Calon Tumbal

Calon Tumbal
Singkirkan Ketakutan


__ADS_3

Lista melangkah penuh pertimbangan menyusuri teras sekolah. Dalam tempo tertentu, matanya akan melirik ke arah lapangan di mana Arta sedang sibuk latihan bersama seorang sahabat dekatnya. Kakinya ingin sekali berbelok, menghampiri pemuda tersebut dan menanyakan maksud kejadian semalam. Namun, perasaannya mengatakan bahwa ini bukan saat yang tepat. Lista menunduk, memperhatikan sepatunya secara bergantian terayun ke depan.


Di tangga menuju lantai dua, Lista menghentikan langkah saat melihat Stella sedang mengerjai Aila, gadis yang hampir senasib dengan Lista dalam hal pem-bully-an. Lista kasihan melihat Aila bingung harus mendapatkan ponselnya dengan cara apa dari tangan Stella, tetapi dia tidak punya keberanian untuk itu. Meski dirinya sekarang adalah pacar kakaknya, Stella tetaplah tukang bully yang tidak bisa dilawan siapapun.


Akhir permainan Stella adalah smartphone milik Aila mendarat di tempat sampah. Hal tersebut tidak luput dari perhatian Lista yang hanya diam sambil membantu Aila menemukan ponselnya. Stella dan dua temannya tertawa keras sebelum meninggalkan Aila dan Lista.


“Lo kok diem aja sih? Katanya udah pacaran sama Arta?” ujar Aila setelah mendapati keadaan layar smartphone kesayangannya sudah retak.


“Tapi tetep aja, aku masih belum berani sama mereka.” Lista menjawab lirih. Keduanya berjalan beriringan menaiki anakan tangga.


“Harusnya lo bisa manfaatin status lo saat ini, Lis. Kalau Stella ganggu gue lagi, lo bisa lawan dia. Kalau dia apa-apain lo, lo tinggal lapor dan Arta. Beres. Stella nggak berani sama kakaknya.”


“Tapi mereka kan sama aja.” Lista menjawab hati-hati, sejujurnya bimbang ingin menceritakan kejadian kemarin pada Aila atau tidak.


“Tapi tindakan keterlaluan mereka harus dihentikan. Gue tersiksa tau nggak, sejak masuk ke sekolah ini, langsung di-bully sama gengnya Stella. Gue rencana mau bikin pelajaran buat mereka!” Tangan Aila terkepal, penuh tekad.


“Guru aja nggak bisa ngapa-ngapain, Ai. Apalagi cuman kita.” Lista memandangi Aila lekat. Mereka sudah berteman sejak SD. Aila pasti akan mendengarkan Lista, tetapi belum tentu gadis itu akan percaya dengan cerita yang dialami Lista kemarin.


“Tapi ... masa kita tertindas terus sampai lulus?” Aila protes.


“Tahun ini juga Arta bakal lulus.”


“Lah, hubungannya sama Arta apaan? Emang, dia suka nge-bully kayak adeknya, tapi Stella yang paling parah di sini. Orang nggak ada masalah apa-apa, digangguin.”


“Ya sabar sampe tahun depan. Stella kan bakal lulus tahun depan,” kilas Lista.


“Yakali nunggu sampai tahun depan. Kita udah babak belur kalau tahun depan.”


“Ya ... gimana lagi? Pindah?”


“Nggak tau. Ini kan sekolah swasta terbaik.”


Keduanya saling terdiam. Jika Aila sibuk memikirkan masa depannya di sekolah ini, maka Lista bingung bagaimana menceritakan kejadian aneh yang dilaluinya kemarin. Sampai mereka tiba di kelas. Aila melempar kasar tasnya di meja. Sementara Lista amat hati-hati. Melihat Aila tampak cemberut, Lista berpikir bahwa mungkin ceritanya nanti bisa mengalihkan sejenak fokus Aila—meski kemungkinan besar yang akan terjadi adalah Aila menganggapnya gila.


