Cahaya Sang Rembulan

Cahaya Sang Rembulan
Bagian 8 : Janji? Permintaan Terakhir?


__ADS_3

Setelah pamit pulang dari rumah Aksa, Ansell langsung bergegas pulang kerumahnya. Ansell melihat jam ditangannya menunjukkan pukul 15.25 WIB. Di perjalanan ia juga memikirkan apa yang sudah dikatakan oleh Paman dan Bibinya.


“Benar apa yang dibilang Paman dan Bibi, ini sepertinya terlalu cepat untuk menjalani hubungan. Apa gue harus ikutin arahan Bibi buat cerita ke Bunda juga?.” batin Ansell


Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, Ansell pu tiba dirumahnya. Satpam yang melihat mobil Ansell dari kejauhan pun berlari kecil untuk membukakan pintu gerbang.


“Pak, apa Bunda sama Ayah ada dirumah?.” tanya Ansell


“Tuan dan Nyonya juga belum lama ini sampai Den.” ucap Satpam tersebut


“Baik Pak,, Terima Kasih Pak.”


“Sama-sama Den Ansell.” ucap Satpam tersebut sambil tersenyum ke Ansell


Setelah memakirkan mobilnya Ansell pun membunyikan bel rumahnya. Mendengar bel rumah berbunyi, salah satu pembantu mereka membukakan pintu rumahnya.


“Selamat sore Bi.” sapa Ansell kepada pembantu tersebut


“Sore juga Den Ansell. Den habis mampir dari rumah Tuan Muda Aksa ya?.” tanya Bi Inayah


“Iyaa Bi, mampir dikit sama Aksa.”


“Owallahh, Baik Den. Bibi tinggal dulu ya, mau lanjut masak.”


“Iyaa Bi.”


Tak hanya orangtuanya, para pembantu dan dan pekerja yang kerja dirumahnya, mereka semua tahu jika Ansell pulang lambat itu menandakan kalau Ansell baru saja habis mampir dari rumah sepupunya.


Setelah mengganti pakaiannya, Ansell pergi ke taman belakang untuk menemui orangtuanya yang sedang duduk santai di taman.


“Sore Bun, Sore Yah.” sapa Ansell ke orangtuanya sambil memeluk Bunda dan Ayahnya dari belakang.


“Sore juga sayangg.” balas orangtuanya sambil mengusap rambut anak mereka


“Kamu habis dari rumah Pamanmu ya?.” tanya Ibunya


“Iyaa Bun, lagian Ansell juga kangen sama Paman dan Bibi.”


“Kangen mereka apa lagi pada bahas sesuatu nih?.” goda Ayahnya


“Ahh,, Ayah ngomong apasih. Ansell cuma lepas rindu dikit sama mereka kok.”


“Sayang,, Bunda nanya sesuatu boleh gak?.”


Pertanyaan Ibunya sedikit membuat Ansell terdiam sembari memikirkan sesuatu.


“Bunda mau nanya apanih? Kok perasaan gue kek gak enak ya.” batin Ansell


“Nsell, ditanyain Bunda loh Nak.” ucapan Ayahnya membuat Ansell tersadar dari kebingungannya


“Ahh,, i, iyaa Yah.”


“Bunda mau nanya apa tadi?.”


“Apa kamu lagi suka sama seseorang?.” tanya Ibunya


Deggg,, seketika pertanyaan itu membuat Ansell terkejut.


“Apaa? Bunda tahu darimana nih? Apa Aksa yang ngelaporin? Aksa bener-bener lu yaa, dasar sepupu bangkee.” batin Ansell


“E,,enggak kok Bun.”


“Jangan bohongg.” celetuk Ayahnya


“Duhh gue harus gimana nih? Jujur aja kali ya. Ah gak usahlah ntar Bunda bilang masih kecil udah tau pacaran” batin Ansell kembali


“Sayang kok diem aja?.” tanya Ibunya


“A,aa iyaa Bun. Nggak kok. Ansell gak suka sama siapa-siapa” bohongnya


“Sayang Azelle itu siapa?.”


Duarr,, seketika pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibunya membuat Ansell terkejut dan sedikit syok.


“Hah? Bunda tahu darimana tentang Azelle? Perasaan gue belum ngomong sama mereka tentang Azelle dehh. Udah, udah ketebak ini kelakuan siapa. Siapa lagi kalau bukan kelakuannya Aksa.” batinnya kembali


“Sayangg??.” panggil Ibunya untuk menyadarkan Ansell dari lamunannya


“I,,iyaa Bun. Azelle,, Azelle itu teman Ansell.”


