Cahaya Sang Rembulan

Cahaya Sang Rembulan
Bagian 9 : Adik Zela


__ADS_3

Setelah Ansell beranjak pergi meninggalkan mereka, orangtua Ansell melanjutkan perbincangan mereka.


“Duhh,, handphone gue ketinggalan lagi.” Ansell membalikkan badannya untuk pergi ke taman belakang kembali.


Disaat Ansell ingin mengambil handphonenya yang tertinggal, Ansell tak sengaja mendengar pembicaraan orangtuanya dari balik pintu. Sehingga untuk pertama kalinya Ansell melihat Ayahnya menangis.


“Bun,, apa Ayah salah?.” tanya Ayah kepada Ibunya Ansell


“Nggak kok Yah,, Ayah nggak salah.”


“Barusan Bunda lihat kan, wajah Ansell seolah-olah kecewa atas permintaan Ayah.”


“Iyaa Bunda tahu kok. Bunda yakin pasti sebelumnya Ansell senang kalau kita sudah tahu tentang dia menyukai Azelle, tapi kesenangannya hanya sementara saja begitu tahu kita sudah menjodohkan dia dengan gadis lain.”


“Ansell,, maafin Ayah Nak. Ayah gak bermaksud buat ngelarang kamu dengan gadis pilihan kamu. Tapi disisi lain Ayah juga sudah berjanji dengan teman Ayah.”


“Udah Yah, semoga Ansell bisa nerima perjodohan ini secara perlahan-lahan. Mungkin sekarang dia belum bisa karena masih sedikit syok.” bujuk Ibu Ansell sambil mengelus-ngelus belakang Ayahnya.


“Arya,, maaf,, bukan gue gak mau nepatin janji gue ke lo, tapi semua keputusannya ada ditangan anak gue.” ucap Ayah Ansell sambil menitikan airmatanya


“Udah Yahh,, Bunda janji, Bunda akan bujuk Ansell biar dia bisa nerima perjodohan ini.” ucap Ibu Ansell sambil menenangkan suaminya.


............


“Ayah nangis? ini pertama kalinya gue liat Ayah nangis,, Arya? apa nama teman Ayah namanya Om Arya?.” batin Ansell


Melihat Ayahnya yang sedang menangis, Ansell tak berani untuk mengambil handphonenya. Sehingga ketika salah satu pembantunya lewat, Ansell meminta tolong untuk diambilkan handphonenya.


Ansell berlari kecil menghampiri pembantunya.


“Bi,, Bibi..” panggil Ansell


“Iyaa Den? ada apa?.”


“Bi, Ansell boleh minta tolong nggak?.”


“Boleh Den,, Boleh.. Den Ansell mau apa?.”


“Bi, tolong ambilin Handphone Ansell di taman. Tapi jangan kasih tahu sama Ayah Bunda kalo Ansell sempat mau balik lagi ya. Bilang aja Ansell nyuruh Bibi buat ngambilin handphone Ansell.”


“Baik Den,, Bibi ambil dulu ya.”


“Iyaa, Terima Kasih Bi.”


Pembantu tersebut langsung pergi mengambil handphone Ansell di taman belakang.


“Misii Tuan,, Misi Nyonya..”


“Iyaa Bi, ada apa?.”


“Anu Nyonya,, handphone Den Ansell ketinggalan. Den Ansell nyuruh saya buat ambil handphonenya.”


“Ohh,, Ini Bi.” ucap Ibu Ansell sembari memberi handphone tersebut kepada pembantunya


“Baik Nyonya.. Saya ijin pergi dulu Tuan,, Nyonya.”


“Iyaa Bi.” balas orangtua Ansell secara bersamaan


Setelah mendapatkan handphone tersebut, pembantunya menghampiri Ansell yang sedang duduk di ruang keluarga.


“Ini handphonenya Den.” Ucap pembantu tersebut sambil memberikan handphone kepada Ansell.


“Baik, Terima Kasih banyak Bi.”


“Sama-sama Den. Bibi ijin pergi dulu ya.”


