
Jangan lupa:
Like 👍👍👍
Komen 🆙🆙🆙 dan
Vote ⭐⭐⭐⭐⭐
Terimakasih teman-teman 🤗🤗🤗
Selamat Membaca!
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Rapat baru saja selesai. Pria itu melangkah cepat menuju ruangannya yang di iringi sekertaris nya, Alga.
"Ga, panggilkan Irfan" perintah pria itu dengan tegas, hingga Alga menunduk mengerti.
Alga berlalu meninggalkan ruangan itu dan memanggilkan assisten pribadi atasannya.
Tok, tok, tok
Pintu itu terketuk, membuat orang yang di dalamnya menoleh.
"Maaf, mengganggu, pak Irfan. Anda di panggil pak Erlangga ke ruangannya," jelas Alga sopan.
Orang yang di tuju hanya mengangguk. Ia membereskan beberapa kertas yang ada di mejanya, lalu beranjak dari duduknya.
"Alga, kosongkan jadwalku hari Kamis," ucap Erlangga saat mereka –Alga dan Irfan– sudah berhadapan dengannya. "Dan tinggalkan kami", lanjutnya.
__ADS_1
Alga mengangguk.
"Baik, pak".
Selepas peninggalan Alga, Erlangga melepas jas nya dan menggulung kemeja putihnya jingga sikut.
"Kemarin mama menanyakan kabarmu", ucap Erlangga yang berubah lembut dengan senyuman di bibirnya.
"Ah, aku sudah lama tak mengunjungi beliau", lirihnya.
"Dan mama menanyakan, kapan kau menikah? Mama tak sabar melihatmu menikah dan memberikan cucu padanya", Erlangga bangkit dan berpindah ke arah sofa, yang di ikuti Irfan.
"Aku belum memikirkannya, mas," kepala Irfan tertunduk.
"Usiamu sudah sangat matang untuk menikah. Apa kau tak ingin bermanja-manja dengan wanita yang kau cintai?", mata tajam Erlangga menelusuri wajah adik angkatnya.
"Semua laki-laki pasti ingin hal seperti itu, mas, salah satunya aku. Tapi aku belum menemukan wanita yang cocok seperti kak Nadia".
"Ya, aku akui itu. Kak Nadia berbeda dengan mantan-mantanmu yang genit itu".
Seketika wajah Erlangga berubah muram.
"Jangan bahas itu sekarang. Kita sedang membicarakan masa depanmu, bukan aku", tegasnya. "Lagi pula aku malas membicarakan para mantanku. Bikin muak jika di ingat lagi", gerutunya kesal.
"Oke, baiklah", Irfan menyerah sebelum mendapatkan imbasnya. "Bilang pada mama, biarkan aku mencari jodohku sendiri. Aku tidak mau di jodohkan".
"Kau itu sangat pemilih. Sudah banyak gadis-gadis di sekelilingmu, bukankah mereka termasuk tipemu?", Erlangga menaikan sebelah alisnya.
"Tapi tak ada satu pun di antara mereka yang membuatku jatuh cinta, mas".
__ADS_1
"Oke, Aku akan berusaha membujuk mama untuk bersabar lagi. Kau tau, kan, mama selama ini sudah sangat sabar padamu?".
Irfan tersenyum hangat.
"Aku tau, mas. Sangat tau".
"Besok cuti lah", ujar Erlangga sambil beranjak dari sofa hingga Irfan ikut berdiri dan mengikuti langkah Erlangga.
"Untuk apa?".
"Bukankah untuk mencari wanita yang bisa meluluhkan hatimu, butuh banyak waktu?", ledek Erlangga sambil merapihkan mejanya. "Berliburlah, siapa tau berbonus calon istri".
"Mudah-mudahan, mas. Tapi bagaimana jika tidak?", tanya Irfan sedih.
"Kau tidak boleh kembali bekerja. Cuti lah selama-lamanya, hingga berhasil membawa pulang calon istri yang akan kau perkenalkan pada mama dan papa", tegas Erlangga, tapi terkesan lembut.
Irfan tertawa melihat tingkah kakaknya yang kadang menyeramkan tapi juga lembut kepada orang tertentu.
"Baiklah, mas. Semoga Allah berpihak padaku dan memudahkanku untuk menyelesaikan misi darimu ini", tutur Irfan.
Erlangga berjalan hingga mereka saling berhadapan.
"Itu baru adikku, Ahmad Irfan Argani", balas Erlangga sambil menepuk pundak Irfan.
Irfan tersenyum bahagia. Allah benar-benar menyayanginya, hingga membuat Irfan memiliki keluarga yang lengkap dan menyayanginya.
Ia ingat beberapa tahun yang lalu. Memiliki ayah pecandu alkohol yang selalu memukulinya saat pulang. Dan ibunya, tak berbeda jauh dengannya. Kehadiran Irfan seakan tak di anggap oleh wanita berambut sebahu itu.
Tapi kini, ia memiliki ibu yang sangat mencintainya. Memanjakannya dan tak pernah pilih kasih, hanya karena Irfan sebatas anak angkat. Dan papa, juga bukan orang yang kasar seperti sosok ayahnya dulu.
__ADS_1
Papa pekerja keras dan mencintai keluarganya. Papa sangat mengistimewakan dua anak jagoannya. Papa tak pernah menyakiti anak-anaknya –termasuk Irfan–, apa lagi memukul , walau kadang papa bersikap tegas pada Erlangga dan Irfan.
Tapi yang terpenting, mereka telah membuat dunia Irfan yang suram menjadi berwarna kembali.