Calon Tumbal

Calon Tumbal
Spaghetti Istimewa


__ADS_3

“Kamar kamu sudah Ayah buka. Lain kali, kalau ada masalah, hubungi keluarga Aila. Jangan orang lain. Kalaupun orang lain, orang itu harus Bunda atau Ayah kenal. Paham, Sayang?”


Lista mengiyakan ucapan bundanya dengan lesu. Setelah memperbaiki tas salempangnya, Lista beranjak menuju lantai dua letak kamarnya berada.


Di tangga paling atas, langkahnya mulai memelan. Begitu hati-hati sekadar untuk memeriksa tidak ada hal aneh lagi di sekitarnya. Tingkat kewaspadaan Lista bertambah dua kali lipat kala memasuki kamarnya.


Aman.


Tidak ada yang berbeda kecuali bentuk jendelanya sudah dibatasi besi. Setidaknya dengan itu, Lista tidak perlu khawatir ada sesuatu muncul dari sana.


Tasnya digantung dekat meja belajar. Kancing seragam Lista dibuka satu persatu dari atas. Rasa kantuk menyerangnya secara tiba-tiba. Seragamnya juga digantung dekat tas, disusul oleh rok abu-abunya.


Lista sudah tidak bisa menahan kantuk dan langsung merebahkan diri hanya dengan mengenakan tank top hitam dan celana pendek setengah paha. Tidak ada lagi yang dipikirkan Lista selain mencapai mimpi indahnya.


Namun, Lista merasa baru terlelap kurang dari satu menit saat namanya dipanggil nyaring. Matanya setengah tertutup saat terpaksa bangkit. Tubuhnya begitu berat diajak bergerak, tetapi Lista pun tidak mau mengabaikan panggilan tersebut.


Pintu kamarnya terbuka, Lista keluar tanpa masalah. Namun dengan begitu, dia merasa tiba di tempat lain. Gadis itu berusaha untuk mengembalikan semua kesadarannya agar bisa menelisik tempat ini dengan baik, tetapi sulit. Matanya tetap setengah terbuka meski Lista sudah memaksanya. Pandangannya terbatas karena hal tersebut. Hanya dua yang bisa ditangkap Lista.


Kegelapan dan sumur tua.


“Nak, sini, suami kamu tungguin.” Suara jernih tersebut memberikan titah.


Lista berbalik ke belakang, menemukan ibu Arta berdiri dengan senyuman.


“Suami?” Lista bertanya lirih. Dia memaksa matanya terbuka, tetapi tetap saja hanya separuh yang bisa dilihatnya.


Wanita itu merengkuh Lista seperti anak sendiri, menghadapkannya pada sosok pemuda yang sangat dikenali Lista. Arta. Pemuda itu tampak tersenyum tipis saat mendekati Lista. Walaupun biasanya Lista agak kurang peduli dengan pemuda itu, tetapi kali ini Lista tidak sadar memberikan senyuman manisnya untuk Arta. Namun, setelah keduanya berjarak kurang 20 senti, sebuah tangan hitam berjari panjang muncul dari belakang punggung Arta. Menarik tangan Lista dengan cepat, sebelum Lista memproses yang terjadi padanya. Tarikan makhluk hitam dengan wujud abstrak itu membawa Lista ke sebuah sumur tua. Menariknya ke dalam. Napasnya tercekat. Lista berteriak sampai matanya berhasil terbuka lebar. Dia mendapati dirinya sedang terbaring di dalam ruangan yang sangat dihapalnya. Kamar Lista sendiri. Gadis itu celingukan meneliti sekitar. Dadanya diusap untuk meredakan debaran jantungnya yang kuat.


“Cuman mimpi ... cuman mimpi.” Lista menenangkan dirinya sendiri dengan mengucapkan dua kata itu berulang kali.


Lista bangun dari posisi berbaringnya. Ponsel diperiksa untuk mengecek waktu, tetapi perhatian Lista malah teralihkan dengan pesan dari kontak bernama ‘Lista's Boyfriend❤️’. Penasaran akut merajainya sehingga Lista langsung memeriksa pesan tersebut.


|Ma² mw ktmu sm lo. Mw gw jmput atau lo bsa dtng sendiri?|


15.08


|Gw udh d rumh lo. Cpetan kluar. |


15.30


| Bcara sm bokap lo kyk mw nglmar clon bini. |


15.32


| Nyeremin. Klwr cpt an |


15.32


|Atw, gw lngsung smperin lo k kmr lo!|


15.39


Lista membaca deretan pesan-pesan tersebut dengan alis berkerut. Jelas bukan pesan Aila karena tertulis bahwa sensasi bicara dengan ayah Lista seperti melamar perempuan—Lista langsung teringat pada Arta. Apalagi tadi di kelasnya, Arta sempat mengotak-atik ponselnya. Mungkin pemuda itu sedang menyimpan nomornya di ponsel Lista dengan nama sedemikian alaynya.


