Calon Tumbal

Calon Tumbal
Keluarga Arta


__ADS_3

Lista meringkuk ketakutan di sudut ruangan. Sembari memeluk lututnya dengan satu tangan, tangan yang lain berusaha menelpon orang tuanya. Selalu tidak aktif. Sampai pada percobaan kelima, gadis itu putus asa dan meletakkan smartphone-nya di lantai.


Ketukan-ketukan di daun pintu semakin kuat. Saking takutnya makhluk itu bisa merusak pintu, maka setelah berbicara dengan Arta, Lista langsung mendorong meja belajarnya di depan pintu. Hanya itu penyelamat baginya sekarang. Dia sangat tidak mengharapkan Arta bisa membantu karena kenyataannya, pemuda itulah yang membawa kesialan dalam hidup Lista. Keinginan Lista saat ini hanyalah menutup mata, tertidur, lalu kembali bangun di atas tempat tidur dalam keadaan damai dan menganggap apa yang terjadi malam ini adalah mimpi.


“Lista, gue udah sampe. Buka pintunya.”


Bukan lagi permintaan, tetapi geraman berat yang terdengar. Tidak lagi terdengar seperti suara Aila. Ketukan pintu mulai diselingi oleh suara aneh. Suara cakaran.


“B–Bunda ... Bunda ... tolong ....” Lista meletakkan keningnya di atas lutut sembari menangis. Tangannya begitu gemetar, seiring dengan keberanian dalam dirinya semakin menyusut.


“KHAAAAAAA!” Suara pekikan terdengar nyaring. Lista tersentak di tempatnya. Matanya waspada ke arah pintu. Setetes air matanya yang semula menggantung, terjatuh menuruni pipinya. Untuk sejenak dia tidak bersuara. Lalu pukulan keras terdengar. Pintu pun menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Lista menganga, bergetar, dan terisak.


“Bunda ....” Dia menekan suara tangisannya agar tidak mengundang perhatian makhluk di luar kamarnya. Namun, isakannya tetap keluar satu-satu.


Tuk!


Lista tersentak. Tubuhnya kaku karena berpikir mungkin saja suara ketukan itu berasal dari makhluk mengerikan lain.


Tuk! Tuk!


Lista menjauhi jendela. Ingin rasanya dia pingsan, tetapi tidak bisa. Yang gadis itu bisa lakukan hanya berdiri kaku menanti makhluk menyeramkan muncul dan menghabisinya.


Telepon Lista berdering nyaring. Harapan gadis itu adalah bundanyalah yang menelpon. Namun, yang tertera di layar adalah nomor asing yang beberapa saat lalu menghubunginya. Karena merasa bahwa bantuan di sini tinggal Arta—meski sebenarnya Lista curiga pemuda itu yang membawa kesialan dalam hidupnya—maka Lista menjawab panggilan tersebut.


“Keluar lewat jendela! Gue udah di bawah!”


Tuk!


Lista diberikan sedikit kelegaan mengetahui Arta lah yang melempari jendelanya. Dia segera berlari ke jendela, menyingkap gordennya, dan melihat ke bawah sudah ada Arta mendongak menunggu.


Jantung Lista berpacu kuat saat pintu sudah dilubangi makhluk tersebut. Sebuah tangan seukuran paha lelaki dewasa masuk, penuh bekas luka sayatan dan darah yang menetes-netes. Lista merasakan gejolak dalam perutnya minta dimuntahkan.


“KELUAR CEPETAN, PACAR!” pekik Arta di bawahnya.


Lista membuka jendela segera. Kepalanya dilanda pusing saat melihat ketinggian lantai dua rumahnya. Jika dia loncat, dapat Lista pastikan akan ada tulangnya yang patah. Dia sejenak bingung. Sementara itu, dua tangan besar sudah masuk melalui lubang pintu yang dibuat makhluk itu, tetapi Lista dilanda kengerian jika harus melompat sekarang ini.


“PACAR! LOMPAT! GUE TANGKEP!” teriak Arta.


Sekujur tubuh Lista sepenuhnya sudah gemetar hebat. Keringat dingin di telapak tangannya membuat jendela yang dipegangnya menjadi basah.


Astaga! Kepala makhluk itu mulai masuk.