“Ai, kamu tau, nggak?” Lista mengubah arah kursinya menyamping sehingga bisa fokus pada Aila. Sahabat Lista tersebut masih saja setia dengan kemarahannya yang menggebu, tetapi tidak tahu harus dengan apa dikeluarkan. “Aku ngalamin kejadian aneh pas di perpus. Pertama kalinya, Ai. Aku bahkan nyaris nggak percaya sama diri mata aku sendiri.”


“Apaan?” Aila bertanya, bukan disebabkan tertarik, tetapi hanya untuk menghargai lawan bicaranya.


“Pas aku mau masuk ke perpus, aku pas-pasan sama Pak Agus. Karena buku yang aku bawa tinggi banget, aku jadi nggak bisa ngelihat sekitar, kan? Saat itu, Pak Agusnya tinggi banget. Aku sampe capek dongak buat liat dia.” Lista memulai ceritanya dengan wajah sedikit condong ke depan, menunjukkan keseriusan dalam ekspresinya.


“Jadi ...?” Di tempatnya duduk, cerita Lista terdengar biasa saja bagi Aila. Dia sama sekali belum terpengaruh.


Lista menegakkan punggungnya di sandaran kursi. “Kamu pasti tau dong, tinggi Pak Agus nggak beda jauh sama kita. Tapi yang ini, tinggi bangeeet! Terus ... kamu tau bagian paling anehnya?”


Alis Aila terangkat sebelah.


“Setelah Pak Agus ini keluar dan aku masuk, ternyata Pak Agus asli lagi susun buku di rak perpustakaan!” Lista berbisik pelan seolah takut jika makhluk yang menyamar sebagai Pak Agus semalam bisa mendengarnya.


“Jadi ceritanya, lo lagi bahas cerita creepy gitu?”


“Bukan cerita.” Lista menggeleng kasar. “Ini real aku alamin kemarin. Pak Agus yang lagi susun buku ini aku percaya asli karena cara dia beraktivitas ya kayak biasa. Tapi yang di pintu tadi, seremin parah. Udah tinggi kelewatan, kemungkinan kakinya nggak nyentuh tanah! Terus nih ya, dia liatin aku dalam banget gitu. Dari bawah sampai atas. Bikin aku grogi banget.”


“Nggak ada sejarahnya, perpustakaan atau sekolah ini angker, Lis. Jangan ngarang deh.” Aila merotasi bola matanya. Dia ingin mengabaikan Lista jika seandainya Lista tidak mencegah dengan cepat.


“Nggak. Aku nggak bahas masalah sekolah angker atau gimana, karena menurut aku, hal seram ini memang ditujukan sama aku.”


Aila begitu tertarik dengan penuturan Lista tersebut. Dia memutar arah 90° supaya berhadapan langsung dengan Lista, sehingga Aila bisa mendeteksi jika sahabatnya berbohong atau tidak.

__ADS_1


“Apa maksud lo ... hal seram itu memang ditujukan buat lo?” tanya Aila penuh selidik.


Lista mengangkat jemarinya yang terisi cincin. “Nggak bergeser sama sekali walaupun aku udah coba sabun, minyak.” Dia menggeleng dramatis. “Dan setelah kejadian siang itu, aku lihat ada yang aneh sama cincinnya. Semacam kabut hitam tipis di sekitar permatanya. Aku nggak tau sama sekali.”


“NAH KAN!” Aila memekik nyaring. Beberapa siswa melirik ke arah mereka sekilas, lalu tidak acuh. “Arta bawa sial ke hidup lo.”


“Awalnya aku juga mikir kayak gitu. Tapi setelah kejadian aneh selanjutnya, pikiran curiga aku sama Arta langsung hilang.”


“Wait! Lo ngalaminnya lebih dari sekali?”


Lista mengangguk lesu. “Yang kedua ini berhubungan sama kamu.”


“Gue?” Tanpa sadar nada Aila naik satu oktaf saat menunjuk dirinya sendiri dengan raut bingung.


