Calon Tumbal

Calon Tumbal
Asap Putih


__ADS_3

Lista merenggangkan ototnya yang kaku setelah hampir dua jam duduk di kursi untuk mengerjakan tugas. Lampu belajarnya dimatikan. Buku-buku ditutup, diletakkan kembali di tempatnya. Gadis itu menuju ke ranjang, membaringkan tubuh lelahnya. Selimut ditarik sampai menutupi dada. Namun, Lista tidak langsung ingin meraih mimpi. Tangannya yang penasaran malah meraba meja nakas dan menemukan ponselnya tergeletak di sana. Lista mengambilnya. Sekali menarik layar ke atas, wallpaper Hello Kitty menyapanya. Setelah data dinyalakan, satu demi satu bunyi notifikasi berdatangan, tetapi tidak satupun dari media sosialnya. Semua notifikasi itu berasal dari aplikasi berita, video musik, dan pemberitahuan update dari artis yang digemarinya.


Aplikasi media sosial berwarna biru dengan logo F menjadi pilihan jarinya. Foto-foto sahabatnya mengisi beranda. Lista tanpa ragu menekan tombol jempol sekali, lalu men-scroll ke bawah. Postingan selanjutnya muncul dari friendlist yang tidak dikenali Lista, tetapi dia tetap memberikan like-nya. Terus ke bawah. Hampir semua postingan diperlakukan sama olehnya. Tidak ada satupun yang Lista tertarik berikan komentar. Sesekali, matanya mengeluarkan cairan bening karena terlalu lelah. Mulutnya berulang kali menguap. Namun, Lista tetap memaksakan diri menatap layar hapenya. Sampai, jarinya berhenti menggulir layar pada sebuah postingan.


[ Percaya atau tidak, setiap kali kamu terbangun tengah malam, ada sesuatu yang sedang memperhatikanmu ]


Membaca sepenggal kalimat itu membuat bulu kuduk Lista meremang. Pandangannya awas terhadap sekitar. Ingatan mengenai makhluk yang mengetuk pintunya kembali terbayang, tetapi dia terlalu segan untuk melapor pada orang tuanya. Maka, Lista segera mematikan ponselnya. Selimut ditarik hingga leher. Matanya dipaksa terpejam. Dia seharusnya bersyukur karena tidak lama setelah matanya terpejam, mimpi datang menyambut.


Beberapa menit terpejam, Lista merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Matanya terbuka dan memeriksa sekitar. Tidak ada hal aneh. Dari posisi menyamping kiri, Lista berubah telentang. Selimut tetap dipastikan mencapai batas leher. Matanya mengerjap. Beberapa kali. Sampai Lista menyadari ada bayangan aneh di atasnya, pada langit-langit kamar.


Lista melotot melihat rambut keluar secara misterius dari sana. Lista ingin melompat turun dari ranjang, tetapi tubuhnya malah sulit digerakkan. Mulut pun tidak bisa dibuka sedikitpun walau hanya untuk mengeluarkan sedikit rintihan. Dia berusaha menghindari rambut yang semakin mendekati wajahnya.


“BUNDA! AYAH!” Teriakan itu hanya bisa didengarkan oleh Lista sendiri karena tidak pernah bisa keluar dari mulutnya.


Sedikit saja, harapan Lista, dia ingin menoleh untuk menghindari rambut yang berjarak beberapa senti lagi dari wajahnya. Napas Lista tertahan tanpa sadar. Dia ingin menangis, tetapi tidak bisa bergerak sedikitpun.


Dari sekumpulan rambut kering itu, muncul jari-jari panjang. Lista memejamkan mata. Dia bisa merasakan dahinya lembab oleh keringat dingin. Lista berusaha menghindari jari-jari panjang berwarna hitam pekat itu. Pelipis Lista terasa seperti disayat oleh pisau tumpul. Dia enggan membuka mata, terlalu takut dengan apa yang akan dilihatnya. Dalam hati, dia terus merintih.


“Ayah, tolongin Lista. Plis, Ayah, masuk kamar. Tolong Lista ....”


