
Lista mengais-ngaiskan sepatunya di lantai saat lehernya siap diremukkan oleh pemuda di depannya. Banyak siswa-siswi lain yang menyaksikan aksi nekat pemuda tersebut, tetapi tak satupun yang sudi untuk sekadar membela Lista. Karena siapapun tahu, semua yang berurusan dengan Arta Samudera hanya akan berakhir buruk. Sementara guru pun bungkam jika terdapat kasus buruk tentangnya, dan sial bagi Lista karena kakinya tersandung kursi kantin hingga kuah baksonya mengotori seragam pemuda itu.
“Maaf, Kak.” Lista mencicit ke sekian kalinya demi mengharap rasa kasihan pemuda itu. Namun tampaknya dia lupa, pemuda itu tidak memiliki hati yang menjadi sumber rasa kasihan muncul. “A-aku cuciin ya?” Gadis berkepang itu menawarkan.
“Emang kalau lo cuciin baju gue, badan gue yang kena panas bakso lo bisa langsung sembuh, hah!”
Lista semakin ketakutan. Otaknya dipaksa bekerja agar menemukan alasan sehingga bisa terlepas dari pemuda yang sialnya mendapat predikat sebagai most wanted para siswi kecentilan itu.
“Aku ... sekalian obatin ya? Sekarang juga bisa. Tapi plis, lepasin. Sesak, Kak.”
Bukannya mendengar perintah gadis berbadan kurus dalam kurungannya itu, Arta semakin menjadi-jadi dengan mengangkat kerah baju Lista. Dia sama sekali buta gender saat sedang marah.
“Kak ... lepas ....” Lista semakin mengeluarkan suara lirihnya.
“Pasti gue lepas, kalau gue udah ngeluarin kesal gue sama lo!” Arta menekan suaranya sehingga tingkat menyeramkan dirinya semakin berlipat ganda. Tangan di kerah baju Lista terlepas, berpindah di lengan gadis itu untuk menyeretnya tanpa belas kasih disaksikan seluruh pengunjung kantin siang itu. Entah ke mana Lista akan dibawanya, tetapi semua orang yakin bahwa gadis itu akan muncul kembali dalam keadaan mengenaskan. Syukur-syukur jika masih bernapas.
Menyimak dari arah tujuan Arta, Lista langsung menyimpulkan bahwa dirinya akan dibawa ke toilet. Tidak tahu hukuman apa, tapi Lista bergidik membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi di toilet.
Namun, perjalanan keduanya terhambat oleh Stella, adik Arta yang memiliki sifat tidak jauh berbeda dengan kakaknya. Stella bersama dua sahabatnya, Ririn dan Farah memasang wajah angkuh. Jika Arta hanya akan menghukum siswa yang berbuat kesalahan padanya, Stella malah menghukum siswa-siswi cupu seperti Lista yang diyakini tidak bisa melawan.
“Kalian mau ke mana?” tanya Stella setelah beberapa detik menelisik penampilan berantakan Lista.
“Bukan urusan lo!” Arta menghardik. Meski memiliki sifat hampir sama, tetapi itu tidak menjamin keduanya bisa akur. “Minggir!” Sangat mudah bagi Arta yang berbadan kekar untuk menggeser tubuh langsing milik Stella. Namun, bisikan adiknya membuat Arta diam di tempat. Lista mengamati interaksi rahasia mereka dengan waspada.
Arta mengalihkan tatapannya pada Lista. Mengamatinya dari ujung kaki sampai rambut.
“Dia terlalu jelek. Nggak cocok,” kilah Arta cepat.
“Lista ini cantik kok.” Stella mengeluarkan pujiannya, yang malah terdengar seram di telinga Lista. Gadis berkepang satu itu semakin hati-hati.
“Dia bukan selera gue.”
__ADS_1
Lista mengerjap setelah mendengar jawaban aneh dari Arta. Kenapa bawa-bawa selera? Begitulah pertanyaan dalam benak Lista. Dia langsung berpikiran buruk. Apa pemuda itu akan memakannya? Atau ... Lista tidak bisa membayangkan kemungkinan kedua yang tercetus dalam otaknya.
“Tapi nggak ada yang bisa sesempurna Lista.” Stella semakin memperkeruh cara pikir Lista. “Lagian, tumben lo nggak minat sama cewek? Biasanya asal cewek asli, langsung lo embat aja!"
Lista semakin takut berpikir. Tidak mungkin kemungkinan kedua yang spat terlintas dalam benaknya terkabul. Tidak mung—
“Lo!” Arta menunjuk tajam ke arah Lista yang langsung mundur. Pemuda itu diam sejenak saat jakunnya bergerak meneguk ludah. “Jadi pacar gue mulai hari ini.”
Atau ... selera yang dimaksud di sini adalah calon pacar?
Sial. Kemungkinan kedua yang dipikirkan Lista terwujud. Bibir tipis kemerahannya terbuka untuk menolak, tetapi langsung kembali bungkam saat Arta angkat suara.