Setelah mematikan ponsel, Lista panik dan langsung keluar kamar. Di pertengahan tangga yang berkelok-kelok, Lista melihat di sofa sudah duduk Arta menghadap ayahnya yang membelakangi tangga. Pemuda itu menyadari kehadiran Lista dan memandanginya begitu teliti. Lista ingin memeriksa penampilannya, takut kurang. Dan memang kenyataan bahwa penampilannya aneh. Dia menggunakan pakaian yang terlalu terbuka.


Lista berlari kembali ke kamar. Lemari dibuka, mengeluarkan selembar kaus abu-abu dan celana training hitam. Setelah merapikan sedikit rambutnya yang dikepang sejak di sekolah tadi, dia segera keluar kamar. Menghampiri Arta dan ayahnya.


“Lista?” Ayah menyapa Lista kala putrinya itu berdiri di sampingnya. “Kamu nggak pernah bilang kalau kamu punya temen cowok.” Ayah berdiri, bersiap pergi. “Ayah izinin kamu pergi sama dia, dengan catatan: pertama, tidak boleh lebih satu jam; kedua, harus ada Aila; ketiga, bawa hape kamu, pastikan aktif terus, karena Ayah akan jemput kamu kalau dua syarat sebelumnya tidak kamu penuhi. Paham, Permata Ayah?”


“I—ya, Yah.” Lista menjawab lirih.


Arta berdiri setelah ayah Lista beranjak pergi. Namun, dia belum merasa lega karena ayah Lista masih terus memandanginya hingga menghilang di pintu dapur. Arta langsung menghempaskan napasnya yang terasa ditahan sejak bertemu ayahnya Lista.


“Gini aja udah gemeteran, gimana kalau ngelamar beneran?” gumam Arta yang ternyata tertangkap oleh telinga Lista.


“Hah?”


“Dasar budek! Ambil tas sama hape sana! Kita berangkat sekarang. Waktu gue nggak banyak.”


Lista mengangguk kikuk. Dia berbalik, lalu menemukan ayahnya muncul lagi dengan tatapan tajam tertuju pada Arta. Lista menoleh sebentar pada pacar dadakannya itu.


“Om ....” Arta melebarkan senyuman dengan kedua tangan di depan perut, lalu mengangguk hormat. Hal itu tampak sangat konyol di mata Lista, sampai Lista sulit menahan senyumannya.


Tidak menunggu perintah dua kali, Lista segera ke kamarnya. Mengambil benda yang diperlukan, lalu keluar dari pekarangan rumah menggunakan mobil Arta.


Baru seperempat perjalanan, Arta berhenti. Hal itu menarik penasaran Lista. “Kenapa?”

__ADS_1


“Jemput temen lo.”


Lista menoleh ke arah kiri. Rumah Aila terlihat jelas, dan sahabat baik Lista tersebut menghampiri mobil Arta.


“Aku nggak percaya, kamu beneran penuhi syarat Ayah,” ucap Lista dengan sedikit nada bangga.


“Terpaksa.”


“Tapi walaupun terpaksa, kamu tetep lakuin. Jarang loh, cowok bisa tepatin janjinya.”


Lista tidak sadar, jika kalimatnya tersebut berhasil membuat Arta mati-matian menahan senyum. Untuk mengalihkan perhatian, dia menoleh ke sisi kanannya. Jakunnya bergerak naik-turun menelan ludah tanda gugup.


“Kita mau ke mana, nih? Mall? Kafe? Atau ke mana?” tanya Aila yang sudah duduk di kursi belakang dengan senyuman kikuk pada Arta.


“Rumah gue.” Arta menjawab singkat, lalu mengemudikan mobilnya. “Nyobain resep percobaan nyokap gue. Siapa tau bisa bikin lo keracunan.”


Kalimat sarkasme dari Arta malah mengundang senyuman tipis Aila dan pelototan Lista.


“Ya, boleh aja. Asalkan kalau gue masuk RS, lo mau bayarin.” Aila dengan mantap menjawab kalimat yang menurutnya guyonan Arta tadi.


“Nggak sudi uang gue harus keluar cuman buat bayarin biaya berobat lo. Kalau lo keracunan, gue mending tinggal sewa tukang gali kubur.”


“Jahat bener, nih, bocah!” Aila tertawa, tetapi langsung berhenti saat tatapan tajam Arta tertuju padanya melalui kaca spion. Namun, Aila bisa bernapas lega karena tidak ada hal buruk yang terjadi selanjutnya setelah dia mengatai pemuda yang terkenal killer itu.


