Bule Maroko Dan Gadis Psikopat

Bule Maroko Dan Gadis Psikopat
VI. Izinkan Aku Mencium Mu


__ADS_3

"What?? Mo-moddus. Speaking


English Ok. I'm not understand.


please!" Shahin penasaran dengan kata modus itu.


" Payah, kau Bule payah! Pergi sana!"


" Apa yang kau ucapkan? Tolong


gunakan bahasa Inggris ketika


bebicara Akira". Shahin memohon.


Aisyah tetap tidak peduli.


Ia cuek, seolah-olah tak ada


yang terjadi padanya. Ia pura-pura tidak


tahu.


" Use Google! Seharusnya kau kursus bahasa


Indonesia sebelum kau berlibur kesini". Aisyah cuek saja.


" Saya tidak pandai dalam bahasa Indonesia"


Shahin tertunduk. "Saya hanya bisa ngomong, Aku ci cinta Kamu". Shahin mengatakan hal itu sambil menatap Aisyah.


" Itu saja? Kalau begitu saya akan bilang,


Saya tidak mencintaimu. Hanya itu". Aisyah melirik Shahin sinis. "Sudahlah lupakan itu". Aisyah memutus pembicaraan itu.


Karena ia tahu itu akan sia-sia menjelaskan


kepada Bule itu.


***


Setelah mendengar ucapan Aisyah seolah-olah tidak perduli.


Shahin hanya termenung. " ***Berpikir positif adalah kuncinya**, karena aku tahu dia bukan


perempuan sembarangan*. Ia pasti tidak mudah menerima pernyataan orang yang tidak ia kenal". Shahin termenung.


" Ya sudahlah".


***


Selama perjalanan, Aisyah dan Shahin saling diam. Aisyah hanya berpura-pura bahwa Shahin tidak ada disebelahnya.


Hingga akhirnya bus berhenti disebuah perhentian bus. Tempat dimana supir-supir


bus beristirahat. Disana juga tersedia mushola. Para penumpang segera turun. Mereka ada yang pergi sholat atau sekadar untuk beristirahat diwarung makan. Didalam bus sudah sepi, terkecuali Aisyah dan Shahin.


Aisyah sebenarnya ingin pergi ketoilet untuk mengganti pakaiannya. Aisyah merasa tidak nyaman dengan bajunya yang ia pakai.


Tapi ia mengurungkan niatnya, ia melihat


toilet sudah banyak yang mengantri.


" Huh sialan! Kalau toiletnya


penuh aku mau ganti baju gimana?"


Aisyah diam dan berpikir. "Kalau ngantri mungkin bakalan berjam-jam. Hemmm.. mumpung kondisi dalam bus sepi. Disini aja".


"Apa yang sedang kau pikirkan Akira? Oh ya, bolehkah aku memanggilmu dengan nama Aisyah? Aku sering keliru bila memanggilmu Akira. Please!" Shahin berkata serius.


" Up to you. Tapi ya sudahlah jika itu baik untukku. Silahkan". Aisyah menjawabnya


dengan nada datar.


"Jangan seperti itu Aisyah! Kau seolah-olah tak menganggapku tidak ada. Ini membuatku kecewa".


"Kapan aku bilang begitu padamu?"


" Setiap kali aku bertanya kau menjawab nya

__ADS_1


singkat".


" Prinsipnya, lebih banyak bekerja daripada berbicara. Ngomong-ngomong jagain


pintu masuk bus ini. Aku mau ganti baju".


" What???"


" Lakukan saja. Nanti bila ada orang mau


masuk peringatkan aku. Okey".


"Baiklah Miss Aisyah. Saya akan melaksanakannya untukmu".


"Jangan ngintip!"


" Saya akan berusaha". Shahin tersenyum nakal.


" Berhati- hatilah dalam bersikap!


Kau tidak tahu dengan siapa kau berbicara".


Aisyah memperingati Shahin dengan nada


mengancam.


" Baiklah Miss Aisyah".


Shahin mengawasi keadaan sekitar. Tetapi ia sesekali menoleh kearah Aisyah yang sedang mengeluarkan salinan pakaiannya.


