Calon Istri untuk Suamiku

Calon Istri untuk Suamiku
part 2


__ADS_3

Rencanaku untuk dinner dengan Mas Wawan gagal. Karena, sakit perutku kambuh. Seperti kata dokter, efek yang akan dialami ialah sakit perut yang hebat. Rasanya ngilu.


Padahal, aku dan Mas Wawan sudah rapi. Tinggal berangkat.


Penyakit kista ini baru kuketahui beberapa hari lalu. Awalnya kuanggap, hanya sakit perut biasa, ternyata serius.


Semalaman aku tidak bisa tidur, menahan rasa sakit. Mas Wawan sudah tertidur pulas sambil memeluk erat perutku. Air mata menetes tak tertahankan, begitu besar rasa sayang Mas Wawan terhadapku.


"Semoga rasamu tidak akan pernah berubah, Mas."


Rasa kantuk mulai menyerangku. Sakit perut pun mulai reda.


***


"Bangun, Dek! Kita shalat subuh berjamaah."


Aku terbangun saat mendengar suara Mas Wawan. 


"Hm! Mas ... ini jam berapa?" tanyaku, malas sambil mengucek mata.

__ADS_1


"Udah subuh, Dek. Bangun, yuk! Apa mau Mas gendong? Hm!"


Belum sempat menjawab, Mas Wawan sudah lebih dulu menggendongku ke kamar mandi.


Aku pun berontak, tapi tidak dihiraukan oleh Mas Wawan.


"Mau dimandiin juga ...?" ujarnya genit.


"Boleh." Aku mengerlingkan mata. 


sensor


Setelah selesai ... segera kami shalat subuh yang kesiangan. Karena, keasyikan bermain anu sama Mas Wawan.


Kalau lagi mesra-mesraan, rasanya dunia seperti milik berdua. Yang lain ngontrak, pada nunggak lagi.


Melihat wajah Mas Wawan yang sumringah, membuatku bahagia. Sebelum ia berangkat kerja, kusempatkan untuk mengucapkan rasa cinta, "I love you, Mas."


"Ciyeee! Tumben, Dek. Kamu lagi demam?" Mas Wawan memegang keningku, padahal aku baik-baik aja.

__ADS_1


"Mas! Aku gak demam ...." Kupasang wajah kesal, bibirku mengerucut.


"Kamu cantik kalau lagi merengut." Mas Wawan mendaratkan kecupan di bibirku, "Mas berangkat kerja dulu, ya. Hati-hati di rumah. Assalamu'alaikum ...."


"Waalaykumussalam. Hati-hati di jalan, Mas."


Melihatnya berlalu pergi, rasanya aku tak sanggup jauh dari suamiku.


Setelah Mas Wawan benar-benar hilang dari pandangan, aku kembali masuk ke dalam rumah. Sejak pertama menikah, aku dan Mas Wawan memang sudah bersepakat untuk tidak memakai jasa asissten rumah tangga. Bukan tidak mampu meng-gaji, tapi aku ingin segala kebutuhan suamiku dan rumah kuatur sendiri.


Mas Wawan terbilang suami yang selalu menuruti istri, apapun keinginan istri selalu dituruti. Tanpa diminta pun, Mas Wawan selalu membelikan kebutuhanku, termasuk baju dan lainnya. Ia tahu, aku bukanlah type istri yang banyak mau, sampai kebutuhan sendiri pun kadang terlupakan.


Untuk mengisi kekosongan, aku juga bisnis kue-kue rumahan. Lumayan, daripada hanya diam-diam saja.


Saat membereskan kamar tengah, aku menemukan kotak berwarna ungu. Kubuka isinya, mengejutkan, isinya sebuah lingery. Untuk siapa? Aku tidak pernah memakai lingery.


Apa Mas Wawan punya wanita lain? Rasanya tidak mungkin. Selama bertahun-tahun kami menikah, ia tidak pernah menunjukkan bahwa ia merasa bosan padaku. Sama sekali tidak pernah.


Kalaupun ia ingin mencari wanita lain, pasti terus terang. Tidak mungkin ia sembunyi-sembunyi .

__ADS_1


Namun, aku juga tidak boleh suudzon dulu. Mungkin itu titipan temannya.


__ADS_2