
Benar saja, lingeri itu sudah tidak lagi ada di tempat yang pertama aku temukan. Apa mungkin Mas Wawan sudah memindahkannya?
Sebaiknya aku menanyakan ini pada suamiku. Supaya tidak terjadi fitnah di antara kami. Aku juga tidak ingin suudzon dengan suamiku sendiri.
"Del! Kalau kamu mau pulang, pulang aja. Biar nanti Mbak yang bereskan sebagian. Lagipula, ini udah mau sore, kasian kamu nanti kemaleman pulangnya," ucapku pada Delia yang masih bekerja membersihkan bekas membuat kue.
"Gak apa, Mbak. Kontrakan aku, kan dekat dari sini. Di sana juga sendirian, mendingan aku selesain kerjaan dulu baru pulang."
"Ya udah kalau begitu, Mbak tinggal ke atas dulu. Mau menyiapkan keperluan Mas Wawan."
Kutinggalkan Delia yang tengah membersihkan ruang tengah bawah. Kulihat dia dari atas, "Kamu bisa menjadi penggantiku, Del."
Mengapa aku bersikukuh mencarikan pengganti untuk suamiku sendiri? Karena, suatu saat jika aku tak ada ia akan membutuhkan seseorang yang mampu melayani semua kebutuhannya.
Yang paling utama, adalah yang bisa memberikannya sebuah kebahagiaan yang tidak bisa kuberikan padanya. Hadirnya seorang anak di antara lelahnya saat pulang bekerja mencari nafkah.
Bagiku, madu tidaklah sepahit empedu. Madu itu manis, jika kita menaburinya dengan gula-gula keikhlasan dari hati paling dalam.
Suara mobil Mas Wawan sudah terdengar di halaman rumah. Sengaja kubiarkan Delia membukakan pintu untuk suamiku.
Aku ingin memberikan kesempatan pada Mas Wawan untuk mencintai orang lain selain aku. Walaupun dirasa sulit, tapi aku harus berusaha mewujudkannya.
__ADS_1
"Dek! Kamu sakit?" Suara yang tak asing bagiku, Mas Wawan menghampiriku yang tengah berbaring di atas tumpukan busa berbalut kain dan seprai.
"Mmmmm ... nggak, kok, Mas. Aku cuma kecapean aja, tadi banyak sekali orderan yang masuk. Maaf! Aku tidak membukakan pintu tadi."
Rasa sesal menggebu dalam kalbu, begitu bodohnya aku mempermainkan suami yang selama ini begitu mengartikanku dan tidak pernah mempermainkanku apalagi menyakitiku.
"Ya udah gak apa-apa. Kalau capek, istirahat saja dulu. Mas mau mandi, gerah udah bau keringat."
Kusemaikan senyum penuh penyesalan di sudut bibir. Menyiapkan keperluan Mas Wawan.
Kutatap pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Terdengar gemericik air yang membuatku ingin menangis. "Apakah aku akan rela, jika ...."
Segera kubalikkan badan saat Mas Wawan keluar dari kamar mandi. Jangan sampai ia tahu aku memerhatikannya sedari tadi.
Tidak ada suara. Kemana Mas Wawan?
Cup!
Ciuman dengan bibir basah mendarat di pipi kananku. Tetesan air dari rambutnya membasahi wajahku yang memerah.
"Masih sore, Mas."
__ADS_1
"Mau?" jawabnya penuh menggoda.
"Nanti, ya. Masih ada Delia."
"Lagipula, Mas udah mandi masa nanti mau mandi lagi."
"Ya sudah." Kupalingkan wajah dengan bibir mengerucut.
"Dek!"
Aku tidak menjawab. Hanya ingin tahu, apa yang akan dilakukannya.
Tangan kekar itu menarik pinggangku dari belakang. Membawanya pada pelukan hangat dada bidangnya.
"Dada ini, sanggupkah aku membaginya?" batinku meronta. Membayangkan apa jadinya jika suatu saat aku harus merelakan wanita lain bersandar di dada Mas Wawan. "Tidak! Aku tidak boleh egois. Demi kebahagiaan suamiku, apa pun akan kulakukan."
Dalam pelukan hangatnya aku tenggelam. Desiran halus seakan membangunkanku dari lamunan, "Dek! Kamu tidur?"
"Mmm ... eh! Nggak, kok, Mas. Aku tadi hanya terlarut dalam kemesraan. Eh!"
Mas Wawan tersenyum menggelitik mendengar pernyataanku yang menurutku juga lucu dan tidak masuk akal.
__ADS_1