Cahaya Sang Rembulan

Cahaya Sang Rembulan
Bagian 10 : Ayah atau Azelle?


__ADS_3

Setelah pamit dari Zela dan Ibunya, Ansell melanjutkan perjalanannya menuju restoran yang sering mereka pakai buat nongkrong. Setibanya di restoran, ternyata disana Alvaro dan Andra sudah tiba lebih dulu, sementara Aksa dan Ansell baru saja tiba secara bersamaan.


“Lah,, lo juga baru nyampe? kirain kalian bertiga udah lama nungguin gue.” ucap Aksa sembari memakirkan motornya juga.


“Siapa lo segala ditungguin lama? Presiden nggak, Dpr juga nggak.”


“Si anyingg, napa sih kita sepupuan.”


“Yee, siapa juga yang mau sepupuan sama lo.”


“Dihh, dikira gue juga mau sepupuan sama lo? Nggak! Males banget gue sepupuan sama lo.” ucap Aksa


“Lo males gue lebih males lagi.”


“Minta disleding nih bocah.”


“Ngomongin gue bocah padahal dia juga bocah.”


“Umur gue setahun lebih tua dari lo yee.”


“Iyaa dehh,, ampun yang paling tua.” ucap Ansell sambil bercanda.


Aksa yang mendengar dirinya disebut tua oleh Ansell, Aksa hanya tertawa sambil menyeleding kepala Ansell.


“Duhh,, sakit banget bangsatt.”


“Makanya jangan macem-macem.”


Disaat Aksa dan Ansell sedang beradu kecil, Alvaro dan Andra membicarakan mereka dari balik ruangan.


“Ndra, lo liat deh kelakuan dua sepupu ini.”


“Gini nih kalo sama-sama anak tunggal terus sepupuan jadi berasa kek punya adik sama abang, jadi ribut mulu kerjaannya.”


“Sedetik gak berantem keknya mereka gak bisa nahan deh.”


“Udah kita nyusul aja, kalo gak dilerai yang ada berantem terus mereka.”


“Ayokk.”


Andra dan Alvaro beranjak dari tempat duduk mereka untuk pergi menyusul Aksa dan Ansell yang sedang beradu kecil.


“Woyy!! sampe kapan kalian berantem mulu?.” teriakan Alvaro membuat Aksa dan Ansell berhenti dari pertengkaran kecil mereka.


“Emang ya kelakuan kalian berdua nih.” ucap Andra


“Hahahah sans broo, becanda doang.” jawab Ansell


“Ini kalian mau diluar terus apa nggak mau masuk?.”


“Eh iyaa,, ayookk kita masuk.” ajak Aksa kepada mereka

__ADS_1


Mereka pergi masuk kedalam restoran secara bersamaan. Disana mereka memesan menu makanan yang mereka sukai, setelah makanan sudah sampai mereka makan sambil berbincang-bincang.


“Nsell, lo bilang lo mau ngomongin sesuatu.” ucap Aksa memulai pembicaraan mereka


“Eh iyaa Nsell, gue juga penasaran dari tadi.”


“Sama,, gue juga penasaran. Emang lo mau ngomongin apaan Nsell?.


“Gue dijodohin.”


Ucapan Ansell yang baru saja ia lontarkan membuat teman-temannya tersedak makan, termasuk Aksa kakak sepupunya.


“Uhukk, uhuukk,” mereka semua tersedak oleh makanan mereka, satu persatu mereka pun langsung mengambil minuman untuk diminum.


“Lo yang bener aja Nsell?.” tanya Alvaro


“Iyaa nih, mana mungkin lo udah dijodohin sama Bokap Nyokap lo. Mimpi kali lo.”


“Lo kalo mau ngomong sesuatu yang bener aja njiir!! Gila apa Om sama Tante ngejodohin lo. Umur juga belum 17an udah dijodoh-jodohin sama mereka!!.” ucap Aksa sambil memarahi Ansell karena omongan Ansell yang dipikir tidak masuk akal oleh mereka.


“Tapi gue bicara serius broo.” ucap Ansell dengan wajah datarnya seolah-olah menampakkan keseriusan diwajahnya .


Aksa dan dua teman mereka yang awalnya mengira Ansell sedang mengada-ngada, kini mereka percaya akan apa yang baru saja diucapkan oleh Ansell. Melihat keseriusan, kekecewaan serta kesedihan dalam mata Ansell, seketika mereka semua perhatian akan apa yang sedang dirasakan oleh sahabat mereka sendiri.


“Lo bener udah dijodohin sama Bokap Nyokap lo Nsell?.” tanya Andra


Mendengar pertanyaan itu, Ansell hanya bisa mengangguk saja.


“Iyaa Nsell,, gimana bisa umur lo yang baru aja mau 16 tahun tapi udah dijodohin sama orangtua lo.” tambah Alvaro


“Jadi Bokap gue udah janji sama teman dekatnya sejak bertahun-tahun yang lalu.”


“Janji?.” Tanya mereka bertiga


“Iyaa,,, Ksa lo inget waktu kita kecil dan gue nginap dirumah lo selama berminggu-minggu?.” tanya Ansell ke Aksa


“Iyaa gue ingat,, memangnya ada apa?.”


“Disitu Ayah sama Bunda pergi ke Singapura buat ngejengukin teman dekat Ayah. Teman Ayah maunya sebelum beliau meninggal, beliau pengen ketemu dengan Ayah untuk terakhir kalinya.”


“Jadi janji yang lo maksud?..” sebelum Aksa melanjutnya, Ansell langsung memotong pembicaraannya.