“Yakin cuma teman doangg?.” goda Ayahnya


“Jujur aja sayang,, gak papa kok. Bunda sama Ayah gak bakal marah sama kamu. Iyakan Yah?.”


“Iyaa bener,, buat apa marah. Ayah sama Bunda juga udah pernah ngalamin ini juga semasa muda.” jelas Ayahnya


“Ayah Bunda tahu tentang Azelle dari siapa? Kak Aksa yang ngasih tahu ya? Emang ya kelakuannya.”


“Nggak sayangg, bukan Aksa yang ngasih tahu ke Bunda.”


“Terus siapa?.”


“Paman kamu. Disaat kalian sedang mengobrol, Paman nelfon Bunda secara diam-diam. Ayah sama Bunda tahu apa yang sedang kalian bicarakan dirumah Pamanmu.” jelas Ibunya


Flash back on


Ketika Ansell sedang berbincang-bincang dengan Paman dan Bibinya kalau ia menyukai Azelle, diam-diam Ayah Aksa menelfon Ibu Ansell yang merupakan adiknya untuk ikut mendengar perbincangan mereka.

__ADS_1


*Ayah Aksa mengirim pesan kepada Ibu Ansell


“Dek,, angkat ya. Tapi kamu jangan ngomong sesuatu.”


“Memangnya ada apa kak?.” tanya Ibu Ansell


“Udah,, pokoknya denger aja. Tapi jangan ngomong sesuatu.”


“Ohh,, Baik Kak.”


*Sementara itu di Kantor Ayah Ansell


“Yah,, Kakak aneh banget dehh.”


“Kenapa Bund?.” tanya Ayah Ansell


“Nih,, kakak ngirim Bunda pesan. Katanya disuruh angkat telfonnya, tapi gak nyuruh Bunda buat ngomong satu katapun.”


“Yaudahh,, dengerin aja.”


“Hm,,Aneh banget.”


“Udah ikuti saja apa yang dibilang sama kakak.”


Kini orangtua Ansell terhubung dengan Pamannya, disaat mereka sedang mendengar curhatan anaknya mereka hanya bisa tertawa kecil sambil berbisik.


“Owalahh, ternyata Ansell lagi curhat sama mereka.” ucap Ibu Ansell sedikit berbisik kepada Ayahnya


“Hahaha,, anak kita ada-ada saja. Ngomong-ngomong dia curhat apa Bun?.”


“Gak tahu mau curhat apa, ini lagi berantem sama Aksa.”


“Kebiasaan banget, tiap ketemu berantem mulu nih anak.”


“Udah biarin Yah, namanya juga sodaraan.”


Ketika mereka sedang menyimak pembicaraan Ansell dibalik telfon, tiba-tiba mereka saling bertatap-tapan ketika Aksa menyebut nama Azelle dan Ansell menyebut nama Nadine.


“Azelle? Nadine?.” ucap Ibu Ansell


“Ada apa Bun?.” tanya Ayah Ansell


“Ini loh Yah.. Aksa barusan bilang Ansell suka sama Azelle, dan Ansell juga nyebut nama Nadine tadi.”


“Azelle? Nadine?. Kok Ayah kek gak asing banget ya sama nama dua gadis ini.”


“Iyaa yahh,, Bunda juga gitu. Apa jangan-jangan?.”


“Udah Bun,, jangan berlebihan. Mungkin itu oranglain, cuma namanya aja yang kebetulan sama.”


“Ahh iya juga ya.”


*Percakapan melalui pesan antara Ayah Aksa dan Ibu Ansell


“Kak.”


“Iyaa,, ada apa Dekk?.”


“Kak,, itu aku barusan gak salah dengar nama kan?.”


“Nama siapa?.”


“Itu loh Kak, Azelle sama Nadine. Aksa sama Ansell barusan nyebut nama mereka.”


“Nggak, kamu nggak salah dengar. Memangnya ada apa dengan nama mereka?.”


“Apa kakak juga ngerasain apa yang aku rasain?.”


“Hmm, awalnya gitu. Nama Nadine juga gak asing buat kakak. Disaat Ansell nyebut nama Nadine, dipikiran kakak hanya terlintas satu orang. Tapi kakak gak tahu pasti, Nadine mana yang dimaksud sama Ansell.”


“Tuhkann,, aku juga ngerasain gitu kak.”


