BUMI CINTA

BUMI CINTA
•°• Chapter 02 •°•


__ADS_3

Jangan lupa:


Like 👍👍👍


Komen 🆙🆙🆙 dan


Vote ⭐⭐⭐⭐⭐


Terimakasih teman-teman 🤗🤗🤗


Selamat Membaca!


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Dengan langkah santai, perempuan berjilbab merah-hitam itu menyelusuri jalan perkampungan yang cukup padat penduduk. Tas ransel masih setia menempel di pundaknya, serta tas jinjing di tangan kirinya.


Wajahnya yang sudah menggambarkan kesehariannya ia bekerja. Kusam, berdebu, dan berminyak. Bau tubuhnya pun tak sewangi pagi tadi. Tapi semua itu tak menutupi wajah cantiknya.


Walau tak seputih orang kota, Perempuan itu cukup cantik dan wajahnya seolah bersinar, karena air wudhu yang selalu ia ambil setiap waktu.

__ADS_1


"Bu guru!", segerombolan anak-anak datang dan menghampiri. Orang yang di tuju hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak yang seakan sudah mereka biasakan, untuk menyapa.


"Assalamu'alaikum", perempuan itu menghentikan langkahnya saat anak-anak telah sampai di hadapannya. Sebagai dari mereka hanya tersenyum dan sebagian lagi membalas salamnya.


"Bu guru baru pulang?",


"Bu guru sudah makan?",


"Bu guru capek, ya?".


Perempuan itu yang di sapa Bu guru hanya mampu tersenyum sampai mereka selesai bertanya. Dan hampir semua anak menanyakan keadaannya.


"Jadi les privat nya sore, bukan pagi, ya Bu?", tanya Elza, anak keturunan Tionghoa–Indonesia.


"Kenapa jadwalnya di ganti ke sore, Bu?", kini Windy, anak yang sedang duduk di bangku enam SD itu, yang bertanya.


"Ibu ingin mengunjungi Panti Asuhan Kasih di desa sebelah. Mereka juga butuh ilmu, seperti kalian semua", jelasnya dengan lembut.


Anak-anak itu mengangguk kompak. Mereka sudah lama mengenal sosok perempuan di hadapan mereka. Bu guru yang cantik, lembut dan baik hati. Banyak anak-anak yang menyukai sosoknya.

__ADS_1


Sistem belajar pun tak membosankan. Bu guru selalu menjadikan proses pembelajaran sangat menyenangkan. Bahkan tak terasa sudah dua jam lebih mereka belajar. Tak hanya anak-anak, para orang tua pun bersyukur dengan kehadiran perempuan itu.


Dia dapat merubah anak-anak yang awalnya gila main menjadi gila belajar. Em, itu lebih baik, bukan. Para orang tua merasakan perubahan anak-anak mereka. Sepulang sekolah, mereka akan langsung membuka buku pelajaran.


Dan tak jarang, mereka langsung menemui Bu guru cantik itu untuk membantu mengerjakan tugas rumah.


"Dzaki tahun ini mendapatkan nilai bagus, Bu guru. Semua berkat semangat belajar yang Bu guru selalu ajarkan pada mereka".


"Haliza berhasil juara kelas, setelah gagal bertahun-tahun, Bu guru. Semangat belajarnya juga semakin meningkat. Saya senang melihat anak saya berhasil dengan usahanya sendiri", ungkap salah satu orang tua yang mempercayai anaknya pada perempuan itu.


Maira–ya, perempuan itu adalah Maira–tersenyum lembut. Ia juga tak mengira akan sangat berpengaruh terhadap anak-anak. Ia pikir akan sulit mengubah kebiasaan anak-anak yang sudah mengenal dunia game di smartphone yang hampir seluruh orang punya.


Padahal les privat yang ia jalani tak mematok jam. Anak-anak bebas belajar hingga mereka merasa lelah dan suntuk. Dan ajaibnya, mereka tahan untuk belajar hingga tiga jam bahkan lebih. Maira tak memaksakan mereka untuk mengerti dan memahami.


Dan Maira tak memaksa para orang tua untuk bayar sesuai jadwal anak mereka hadir, seperti les-les biasanya. Maira menerapkan sistem BS ("Bayar Seikhlasnya"). Dan itu membuat para orang tua bersyukur.


Karena kebanyakan orang yang mempercayai anak mereka ke Maira adalah orang kalangan tengah kebawah. Yang rata-rata orang tuanya bekerja sebagai buruh, supir, pedagang dan sebagainya.


Dan apakah kalian tau? Hasil dari les privat itu akan ia sumbangkan ke beberapa panti asuhan yang masih jarang mendapat bantuan dari luar.

__ADS_1


Bagi Maira, gaji dari sekolah negeri dan sekolah Islam–SDIT–, sudah lebih dari cukup untuk membiayai ibu, adik, dan anak angkatnya yang baru ia adopsi dua tahun belakangan ini.


__ADS_2