Calon Istri untuk Suamiku

Calon Istri untuk Suamiku
part 5


__ADS_3

Jika saja hujan tidak mampu bersahabat bersama angin, kenapa tidak aku bersahabat bersama madu yang selalu dianggap pahit oleh mereka yang tidak pernah mau menerimanya? 


Jika saja bumi tidak mampu berdekatan dengan langit, kenapa tidak jika aku berdekatan dengan sesuatu yang selalu mereka anggap bagaikan langit dan bumi yang takkan pernah bisa bersama. 


Jika saja bulan dan bintang tidak mampu bersama dalam satu waktu, kenapa tidak jika aku mampu bersama dalam setiap waktu dengan apa yang selalu mereka katakan, bahwa keduanya tidak bisa bersama setiap waktu.”


Bukan hanya mereka saja yang mampu merasakan cemburu, aku pun begitu. Rasa cemburu akan selalu ada pada setiap hati yang tergoyahkan. Namun, setiap hati punya cara masing-masing untuk menaklukan rasa cemburu itu.


Bahkan hati yang selalu terlindungi oleh cinta pun, akan tergores dengan sendirinya saat merasakan cemburu.


[Mbak! Aku udah dapat kontrakan di sekitaran dekat rumah, Mbak. Apa besok aku udah bisa kerja?] 


Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Tapi, aku tahu siapa yang mengirimnya. Delia! Iya, itu sudah pasti Delia.


[Alhamdulillah kalau gitu, besok kamu ke rumah saja!]


[Baik, Mbak. Terima kasih.]


Saat aku tertidur pulas, sebuah tangan seperti mengelus-elus ubun-ubunku. Tangan yang kehangatannya sudah tidak asing lagi bagiku, yang setiap malam melelapkan tidurku karena pelukan hangatnya.


“Hm!” Dengan sengaja, kubalikkan tubuhku menghadapnya. Padahal, aku sedikit deg-degan.


“Kalau mau dicium bilang saja, tidak usah berpura-pura begitu, Dek.”

__ADS_1


Deg!


Mungkinkan Mas Wawan seorang paranormal? Kenapa ia bisa tahu kalau aku melakukannya dengan sengaja. Wajah yang semua dingin, berubah menjadi merah, panas karena malu.


“Ciye! Wajahnya sampai merah begitu, Dek.” Lanjutnya seperti sengaja menggodaku.


“Gak peka!” jawabku sambil menjauhkan tubuhku darinya.


“Ceritanya ngambek, nih? Kalau Mas kasih ini mau gak?”


Karena masih kesal, aku tidak menjawab.


“Tengok sini, Dek. Kalau gak ditengok pasti menyesal.”


***


Membentangkan tangan sambil sesekali mengerlingkan matanya. Itulah cara Mas Wawan untuk membuat aku meleleh bak eskrim yang mencair karena terpapar sinar mentari. Meleleh seketika.


Walaupun orangnya terkesan pendiam, tidak banyak bicara dan kalem. Tapi, ia selalu bisa membuatku tersipu malu.


Malam ini langit tampak mendung, tidak ada satu pun bintang yang bersinar. Mungkinkah langit tahu, bahwa hatiku juga mendung malam ini? Memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, sedangkan Mas Wawan belum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.


"Lingeri!"

__ADS_1


Kembali kuteringat ada apa dibalik kado dan lingeri tersebut. Kenapa pula aku tidak ingat untuk menanyakannya kepada Mas Wawan.


"Apa aku bangunkan saja? Tidak! Kasian, wajahnya terlihat lelah karena seharian bekerja." Kuurungkan untuk membangunkan Mas Wawan, lebih baik kutanyakan besok saja. 


***


Sesuai perjanjian kami, Delia sudah mulai bekerja pagi ini. Waktuku untuk menemani Mas Wawan lebih banyak, sebelum ia berangkat ke kantor.


"Nanti kalau ada yang tidak kamu mengerti, tanyakan saja sama Mbak, ya!" 


"Iya, Mbak. Nanti kalau ada salah, ingatkan aku juga, ya, Mbak," jawab Delia.


Rumah kami memang tidak terlalu luas, hanya saja mempunyai lantai atas yang rata-rata isinya dipenuhi barang-barang tak terpakai. Jadi, sedikit susah untuk membereskannya.


Untuk pekerjaan, aku tidak pernah membuat ribet. Yang penting rumah beres dan rapi. Hal yang paling penting adalah amanah.


"Dek! Mas berangkat kerja dulu, ya. Jaga diri baik-baik! Assalamualaikum."


"Waalaykumussalam. Semoga selamat sampai tujuan, Mas."


Hal bagian terpenting dalam rumah tangga kami adalah saling mendoakan satu sama lain. Untuk lebihnya, kita selalu introfeksi diri sesuai apa kesalahan yang pernah kita lakukan. Entah itu masalah sepele atau serius.


Kedua pihak keluarga kami tidak pernah ikut campur dengan apapun yang terjadi dalam rumah tangga. Kedua orang tua Mas Wawan typical yang mengatur. Begitupun kedua orang tuaku.

__ADS_1


__ADS_2