“Udahh,, gak usah berpikiran lebih. Mungkin nama mereka aja yang kebetulan sama.”


“Aku berharap juga gitu kak.”


“Kalian masih di Kantor?.”


“Ini udah mau balik Kak, ada apa?.”


“Ohh, yaudah. Ansell masih sama Aksa.”


“Iyaa Kak, Ansell juga udah ngirim aku pesan. Katanya mau singgah sebentar dirumah Aksa.”


“Baiklah,, hati-hati dijalan.”


“Iyaa Kak..”


Ketika dalam perjalanan pulang, Ayah dan Bunda Ansell mengingat salah satu gadis yang dititipkan oleh teman Ayah Ansell untuk mereka.


“Yahh,, kira-kira Azelle sekarang udah sebesar apa ya?. Udah lama kita belum liat dia loh”


“Ayah juga mikirnya gitu. Kalau saja dia mau tinggal dengan kita sedari kecil, pasti kita tahu pertumbuhan anak Arya tersebut.”


“Mana nomor Om dan Tante udah diganti pula.”


“Gak papa Bun, toh Ayah juga udah ngingetin mereka kalau nanti sudah tiba waktunya Ayah akan menjemput Azelle sebagai menantu kita.”

__ADS_1


“Nanti kalau mereka udah menikah, rumah akan kesepian, dan anak kita akan sibuk dengan Perusahaan yang diwariskan oleh Ayah mertuanya yang ada di Australia.” ucap Ibunya dengan sedih


“Namanya juga anak-anak Bun. Mereka jika sudah dewasa pasti bakal ada kehidupan dan kesibukan masing-masing.”


Flash back off


Perkataan Ibunya membuat Ansell sedikit tersipu malu. Sehingga ia bingung mau menjelaskan apa yang ingin dijelaskan olehnya.


“Ohh jadi Paman yang ngasih tahu,, Aishhh Paman-paman,, Ansell kan jadi malu. Hihii” batinnya sambil tertawa kecil


“Ohh jadi Paman yang ngasih tahu? Ansell mikir Kak Aksa yang ngasih tahu.”


“Kalo Aksa yang ngasih tahu, memangnya kenapa?.” tanya Ayahnya


“Nggak,, nggak papa kok Yah.”


“Hallahh,, ngomongnya nggak-nggak padahal sering banget gelud sama Aksa.” celetuk Ibunya


“Hehehe,, gak gelud gak seru Bun.”


“Emang bagus Paman sama Bunda buat anak cuma satu, baru sepupuan aja geludnya minta ampun.”


“Hehehe,, Kak Aksa yang mulai lebih dulu Bund.. Sukanya bikin kesel orang.”


“Nggak Aksa nggak kamu sama aja.” ucap Ayahnya. Mendengar itu Ansell dan Ibunya hanya tertawa


“Ohh ya,, Jadi Azelle itu siapa?.” tanya Ibunya kembali


“Itu Bun,, Ansell suka sama Azelle. Tapi kata Bibi tunggu lulus SMP dulu baru dikasih ijin pacaran.”


“Benar,, Ayah sama Bunda juga setuju kok sama Bibi kamu.”


“SMP gini fokus belajar dulu, kalo udah Sekolah SMA kami tahu masa abu-abu itu pasti banyak yang udah ngerasain fall in love.”


“Hehehe,, Bunda tahu aja.”


Perbincangan antar mereka seketika terhening, Ayah dan Bundanya hanya saling bertatap-tapan satu sama lainnya. Melihat itu Ansell kebingungan, sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya.


“Ayah,, Bunda,, ada apa?. Kok pada diam aja?.”


Ayahnya menghela nafas secara perlahan-lahan sambil memberi kode ke Ibunya untuk mengatakan sesuatu.


“Huufff,, Ansell.”


“Iyaa, Yah ada apa?.”


“Nak,, Ayah sama Bunda gak ngelarang kamu suka sama siapa pun. Tapii...” Ayahnya memberi kode kepada Ibunya untuk melanjutkan percakapan tersebut


“Tapi apa Yah?.”


“Sayang,, jadi gini. Sebenarnya Ayah sama Bunda belum mau ngasih tahu hal ini ke kamu. Tapi begitu kami tahu kamu suka sama seseorang, jadi gak perlu nunggu waktu yang tepat Ayah sama Bunda udah ngambil keputusan buat ngomongin ini sama kamu secepatnya.”


“Mau ngomongin apa Bun?.”