Lista menangis dalam hati, merasa putus asa saat jari itu menyusuri lehernya turun. Lalu, Lista merasakan kedua lututnya bisa bergerak. Tubuhnya bisa dia kuasai kembali. Lista berencana akan segera kabur dari situasi mencekam ini. Namun, saat matanya terbuka wajah kurus muncul tepat di depan wajahnya. Dengan lidah panjang menjuntai yang ujungnya bercabang. Lidah hitam itu berkelok-kelok dengan ujungnya yang masing-masing runcing. Ternyata—Lista menahan napasnya menyadari sebuah fakta—yang menyusuri pelipisnya tadi adalah lidah makhluk itu. Lista tidak tahan untuk ....


“AAAAAAAAAAA ....”


Pandangan Lista berubah gelap.


***


Seberkas cahaya menyilaukan mata Lista sehingga sulit untuk mengangkat kelopak matanya lebih lebar. Tepukan-tepukan halus terasa di pipi kanannya, mengembalikan ingatan Lista kejadian semalam.


“Pacar, bangun! Pacar!”


Lista melihat lidah bercabang warna hitam menyusuri pelipisnya. Gadis itu terengah bahkan sebelum matanya terbuka. Dia terjebak ilusi, sehingga terlalu takut untuk melihat hal nyata di hadapannya.


“Pacar Beg0, bangun!”


Suara perintah tersebut tidak bisa Lista lakukan. Peluh mulai bermunculan di sekitar keningnya. Mata lebar tanpa kelopak, wajah kurus seperti tulang yang hanya dibungkus kulit keriput. Makhluk menyeramkan itu menggeram. Benar-benar menakutkan. Lista bergerak gelisah.

__ADS_1


“Bun—Bunda.” Lista merintih.


Semua yang dilihat Lista terlihat begitu nyata. Matanya terpejam semakin erat. Rambut hitam kusut tampak semakin mendekatinya.


“Bun—Bunda ....” Napas Lista terengah-engah.


“Lista, dengerin gue baik-baik. Dengerin baik-baik! Lo abaikan apa yang lo lihat sekarang. Jangan peduli. Dia nggak bakal ganggu lo kalau lo nggak takut. Lo pelan-pelan tarik napas.” Suara bariton itu terdengar tepat di samping telinga Lista. Dan, Lista tanpa sadar mengikuti perintah tersebut. Napasnya diatur pelan-pelan. Matanya yang terpejam erat, mulai melemas. “Sekarang ... buka mata lo pelan-pelan. Pelan-pelan, oke? Jangan peduli sama bayangan apa pun yang lo lihat. Fokus sama suara gue. Buka mata lo sekarang!”


Perlahan, kelopak mata yang di pinggirannya berjejer bulu mata lentik milik Lista terangkat. Begitu hati-hati, Lista trauma saat membuka matanya dan menemukan wajah mengerikan tepat di hadapannya. Namun, bukan itu yang didapati Lista sekarang ini. Melainkan wajah tegas seorang pemuda. Dia langsung dibius oleh mata tajam yang dinaungi sepasang alis tebal, milik ... Arta.


Lista sontak bangkit menyadari bahwa jarak Arta terlalu dekat dengannya. Degup jantung Lista tanpa diinginkan terdengar lebih keras, sampai Lista merasa malu jika sampai Arta mendengarnya.


“K-kamu ngapain?” tanya Lista sembari menunduk menyembunyikan kekagetannya.


“Abis cium lo tadi. Enak, nggak?”


Lista melotot sambil mendongak. Ekspresinya kembali normal saat sentilan mendarat di keningnya.


“Beg0!” hardik Arta. Dia menegakkan punggungnya. Kedua tangannya bersembunyi di balik saku celana SMA miliknya. ”Gue panggil orang tua lo bentar. Jangan pingsan lagi!”


Arta keluar. Satu menit kemudian, orang tua Lista datang. Bunda yang paling histeris dan memeluk Lista begitu erat, sementara Lista masih belum mengalihkan pandangannya dari arah pintu.


Celoteh khawatir Bunda pun didengar sekilas oleh Lista, dia setia menatap ke arah pintu masuk.


“Sayang? Apa yang sakit? Bunda panggil dokter?” tanya Bunda sambil memaksa Lista menghadap padanya.