Mobil berhenti lagi di depan sebuah minimarket.


“Lo beli ice cream tiga sana!” titah Arta pada Aila. “Nih! Rasa cokelat dua, yang satu terserah lo!” Dia menyerahkan selembar uang kertas bergambar Soekarno-Hatta. “Ambil aja kembaliannya.”


“Lo pikir gue orang nggak mampu apa?” gerutu Aila sambil meraih uang tersebut. Dia keluar dengan wajah dibuat pura-pura cemberut.


Sedetik setelah suara pintu dibanting terdengar, Arta langsung mendekatkan dirinya pada Lista yang sedari tadi hanya diam sambil menunduk karena memikirkan mimpi anehnya.


“Kenapa?”


Lista tersentak kaget saat menengadahkan wajahnya dan menemukan Arta terlalu dekat dengannya. Dia sampai harus merapatkan dirinya dengan jendela agar memberinya jarak untuk bernapas.


“Nggak. Nggak papa.” Lista menjawab gugup. Pandangannya langsung jatuh saat Arta menatapnya penuh selidik.


“Lo nggak mau jujur sama gue, Pacar?”


“M ....” Lista mencari-cari alasan. Mimpinya terlalu aneh untuk diceritakan pada Arta, maka dia menjawab hal lain. “Kamu kenapa panggil aku ‘pacar’? Aneh tau, nggak?”


“Tapi aneh. Panggil Lista aja kan bisa.”


“Okey, Sayang.”


“Kak Arta ....”


“Pilihannya cuman dua: pacar, atau sayang?”


“Nggak ada. Aneh semua.”


“Yaudah, ‘pacar’ kalau gitu.”


“Kak ....” Lista merengek.


Pintu belakang terbuka. Aila memperbaiki duduknya sambil menyerahkan dua ice cream pada Arta dan Lista.


“Kok gue kayak pelayan di sini sih?” ucap Aila.


“Muka lo mendukung banget.”


“Anj4y lo!” balas Aila.


“Bukain, Sayang.” Arta berujar kala Lista menyerahkan ice cream miliknya.


Di belakang, Aila susah payah menahan gelak tawanya mendengar panggilan Arta tersebut. Lista mendengkus ringan, tetapi enggan menolak perintah Arta.


Mobil bergerak lagi tanpa hambatan berarti sampai mereka sampai di sebuah rumah berlantai tiga, warna putih gading. Ketiganya keluar hampir bersamaan. Ketika berada di teras, pintu terbuka lebar. Ibunya Arta muncul dengan senyuman lebar, tetapi pudar saat menyadari kehadiran Aila.


“Ini temennya Lista, Ma, Aila. Bokapnya Lista nggak izinin anaknya dibawa kalau Aila nggak ikut. Jadi ... terpaksa.” Arta menjelaskan.


Aila menggerutu dalam hati saat kata ‘terpaksa’ diucapkan Arta dengan nada pasrah.


“Aila ada di sini?” Suara Stella terdengar dari belakang tubuh ibunya. “Kebetulan banget. Tugas gue numpuk. Ikut gue, kerjain tugas gue!” titah Stella tanpa beban.


Lista hendak membuka mulut untuk protes, tetapi dipotong cepat oleh ibunya Arta.

__ADS_1


“Nah, Nak Lista ikut Tante ya? Tadi kan nggak sempet cobain spaghetti buatan Tante, sekarang Tante bikinin lagi. Dan Nak Lista harus habiskan. Okey?”


Lista hanya pasrah saat diseret oleh ibunya Arta menuju ruang makan. Spaghetti disajikan di atas piring yang kemudian disodorkan pada Lista di meja makan.


Ibu Arta menunggu Lista menyantapnya dengan duduk di kursi menghadap Lista. Karena enggan mengecewakan, Lista menyendoknya hati-hati. Sama seperti tadi pagi, nafsu makannya seperti diseret hingga dasar meski masakan ibunya Arta tampak menggugah.


Saat masuk ke mulut, Lista merasa sensasi aneh. Spaghetti terasa sangat kenyal di mulutnya sehingga Lista butuh waktu sedikit lebih lama untuk menelannya. Setiap kali selesai menelan spaghetti tersebut, Lista meminum air untuk melancarkan tenggorokannya. Sehingga sebelum spaghetti habis, perutnya sudah terasa penuh.


“Maaf, Tante. Lista nggak bisa habisin. Perut Lista kayak mau meledak,” kata Lista.


“Nggak papa, Sayang. Lain kali coba resep Tante yang lain, ya?” ujar ibunya Arta.


“Iya, Tante.”


Lista diperbolehkan keluar setelah ibunya Arta meletakkan piring di wastafel. Arta sedang mengecek ponselnya dengan serius di sofa saat Lista menghampiri.