“Sayangg,, jadi Bunda sama Ayah udah ngejodohin kamu sama anak teman Ayah kamu.”


“Hah? Aa,,apaa?” Perkataan Ibunya membuat Ansell kecewa, sebelumnya ia berpikir bahwa orangtuanya akan mendukung hubungannya dengan Azelle, akan tetapi harapannya hanya sekedar angan-angannya saja.


“Sayangg,, jangan marah dulu.. Dengerin penjelasan Bunda dulu ya, setelah itu apapun keputusan kamu akan kami dukung.” ucap Ibunya sambil mengelus lembut tangan putranya tersebut.” mendengar itu Ansell hanya bisa menganggukkan kepalanya


“Sayangg,, Bunda sama Ayah gak ngelarang kamu mau pacaran dengan siapapun. Tapi sayangg keadaan sedikit memaksakan hal ini,, Ayah kamu udah terikat janji dengan temannya yang udah meninggal beberapa tahun yang lalu. Jadi mau nggak mau Ayah kamu pengen janji itu tidak diingkari olehnya melalui kamu.”


“Memangnya Ayah janji apa sama teman Ayah?.”


“Kamu ingat nggak waktu kamu kecil Ayah sama Bunda pergi ke Singapura dan ninggalin kamu beberapa minggu buat nginep dirumah Paman kamu?.”


“Iyaa inget Bun. Memangnya kenapa?.”


“Sebenarnya Ayah sama Bunda pergi menjenguk teman dekat Ayahmu disana. Teman Ayah hanya ingin menemui Ayahmu sebelum beliau meninggal.


“Maaf Bun,, ngomong-ngomong teman Ayah meninggal karena penyakit apa?.”


“Teman Ayah meninggal karena mengidap penyakit kanker stadium akhir sayang.”


“ Ohh,, Terus Bun?.”


“Setelah kami sampai, Ayah menghampiri temannya. Lalu mereka sedikit berbincang-bincang, disela-sela perbincangan itu teman Ayahmu menitipkan anaknya untuk kami rawat, dan beliau memiliki permintaan terakhirnya.”


“Permintaan? Permintaan apa Bunda?.”


“Beliau meminta Ayahmu untuk berjanji. Beliau meminta agar anaknya dijodohkan dengan anak kami. Dan juga beliau mewariskan Perusahaan miliknya yang ada di Australia untukmu jika kelak kamu sudah menikah dengan anaknya. Mendengar permintaan terakhir temannya, Ayah hanya bisa menggangukkan kepala dan menyetujui permintaan tersebut. Bukan karena kami gila harta, akan tetapi Ayahmu mengambil keputusan tersebut karena beliau adalah teman dekat Ayahmu ketika dulu Ayahmu sedang kesusahan.”


Mendengar hal itu, Ansell yang awalnya marah akan keputusan orangtuanya kini ia merasakan kesedihan dalam hati kecilnya. Akan tetapi disisi lain Ansell juga masih diselimuti oleh kekecewaan karena orangtuanya tidak akan mendukung hubungannya dengan Azelle suatu saat nanti.


“Sayang,, maaf.. Bukan karena Ayah egois. Tapi Ayah memohon dengan sangat, tolong bantu Ayah dalam mewujudkan janji Ayah dengan teman dekat Ayah yang sudah lama meninggal.” ucap Ayahnya sambil melirik dalam kepada Ansell seolah-olah sedang mengharapkan sesuatu.


Sejenak Ansell hanya terdiam sambil merenungkan sesuatu.


“Ayah seandainya kalian tahu, aku juga tidak ingin egois. Tapi dalam lubuk hatiku aku hanya menginginkan Azelle saja bukan oranglain. Tidak bisakah anak teman Ayah dijodohkan dengan oranglain selain aku?.” batin Azelle


“Sayangg?.” panggil Ibunya sambil mengelus kepala Ansell


“Ayah,, Bunda,, maaf,, bukan Ansell nggak mau dengan perjodohan ini. Tapi tolong beri Ansell waktu untuk menerima perjodohan ini.” ucap Ansell sambil menundukkan kepalanya


“Gak papa sayangg,, ini juga keputusan kamu. Tapi Bunda dan Ayah sangat berharap agar kamu tidak menaruh kekecewaan pada kami. Tolong dipikir lebih dalam lagi ya sayang.” pinta Ibunya


“Iyaa Bun.. Ayah Bunda Ansell ijin ke kamar dulu ya.”

__ADS_1


“Iyaa sayang..” balas orangtuanya


__ADS_2