
“Dari sekian pilihan, kau memilih kematian? Ambilah jalan lain selagi jiwamu masih ada dalam raga. Atau kau akan menyesal. Saat itu tiba, aku akan menjadi makhluk pertama yang menertawakan kenaifanmu.”
--------------------{ Ignis }-------------------
Angin malam bertiup membawa hawa dingin. Pepohonan rindang nan tinggi berdiri kukuh layaknya monster di malam hari. Di bawah naungan langit berbintang, sosok itu berdiri menatap lunar yang bersinar terang keperakan. Dia menunggu, namun gerangan yang ditunggunya tak jua datang. Sosok itu lelah, jemu menunggu, dia mengela napas dan berbalik. Tudung mantelnya menyarukan rupa dari parasnya. Kakinya membawanya melangkah kembali ke kegelapan jenggala.
“Dia takkan datang.” ujar sebuah suara yang datang entah dari mana.
“Aku tak menunggunya,” sahut sosok yang menghentikan langkahnya.
“Kau pembohong yang mengerikan.”
Abai. Tanpa menghiraukan suara misterius itu, dia kembali berjalan. Kembali menjadi bayang-banyang yang menyaru dalam kegelapan. Dia mungkin lelah menunggu, namun hatinya masih berharap.
Walau takdir mengikatkan rantai nestapa di raganya, namun sanubarinya masih merona. Loyalitasnya tak perlu diragu lagi. Walau waktu kian mengikis dunia ia tetap akan percaya bahwa harapan itu nyata.
Kupakai topeng penuh dusta dan melemparkan sisa masa laluku pada kegelapan.
Bagai mangsa yang terjebak dalam sangkar
Aku hanya bisa meratapi langit dengan kerinduan
Tragedi terus menimpaku dan aku pun tertawa
Kucabut pedangku agar aku tak kehilangan apa pun lagi
Dalam kegelapan ini, senyumku dinodai kehampaan
Amarahku yang abadi tak bisa terlampiaskan
Entah berapa banyak darah dan air mata yang harus kuteteskan
Bertarung akan jadi pilihanku
***
__ADS_1
“Hidup itu perih.” Dulu kalimat itu hanya akan membuat Violetta tertawa. “Hidup itu indah, sebuah berkah tak ternilai yang diberikan Arthelia kepada kita.” Itulah kata-kata yang senantiasa gadis itu tanamkan di relung hatinya sewaktu kecil. Kini, Violetta merasa bahwa hidup memang perih. Tiada satu pun ihwal yang dapat membuatnya bahagia di sini. Tidak gaun indah, tidak makanan lezat, tidak kamar yang mewah, semuanya tak berarti bagi Violetta.
Cahaya Violetta telah hilang dan takkan pernah kembali. Mimpi buruk silih berganti tiap malamnya. Kepergian ibunya, muka dingin Eladriel, seringai Arzell, kepergian Ravus. Gadis itu tak sanggup lagi menahan beban hidupnya.
Andai Violetta dapat melarang Ravus untuk pergi, mungkin pemuda itu masih ada bersamanya. Dia tahu akan maut yang akan datang. Namun dia hanya berdiam diri. Membiarkan takdir merenggut cahayanya. Tak bisakah gadis itu diberi kesempatan kedua?
“Tidakkah kau ingin keluar istana dan melihat dunia dengan matamu sendiri?”
Sesal. Mengapa tak Violetta terima saja tawaran Ravus untuk pergi dari sangkar jiwanya dan menjalani hidup bebas tanpa terkekang belenggu Eladriel? Akhirnya Violetta sadar, berbohong tak akan membawa untung. Walau kau berdalih atas kebohonganmu, dusta tetaplah dusta.
Kehampaan dalam diri Violetta kian menggerogoti jiwanya. Mata violet yang dulu indah mempesona kini kehilangan kilaunya. Kakinya melangkah layaknya terseret-seret. Tak ada lagi air mata yang tersisa untuk menangisi masygul hatinya.
“Vi, apa kau di dalam?” sebuah suara dari balik pintu kamarnya tak membuat Violetta bergeming dari tempatnya di sudut ruangan. “Vi?” Pintu terbuka memperlihatkan sosok Shinna yang membawakan baki berisi makanan. Wanita itu hanya bisa menatap sendu Violetta, dia meletakkan makanannya di atas sebuah meja dan menghampiri Violetta untuk duduk di sebelahnya.
“Vi, apa kau masih memikirkannya?”
Hening. Violetta memilih bungkam, enggan menaburkan garam di atas lukanya. Mengingat Ravus hanya menambah sesak dadanya.
“Apa dia sangat berarti bagimu?”
“Dia pembohong.”
Shinna berbalik hanya untuk melihat gadis itu hancur. “Vi, dia—“
“Dia berjanji akan kembali. Dia ... Jika saja aku dapat melarangnya, maka ....” Violetta terisak, mencari kata-kata yang tak kunjung terucap bibirnya. “Ini semua salahku. Seharusnya aku melakukan sesuatu, bukan hanya berdiam diri dan berharap pada kenihilan.”
“Vi,” Shinna kembali duduk di samping Violetta, menghibur gadis itu layaknya putrinya sendiri. “Manusia tak bisa merubah ketetapan langit. Banyak hal menyedihkan yang terjadi, namun bila kau tenggelam di dalamnya, maka hidupmu hanya akan semakin penuh derita. Harapan masih ada untuk semua manusia, dan kau juga memilikinya.”
“Tidak ada harapan di dunia yang kejam ini.”