“Iyaa Bi..”


Ansell yang masih diselimuti kekecewaan menghubungi teman-temannya untuk mengajak mereka pergi keluar malam.


*Percakapan melalui grup chat mereka


“Malam nanti kalian pada sibuk gak?.” tanya Ansell


“Nggak kok.”


“Ada apa?.”


“Keluar yokk.”


“Keluar kemana?.”


“Tempat biasa.”


“Jam berapa?.”


“Jam 8 malam gitu lah. Gue mau ngomongin sesuatu”


“Ngomong apa?.” Tanya Aksa


“Nanti aja gue ceritain.”


“Kek penting aja njirr.” celetuk Aksa

__ADS_1


“Kalo gak mau gabung ya gak usah!.”


“OKE.”


“Udahh woyy, mulai lagi berantemnya anyingg.” ucap Alvaro


“Tau nih,, bisa gak sih sehari gak berantem.” tambah Andra


“Kalo dia yang gak mulai duluan ya gue juga gak bakal kepancing.”


“Udah-udah, pokoknya kita berempat ketemuan ditempat biasa.” ucap Andra


Setelah menghubungi teman-temannya, Aksa pergi kedapur untuk mengambil cemilan yang akan ia makan sambil menonton film kesukaannya.


Waktu terus berlalu, sehingga tanpa disadari waktu sudah menunjukkan jam 6 sore. Ansell pun pergi menuju ke kamarnya untuk mandi malam.


“Gue mimpi apasih semalam? Ini beneran gue udah dijodohin sama Bokap Nyokap gue? Kenapa mereka ngomongnya baru sekarang? Terus Azelle gimana?.” Ansell bertanya-tanya di dalam kamar mandinya.


Ansell masih terus memikirkan perkataan orangtuanya sebelumnya. Disisi lain ia merasa kecewa karena harapan untuk menjadikan Azelle pacarnya ternyata terhalang oleh perjodohan antara Ayahnya dengan teman dekat Ayahnya. Namun, disisi lain ia juga merasa kasihan atas apa yang sedang dialami Ayahnya.


“Udah Nsell, lo mandi dulu. Segerin seluruh tubuh lo, setelah itu minta pendapat sama teman-teman lo.” ucap Ansell pada dirinya sendiri ketika sedang bercermin.


Setelah Ansell selesai mandi, Ibunya datang untuk mengajaknya makan malam.


“Tokk...tokk..tokk... “Ansell mendengar pintu kamarnya sedang diketuk-ketuk


“Iya siapa?.” teriak Ansell dari dalam kamarnya


“Bunda sayangg.” jawab Ibunya dari seberang pintu


Mendengar suara Ibunya, Ansell pergi membukakan pintunya setelah ia memakai handuk kimono miliknya.


“Iyaa Bun? Ada apa?.” tanya Ansell setelah membuka pintunya


“Ohh kamu baru selesai mandi ya?.” tanya Ibunya


“Iyaa Bun.”


“Habis ganti pakaian turun kebawah ya, kita makan malam.”


“Iyaa Bun. Nanti Ansell nyusul.”


Setelah Ibunya pergi, Ansell langsung mengganti pakaiannya. Dan ketika selesai mengganti pakaiannya, Ansell menuju ke meja makan untuk makan malam bersama orangtuanya.


“Malam Ayah, Malam Bunda.” sapa Ansell


“Malam juga sayangg.” ucap orangtuanya secara bersamaan.


Mereka pun makan malam bersama-sama. Melihat Ansell yang hanya makan sedikit, Ibunya langsung menegurnya.


“Nggak kenapa-kenapa kok Bun.”


“Hmm, gak biasanya loh kamu gitu. Kamu marah sama Ayah Bunda ya?.”


“Nggak kok Bun. Siapa yang marah?. Ansell sengaja makan dikit, soalnya mau keluar sebentar. Ayah Bunda Ansell ijin keluar dulu ya?.”


