Calon Istri untuk Suamiku

Calon Istri untuk Suamiku
part 4


__ADS_3

Sebagai seorang perempuan, aku bisa merasakan apa yang ia rasakan. Sebaik apa pun orangnya, sekaya apa pun, kalau tidak cinta dan saling suka, bagaimana bisa bersatu. Apalagi hanya karena terlilit hutang piutang, anak jadi korban.


“Namanya siapa?” tanyaku mencairkan suasana.


“Delia, Mbak.”


“Del! Kalau kamu gak keberatan, dan kalau mau, kamu boleh kerja di rumah Mbak dan tinggal di sana. Gimana?”


“Kalau Adel, sih, mau aja, Mbak. Kerja apa pun Adel mau.”


“Ya sudah. Sekarang kamu tenangin diri dulu, terus nanti temenin Mbak belanja!"


Menurutku, Delia pekerja keras, gigih dan penurut. Di usia yang masih belia, seharusnya ia masih sekolah. Tapi, mungkin karena keluarganya seperti itu, jadinya pendidikan Delia terbengkalai. Di beberapa bagian tubuhnya juga terdapat seperti bekas pukulan. Sekejam itukah orang tuanya? Sampai tega menjaminkan anak sebagai pembayar hutang.


Setelah semua keperluan lengkap, aku menuju kasir bersama Delia untuk membayar belanjaan. Delia juga sudah terlihat sedikit tenang, tidak lagi tegang seperti tadi. Semoga Mas Wawan mengijinkan Delia bekerja bantuin aku, sekaligus tinggal di rumah.


“Mas!”


“Iya, Dek. Sudah belanjanya?”


“Sudah, Mas. Tapi … ada yang mau aku bicarakan, boleh?”


“Ya, boleh lah, Dek. Mau bicara apa?”

__ADS_1


“Jadi, gini, Mas. Hm ... ada yang mau ikut kerja, tepatnya bantuin aku bikin kue dan beres-beres rumah, kalau Mas mengijinkan …?”


“Siapa? Kenal dari mana?”


“Namanya Delia, aku kenal dia di Mini Market tadi. Orangnya baik, kok.”


“Ya sudah. Coba aja dulu, atau nanti Mas pertimbangkan dulu, gimana?”


“Tapi, dia gak punya tempat tinggal, Mas. Baru terkena musibah, kasian.”


Aku tahu Mas Wawan tidak akan semudah itu meng-iyakan. Alasannya cukup singkat, ia tidak mau ada wanita lain di tengah-tengah kami. Apalagi kalau auratnya terbuka.


“Untuk sementara, carikan saja dia kontrakan dulu. Supaya ada tempat tinggal.”


Kuhampiri Delia yang tengah duduk termenung di bangku depan Mini Market untuk memberitahu apa yang dikatakan Mas Wawan. Sebagai seorang istri, aku harus menuruti semua perintah suami, apa pun itu kalau untuk kebaikan.


“Del! Sebelumnya Mbak mau minta maaf. Mas Wawan, suami Mbak menyarankan supaya kamu mencari kontrakan dulu. Nanti kalau sudah Mas Wawan pertimbangkan, baru kamu boleh kerja, ya. Gak apa-apa, kan?”


“Iya, Mbak. Terima kasih sebelumnya sudah mau menolong aku.”


“Ini ada sedikit rezeki buat ongkos kamu, juga nomor HP Mbak. Nanti kalau kamu sudah dapat kontrakan, hubungi Mbak, ya!”


“Baik, Mbak. Sekali lagi terima kasih.”

__ADS_1


“Mbak pulang dulu, kasian Mas Wawan nungguin di mobil. Assalamualaikum!”


“Waalaykumussalam.”


Sesampainya di rumah, Mas Wawan minta supaya aku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi, aku menundanya karena harus membereskan belanjaan terlebih dahulu.


“Gini, lho, Mas. Tadi, waktu aku masuk ke Mini Market ada seseorang menabrakku. Terus, aku bangunkan dia karena terjatuh. Tangannya gemetaran, wajahnya ketakutan, ternyata dia dikejar-kejar bapak tirinya, mau dijodohkan sama rentenir sebagai pembayar hutang pihutang. Aku tanya dia mau kemana, malah nangis dan geleng-geleng kepala. Daripada dia terlunta-lunta di jalanan, aku berinisiatif untuk menawarkan bekerja di rumah kita, Mas.”


“Kalau Mas, sih, terserah kamu aja. Tapi dengan satu syarat, dia gak boleh tinggal di sini, nanti jadi fitnah, Dek. Masalah kerjaan, Mas serahin sama kamu.”


“Beneran boleh kerja di sini, Mas?”


“Iya, Sayang. Supaya kamu gak terlalu cape juga, kan? Mas bersih-bersih dulu, ya. Sekalian mau Shalat Maghrib.”


Seperti biasa, Mas Wawan selalu menyempatkan mengecup keningku. 


“Ana uhibuka fillah, Mas.”


“Hm! Belajar gombal dari mana, Dek? He-he.”


“Aku gak belajar gombal, Mas. Tapi, belajar membahagiakanmu.”


Senyum manis tersungging di sudut bibir Mas Wawan, menandakan begitu bahagianya ia. Segera aku berlari kecil, memeluk erat pinggangnya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2