“Nggak papa, Bun,” jawab Lista lirih. Sekali lagi melirik ke arah pintu sebentar. Betapa dia berharap, Arta muncul lagi dari sana. Namun, tidak lagi. Pemuda itu sudah pergi.


***


Lista bersandar malas di dinding sambil memperhatikan jemari kurusnya, tepatnya pada cincin yang masih tersemat di jari manis. Kalau benar cincin ini menjadi penyebab keanehan dalam hidup Lista selama ini, berarti Arta-lah dalangnya, tetapi kenapa pemuda itu malah bersikap seolah-olah ingin menyelamatkan Lista? Pertanyaan itu begitu rumit terjawab.


“Pacar kamu itu baik banget, ya?” Bunda yang sedang sibuk membereskan barang-barang, mendadak berceletuk. Lista menoleh padanya. “Dia sampai bolos sekolah cuman buat ketemu kamu. Manis sih, tapi ya, sekolah kan juga penting. Bunda bicara sebentar sama dia, katanya minggu depan udah UN, eh malah bolos. Bunda kasihan juga sama dia.”


Lista mendengarkan dengan hati-hati. Pujian Bunda sontak saja semakin menambah keraguan Lista mengenai keburukan pemuda itu.


“Siapa namanya?”

__ADS_1


“Arta Samudera.” Lista menjawab hampir bersamaan dengan bundanya yang bertanya.


“Sejak kapan kalian pacaran? Kok nggak cerita sama Bunda?” tanya Bunda, semakin instens.


“Baru beberapa hari, Bunda.”


“Dia memang baik, tapi tetep ya, jaga diri waktu kamu deket sama dia. Cowok tuh, baru bisa dibilang jinak kalau sudah menikah. Kalau belum ... bahaya!”


“Iya, Bunda,” jawab Lista. Dia hendak menurunkan tangannya yang sedari tadi diangkat tinggi-tinggi.


“Bunda panggil Ayah dulu, ya?” pamit Bunda sebelum berlalu pergi.


Lista tidak memberikan tanggapan. Hanya selang beberapa detik, pintu kembali terbuka. Lista heran dan melihat bundanya datang dengan kepala tertunduk.


“Kenapa, Bunda?” tanya Lista.


Namun, saat wanita itu mengangkat wajahnya, Lista tersentak mundur terhimpit dinding. Wanita itu memang wajah bundanya, tetapi rahangnya rusak tak berbentuk.


“LISTA ....” Wanita itu memanggil dengan nada geraman. Kepalanya miring, tampak hampir terjatuh.


Napas Lista terengah-engah. Dia sedang berada di posisi ingin berteriak, tetapi ketakutan sudah mengambil tenaganya sehingga untuk mengeluarkan suara saja Lista tidak mampu.


“B—Bunda ....” Rintihan Lista hanya terdengar seperti bisikan lirih.


Tubuh wanita itu terjatuh di lantai dengan kasar, suara benturannya memancing pekik halus Lista. Dia semakin ketakutan di atas ranjang pasien.


“Lista, dengerin gue baik-baik. Dengerin baik-baik! Lo abaikan apa yang lo lihat sekarang. Jangan peduli. Dia nggak bakal ganggu lo kalau lo nggak takut. Lo pelan-pelan tarik napas.”


Suara Arta terngiang di telinga Lista. Dia menarik napasnya panjang secara hati-hati. Matanya tidak bisa berpaling dari makhluk itu.


“Jangan takut, jangan takut. Dia bakalan semakin kuat kalau kamu takut.” Lista berbicara pada diri sendiri sambil memejamkan matanya.


“Sekarang ... buka mata lo pelan-pelan. Pelan-pelan, oke? Jangan peduli sama bayangan apa pun yang lo lihat. Fokus sama suara gue. Buka mata lo sekarang!”


Dengan napas tercekat, Lista membuka matanya secara perlahan, sesuai perintah Arta. Wanita itu menghilang. Benar-benar lenyap. Napas Lista kembali berembus pelan. Tanpa sadar dia melirik ke arah cincinnya. Asap putih tipis mengelilingi permata tersebut.


Lista semakin bingung dibuatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2