Cahaya Hazel Di Matamu

Cahaya Hazel Di Matamu
Remeh


__ADS_3

Shane berdiri kaku di depak pria yang sangat asing baginya. Ia melangkahkan kakinya dan berbalik arah hendak pergi dari tempat itu.


" Kenapa ngga duduk aja? " Pria itu menatap ke arahnya.


Shane menarik sebuah kursi, duduk dengan keraguan lalu menata letak duduknya. Mereka berdua duduk berhadapan.


" Temennya Si Hida ya? " Pria itu bertanya sambil melirik ke arah Shane.


" Iya, Kakak temennya Hida juga? " Shane bertanya dengan keraguan.


Pria itu menganggukkan kepala sambil terus memandangi layar ponselnya.


Sial kenapa bisa ketemu sama modelan cowok dingin kaya gini sih. Shane bergumam dalam hati.


" Mba pelayan! " Pria itu mengetuk meja, mengangkat satu tangannya.


Pelayan datang menghampiri membawa kertas menu di tangannya.


" Iya kak! Mau menambah pesanan?" Pelayan itu bertanya dengan ramah.


Alis mata pria itu bergerak seolah menunjukk ke arah Shane yang sedari tadi menatap pria itu heran.


" Saya?" Shane menunjuk ke arah dirinya sendiri, sedikit kaget.

__ADS_1


" Kamu pesen apa?" Pria itu bertanya sambil menggerakkan dagunya.


" Jasmin hot tea yang less sugar satu ya mba, kalo ada kasih madu sedikit aja, makasih!" Shane tersenyum ramah ke arah pelayan itu.


" Sudah mba? baik ditunggu ya!" Pelayan itu beringsut pergi meninggalkan Shane dan Roby.


Shane tersenyum ke arah pelayan itu.


" Panas-panas kok pesennya teh anget!" Roby sedikit tersenyum. Raut wajahnya seakan sedikit mencibir Shane.


" Ga biasa minum dingin kak!" Shane menjawab sambil tersenyum kecut.


" Aku Shane, kakak?" Shane mengawali perkenalan, mengulurkan tangan kirinya.


" Roby." Roby sedikit tersenyum ke arah Shane, mengatupkan kedua tangannya.


Kenapa ngulurin tangan sih tadi, harusnya kan ga usah kan jadi malu mana ni orang jaim banget lagi.


Shane menggerutu dalam hati.


" Kak Roby yang nyeleksi artikel buat majalah kampus ya? " Shane bertanya mengumpulkan keberaniannya.


" He'em" Roby menjawab singkat.

__ADS_1


" Emang artikel yang lolos sebagus apa ya kak? Aku kemaren kirim artikel tapi ga lolos gitu, boleh minta pendapatnya kan? apa ada yang kurang gitu di artikel aku, biar aku bisa memperbaiki sekalian ngembangin kemampuan di bidang literasi." Shane memburu Roby dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi.


" Kamu ambil prodi apa?" Roby melirik ke arah Shane.


" Fakultas teknik" Shane menjawab singkat.


" Anak teknik desain bangunan aja, ngapain ikut-ikut bikin tulisan, nanti hasilnya malah ga nyambung!" Roby berkata dengan wajah datar.


Nih orang apa-apaan sih? Ngremehin banget!


Shane menggerutu dalam hati, raut wajahnya berubah masam.


" Ga usah kecut gitu wajahnya, nanti kamu kirim pdf artikel ke aku, nanti tak baca-baca lagi, soale yang kemeren artikelnya yang nyeleksi bukan cuma aku." Robymengarahkan pandangan ke arah Shane.


" Kirinya lewat apa kak? kan aku ga punya kontaknya kakak!" Shane menatap balik ke arah Roby.


" Kamu kok berani sih, minta nomor ke cowok duluan?" Robymengerutkan kedua alisnya.


" Eh, nggak gitu kak maksudnya, kenapa sih dari tadi gak enak banget diajak ngobrol, ga seru ih! Mana si Hida ga balik-balik! Tau gini tadi langsung pulang!" Shane mengomel, raut wajahnya bercampur antara malu dan sebal.


" Kakak itu jangan kepedean dulu, lagian tadi juga kakak yang nyuruh kirim pdfnya, dari tadi ga bisa apa ga mandang orang lain rendah!" Shane terang-terangan marah di depan Roby. Rona malu di wajahnya mulai hilang berganti dengan raut wajah emosi.


Shane berdiri dari tempat duduk, dengan sedikit kasar mengambil tas di atas meja. Berjalan ke arah kasir. mengeluarkan selembar uang kertas.

__ADS_1


" Mbak! minumnya buat mbak aja, ini uangnya kembaliannya buat mbak juga!"


Shane segera melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Roby hanya menatapnya dari arah tempat duduknya. Mengerutkan kedua alisnya tak mengerti.


__ADS_2