“Ohh,, kamu mau keluar? Keluar kemana?.” tanya Ayahnya


“Tempat biasa Ansell nongkrong sama teman-teman Yah.”


“Aksa juga ikut?.”


“Iyaa Yah, Kak Aksa juga ikut.”


“Keluarnya jangan pulang kemalaman ya sayangg, besok kamu masuk Sekolah.”


“Iyaa Bun, Ansell pergi dulu ya.”


Sebelum Ansell beranjak dari tempatnya, Ayahnya menahan tangannya.


“Nak, maafin Ayah ya. Ayah gak bermaksud ngelarang kamu sama gadis lain, tapi Ayah sudah terikat janji sama teman Ayah. Ayah harap semoga perlahan-lahan kamu bisa mengerti dengan keadaan Ayah.”


“Udah Yah. Gak usah bahas hal ini dulu, lagian perjalanan Ansell juga masih panjang, Ansell masih ingin menikmati masa muda Ansell.”


“Iyaa sayangg,, sekali lagi maafin Ayah ya.”


“Udah Yah. Ayah gak salah, yang salah keadaannya. Ansell gak marah kok sama Ayah Bunda. Ansell pamit keluar dulu ya, pasti teman-teman udah nungguin Ansell disana.”


“Iyaa, hati-hati dijalan.”


“Jangan ngebut-ngebut bawa motornya.”


“Iyaa Ayah Bunda. Ansell pergi dulu ya.” Ansell berpamitan sambil menyalami tangan kedua orangtuanya.


Setelah berpamitan, Ansell langsung bergegas keluar menuju restoran favorit mereka. Diperjalanan Ansell masih saja memikirkan perjodohan yang dilakukan oleh Ayahnya.


“Pliss,, jangan buat gue bingung gini. Gue sayang kedua-duanya. Gue sayang Ayah dan gue juga sayang sama Azelle. Gue pikir Ayah sama Bunda bakalan ngerti sama gue, gak tahunya gue yang dituntut keadaan buat ngertiin orangtua gue.”


Ketika sedang memikirkan hal tersebut, Ansell hampir saja menabrak anak kecil yang langsung berlari menyebrang.


Braakk,, Ansell seketika langsung mendadak rem motornya dan menghampiri gadis kecil tersebut.


“Dekk, kamu gak papa kan?.” tanya Ansell sambil mengecek seluruh tubuh gadis tersebut.

__ADS_1


“Gak kak, aku gak kenapa-napa.” jawab gadis tersebut.


“Kamu mau kemana? Malam-malam kok jalan sendirian?.”


“Mau kewarung kak.”


“Mau beli apa kewarung?.”


“Beli obat buat Ibu kak, Ibu lagi sakit.”


“Ohh, yaudah sini kakak temenin.”


Ketika ditawarkan bantuan, gadis tersebut hanya terdiam tanpa menjawab satu katapun. Melihat gadis itu hanya terdiam, Ansell menyadari bahwa gadis itu takut dengannya.


“Apa kamu takut sama kakak?.” tanya Ansell


Gadis itu kembali tidak menjawab satu katapun, akan tetapi ketika sedang ditanyai, ia hanya menganggukkan kepalanya seolah-olah menjawab bahwa ia memang takut dengan Ansell.


“Udah tenang aja,, Kakak bukan orang jahat, kakak gak bakal nyulik kamu. Kakak pakai jaket seperti ini karena kakak mau pergi ngumpul sama teman-teman kakak.”


Mendengar hal itu, gadis tersebut hanya kembali mengangguk.


“Kamu mau beli obat buat Ibu kamu kan?.”


“Iyaa kak.”


“Ayoo, pergi bareng kakak. Nanti kakak juga akan mengantarkan kamu pulang.”


Ansell mengajak gadis kecil tersebut ke Apotek obat, setelah membeli obat yang diperlukan, Ansell mengajak gadis kecil itu untuk membeli makanan.


“Apa kamu sudah makan?.”


