
Benih-benih cinta mulai kutaburkan. Supaya bisa tumbuh dengan sendirinya tanpa harus aku yang memupuki. Bersama benih-benih itu, kukubur rasa cemburu yang mungkin suatu saat akan tumbuh di antara benih-benih itu.
Kuperhatikan Delia dari kejauhan. "Cantik, rajin, mungkin dia bisa."
Hari ini, orderan yang masuk via media sosial dan chat Whatsapp banyak sekali. Sampai aku kewalahan membuat satu persatu kue yang dipesan.
"Del! Tolong bantuin Mbak, ya. Packing kue yang udah jadi ke dalam kardus ini!" Kutunjukkan cara mem-packing kue pada Delia.
__ADS_1
Tanpa harus bolak-balik kuberitahu, Delia cepat mengerti.
Walaupun pekerjaannya sedikit melelahkan, tapi ini rezekiku hari ini. Ada rasa tidak enak pada Delia, karena di hari pertamanya kerja harus disibukkan dengan pekerjaan tambahan yang lumayan menguras tenaga
Ingin aku bertanya lebih dalam tentang dia, tapi kuurungkan. Takutnya, Delia merasa risih dengan pertanyaanku.
Sekedar mengisi kecanggungan, aku bertanya sedikit demi sedikit pada Delia, "Gimana di kontrakan baru? Betah?"
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan beritahu Mbak sama suami Mbak, ya."
"Iya, Mbak. Terima kasih sebelumnya."
Menurutku Delia seorang gadis yang pendiam, karena setiap aku bertanya ia hanya menjawab sekenanya. Atau mungkin karena baru kenal, masih sedikit canggung.
Terlihat dari raut wajahnya, Delia bukan gadis yang liar. Ia gadis yang tertutup dan tidak pernah neko-neko. Aku memang bukan para normal ataupun peramal, hanya saja aku bisa menerawang sifat seseorang dari wajahnya.
__ADS_1
Salutnya, selama aku berumah tangga dengan Mas Wawan tidak pernah terlihat dari raut wajahnya sesuatu yang mencurigakan. Hanya saja lingeri itu ....
Aku baru mengingatnya, apa lingeri itu masih ada di lemari atau tidak?