hendak berlalu meninggalkan pria itu, si pedagang kembali memanggilnya kembali. “Nona, tunggu sebentar.”


Violetta melihat pria itu mencari-cari sesuatu di antara barang bawaannya. Hingga akhirnya pria itu berbalik dan memberikan Violetta sebuah kotak kayu yang entah apa isinya. “Jika di perjalananmu kau bertemu seorang pemuda dengan bekas luka di dahinya, bisakah berikan ini padanya? Tolong katakan padanya untuk pulang.” kata pria itu dengan sendu.


Awalnya, Violetta ragu. Ia tidak mengert mengapa pria ini begitu mempercayainya untuk sebuah tugas yang amat penting. “Apa dia putramu?”


Mengangguk mengiyakan. Pria itu menyerahkan kotak itu pada Violetta. “Kumohon, ini hanya permintaan kecil dariku. Jika kau tidak juga bertemu dengannya di perjalananmu, kau boleh memilikinya.”


Menerima dengan perasaan bimbang. Di satu sisi, Violetta lega karena dapat membalas budinya. Namun di sisi lain, dia ragu apakah gadis itu bisa bertemu dengan sosok yang pria itu maksud.


Pada akhinya, Violetta menyanggupi permintaan itu. “Terima kasih.” Dan itulah salam perpisahan dari pria itu.


***


Semua serasa asing bagi Violetta. Biasanya gadis bersurai kelam itu hanya menghabiskan hari-harinya dengan membaca buku di istana. ”Buku adalah jendela dunia" itulah anggapan yang dulu Violetta percayai. Namun melihat dunia dengan matanya sendiri sungguhlah berbeda.


Semua pemandangan ini amatlah berbeda dengan apa yang ada dalam buku. Dia dapat mendengar suara riuh keramaian, mencium aroma makanan manis yang dijajakan di sebuah toko. Sebuah sensasi yang takkan bisa di dapat hanya dengan membaca buku.


Seperti yang dikatakan pedagang tadi, Fiore telah jatuh ke tangan Nighthalia. Violetta dapat melihat panji-panji yang menghiasi kota. Pedang perak berlatar biru kelam, simbol kebesaran Nighthalia.

__ADS_1


Betapa memuakkan bila mengetahui rahasia dibalik kemenangan absolut Nighthalia. Apakah orang-orang akan menyerbu ibu kota beramai-ramai setelah mengetahui alasan di balik kemenangan Sang Raja? Lantas, akankah penguasa yang baru bersikap arif? Atau tiada ubahnya perangai Eladriel?


Segera, Violetta mengenyahkan pemikiran itu. Dia sudah jauh dari ibu kota sekarang. Jauh dari Eladriel. Tidak ada lagi kehidupan suram dalam sangkar. Gadis itu aman sekarang. Dan ia harus menggenggam kebebasan itu erat-erat.


Violetta menyempatkan diri untuk bertanya pada seorang penjual pernak-pernik yang mengarahkannya pada sebuah penginapan. Wanita pemilik penginapan itu begitu ramah pada Violetta. Tubuhnya ramping dan sorot matanya mengingatkannya akan pelayannya di istana—Shinna.


“Apa ini pertama kalinya kau ke Fiore, Nona?” tanyanya ramah.


“Ah, iya.” Violetta mengangguk. Gadis itu merasa risih dengan tatapan beberapa pengunjung. Beberapa kali ia menaikkan tudungnya, menyembunyikan wajahnya dari orang-orang.


Tak seorang pun yang berani menatap langsung kedua sorot violet itu kecuali Ravus. Lain dari orang-orang yang Violetta temui, tak pernah sekali pun pemuda itu menunjukkan tatapan menuduh atau curiga di matanya. Yang ada hanya sorot mata teduh yang ceria.


Ravus selalu membuat Violetta merasa seperti manusia biasa. Kebersamaan mereka tidak memerlukan sebuah syarat apa pun. Tak ada belenggu layaknya Eladriel. Tak ada intimidasi layaknya tangan kanan raja—Arzell. Hanya Violetta dan Ravus. Namun kini kenangan indah itu pupus oleh bara realita. Yang tertinggal hanya rasa sesak. Rasanya seperti menghirup asap dari hutan yang terbakar. Begitu menjemukan pula memilukan.


Namun itu semua akan segera berakhir. Setelah Violetta dapat menemukan Elpida, semua akan kembali seperti semula. Dia dapat membawa sang terkasih kembali dan mencabut kekuatan mata terangnya. Biar pun keinginan itu


tiada ubahnya sebuah fantasi semata, setidaknya Violetta harus terbebas dari sangkarnya.


“Apa kau pergi seorang diri?” pertanyaan wanita itu menyadarkan Violetta dari lamunannya.


“Iya,” jawab Violetta singkat.


Menurut Violetta, rasa penasaran orang lain sangatlah merepotkan. Berbagai pertanyaan mengenai masa depan adalah sesuatu yang agak sensitif bagi gadis itu. Namun setidaknya keramah-tamahan wanita ini jauh lebih Violetta sukai dibandingkan bercakap dengan penguasa Nighthalia.


“Kau seharusnya menghabiskan semalam lagi di Fiore.” saran wanita itu. “Kami akan mengadakan festival kembang api untuk merayakan kemenangan Eladriel.”


Deg!


Darah Violetta serasa terkuras habis. Nama Eladriel sungguh terlarang untuknya. Seperti mimpi buruk yang mewujud di dunia nyata.


Selepas bercakap dengan wanita pemilik penginapan, Violeta segera menuju kamar yang dia pesan. Meletakkan tas yang dia bawa di tempat tidur, gadis itu lantas mengeluarkan peta yang dia dapat dari Shinna. Cahaya temaram


dari lampu minyak sudah cukup untuk memberi mata Violetta penerangan. Perlahan, jari telunjuknya menyusuri gambaran hutan dan sungai menuju ke satu titk yang bernama “Silverion”


Letaknya cukup jauh dari Fiore. Namun jarak saja tak cukup buat menciutkan nyali Violetta. Yang menjadi masalah adalah tempat-tempat yang harus dia lewati.


“Hutan kelam.” gumamnya.


Mendengar namanya saja sudah membuat Violetta ngeri. Hanya perihal buruk yang dapat terbayang kala mendengar nama Hutan Kelam. Harus ia akui, Violetta sedikit takut. Tapi ketika ia ingat kembali akan apa yang menjadi tujuannya, tekadnya kembali.


Elpida.


Violetta pasti akan menemukan cermin itu. Cermin reinkarnasi. Harapannya. Namun sebelum itu ....


Melirik kembali pada barang-barangnya. Violetta mendapati sebuah kotak yang diberikan pedagang itu padanya. Membuka kotak itu serasa begitu menggoda. Namun ia tahu bahwasanya itu bukan hal yang bijak. Itu untuk putranya.

__ADS_1


Bisakah Violetta menempati janjinya? Dia berharap.


__ADS_2