“Bunda sama Ayah ke rumah nenek kemarin. Mereka ngira kamu bakalan temenin aku di rumah. Tapi setelah mereka berangkat, kamu kirim pesan ke aku kalau nggak jadi dateng ke rumah. Nah, pas tengah malamnya, aku bangun dengar suara kamu di pintu kamar aku. Aku belum terlalu sadar pas itu. Aku baru ngeh pas hampir buka pintu. Aku langsung mikir, gimana caranya kamu masuk kalau kamu nggak punya rumah aku? Apalagi, cara bicara kamu datar banget.” Lista mengubah ekspresinya menjadi datar dan suaranya saat menirukan ucapan makhluk aneh kemarin, “Lista, gue udah sampe. Buka pintunya.”


“Suara lo nyeremin, Lista!” kata Aila. Bahunya dinaikkan, bergidik.


“Kamu aja yang cuman denger cerita aku, bilang serem, apalagi aku yang udah alamin sendiri,” kilah Lista. “Terus, cincin ini lagi-lagi kelihatan kayak ada asapnya gitu.” Lista memperhatikan cincinnya lama.


“Perasaan gue makin nggak enak, Lista. Pasti maksud terselubung Arta ini nggak baik banget. Apalagi cincinnya nggak bisa kelepas, kan? Dia itu beneran setan kalau bikin kamu jadi sial.”


“Tapi, Ai ... dia yang tolong aku semalam.”


“Wait! What?”


“Orang yang ketuk-ketuk pintu itu coba masuk ke kamar aku. Terus Arta ada di luar rumah aku, nyelametin aku, bawa aku ke rumahnya. Dia izinin aku tinggal di kamarnya—”


“WHAT?” Aila melebarkan matanya, lalu memegang kedua bahu Lista. “Lo belum anu-anuan kan sama dia? Dia belum ngapa-ngapain lo kan? Ini nih pasti maksud terselubung dia. Dia mau rusak masa depan lo!”


“Ish, apaan sih. Nggak ada. Aku ditidurin di sofa.”


Gemas dengan pemikiran absurd Aila, Lista langsung menyentil dahinya. “Maksudnya, aku tuh tidurnya di sofa, dia di tempat tidurnya. Paham? Kita nggak ngapa-ngapain, omes!”


“Iya, iya.”


Lista berputar arah menghadap ke papan tulis. Bersama dengan itu, sosok Arta muncul dari pintu. Seragam putihnya menjadi pajangan di bahu. Pemuda itu mengenakan seragam basket dengan celana abu-abu, perpaduan aneh tetapi masih membuat siswi dalam kelas berbisik-bisik mengaguminya.


“Lo ada air?” tanya Arta setelah duduk di atas meja Lista tanpa izin.


Lista langsung memberikan apa yang diminta Arta karena memang membawa bekal air sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil.


“Thanks.” Arta menyodorkan kembali botol air yang tersisa setengah isinya. Lista nyaris tidak bisa bernapas karena didatangi secara mendadak oleh Arta.


“Kenapa liatin gue kayak gitu?” tanya Arta, cepat dan tegas. Matanya tajam pada Lista.


“Hah? Kayak gitu apa?” Lista membeo kikuk.


“Takut.”


“Ng-nggak.”


“Terus—” Arta melirik ke arah Aila yang ikut mencuri dengar obrolannya dengan Lista. “Gue mau bicara sama pacar gue. Lo—jomlo—keluar!”


Aila bersungut-sungut dan melakukan seperti titah Arta. Lista semakin merasa terjepit berhadapan dengan Arta.


“Kan! Lo takut sama gue.”

__ADS_1


“Karena kamu emang nyeremin.”


Arta bungkam mendengar jawaban polos dari Lista. “Stella nyeremin juga?”


Lista bungkam sebentar. Bingung menjawab.


“Kenapa nggak lawan dia tadi pas dia ganggu temen lo?” tanya Arta lagi.


“Kita udah biasa. Aku juga sering diganggu sebelum pacaran sama kamu.”


“Terus lo diam aja gitu?”


