
Matahari bersinar terang, teriknya menusuk ke tulang. Udara begitu panas dan pengap. Dua orang pria muda sedang mengobrol dan menikmati jus buah di depannya.
" Ada kabar apa dari rumah?" Roby bertanya pada pria di depannya.
" Umimu sakit kamu sudah dengar kan?"
" Iya, aku sudah dengar, aku juga ingin segera pulang tapi jika aku pulang tapi gak boleh sama Umi, lagian jam kuliah juga lagi padat banget, Umi gak mau kalo aku ninggalin kuliah" Roby meluapkan keresahan pada pria muda di depannya.
Pria muda di depannya adalah sahabatnya, namanya Abil. Mereka sudah berteman sejak masih duduk di sekolah menengah pertama. Dulu mereka sangat akrab hampir setiap hari bersama karena mereka berdua mengenyam pendidikan di sebuah lembaga pondok pesantren di daerah Jawa Timur. Jika Roby memilih melanjutkan studinya ke salah satu universitas negri di kota itu maka beda dengan Abil yang lebih memilih untuk kuliah di kampus swasta yang tak kalah besar dengan kampus Roby. Meskipun beda kampus tapi mereka berdua masih sangat bersahabat satu sama lain. Abil selalu membantu Roby dalam setiap masalah yang dihadapi Roby. Begitupun dengan Roby yang selalu membantu Abil. Mereka selalu berdampingan dalam keadaan suka dan duka.
" Umimu masih membahas perjodohan itu?" Abil bertanya.
" Umi memang selalu begitu sejak dulu, ah aku tidak suka itu, kamu tahu sendiri kan aku belum ingin menikah, masih banyak hal yang harus aku gapai, aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa hidup dengan pilihanku sendiri bukan dengan pilihan Abah ataupum Umi" Roby menghela nafas panjang.
" Apa kamu benar-benar menyukainya?" Abil menggoda.
" Siapa?" Roby bertanya kebingungan.
" Gadis berhijab dengan lesung pipitnya itu!" Abil tertawa meledek.
__ADS_1
" Sepertinya tidak, dulu memang aku sempat dekat dan merasa ada sesuatu dengan Farcha, tapi sepertinya sekarang tidak lagi, aku merasa ada yang kurang tepat antara aku sama Farcha"
" Bukannya dulu kamu sempat ingin mengenalkan Farcha dengan umimu?" Abil bertanya heran.
" Itu dulu, Farcha bukan wanita yang bisa menggetarkan hatiku!" Roby tersenyum tipis.
" Ah! Kalau tidak punya wanita di hati kenapa kamu menolak dijodohkan? Siapa tau wanita yang hedak dijodohkan itu mampu menggetarkan hatimu!" Ucap Abil sebal.
" Tidak, aku sudah bertemu dengannya tapi aku biasa saja, tidak ada rasa apapun, meskipun pintar, cantik, dan berpenampilan menarik, hatiku sama sekali tidak bergetar!" Roby membuang pandangan.
" Ya sudah, tapi apa kamu benar-benar gak pengen pulang? kalo iya sekarang bareng aku, aku mau pulang sama adekku ntar sore." Tanya Abil.
Tiba-tiba dari kejauhan berjalan dua orang wanita, satu wanita berhijab menenteng kresek besar warna hitam dan yang satunya wanita dengan rambut coklat bergelombang terurai dengan indah mengikuti arah tiupan angin.
" Hey Tuyul!" Abil berteriak ke arah wanita itu.
Wanita berhijab itupun lari menghampiri Abil.
" Kak Abil di sini kok gak bilang-bilang, aku tadi muter-muter nyariin kakak tau!" Hida memukul kakaknya dengan kesal.
__ADS_1
" Salah siapa ditelfon nggak diangkat!" Abil mengendus kesakitan.
" Hpku mati kak, batreinya habis!" Hida menjawab seenaknya.
" Temenmu ajakin ke sini, dia sendirian itu loh kasian!" Abil menunjuk ke arah Shane yang sedari tadi hanya berdiri agak jauh dan menatap ke arah mereka.
Hida menghampiri Shane dan menarik lengannya berjalan ke arah Abil dan Roby.
" Kamu disini dulu ya, aku ada urusan sama kakakku sebentar!" Hida tersenyum menampakkan semua giginya.
Shane mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang dikehendaki temannya itu.
" Udah kamu disini dulu, itu loh kenalan sama Kak Roby temennya Kakaku!" Hida menunjuk ke arah Roby.
" Ohiya, dia yang aku ceritain kepala redaksi majalah kampus kita, kamu bisa nanya ke dia kenapa artikelmu ditolak padahal bagus banget, kamu bisa nanya apa aja deh protes juga boleh!" Hida berbicara cepat sambil menarik lengan kakaknya.
Wajah Shane semu kemerahan karena malu dia membuang pandangannya ke sembarang arah.
Hida pergi sambil menarik lengan kakaknya meninggalkan Shane yang sama sekali tidak mengenal siapa pria di depannya.
__ADS_1