“Lo nggak bisa nolak!” Arta menarik tangan kanan Lista secara paksa dan memasangkan sebuah cincin di jari manisnya dengan mudah.
Lista benar-benar dalam masalah besar.
***
Selama pelajaran berlangsung setelah acara ‘tembak dadakan’ dari seorang Arta Samudera, Lista tidak bisa fokus pada pelajaran lagi. Hampir stress karena tekanan dari dua sisi—belajar dan menjadi kekasih seorang pemuda paling kejam seantero sekolah. Lista tidak menyangka bahwa efek dari ketumpahan kuah bakso bisa berujung seperti ini.
Karena sedang pergantian jam pelajaran, guru belum masuk sehingga semua siswa bebas untuk melakukan apa saja, pun Lista dan Aila.
“Aku ....” Lista menarik napasnya panjang sebelum diembuskan dengan kasar. “Jadi pacarnya Arta.”
“Astaga ... astaga .... Si cupu ini udah punya pacar ternyata ....” Aila menarik sebelah pipi Lista dengan gemas lalu terkekeh. Namun, kekehannya lenyap setelah beberapa detik kemudian otaknya mencerna nama yang disebutkan Lista. “EH! DEMI APA LO BISA PACARAN SAMA SI ITU SETAN?!”
Lista membekap mulut Aila kuat-kuat karena suara cemprengnya berhasil menarik semua pasang mata di kelas tertuju ke mereka.
“Jangan berisik dong!” ucap Lista.
“Biarin dah! Demi semua setan yang masuk ke badan Arta, lo kesambet setan jenis mana sampe nerima dia?” Aila mendengkus di akhir kalimat karena saking kesalnya dengan fakta tersebut.
__ADS_1
“Dia paksa,” jawab Lista lemah. “Kan dia mau bawa aku ke toilet tadi, terus adeknya tiba-tiba muncul. Bisik-bisik gitu. Eh tiba-tiba, Arta langsung nyuruh aku jadi pacarnya. Dikasih cincin segala lagi.” Lista menunjukkan jemari kurusnya yang terisi cincin dengan mahkota berbentuk bunga kecil dan di puncaknya ada permata warna hitam.
“Gewla! Keren banget.” Aila menarik tangan Lista demi bisa mengamati cincin tersebut. “Pinjem bentar dong. Kalau pas di tangan gue, gue mau nyuruh nyokap buat beliin. Keren banget. Wagelaseh!”
“Oke.” Lista mengiyakan dengan mudah. Dia menarik cincin tersebut dan langsung tertegun karena cincin yang semula masuk dengan mudah, kini seperti melekat di kulit jari manisnya.
“Lo udah kesempitan, kenapa masih dipake.” Aila berkomentar, ikut serta membantu Lista melepas cincinnya.
“Pelan-pelan, Ai. Sakit. Kulit aku kayak ikutan ketarik.” Lista nyaris menangis saat jari manisnya sudah memerah total dengan rasa pedih tidak terhingga. Aila menjauh sambil meminta maaf. “Pas Arta pasang, mudah kok. Ini kayak udah melekat di kulit. Liat aja, nggak geser sama sekali.” Lista meniup-niup tangannya yang mulai terasa panas.
“GURU DATENG OY! GURU DATENG!” Salah satu siswa melaporkan. Semuanya kembali tenang di tempat duduk masing-masing.
Suasana damai barusan mendadak lenyap dari Lista setelah tahu yang memasuki kelas adalah Arta. Pemuda itu masih saja menyeramkan dengan wajah datar dan tatapan tajamnya yang langsung tertuju pada Lista.
Tepat di samping meja Lista, Arta berdiri. Dia menarik paksa tangan Lista yang sakit, meliriknya beberapa saat sebelum memandang Lista dengan tatap mautnya.
“Selama lo jadi pacar gue, jangan sekali-kali coba buat lepas cincin ini. Ini lebih mahal dari nyawa lo.”
Tangan Lista dilempar ke atas meja. Sebelum beranjak Arta menyempatkan diri untuk berbagi tatapan tajamnya dengan Aila yang langsung menunduk. Hela napas lega keduanya baru keluar setelah Arta melewati pintu.
“Gila! Ada nggak sih, pacar kayak gitu?” Aila merutuk. Dia lalu menoleh dengan tatapan horor pada Lista. “Kok Arta aneh, ya? Lo hati-hati selama deket sama dia. Gue bakal bantu lo buat hadepin dia.”
“Gimana caranya?”
“Bantu doa jarak jauh. Kalau deket, gue udah gemetar duluan sama matanya dia. Persis banget cem setan.”
Lista memandangi kembali jari manisnya yang sudah tidak memerah. Dalam hati membenarkan ucapan Aila, bahwa apa yang dilakukan Arta ini adalah hal aneh. Pasti ada tujuan terselubung di baliknya, yang berhasil membuat hati Lista ketar-ketir sekarang ini.
* * *
Ayo Berteman
__ADS_1
Facebook : Zamani Starr
Instagram : zamanistarr