“Belum kak.” jawab gadis tersebut dengan nada rendah


“Yaudah kita beli makanan dulu ya, setelah itu kakak akan mengantar kamu kembali.”


Setelah mereka membeli obat, mereka langsung pergi ke Rumah Makan. Setibanya di Rumah Makan Ansell membayar semua makanan tersebut yang telah dipesan olehnya. Selepas membayar, Ansell langsung mengantar gadis tersebut kembali kerumahnya.


“Kalau udah dekat Rumah kamu, ngomong sama kakak ya.”


“Sedikit lagi sampai kak.”


Ansell membawa motornya secara perlahan-lahan, sehingga mereka berhenti disebuah Rumah yang berukuran kecil.


“Berhenti kak. Kita sudah sampai.”


“Yang mana Rumah kamu?.”


“Yang itu kak.” Tunjuk gadis kecil tersebut ke arah Rumah yang berukuran kecil.


“Tokk,,tokk,,tookk..” Ansell mengetuk-ngetuk pintu rumah tersebut.


“Ibuu,, Zela sampai Bu.” ucap gadis tersebut.


“Permisi Bu..”


Mendengar ada suara seorang laki-laki, sontak Ibu tersebut langsung membukakan pintu.


“Zela? Kenapa pergi kewarungnya lama sekali Nak. Dan ini siapa?.” tanya Ibu tersebut


“Bu,, boleh saya masuk?.”


“Maaf Nak,, tapi rumah Ibu kecil. Nampaknya kamu anak dari orang kaya, rasanya tidak pantas kamu bergabung dengan kami yang dibawah.”


“Ahh Ibu,, gak boleh ngomong gitu. Kita sama aja kok Bu. Boleh saya masuk?.”


“Boleh,, sekali lagi maaf ya rumah saya kecil Nak.”


“Gak papa kok Bu.”


Ibu Zela membolehkan Ansell masuk kerumahnya setelah sedikit dipaksa oleh Ansell.


“Jadi perkenalkan nama saya Ansell Bu.”


“Ohh Nak Ansell. Terus bisa ketemu Zela gimana ceritanya Nak?.”


“Iyaa Bu. Tadinya saya mau pergi ke teman-teman saya, tapi dijalan gak sengaja saya hampir menabrak Zela jadinya saya berhenti sebentar untuk memastikan keadaan Zela.”


“Ohhh, tapi kamu gak papa kan Zel?.” tanya Ibu tersebut kepada anaknya


“Gakpapa Bu. Kakaknya baik, Kakak beliin Ibu obat sama makanan buat kita.” Ansell hanya bisa tersenyum ketika Zela mengatakan hal tersebut.


Mendengar hal itu, Ibu tersebut seketika hanya bisa menangis. Melihat Ibu dari gadis tersebut sedang menangis, Ansell langsung menanyakan keadaan Ibu tersebut.


“Bu, ada apa?.”


“Nggak papa kok Nak,, Ibu hanya menangis bahagia melihat keceriaan Zela yang hari ini nampak berbinar-binar. Kami sudah 2 hari tidak makan, Ibu belum pergi kerumah-rumah mencari pekerjaan buat mendapatkan upah makan untuk Zela. Tapi begitu Zela bertemu dengan orang baik seperti kamu, wajah Zela menampakkan kebahagiaan yang membuat Ibu sedikit terharu.”


Mendengar perkataan Ibu tersebut, tanpa disadari Ansell juga ikut menangis lalu dengan segera mengusap airmatanya. Tak ingin berlama-lama, Ansell pun pamit dari mereka.


“Baik Bu,, saya pamit pergi dulu ya. Zela, kakak pergi dulu ya Dekk.”


“Baik Nak, Terima Kasih banyak sebelumnya. Semoga segala kebaikanmu akan mendapatkan balasannya berupa keinginanmu.”

__ADS_1


“Baik Kak, sekali lagi Terima Kasih Kakak tampan dan baik hati.”


Ansell hanya mengelus lembut rambut Zela dan memberikan senyum indahnya untuk Ibu dan anak tersebut.


__ADS_2