“Iyaa,, awalnya teman Ayah nitip anaknya sama Ayah Bunda buat dirawat sama mereka. Terus beliau ngelanjutin pembicaraanya, katanya beliau sudah nyiapin Perusahaan di Australia buat suami dari anaknya. Dan yang lebih parahnya lagi, beliau pengen nanti anaknya dijodohin sama anak Ayah Bunda. Dan anak mereka cuma gue kan?.”


Penjelasaan Ansell membuat mereka bertiga sedikit syok dan kagum atas pengorbanan teman dekat dari Ayah Ansell.


“Wahh,, segitu besarnya ya cinta seorang Ayah untuk anak gadisnya. Sampai-sampai beliau udah nyiapin Perusahaan loh buat lo.” puji Alvaro terhadap almarhum teman Ayah Ansell


“Bener,, mertua sebaik itu mau dicari dimana lagi. Ini bener-bener sebuah keberuntungan buat lo Nsell.” tambah Andra.


“Jadi Ayah lo nerima permintaan itu dan udah janji sama temannya buat nikahin lo dengan anak dari temannya?.” tanya Aksa

__ADS_1


“Iyaa,, mau gak mau Ayah nerima permintaan terakhir beliau dan udah janji sama beliau buat nikahin gue sama anaknya. Kata Bunda teman Ayah juga suka ngebantuin Ayah kalau Ayah lagi kesusahan.”


“Eh bentar-bentar,, ini sejak kapan lo tahu Om sama tante ngejodohin lo sama teman dekat Ayah lo?.” tanya Aksa kembali


“Sore tadi,, lo tahu? Disaat kita lagi bahas Azelle sama Nadine,, ternyata diam-diam Paman ngasih tahu sama Bunda.”


“Hah?.”


“Iyaa,,pas gue balik kerumah dan ngehampirin Ayah sama Bunda ditaman belakang, mereka nanya Azelle siapa. Awalnya gue pikir mereka bakal ngedukung gue sama Azelle nanti, nyatanya hubungan kami terhalang sama perjodohan.”


“Tenang broo, pasti ada solusinya.” ucap Andra


“Terus nantinya Azelle gimana Nsell?.” tanya Alvaro


“Iyaa Nsell, gimana nantinya kalo Azelle tahu sama hal ini?. Gue gak bisa ngebayanginnya sih.”


“Nah,, ini dia yang buat gue bingung sedari tadi. Rasanya gue sedang dijebak sama keadaan. Gue sayang sama mereka berdua, tapi gue gak bisa milih antara Ayah gue sama Azelle. Gue pengen ngebantuin Ayah buat nepatin janjinya sama temannya, tapi disisi lain gue maunya cuma Azelle doang bukan yang lain.”


“Duhh gue juga kalo diposisi lo bakal bingung sih Nsell.” ucap Andra


“Makanya gue ngajak kalian ngumpul disini, gue pengen dapetin solusinya dari kalian. Barang kali kalian bisa bantuin gue keluar dari keterjebakan ini.”


Mereka semua hanya terdiam dan saling menatap satu sama lainnya. Masing-masing dari mereka terlarut dalam pikiran mereka sendiri. Sampai akhirnya,,


“Gue ngasih saran boleh? Keputusannya ada di lo.” ucap Aksa


“Apaan?.” tanya mereka bertiga


“Disini gue ngambil dari sudut pandang yang berbeda-beda. Kalau diambil posisinya sebagai seorang anak, pastinya lo harus ngebantuin Ayah lo buat nepatiin janji buat mendiang temannya. Gue yakin Om juga ngambil keputusan itu karena dalam keadaan yang sedikit memaksa. Tapi kalau diambil posisinya sebagai seorang Ansell yang hanya menginginkan Azelle nya, mau gak mau lo harus tegas ke orangtua lo buat mempertahankan cinta lo. Tegasin secara baik-baik kalo lo bukannya gak mau bantuin Ayah lo, tapi lo juga punya hak sendiri buat nentuin dengan siapa nantinya lo hidup secara berdampingan.” jelas Aksa panjang lebar.


“Setuju,, benar sama apa yang dibilang Aksa Nsell.” ucap Andra


“Orangtua tahu pilihan mereka pasti tidak akan salah, setiap orangtua hanya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan kalo lo pengennya benar-benar Azelle doangg,, mau gak mau ya lo cari cara jalan keluarnya buat masalah ini. Contohnya lo nyuruh Ayah lo buat ngejodohin anak temannya dengan oranglain.” tambah Aksa


“Atau kalo lo mau, mending lo nikahin aja dua-duanya Nsell. Jadinya lo punya dia istri.” celetuk Alvaro.


Pembahasan yang tadinya serius, kini terasa lucu ketika Alvaro mengatakan Ansell harus menikahi Azelle dan anak dari teman dekat Ayah Ansell.


“Hahahahaha, lo yang bener aja njiirr.”


“Solusinya diluar prediksi BMKG anjiirrr. Hahahaha.”


“Varo, varoo, mending lo diem aja dah sumpah. Hahahaha.”


Setelah merasa cukup baik atas solusi yang diberikan oleh teman-temannya, kini Ansell paham apa yang harus ia lakukan nantinya.


“Pulang yokk,, udah setengah 11 malam loh ini.” ajak Alvaro


“Yokk, besok juga kita masuk sekolah.”


Setelah menghabiskan waktu beberapa jam di restoran favorit mereka, kini mereka kembali kerumah mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2