“Lo kenapa? Lemes banget kayak abis gulat.” Arta berkomentar sambil meletakkan ponselnya di atas meja.


“Kenyang banget,” jawab Lista sekenanya. Dia duduk bersandar di sofa dengan jarak setengah meter dari Arta. Matanya langsung terpejam karena nyaman. Hanya beberapa saat karena Lista langsung tersadar di mana dia berada kini. Kelopak matanya terangkat. Dia tersentak saat wajah Arta lagi-lagi terlalu dekat dengannya.


“Kenapa?” Lista bertanya gugup.


Arta menjulurkan tangannya. Dengan gerakan sangat halus, sudut bibir bagian atas Lista diusapnya, lalu menunjukkan cairan merah kental khas saus di jempolnya.


“Jorok cara lo makan.” Arta bertutur pelan. Meski sudah membersihkan wajah Lista, dia tidak kembali ke tempatnya. Arta kembali menyentuh bibir Lista dengan tangan sama setelah dilap di celana jeans miliknya. Jarak mereka terlalu dekat sampai napas Arta terasa hangat menyapa wajah Lista. Belum lagi sentuhan jari Arta di bibirnya sangat halus. Lista sempat terbuai sebentar karenanya.


“Bibir lo asli?” tanya Arta lirih.


“Mm?” Lista bergumam, menanyakan maksud Arta.


“Lo nggak pake lipstik atau apa gitu? Merahnya kelihatan alami.”


“Bukan urusan kamu.”


“Gimana rasanya, ya?” bisik Arta. Tangannya berpindah ke sela-sela rambut Lista di belakang telinganya. Semakin mengikis jarak antara mereka. Namun, kesadaran keduanya kembali pulih saat suara langkah mendekat. Arta kembali ke posisinya semula setelah berdeham sekali. Jakunnya bergerak menelan saliva, menandakan ada sebuah keinginan kuat yang sedang ditahannya.


Dari lantai atas, Aila berlari dengan cepat. Dia tampak panik.


“Toilet mana? Toilet?” tanyanya buru-buru.


“Deket dapur.” Arta menjawab sambil menunjuk ruangan yang dimasuki Lista tadi.


Aila langsung berlari ke tempat yang arahkan Arta. Pemuda itu mendadak tegang beberapa saat setelah mendengar jawabannya sendiri.


“Kenapa, Kak?” tanya Lista penasaran.


“Nggak papa.”


Beberapa menit kemudian, Aila muncul sambil membekap mulut. Saat dia melepas tangannya, wajah Aila terlihat ingin muntah. Dia tampak susah payah menahan gejolak dalam perutnya.


“Udah, Ai?” Lista heran melihat ekspresi Aila.


Aila menjawab dengan anggukan. “Kita pulang sekarang!” katanya tegas.


Arta mengambil kuncil mobilnya yang berada tepat di samping ponselnya. Dia tidak berkata apa-apa, tetapi tindakannya sudah menunjukkan persetujuan atas ucapan Aila.


Sambil menopang Aila, Lista berjalan. Aila tidak bisa menahan terlalu lama rasa mualnya. Saat mendekati mobil, dia menumpahkan isi perutnya yang berwarna putih. Lista memijit tengkuk Aila sambil melirik Arta yang menunjukkan ekspresi dingin. Setelah Aila merasa tenang, mereka terus ke mobil.


“Maaf, Kak. Halaman kamu jadi kotor,” ucap Lista setelah duduk di samping Aila di kursi belakang.


“Lo nggak perlu mikirin itu,” tukas Arta tegas.


“Kamu kenapa sih, kok sampai gini?” tanya Lista pada Aila yang terlihat sangat mengenaskan.


“Gue phobia sama cacing,” ujar Aila pelan.


“Terus?” Lista semakin penasaran.


“Di wastafel cuci piring, gue malah lihat tuh hewan gerak-gerak di atas piring. Gila. Gue pengen mual banget. Astaga, bayangin aja gue mau mual lagi.” Aila menutup mulutnya rapat-rapat, pun matanya.


“Ca-cing?” Lista mengeja nama hewan tersebut heran. Pandangannya beralih pada Arta yang juga meliriknya melalui spion.


“Itu mungkin ulahnya Stella. Dia suka piara cacing gara-gara dia hobi mancing di kolam belakang rumah. Sebelum dipake jadi umpan, cacingnya dibersihin dulu di wastafel. Sorry, kalau bikin lo nggak nyaman sama kelakuan aneh Stella.”


Aila mengibaskan tangannya sekali, sebagai jawaban bahwa dia tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut lebih lanjut.


Perjalanan pulang mereka lalui dengan banyak diam.

__ADS_1


•••


__ADS_2