BUMI CINTA

BUMI CINTA
BAB 01 ~HANIFAH MAIRA ATHAYA


__ADS_3

🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀


Seorang wanita nampak terengah-engah, kala pria itu terus mengejarnya. Kaki putihnya kini penuh luka, karena ia berlari tanpa alas kaki apa pun.


"Zaya!! Serahkan bayi itu!!" Suara pria itu terdengar menakutkan, hingga wanita yang tengah bersembunyi, bergetar hebat.


Di pelukannya terdapat seorang bayi mungil nan cantik tengah tertidur karena pengaruh obat. Jika tidak, bayi itu pasti akan menangis dan menyulitkan Zaya untuk bersembunyi dari pria tak berhati itu.


"Maafkan bunda, nak. Maaf..." bisik Zaya pada bayinya.


"Bunda tak bisa bersamamu selalu. Tapi tenanglah, kau berhak bahagia dan di kelilingi orang yang menyayangimu sepenuh hati tanpa maksud jahat. Mereka akan selalu ada untukmu, nak. Bunda menyayangimu, sangat sangat menyayangimu."


🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀


"Bismillah. Semoga perjalanan mencari ilmu berbonus calon suami..." Cicit Najwa dengan suara cempreng nya.


Ah, ingin sekali ditutupnya mulut sahabat yang gila drama dari negeri ginseng itu.


Maira hanya tersenyum, tanpa menatap wajah sahabatnya. Tangannya masih berkutat pada tumpukan baju yang akan ia susun di dalam koper.


"Allah itu punya banyak kejutan untuk umatnya..." Sambung Najwa lagi.


"Aku tidak mau terlalu berharap." Balas Maira tertunduk.


Najwa terlihat ingin membuka mulut, tapi segera ia urungkan saat melihat wajah Maira.


Najwa sangat tahu perasaan sahabatnya. Dihianati sang pujaan hati. Bukan hanya penghianatan biasa, tetapi sangat luar biasa.


Sosok Rangga yang ia kenal adalah laki-laki yang selalu bisa menahan diri. Bahkan mereka sudah dua tahun pacaran, Rangga masih tetap pada pendiriannya agar tidak memegang bahkan menodai Maira.


Hingga lamaran itu pun terjadi. Rangga berbuat ulah yang mengharuskan pernikahan mereka di batalkan.


Rangga menghela nafas panjang. Wajahnya nampak gugup dan bibirnya seolah bergetar karena tak sanggup berkata.

__ADS_1


"Rangga?"


Lelaki itu terhenyak dan segera mengembalikkan kesadarannya.


"Aku ingin bilang sesuatu yang sangat penting dalam hidup Rangga."


"Hanya dalam hidup kamu?" Ledek Ra.


"Dalam hidup Ra juga" ralat Rangga segera. "Ra boleh benci Rangga, Ra boleh marahin Rangga, tapi tolong...jangan batalkan pernikahan kita."


Gadis yang hanya setinggi bahunya, memiringkan kepalanya, heran. Hari ini Rangga bersikap aneh.


"Sebenarnya ada apa, Rangga? Jangan buat aku bingung. "


Malam itu sungguh terasa dingin hingga menusuk tulang belakang. Angin berhembus kencang membuat rambut panjang Ra bergoyang-goyang. Pipinya memerah, membuatnya semakin cantik.


Ra adalah cinta pertama Rangga dan kekasih pertamanya. Bahkan mereka tinggal menghitung hari pernikahan berlangsung. Tapi siapa sangka, ternyata Tuhan berkehendak lain.


Dengan berat hati, Ra harus membatalkan pernikahan yang hampir siap. Sebenarnya bukan membatalkan sepenuhnya, tapi menggantikan mempelai wanitanya.


"Lagi pula, umurku masih dua puluh lima tahun..." Ucap Maira lagi dengan senyuman yang telah mengembang.


Najwa mengangguk mantap. Maira sudah cukup menderita selama ini. Najwa tak mau ada setetes air mata lagi yang jatuh dari mata indah miliknya.


🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀


Sebelum berangkat, Maira sempat adu cek-cok dengan sahabat cempreng nya itu. Najwa memaksa Maira agar menunggunya selesai meeting, agar ia dapat mengantar Maira.


Padahal pekerjaannya sudah menumpuk seperti gunung, tapi Najwa seolah mengabaikan hal itu demi Maira.


Hmm, orang itu, kadang buat darah tinggi, dan kadang membuat haru atas kesetiaannya pada sahabatnya.


"Aku bisa berangkat sendiri. Aku ini bukan anak berusia tiga tahun yang harus selalu di awasi!"

__ADS_1


Najwa hanya cemberut mendapat penolakan Maira. Tapi bukan Najwa namanya kalau tidak tetap memaksa. Keras kepala.


"Tapi biar mas Zahid yang mengantarmu sampai bandara, setuju?!" Ujar Najwa sambil melirik suaminya yang hanya diam, karena kecerewetan Najwa tak bisa dikalahkan oleh siapa pun.


Maira tersenyum saat mengingat perdebatan itu. Kini Maira merasa seperti mempunyai kakak perempuan yang posesif pada adiknya. Hem, lucu. Dan mas Zahid yang cool dan banyak diam itu adalah kakak iparnya. Hemm, tambah lucu.


Herannya, kenapa bisa mas Zahid betah dengan mulut Najwa yang setiap jam pasti mengoceh. Najwa juga kadang keras kepala dan suka manja. Mas Zahid bisa menyeimbangkannya.


Tapi dengan sepenuh hati, mas Zahid selalu siap mendapatkan ceramah panjang yang melelahkan dari sang istri. Begitu mencintainya mas Zahid kepada Najwa.


Kadang Maira iri melihat keharmonisan keluarga itu yang baru saja beberapa tahun menikah. Ia ingin mempunyai suami yang penyabar seperti mas Zahid.


Apakah masih ada? Laki-laki yang sangat menghargai dan menghormati perempuan di zaman ini? Seperti mas Zahid


"Terimakasih sudah mengantar saya ke bandara, mas." ucap Maira saat sudah memasuki pintu bandara.


Mas Zahid tersenyum.


"Sama-sama. Tidak usah sungkan, Ra. Kau sudah mas anggap adik sendiri."


Ah, senyumannya mengalahkan manisnya gula. Wajahnya yang teduh, semoga mas Zahid dapat menuntun Najwa ke surga-Nya.


"Hati-hati, Ra. Kasih kabar saat sudah sampai nanti. Kita akan susul kamu besok."


"Iya, mas. Tolong bilang ke Najwa, jangan terlalu khawatir. Aku bukan anak TK..."


Mas Zahid tertawa saat membayangkan bagaimana khawatirnya Najwa pada Maira. Padahal tak ada hubungan darah, tetapi kedekatannya seperti adik-kakak.


"Soal itu, kau tenang saja. Mas sudah punya solusi."


Maira mengangguk.


"Aira berangkat dulu, mas. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam."


🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀🌀


__ADS_2