
Bel tanda pulang berbunyi nyaring. Semua siswa, tanpa mendengarkan ucapan guru dengan saksama, langsung mengadakan lomba mengemas peralatan menulis ke dalam tas.
“Ingat tugas kalian! Jika minggu depan masih ada yang tidak mengumpulkan tugas, jangan harap bisa masuk jam pelajaran saya!” Begitulah titah guru perempuan berusia 30 tahun-an tersebut.
Beberapa siswa mengiyakan meski tidak acuh dengan ucapan guru berkacamata persegi panjang itu.
“Ntar malem gue ke rumah lo ya.” Aila berujar.
“Sip. Aku tunggu,” jawab Lista sambil mengacungkan jempolnya sebentar.
“Lista!” Guru menghentikan kegiatan Lista mengemas buku. Gadis itu memandang ke depan. “Buku ini nanti diantar ke perpus, ya?”
“Iya, Bu.” Lista langsung mengiyakan, kemudian menoleh pada Aila. “Kamu bisa tunggu aku bentar?”
Aila menarik resleting tasnya. Lalu menggendong ransel berbahan kulit miliknya. “Sorry, Lis. Nggak bisa. Gue ada janji sama Bang Rafa mau ke toko buku. Nggak boleh telat. Tau sendiri kan gimana doi?”
Lista mengangguk pelan, sejujurnya agak kecewa tetapi dipaksakan dirinya untuk mengerti. “Oke.” Dia mengalungkan tas salempangnya di pundak. Bersama Aila dia menuju ke depan. Lista mengambil tumpukan buku yang tergolong berat bagi lengan kurusnya. Lista berjalan berbanding terbalik dari temannya yang lain. Hanya melewati empat ruangan saja menuju perpustakaan. Dipikir Lista, ini bukan masalah besar.
“Lista?” Penjaga perpustakaan berbadan tambun berpapasan dengan Lista di dekat pintu.
“Iya, Pak?” Lista tersenyum tipis. Sedikit mendongak dan seolah merasa aneh dengan postur tinggi pria dengan kepala botak itu.
Agus–nama penjaga perpustakaan tersebut–memandangi Lista dengan saksama. Karena tidak adanya pembicaraan antara keduanya, Lista merasa agak canggung.
“Saya mau masukin buku dulu, Pak. Permisi.”
Penjaga perpustakaan tersebut tidak menjawab. Lista semakin merasa aneh dan berjalan cepat masuk ke perpustakaan. Menyusuri lorong-lorong gelap yang sisi kanan-kirinya berjejer rak tinggi penuh buku, Lista sedikit merinding. Terasa sangat sepi ruangan ini. Dia semakin mengerahkan tenaganya agar bisa cepat menuju rak tempat buku yang dibawanya berada. Namun, saat Lista berbelok ke lorong lain, dia mendadak membatu di tempat. Pandangan terkejutnya tertuju ke depan.
“Dasar anak-anak bandel. Mereka itu budek sama nggak bisa baca apa, ya? Buku dibikin berantakan Mulu. Ujung-ujungnya, saya yang harus pulang telat buat benerinnya. Astaga.”
Lista meneguk ludahnya kasar mendengar gerutuan yang dihapalnya luar kepala itu. Otaknya membeku melihat pria botak bertubuh tambun tengah berdiri di depan rak yang agak berantakan. Kepala Lista bergerak slow motion ke arah pintu luar, di mana sebelumnya dia bertemu pria yang persis dengan orang di hadapannya.
“Lista? Kamu mau balikin buku? Atur rapi-rapi, ya? Bapak sibuk urus ini,” kata pria itu setelah melirik ke arah Lista beberapa saat.
“Pak Agus kok ... di sini?” Lista bertanya hati-hati, lalu melirik sekali lagi ke arah pintu keluar. “Terus yang tadi ... siapa?” Lista bertanya lirih pada dirinya sendiri.
Agus memandangi Lista bingung. “Jangan banyak alasan. Kamu susun buku itu di tempatnya, terus pulang!” pinta tegas Agus.