“Vi, kau hanya harus percaya pada harapan, maka Arthelia pun akan memberimu jalan untuk menggapainya. Namun, jika kau tak tapaki jalan itu, maka kau hanya akan hidup dalam penjara jiwa.” terang Shinna. Kata-katanya membuat hati Violetta menyala. Tak pernah sekali pun dia melangkah. Dia selalu punya pilihan, namun dia terlalu takut mengambilnya. “Kau layak menentukan nasibmu.” lanjut Shinna.
“Kitalah yang menentukan nasib kita sendiri, Vi. Semua orang pantas bahagia.”
Violetta mengadah, menatap mata teduh Sang Pelayan. “Tapi, bagaimana aku bisa bahagia ketika mataku menggambil semua kebahagiaanku?”
__ADS_1
“Kau bisa, masih ada harapan untukmu.”
“Harapan?” Hati Violetta kian menyala, layaknya api yang tengah terkipasi. “Jadi, masih ada harapan untukku? Untuk dapat mengubah hidupku?”
Mengangguk. Jawaban itulah yang dibutuhkan Violetta. Kedua matanya menemukan kembali cahaya, terang oleh kobaran semangat hidupnya yang telah kembali. Violetta jemu dengan semua ini. Dia lelah dengan hidupnya, lelah dikekang Eladriel, lelah mengatakan dusta. Dia hanya ingin kebahagiaan. Apa bahagia itu teramat mahal harganya? Apa ini hukuman karena membelokkan ketetapan dewa? Atau barangkali sebuah kutukan? Apa pun itu, Violetta tak peduli. Yang ia inginkan hanyalah satu: perubahan.
***
Menyusuri lorong yang gelap dan berbau, udara serasa pengap tiap kali Violetta menghirup napas. Jaring laba-laba menghiasi sudut-sudut yang telah lama ditinggal tak terurus. Sesekali suara decitan terdengar, barangkali datang dari hewan pengerat yang jengkel melihat kedatangan sosok asing di sarangnya. Tanpa menoleh sekali pun, Violetta terus berjalan. Menapaki jalan menuju kebebasan, menuju harapan, dan yang terpenting, tiap langkah yang diambilnya membuatnya kian dekat dengan kebahagiaannya.
“Elpida—cermin reinkarnasi. Sebuah relikui yang dapat menghidupkan segala sesuatu yang mati. Entah itu makhluk yang dahulu bernyawa, atau pun impian yang telah mati.”
Kata-kata Shina kembali menggema di benak Violetta. Tak ada lagi kata menurut, gadis itu kini melawan, memberontak pada sangkarnya.
“Jika kau merasa harapanmu telah mati, aku yakin, Elpida akan dapat menghidupkannya kembali. Dia dapat mengabulkan segala permintaan, termasuk membawanya kembali.”
Ravus. Violetta tidak yakin sebuah cermin dapat mengembalikan cahayanya, namun dia harus berusaha. Walau Elpida tiada ubahnya sebuah mitos semata, setidaknya gadis itu tak ingin lagi hidup dalam pengasingan, dalam belenggu Eladriel.
Setelah beberapa menit, Violetta sampai di mulut lorong. Disarukan oleh semak-semak, lorong rahasia itu mengantarkannya tepat ke belakang istana. Violetta menatap sekitar, menghirup udara segar yang telah lama dia rindukan. Angin dingin menerpa paras cantikanya, seakan sebuah sambutan dari alam.
Violetta bebas.
Dia berbalik, memandang benteng istana yang berdiri kokoh. Tersenyum, gadis itu takkan pernah merindukan tempat itu lagi. Dalam hati, Violetta berterimakasih pada Shinna, yang telah memberikan pakaian dan beberapa uang perak untuknya. Namun yang paling penting, dia berterimakasih karena pelayan itu telah memberikan sebuah jalan untuknya, jalan menuju kebebasan.
“Terima kasih, Shinna.” kata Violetta. Dia akan selalu mengingat kebaikan wanita itu.
Kini, Violetta kembali berjalan menjauh dari istana. Dia harus pergi sejauh mungkin dari ibu kota. Uang yang dibawanya cukup untuk membayar penginapan selama beberapa hari dan menyewa kereta kuda. Jika beruntung, Violetta dapat mendapatkan tumpangan di perjalanannya.
“Pergilah, ke Silverion. Di sana kau akan menemukan sebuah kuil. Konon, Elpida tersembunyi di sana, di tempat di mana segalanya dimulai. Carilah cermin reinkarnasi itu, carilah harapnmu, Vi. Kau layak mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Hiduplah, dan bebaslah.”
Violetta akan mengingat petuah Shinna baik-baik. Dia takkan menyia-nyiakan bantuannya. Untunglah Shinna tahu sebuah jalan rahasia di istana. Dulu, lorong itu biasa dipakai oleh keluarga kerajaan untuk melarikan diri kala perang. Namun, kini lorong itu telah terbengkalai.
Sebuah pemandangan kota menyambut Violetta. Gadis itu memadamkan obornya, dan meninggalkannya di rerumputan basah. Violetta segera berlari menuju kota. Dia menatap kagum betapa hidupnya tempat itu di malam hari. Biasanya, Violetta hanya dapat melihat ibu kota dari jendela kamarnya, namun kini semua nampak
jelas.
__ADS_1
Ravus benar, kau tak bisa menjadikan buku sebagai jendela untuk melihat dunia. Kau harus keluar, dan melihat dunia dengan mata kepalamu sendiri.