“PACAR ****! TURUN CEPETAN ATAU DIA MAKAN LO! GUE NGGAK MAU JOMLO SEKARANG!” pekik Arta melengking tinggi.


Suara geraman makhluk itu membuat otak Lista secara paksa membuat kakinya melewati batas jendela.


“Gue bakal tangkep lo, Pacar. Lo lompat aja.” Nada suara Arta melemah.


Makhluk itu mulai masuk separuh badan. Untuk beberapa detik, Lista terdiam karena rasa takutnya. Dia bingung mendeskripsikan makhluk itu. Wajahnya sangatlah besar sehingga lehernya tidak terlihat. Rambut kepalanya hanyalah darah. Mata kirinya kosong, menampilkan lubang menganga warna merah tua. Tetesan-tetesan darah keluar dari sana. Hidungnya seolah sudah ditebas sehingga tulang di balik kulitnya terlihat jelas. Belum lagi saat dia menggeram keras, mulut penuh darahnya sangat mengerikan. Lista hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


Tuk!


Lista memekik kesakitan saat keningnya terkena kerikil kecil.


“LOMPAT, PACAR B£G0!”


Lista memgangguk cepat dan tidak berpikir panjang lagi untuk meninggalkan jendela tempatnya duduk, terhempas turun dengan cepat. Arta sudah menyiapkan kedua lengannya untuk menampung tubuh Lista. Namun, pemuda itu sama sekali tidak menyangka bahwa tubuh setinggi 152 senti dengan postur ringkih tersebut bisa begitu berat sehingga membuatnya tersungkur ke tanah. Keduanya sama-sama meringis kesakitan.


Makhluk yang mengejar Lista muncul di jendela. Arta membantu Lista segera bangun. Lista memekik kesakitan saat mencoba berdiri.


“Kayaknya keseleo,” kata Lista. Pandangannya berkabut karena embun di matanya memaksa hendak keluar. “Kamu—kamu pergi aja. Makasih karena udah niat bantu aku. Tapi, aku nggak bisa pergi dari sini. Sebelum dia nyakitin kamu juga, kamu harus pergi dari sini.” Lista mendorong-dorong punggung Arta sambil terisak.


“B4cot!” umpat Arta sebelum mendekatkan punggungnya di depan Lista. Dalam sedetik, tubuh Lista sudah bertumpu di punggung Arta. Pemuda itu menahan pinggul Lista sebelum berlari membelah malam. Lista mendengar jelas bagaimana napas pemuda yang menjadi tunggangannya sekarang ini sangat cepat. Dari cahaya lampu depan rumahnya, Lista bisa melihat samar bulir-bulir keringat menghiasi wajah Arta. Listi mendadak ragu, apa ini semua ada hubungannya dengan Arta atau hanya sebuah kebetulan saja setelah Arta memberikan cincin ini dia jadi tertimpa masalah?


Lista tersadar dari kebimbangannya saat tubuhnya dibanting secara kasar di kursi samping pengemudi. Arta memutari mobil, menjadi pengemudi dan segera meninggalkan pekarangan rumah.


“Kak, tadi itu ... apa?” tanya Lista penasaran.

__ADS_1


“Lo sandaran aja, sambil gue jelasin," jawab Arta. Karakter utamanya sudah muncul.


Lista mengikuti perintah Arta. Setelah kepalanya bersandar, rasa kantuk menyerang. Matanya sulit ditahan untuk tetap terbuka. Beberapa saat setelah terpejam, kesadaran Lista turut hilang.


•••


“Pacar, bangun. Lo mau sekolah atau enggak?”


Seruan tersebut terdengar asing di telinga Lista pagi ini. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum sebuah objek memenuhi indra penglihatannya.


“Bangun, Pacar Beg0! Lo mau tinggal di sini?” Suara maskulin itu kembali terdengar.


Rambut hitam berantakan, wajah tegas dengan rahang kokoh, bibir berisi, dan hidung mancung. Tambahan mencolok adalah mata khas yang tajam dinaungi oleh alis tebal. Itulah yang tertangkap mata Lista. Lista bangun diliputi rasa keterkejutan tinggi sampai dia tidak sadar sekitar. Sofa terlalu sempit bagi Lista yang bergerak kelimpungan. Tubuh gadis itu mendarat di lantai tepat depan kaki Arta. Pemuda itu sama sekali tidak memiliki niatan membantu.