Lista berjalan hati-hati ke arah pria itu. Saat berada di belakangnya, dia baru sadar bahwa tinggi Agus yang ini beda sekitar lima senti lebih tinggi dari Lista, sementara Agus yang di pintu tadi terlalu tinggi sampai leher Lista pegal karena mendongak terlalu tinggi. Lista bergidik takut dan segera meletakkan buku dengan rapi. Gadis itu berlari cepat meninggalkan perpustakaan. Tidak peduli dengan sekitar lagi, atau deru napasnya yang tidak beraturan, otak Lista saat ini benar-benar kosong karena bingung memikirkan kejadian aneh siang ini. Dia baru berhenti setelah sampai di dekat gerbang sekolah yang sudah sepi. Lista sibuk mengatur napasnya yang cepat sambil mencari kendaraan yang bisa mengantarnya pulang. Dia juga enggan menunggu di sekolah. Maka, sambil menunggu angkot lewat, dia juga berjalan kaki meninggalkan area sekolah. Sambil terus melangkah, pikirannya mencoba menemukan jawaban dari kejadian aneh barusan.
__ADS_1
Penjaga perpustakaannya ada dua. Sementara Lista tahu betul bahwa Agus adalah anak tunggal sehingga mustahil punya kembaran. Lagipula, pria yang berpapasan dengan Lista di pintu perpustakaan terlalu tinggi dibandingkan rata-rata manusia. Kaki Lista berhenti berayun saat menyadari satu hal: apa mungkin pria di pintu perpustakaan itu tidak menyentuh tanah?
Bodohnya Lista karena tidak menunduk saat itu. Namun, jika Lista menunduk, dia tidak yakin masih bisa sadar saat ini.
“Aw!” Lista memekik keras saat tiba-tiba jari manisnya terasa sakit. Matanya mengerjap saat menyadari di jari manisnya terlihat kabut gelap. Lalu menghilang sekejap mata. Tangan kiri Lista gemetar saat akan menarik cincin di jari manisnya. Sulit. Bahkan meski dia merasa kulitnya hampir terkelupas, dia tetap paksakan untuk menarik cincin tersebut. Namun, sampai dia berteriak keras kesakitan, cincin itu tetap tidak bergerak di posisinya.
“Apa ini?” Lista meneguk ludah. Ini akan menjadi mimpi buruk baginya jika tidak melepas cincin ini dengan cepat.
***
Sabun dan minyak sudah berjejer di lantai tempat Lista sedang duduk bersila. Bergantian dua benda itu dioleskan di jari manisnya dengan harapan agar cincin itu terlepas. Jarinya sudah memerah, tetapi usaha Lista sama sekali tidak membuahkan hasil. Gadis itu menyerah dengan perasaan takut dalam dirinya. Lista bersandar di tempat tidurnya.
“Lista?”
Lista menegakkan tubuh kembali saat wanita paruh baya yang selalu dipanggilnya ‘Bunda’ menyembulkan separuh badannya di pintu.
“Bunda sama Ayah mau ke rumah Nenek. Besok pagi mungkin pulangnya. Nanti ada Aila kan ke sini?” tanya Bunda.
“Iya, Bun.” Lista menjawab.
“Makanan ada di kulkas, tinggal panasin aja. Jangan keluar selama Bunda nggak ada, ya? Jangan terima tamu, siapapun itu sebelum menelpon Bunda atau Ayah. Paham?” Bunda memberikan nasehat yang sama setiap kali akan pergi jauh.
“Sekalian, ini-ini semua bersihin. Kamu bisa jatuh kalau kepleset. Minyak sama sabun licin.”
“5 menit, udah beres, Bun,” jawab Lista.
