
"What?? Mo-moddus. Speaking
English Ok. I'm not understand.
please!" Shahin penasaran dengan kata modus itu.
" Payah, kau Bule payah! Pergi sana!"
" Apa yang kau ucapkan? Tolong
gunakan bahasa Inggris ketika
bebicara Akira". Shahin memohon.
Aisyah tetap tidak peduli.
Ia cuek, seolah-olah tak ada
yang terjadi padanya. Ia pura-pura tidak
tahu.
" Use Google! Seharusnya kau kursus bahasa
Indonesia sebelum kau berlibur kesini". Aisyah cuek saja.
" Saya tidak pandai dalam bahasa Indonesia"
Shahin tertunduk. "Saya hanya bisa ngomong, Aku ci cinta Kamu". Shahin mengatakan hal itu sambil menatap Aisyah.
" Itu saja? Kalau begitu saya akan bilang,
Saya tidak mencintaimu. Hanya itu". Aisyah melirik Shahin sinis. "Sudahlah lupakan itu". Aisyah memutus pembicaraan itu.
Karena ia tahu itu akan sia-sia menjelaskan
kepada Bule itu.
***
Setelah mendengar ucapan Aisyah seolah-olah tidak perduli.
Shahin hanya termenung. " ***Berpikir positif adalah kuncinya**, karena aku tahu dia bukan
perempuan sembarangan*. Ia pasti tidak mudah menerima pernyataan orang yang tidak ia kenal". Shahin termenung.
" Ya sudahlah".
***
Selama perjalanan, Aisyah dan Shahin saling diam. Aisyah hanya berpura-pura bahwa Shahin tidak ada disebelahnya.
Hingga akhirnya bus berhenti disebuah perhentian bus. Tempat dimana supir-supir
bus beristirahat. Disana juga tersedia mushola. Para penumpang segera turun. Mereka ada yang pergi sholat atau sekadar untuk beristirahat diwarung makan. Didalam bus sudah sepi, terkecuali Aisyah dan Shahin.
Aisyah sebenarnya ingin pergi ketoilet untuk mengganti pakaiannya. Aisyah merasa tidak nyaman dengan bajunya yang ia pakai.
Tapi ia mengurungkan niatnya, ia melihat
toilet sudah banyak yang mengantri.
" Huh sialan! Kalau toiletnya
penuh aku mau ganti baju gimana?"
Aisyah diam dan berpikir. "Kalau ngantri mungkin bakalan berjam-jam. Hemmm.. mumpung kondisi dalam bus sepi. Disini aja".
"Apa yang sedang kau pikirkan Akira? Oh ya, bolehkah aku memanggilmu dengan nama Aisyah? Aku sering keliru bila memanggilmu Akira. Please!" Shahin berkata serius.
" Up to you. Tapi ya sudahlah jika itu baik untukku. Silahkan". Aisyah menjawabnya
dengan nada datar.
"Jangan seperti itu Aisyah! Kau seolah-olah tak menganggapku tidak ada. Ini membuatku kecewa".
"Kapan aku bilang begitu padamu?"
" Setiap kali aku bertanya kau menjawab nya
__ADS_1
singkat".
" Prinsipnya, lebih banyak bekerja daripada berbicara. Ngomong-ngomong jagain
pintu masuk bus ini. Aku mau ganti baju".
" What???"
" Lakukan saja. Nanti bila ada orang mau
masuk peringatkan aku. Okey".
"Baiklah Miss Aisyah. Saya akan melaksanakannya untukmu".
"Jangan ngintip!"
" Saya akan berusaha". Shahin tersenyum nakal.
" Berhati- hatilah dalam bersikap!
Kau tidak tahu dengan siapa kau berbicara".
Aisyah memperingati Shahin dengan nada
mengancam.
" Baiklah Miss Aisyah".
Shahin mengawasi keadaan sekitar. Tetapi ia sesekali menoleh kearah Aisyah yang sedang mengeluarkan salinan pakaiannya.
Aisyah langsung mendelik padanya. Dan reflek Shahin langsung memalingkan pandangan.