“Dasar pacar beg0 kuadrat!”


Lista bersungut-sungut menjengar hinaan Arta tersebut, tetapi bibirnya terlalu takut untuk membalas cemoohan Arta. Lista bangun dari tempatnya tersungkur.


“Aku di mana?” tanya Lista yang seolah berbicara pada dirinya sendiri karena nada suaranya begitu pelan.


“Rumah gue.” Arta menjawab lalu melenggang menuju pintu di sisi ruangan. “Lo nggak amnesia kan semalam abis lompat dari jendela?”


“Kamu bilang mau tangkep aku, tapi ternyata enggak. Kaki aku jadi sakit gara-gara kamu tau, nggak?” Lista sebenarnya ingin meninggikan dua oktaf suaranya, tetapi lagi-lagi dia disadarkan fakta bahwa yang satu ruangan dengannya saat ini adalah iblis.


Arta berbalik. “Salahin tuh badan Lo yang kek tikus, tapi berat kek gajah. Tabungan dosa lo berubah jadi lemak?”


“Enak aja.” Lista berbisik lirih. Dia tidak bisa melawan karena suara tinggi pemuda itu meruntuhkan keberaniannya dalam sekejap.


“Abis gue siap-siap, gue baru anter Lo ke rumah lo,” kata Arta lalu masuk ke ruangan lain yang diyakini Lista sebagai kamar mandi.


Lista tercenung di tempat. Arta mengingatkannya kejadian semalam. Mengenai makhluk menyeramkan yang memaksa masuk ke dalam kamarnya. Lista merasa mual juga trauma. Pandangannya fokus tertuju ke arah pintu kamar ini. Dia mengamati begitu dalam, sehingga suara-suara pukulan pintu semalam seolah terulang lagi di kamar Arta.


“Eh pacar beg0 kuadrat kali tuli!”


Bentakan tersebut menghentak lamunan Lista sehingga dia menoleh ke dekat lemari.


“Apa?” tanya Lista, kikuk. Dia menunduk untuk melarikan pandangannya dari tubuh Arta yang hanya mengenakan celana pendek selutut. Perut ratanya bebas dipandangi jika seandainya Lista tidak punya malu.


“Maaf.” Tanpa mengangkat pandangan, Lista menuju pintu yang dipandangi tadi cukup lama sampai lupa waktu.


‘Mata aku ternodai. Mata aku ternodai. Maafin Lista, Bunda, Ayah. Mata Lista udah nggak perawan.’ Lista terus merapalkan kalimat tersebut dalam hati. Dia merutuk diri sendiri karena sudah kebablasan melihat sesuatu yang tabu untuknya. Saking fokusnya mengutuk diri sendiri, Lista baru sadar saat kepalanya menabrak benda keras. Tubuhnya memantul dua langkah. Lista meringis kesakitan sambil memegangi kening. Pesona Arta berhasil membutakan matanya sampai tidak bisa membedakan pintu dengan dinding. Lista tidak membuang waktu lebih lama lagi. Pintu segera dibuka dan Lista nyaris meloncat keluar.


“Lista, yuk sarapan!” Stella tiba-tiba muncul dari pintu sebelah kamar Arta. Dia tersenyum, dan itu terlalu aneh bagi Lista. Namun, Lista tidak menolak sama sekali.


Orang tua Arta sudah ada di ruang makan. Pria yang seusia ayah Lista memandangi Lista saat dirinya duduk di samping Stella. Ibunya Arta datang dari arah dapur membawa air minum. Setelah meletakkannya di atas meja, wanita paruh baya itu menghampiri Lista.


“Ini ya pacarnya Arta?” tanya wanita itu. “Cantik banget. Mirip Mama pas masih muda.” Dia meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Lista.


“Anak Mama di sini.” Stella bersuara.


“Kamu kan miripnya sama Papa. Nggak ada satupun anak Mama yang mirip Mama. Ini baru mirip Mama.” Wanita itu tersenyum lebar. “Nama kamu siapa?” Dia bertanya lembut pada Lista. Tangannya sudah menjauhi wajah Lista.


“Kalista, Tante,” jawab Lista malu-malu. Dia memang merasa sedikit senang dipuji oleh ibu Arta, tetapi perasaannya didominasi canggung sekarang.


