
Shane berlarian menuju ke papan pengumuman yang berada di halaman utama kampusnya, dia sangat bersemangat. hari ini adalah pengumuman nama penulis artikel yang lulus seleksi dan akan dimuat dalam majalah resmi kampus. Shane sangat yakin jika namanya akan berada di antara beberapa nama yang terpasang di sana.
Mata Shane bergerak dari atas ke bawah menyusuri nama-nama yang terpajang di sana. Wajahnya menunjukkan rona kecewa. Matanya sekali lagi bergerak dari atas ke bawah menyusuri nama-nama itu lagi.
Kok tidak ada? gumamnya dalam hati.
Shane berjalan dengan lunglai menyusuri koridor. Air mukanya menunjukkan ekspresi sedikit kecewa. Langkahnya berhenti pada ssebuah bangku kecil di ujung halaman kampus. Ia duduk di sana, meletakkan tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku dari tas itu. Membuka tiap halamannya tanpa berniat membacanya. Raut mukanya masih saja datar dan pandangannya masih menatap menerawang lurus ke depan.
" Oiiiii ! Ngapain?" Hida menepuk punggung Shane mengagetkannya.
" Da! kamu bisa ngga sih jangan ngagetin aku!" Shane memprotes.
" Iya deh maaf, kenapa sih? ngelamunin apa??" Hida duduk disamping Shane.
" Kamu udah baca artikel yang aku kirim kemaren kan?"
" Udah kok, aku baca dua kali malah!"
__ADS_1
" Bagus ngga? atau ada yang kurang pas?" Shane menatap serius ke arah Hida.
" Bagus kok, aku aja ga bisa buat yang kaya gitu"
" Da aku serius!" Shane membuang pandangannya sedikit frustasi.
" Kamu kenapa sih? artikelnya bagus kok, ntar juga nama kamu ada di pengumuman tenang aja!" Hida menepuk pundak Shane menenangkannya.
" Udah diumumin dan nama aku ga ada" Ucap Shane lirih.
" Ya Udah deh, mungkin belum beruntung masih ada kesempatan lain kali!" Shane tersenyum kecut.
" Nanti tak kenalin sama ketua redaksinya, biar kamu tau alasan artikelmu bisa nggak lolos!" Hida mengangkat kedua alisnya.
" Boleh juga, sekalian nanti aku bisa nanya-nanya buat perkembangan tulisan aku" Shane tersenyum. Kali ini senyumnya sedikit mengembang. Sepertinya suasana hatinya sudah mulai membaik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sepasang alis tajam beradu satu sisi terangkat ke atas. Hidung itu terlihat begitu indah. mancung dan terlihat begitu pas dengan wajah yang putih sedikit kemerahan. Tangan Roby mengambil segelas kopi yang sedari tadi menemaninya. Bibir yang merah dan terbelah di bagian tengah menyeruput sedikit kopi yang masih hangat itu.
" Far, artikel yang udah aku pilih tak kirim ke kamu ya, ntar bilangin ke yang lain kalo ga bisa nemenin ngedit majalah hari ini soalnya aku ada urusan sebentar!" Roby berbicara dengan wanita berhijab di samping tempat duduknya.
" iya Rob, memangnya kamu mau ke mana?" Tanya wanita itu.
" Mau ketemu sama temenku anak kampus sebelah, temenku SMA dulu" Jawab Roby, masih menatap serius ke arah laptopnya.
" Ibu sakit ya?" Tanya wanita itu lagi.
" Ibuku?" Roby bertanya nadanya sedikit menekan.
" Iya, kata anak-anak ibu lagi sakit, makanya kemarin kamu agak kalut gitu!" wanita itu menatap Roby.
" Ibu sehat kok, aku keluar dulu ya!" Roby pergi dan meninggalkan wanita itu.
Dia adalah Farcha, teman satu tim Roby. Mereka memang sangat dekat. Dulu hubungan mereka berdua memang pernah lebih dari sekedar teman. Tapi sudah dua tahun terakhir ini hubungan keduanya merenggang. Roby sepertinya mulai menjaga jarak dari Farcha. Meskipun sebenarnya Farcha masih sangat berharap pada Roby. Mereka sudah saling mengenal dari awal masa SMA. Farcha menyukainya. Karena pribadi Roby yang sangat baik dan bersahaja. Meskipun tatapannya dingin tapi lelaki itu benar-benar tipikal yang sangat lembut dan bijaksana. Mereka teman satu jurusan, teman satu tim, bahkan hampir semua organisasi yang diikuti Roby, Farcha pasti ada di sana. Ya karena keduanya sempat dekat meskipun sekarang sudah tidak seperti dulu lagi.
__ADS_1