Aisyah mengganti pakaiannya. Hanya saja ia tidak melepas semua baju yang ia kenakan.
Lalu ia hanya terlihat menggunakan tank-top.
***
Shahin tiba-tiba melihat dua orang pria,
ingin masuk kedalan bus. Namun karena kedua orang pria tersebut sudah hampir
Tanpa aba-aba ia mendorong Aisyah, sehingga Aisyah terbaring di kursi bus tertindih oleh tubuh Shahin.
Aisyah begitu terkejut. Dadanya sesak, ia
terlihat seperti kehabisan nafas.
Sedang Shahin ia menatap dalam-dalam mata Aisyah. Tiba- tiba wajahnya mulai mendekati wajah Aisyah.
Aisyah membalas tatapan itu juga. Tapi
hal yang mereka pikirkan sangatlah berbeda. Aisyah terkejut akibat kedatangan Shahin yang tiba-tiba yang membuat dirinya kaget. Ia tidak bisa bernafas karena badan Shahin menindihnya.
Sedang Shahin. Tatapannya begitu dalam.
Shahin mulai melihat bibir Aisyah. Bibirnya mulai mencari sebuah kesenangan tanpa ia sadari.
Aisyah lantas berkata. " Woy somplak lu mau apa? Apa maksudmu menindihku seperti ini? Aku sudah kehabisan nafas bodoh!"
Aisyah tidak bisa berkata keras. Sebab seluruh badannya telah tertindih tubuh
Shahin yang jauh lebih besar dari tubuhnya.
" Barusan ada dua orang pria akan masuk
kedalam bus". Jawab Shahin tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mengapa kau tidak memperingatkan
aku?"
" Mereka sudah terlanjur tiba disini". Shahin
menjelaskannya.
"Apa kau tidak lihat? Aku belum selesai
ganti pakaian payah".
__ADS_1
Aisyah berusaha menutupi tubuhnya dengan tangannya. Tetapi tangannya juga ikut tertindih oleh Shahin.
Shahin melihat pakaian yang sedang Aisyah kenakan. "Hanya menggunakan pakaian
dalam". Shahin setengah berbisik.
"Jangan melihatnya bodoh. Apakah mereka sudah pergi?"
Shahin segera mengintip melalui celah kursi.
"Sepertinya sudah". Shahin kembali menatap Aisyah.
"Benarkah?"
"Ya. Mereka sudah keluar".
Tapi Shahin belum berdiri dari posisinya.
Pikirannya membawanya untuk melakukan
itu. Bibirnya mulai mendekati bibir Aisyah. Sedang Aisyah melihat apa yang akan dilakukan Shahin.
Ia segera bangkit. Ia berbalik mendorong Shahin dengan kakinya.
Membuat Shahin terpental.
Lantas Shahin terbaring dikursi bus yang tepat sejajar dengan kursi Aisyah.
Aisyah bebalik menindih Shahin.
"Apa yang barusan kau lakukan hah?"
Aisyah bertanya dengan nada keras pada Shahin.
"Apa kau tidak lihat? Aku masih belum
selesai ganti. Cepat jawab. Apa maksudmu
barusan ingin mencium ku?" Aisyah setengah membentah.
Ia menindih tangan dan dada Shahin dengan
dadanya.
"Izinkan aku menciummu". Shahin berkata
terus terang.
"What??"
Aisyah membelalakan matanya. Tangannya segera mengambil sebuah benda dari sebuah
kantung yang berada dipinggangnya.
Dan benda itu sebuah pisau.
"Kau yakin?" Aisyah menyudutkan pisau
itu kepada wajah Shahin.
"Kalau kau masih ingin melihat mentari esok,
jangan macam-macam denganku. Payah".
Shahin terkejut dengan yang Aisyah lakukan.
Tapi ia tetap tenang. Ia berpikir Aisyah tidak
akan berani melakukan itu.
"Apa kau akan menyakitiku?" Tanya Shahin.
"Lantas apa yang akan kulakukan dengan
pisau ini?"
****
#Masih belum ada perubahan.
__ADS_1