Bunda tersenyum tipis lalu menutup pintu kamar Lista. Lista meraih ponselnya. Aplikasi perpesanan hijau tua dengan logo telepon di tengahnya menjadi pilihan Lista. Kontak Aila begitu mudah ditemukannya, karena posisi teratas chatting Lista adalah Aila.
|Jadi kan ke rumah malam ini?|
16.45 ✓
Lista menunggu lima menit, tetapi centang satu tidak berubah sama sekali. Ponselnya diletakkan kembali di atas tempat tidur. Dia berdiri, berjalan menuju kamar mandi untuk memasukkan sabun sekaligus mengambil kain pel. Sementara minyak akan dibawa ke dapur jika dia turun ke lantai bawah. Setelah bersih, Lista menarik lengan kaus birunya sedikit ke atas. Dia mengusap dahinya yang agak lembap. Pel kembali diletakkan di tempat semula. Bersamaan saat Lista keluar kamar mandi, ponselnya berdering. Gadis itu segera meraihnya dan mengecek notifikasi. Balasan mengecewakan dari Aila.
|Sorry, Lis. Gue masih sibuk sama Bang Rafa. Besok aja ya. Gue free 100% besok. Peace ....|
17.05
Lista meletakkan kembali ponselnya. Malam ini, dia akan sangat kesepian.
__ADS_1
***
Pandangan Lista kurang 5 Watt saat sampai di tempat tidur. Padahal baru jam sepuluh malam. Biasanya dia bisa tahan hingga jam 12. Sebelum berbaring, dia mengingat-ingat kembali keamanan rumahnya. Semua pintu sudah dikunci, jendela juga. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Lista menarik selimut dan berbaring di atas tempat tidur. Kesadarannya menghilang hampir saat itu juga.
Lista merasa baru saja memejamkan mata saat pintu kamarnya diketuk kuat. Jam telepon pintarnya dilirik. Hampir jam 12 malam. Lampu tidur dinyalakan. Pandangan berkabutnya tertuju ke arah pintu.
“Lista, gue udah sampe. Buka pintunya.” Suara Aila. Lista mendengkus ringan. Meski berat dia memaksakan tubuhnya untuk turun dari tempat tidur. Matanya dikucek-kucek untuk menghilangkan bekas tidur sekaligus mengumpulkan lebih banyak kesadaran. Pintu terus diketuk kuat diikuti dengan pinta yang sama, dengan nada yang sama dari Aila. Namun, saat dinginnya kenop pintu menyentuh telapak tangan Lista, gadis itu tertampar oleh sebuah fakta.
Seluruh pintunya sudah dikunci rapat. Bagaimana Aila bisa masuk sementara dia tidak punya kunci rumah Aila? Teringat lagi kejadian aneh tadi siang, Lista langsung mundur dua langkah.
“Lista, gue udah sampe. Buka pintunya.”
Kalimat sama. Nada bicara sama. Suara sama. Ketukan pintu keras.
Hawa dingin menyentuh lengan telanjang Lista hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Untuk beberapa saat, dia biarkan ketakutan menguasai dirinya sehingga otaknya sulit bekerja. Namun, saat ponsel pintarnya berdering, gadis itu langsung tahu apa yang harus dilakukannya.
Nomor tak dikenal menelpon. Lista tidak bisa berpikir jernih mengenai si penelpon. Icon hijau digeser buru-buru, dan langsung ditempelkan ke telinga.
“Ha-halo ....” Suaranya bergetar, sama seperti keadaan tubuhnya. “Tolong—tolong. Ada orang yang masuk ke rumah. Aku takut. Plis, tolong ....” Lista menangis saat suara ketukan itu semakin kuat seakan ingin merusak daun pintunya.
Hening sesaat.
“Halo?” Lista bersuara.
“Oke, Pacar. Tunggu di situ. Gue sampe 10 menit lagi.”
Lista tercengang. Hati-hati, layar telepon dijauhkan dari telinga sehingga dia bisa melihat nomor tidak dikenal yang tertera di layar smartphone.
“Arta?” Lista bergumam. Dalam sedetik, dia langsung menyimpulkan bahwa semua kesialannya hari ini disebabkan pria itu. Dia juga memandangi jari manisnya yang terisi cincin. Kabut hitam muncul lagi di sekitar permatanya.
Lista berdecak. Dirinya sudah dikutuk.
* * *
Ayo Berteman :
Facebook : Zamani Starr
Instagram : zamanistarr
__ADS_1