Calon Istri untuk Suamiku

Calon Istri untuk Suamiku
part 3


__ADS_3

Suara mobil Mas Wawan sudah terdengar. Aku tidak boleh menunjukkan wajah curiga atau menyelidik. “Cape, ya, Mas?” tanyaku.


“Iya, Dek. Hari ini kerjaan padat sekali di kantor.”


“Alhamdulillah! Itu rezeki kita, Mas. Kita harus bersyukur. Orderan kue juga hari ini lumayan banyak, Mas.”


Wajah Mas Wawan yang semula tampak muram, menjadi sumringah. “Emang kamu gak cape, Dek? Kalau cape, istirahat aja. Gak usah bikin kue dulu.”


“Aku gak cape, kok, Mas. Daripada diam aja di rumah. Jenuh.”


Mas Wawan menatapku, senyum. Sesaat mengecup keningku dan beranjak ke kamar.


Wanita mana yang tidak bahagia? Diperlakukan seromantis ini, penuh kasih sayang dan perhatian. Mencari lelaki lain yang sepertinya sangat susah, jaman sekarang jarang lelaki seperti itu. “Mas! Maafkan aku yang belum bisa membuatmu bangga dan bahagia.”


Bukanlah keinginanku menjadi istri yang tidak sempurna. Semua itu sudah menjadi kehendak-Nya. Sebagai hamba, aku hanya bisa berserah dan menerima.


Setelah Mas Wawan selesai mandi, kuhampiri dan kuelus dadanya yang masih bercucuran air. “Mas!”


“Ini masih sore, Dek. Nanti aja kalau udah malaman, ya.”


“Hm! Aku Cuma mau minta dianterin ke Mini Market. He-he ….”

__ADS_1


“Kirain Mas mau ngajakin, ekh!”


“Mas genit, deh.” Kucubit pinggangnya dan kutarik handuk yang dikenakannya. “Aku pakein bajunya, ya?” lanjutku.


“Silakan, Dek. Semua hak kamu.”


Perjalanan menuju Mini Market sedikit macet. Sambil menunggu jalanan lancar, kami menyempatkan mengobrol perihal konsultasi kesuburan. Mas Wawan dapat saran dari teman kantornya untuk menjalani program bayi tabung.


Jleb!


“Bayi tabung? Kalau nanti aku diperiksa, kistaku akan ketahuan. Lebih baik aku segera terus terang saja sama Mas Wawan. Karena, kalau ia tahu dari orang lain, pasti akan kecewa.”


Untuk menutupi kegugupanku, tanpa berpikir panjang aku meng-iyakan. Terlihat wajahnya berbinar-binar. Aku tahu, ia sudah ingin sekali mempunyai seorang anak. Begitupun aku.


“Iya, Mas.”


Brugh!


Seorang perempuan belia menabrakku saat aku berkeliling mencari bahan-bahan dapur dan keperluan bulanan lainnya. Sontak aku membangunkannya, karena ia terjatuh.


“Maaf, Dek. Kamu gak apa-apa, kan?”

__ADS_1


“Gak apa-apa, kok, Mbak. Harusnya aku yang minta maaf, sudah menabrak Mbak.”


Sepertinya ia ketakutan, tangannya gemetaran dan wajahnya pucat. Dari kejauhan, terlihat seorang bapak-bapak sedang mengejar seseorang.


“Mbak tolongin aku. Bawa aku sembunyi, itu Bapakku ngejar-ngejar.”


“Sembunyi di mana? Alasannya apa Bapak kamu ngejari-ngejar?”


“Ceritanya panjang, Mbak. Aku mohon, Mbak! Tolongin aku!”


Tidak tega juga melihatnya memohon-mohon. Akhirnya kubawa ia bersembunyki di balik rak makanan.


Sepertinya sudah aman. Aku mulai bertanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja, “Sebenarnya ada apa, Dek?”


Bukannya menjawab, ia malah menangis sesenggukan. 


“Begini, Mbak. Aku dipaksa nikah sama rentenir, karena Bapak tiriku banyak hutang. Tapi, aku gak mau, Mbak. Ibuku juga ikut-ikutan maksa aku supaya mau dinikahin.”


“Ya Allah … kok, gitu banget orang tuanya? Apa gak ada cara lain untuk menyelesaikan masalahnya? Terus sekarang kamu mau kemana?”


“Aku juga bingung, Mbak. Mau cari kontrakan, tapi aku belum dapat kerjaan. Uangku juga gak cukup.”

__ADS_1


Entah apa yang ada dalam pikiran orang tuanya itu? Tega sekali memperlakukan anaknya seperti itu. Alhamdulillah, orang tuaku tidak seperti itu. Kadang, kehidupan di dunia memang tidak sama. Semua cobaan dan ujian akan selalu menghampiri pada setiap insan.


__ADS_2