“Kamu belain aku daripada Stella? Kamu kan juga nggak beda jauh sama Stella.”


“Gue nggak suka ganggu orang kalau nggak ada alasan. Jadi Stella beda sama gue.” Arta mengusap wajahnya yang basah akibat keringat. “Lagian, gue nggak belain lo. Gue cuman mau bikin otak lambat lo itu berfungsi. Apa gunanya mulut lo kalau lo nggak bisa gunain bela diri sendiri?”


“Aku ....” Lista menunduk, tidak bisa membantah ucapan Arta.


“Takut? Lo mesti catat ini dalam otak lo! Semakin lo takut sama seseorang, semakin orang itu bertambah kuat dan berani dengan ketakutan lo itu.” Arta meraih tangan Lista, mengusap permata di cincinnya. “Bukan cuman manusia, yang gue bilang itu juga bisa mencakup hal lain.”


“Maksudnya?” tanya Lista benar-benar bingung dengan arah pembicaraan Arta. Namun, dia mendadak teringat keadaan pintu kamarnya yang baik-baik saja. “Terus masalah kemarin. Kok pintu kamar aku baik-baik aja? Padahal aku ingat betul, dia lubangin pintu aku terus masuk. Pagi ini, pintu aku baik-baik aja. Seolah-olah, yang aku lihat cuman ... halusinasi.”


“Seperti yang gue bilang tadi.”


“Apa?”


“Ah, males ngomong sama lo, Pacar Beg0!” Arta nyaris berteriak saat menghina Lista. “Sini ponsel lo!”


Lista memberikan smartphone-nya. Arta terlihat mengotak-atiknya sebentar lalu memberikan ponsel Lista kembali.


Arta turun dari meja Lista, melepas tangan gadis itu, dan berlalu keluar sambil menyugar rambut hitamnya. Terakhir kali, Lista mendengar pemuda itu mengumpat kasar.


•••


Lista menuruni anakan tangga. Sesekali, tas salempangnya diperbaiki. Dia sibuk memikirkan ucapan Arta tadi pagi.


“Semakin lo takut sama seseorang, semakin orang itu bertambah kuat dan berani dengan ketakutan lo itu.”


Lista sejujurnya mengiyakan hal tersebut, tetapi masih ragu untuk mengaplikasikannya.


Lamunan Lista sontak kacau saat seseorang menabraknya dari belakang. Dia segera berpegangan di dinding. Stella melewatinya sambil berlari. Disusul dua temannya, dan seorang gadis yang menjerit meminta kacamatanya dikembalikan. Gadis itu terjatuh dan segera dibantu oleh Lista agar tidak sampai di bawah.


Lista melirik Stella yang merasa sangat bangga dengan perbuatannya tersebut. Dia membelakangi Lista, beradu tos dengan dua temannya.


“Semakin lo takut sama seseorang, semakin orang itu bertambah kuat dan berani dengan ketakutan lo itu.”


Tanpa Lista sadari, kalimat Arta membuatnya maju menghampiri Stella.


“Semakin lo takut sama seseorang, semakin orang itu bertambah kuat dan berani dengan ketakutan lo itu.”


Dia terus berjalan sambil mengulangi kalimat Arta. Sampai dia berdiri di belakang Stella yang mengangkat-angkat hasil jarahan jahilnya.


“Semakin lo takut sama seseorang, semakin orang itu bertambah kuat dan berani dengan ketakutan lo itu.”


Dan sekali ayun, kacamata di tangan Stella berpindah ke Lista. Semua tawa di teras berhenti mendadak. Lista langsung gugup di pandang oleh geng Stella. Lista berusaha sekuat tenaga untuk tidak peduli. Dia berbalik ke arah gadis yang hampir jatuh tadi untuk mengembalikan kacamatanya.


“Semakin lo takut sama seseorang, semakin orang itu bertambah kuat dan berani dengan ketakutan lo itu.”

__ADS_1


Dengan bantuan kalimat itu, Lista melewati Stella dan teman-temannya yang ikut bungkam dengan tindakannya.


•••


__ADS_2