Aisyah langsung mendelik padanya. Dan reflek Shahin langsung memalingkan pandangan.


Aisyah mengganti pakaiannya. Hanya saja ia tidak melepas semua baju yang ia kenakan.


Lalu ia hanya terlihat menggunakan tank-top.


***


Shahin tiba-tiba melihat dua orang pria,


ingin masuk kedalan bus. Namun karena kedua orang pria tersebut sudah hampir


Tanpa aba-aba ia mendorong Aisyah, sehingga Aisyah terbaring di kursi bus tertindih oleh tubuh Shahin.


Aisyah begitu terkejut. Dadanya sesak, ia


terlihat seperti kehabisan nafas.


Sedang Shahin ia menatap dalam-dalam mata Aisyah. Tiba- tiba wajahnya mulai mendekati wajah Aisyah.


Aisyah membalas tatapan itu juga. Tapi


hal yang mereka pikirkan sangatlah berbeda. Aisyah terkejut akibat kedatangan Shahin yang tiba-tiba yang membuat dirinya kaget. Ia tidak bisa bernafas karena badan Shahin menindihnya.


Sedang Shahin. Tatapannya begitu dalam.


Shahin mulai melihat bibir Aisyah. Bibirnya mulai mencari sebuah kesenangan tanpa ia sadari.


Aisyah lantas berkata. " Woy somplak lu mau apa? Apa maksudmu menindihku seperti ini? Aku sudah kehabisan nafas bodoh!"


Aisyah tidak bisa berkata keras. Sebab seluruh badannya telah tertindih tubuh


Shahin yang jauh lebih besar dari tubuhnya.


" Barusan ada dua orang pria akan masuk


kedalam bus". Jawab Shahin tanpa mengalihkan pandangannya.


"Mengapa kau tidak memperingatkan


aku?"


" Mereka sudah terlanjur tiba disini". Shahin


menjelaskannya.


"Apa kau tidak lihat? Aku belum selesai


ganti pakaian payah".

__ADS_1


Aisyah berusaha menutupi tubuhnya dengan tangannya. Tetapi tangannya juga ikut tertindih oleh Shahin.


Shahin melihat pakaian yang sedang Aisyah kenakan. "Hanya menggunakan pakaian


dalam". Shahin setengah berbisik.


"Jangan melihatnya bodoh. Apakah mereka sudah pergi?"


Shahin segera mengintip melalui celah kursi.


"Sepertinya sudah". Shahin kembali menatap Aisyah.


"Benarkah?"


"Ya. Mereka sudah keluar".


Tapi Shahin belum berdiri dari posisinya.


Pikirannya membawanya untuk melakukan


itu. Bibirnya mulai mendekati bibir Aisyah. Sedang Aisyah melihat apa yang akan dilakukan Shahin.


Ia segera bangkit. Ia berbalik mendorong Shahin dengan kakinya.


Membuat Shahin terpental.


Lantas Shahin terbaring dikursi bus yang tepat sejajar dengan kursi Aisyah.


Aisyah bebalik menindih Shahin.


"Apa yang barusan kau lakukan hah?"


Aisyah bertanya dengan nada keras pada Shahin.


"Apa kau tidak lihat? Aku masih belum


selesai ganti. Cepat jawab. Apa maksudmu


barusan ingin mencium ku?" Aisyah setengah membentah.


Ia menindih tangan dan dada Shahin dengan


dadanya.


"Izinkan aku menciummu". Shahin berkata


terus terang.


"What??"


Aisyah membelalakan matanya. Tangannya segera mengambil sebuah benda dari sebuah


kantung yang berada dipinggangnya.


Dan benda itu sebuah pisau.


"Kau yakin?" Aisyah menyudutkan pisau


itu kepada wajah Shahin.


"Kalau kau masih ingin melihat mentari esok,


jangan macam-macam denganku. Payah".


Shahin terkejut dengan yang Aisyah lakukan.


Tapi ia tetap tenang. Ia berpikir Aisyah tidak


akan berani melakukan itu.


"Apa kau akan menyakitiku?" Tanya Shahin.


"Lantas apa yang akan kulakukan dengan


pisau ini?"


****


#Masih belum ada perubahan.

__ADS_1


__ADS_2