“Untuk gadis secantik ini, Tante punya makanan istimewa. Tunggu sebentar.” Wanita itu setengah berlari memasuki dapur, lalu keluar dengan piring di tangannya. Spaghetti lezat dengan saus merah kental. “Cobain deh.”


Lista menerima pemberian wanita tersebut dengan canggung. Sekilas dia melirik ke arah ayah Arta yang masih memandanginya di balik koran di tangannya. Pandangan Lista beralih pada Stella yang tersenyum tipis padanya. Lista balas tersenyum kikuk pada ibu Arta.


“Terima kasih, Tante.” Lista meraih sendok di atas piring dan mulai mengaduk-aduk makanan di depannya. Meski terlihat sangat lezat, selera makan Lista mendadak hilang.


“Ayo dimakan.” Wanita itu duduk di sebelah suaminya. “Pas Tante tahu Arta bawa pacarnya ke sini, Tante langsung inisiatif buat bikin makanan istimewa. Jadi, Tante harap kamu mau hargai Tante dengan makan makanan itu.”


Lista mengangguk. Garpunya sudah dipenuhi spaghetti. Dengan gerakan pelan penuh keraguan, Lista mendekatkannya di mulut. Namun, spaghetti sama sekali belum menyentuh bibir Lista saat sebuah tangan menghentak Lista untuk berdiri.


“Bukan sekarang, Ma.” Arta bersuara tegas. Dia menahan pinggang Lista agar tidak berjarak darinya. “Lista harus pulang ke rumah ganti baju. Dia harus sekolah.”


Ibunya Arta cemberut, tetapi dipaksakan dirinya tersenyum. “Okey. Tapi Lista sering-sering datang ke sini, ya? Tante bikinin yang lebih enak. Oke?”

__ADS_1


“Iya, Tan—” Ucapan Lista terpotong karena Arta langsung menariknya keluar dari ruang makan.


“Kenapa, sih?” tanya Lista setelah keduanya masuk ke mobil Arta.


“Jangan terlalu deket sama nyokap gue.” Arta menyalakan mobil, lalu meluncur membelah jalanan.


“Kenapa?”


“Gue nggak mau dia ngarep Lo jadi calon menantunya. Nggak sudi gue.” Arta berdecih, seolah jijik dengan Lista.


“Terus ngapain coba aku dipaksa pacaran sama kamu kalau kamunya kayak nggak suka banget gitu sama aku?” tanya Lista. Mengingat mengenai pacaran, Lista tersadar dengan cincin di tangannya. Ada sisa kabut tipis di area cincin.


“Lo tau gelar gue di sekolah?” tanya Arta bangga.


Lista merotasi bola matanya. “Playboy cap pocong. Suka lompat-lompat, dari cewek satu ke yang lainnya.”


Arta tertawa pelan. Pertama kalinya pemuda itu menghilangkan kesan dingin darinya. Dan pertama kalinya, Lista merasa menyukai adegan tersebut.


“Target gue selama sekolah, gue bisa pacarin semua siswi di sekolah. Lo pacar gue yang ke 106.”


Lista menghempas kuat-kuat kekagumannya pada Arta. Dia berdecak ringan. “Bangga gitu?”


“Iyalah.” Arta menaikkan sedikit dagunya, angkuh.


“Semua pacar kamu dipakein cincin ini?” Lista mengangkat jemarinya, menunjuk cincin pemberian Arta. Pemuda itu diam. “Tapi kok nggak bisa dilepasin sih? Jari aku sampai sakit, tapi nggak lepas-lepas.”


“Ya mana bisa lepas lah, jari lo jari gajah.”


Lista berdecak lagi. “Ini aku udah pakein minyak, sabun, segala macem. Tapi tetep nggak bisa dilepasin.”


“Itu cincin mahal. Kalau lo lepasin terus sampai hilang, lo harus ganti rugi.”


“Nggak bakalan aku hilangin. Janji. Aku cuman mau lepas bentar. Seriusan.”


“Mau banget lepasin?”


Lista mengangguk.


“Potong jari lo.”


Lista menarik tangannya dengan cepat. Gerakan refleks untuk melindungi tangannya yang terancam.


“Gila aja!”


Arta tersenyum. Sehingga Lista beranggapan bahwa pemuda itu hanya bercanda.


Tidak lama, mobil menepi di halaman rumah Lista. Sebuah mobil lain terparkir di depan rumah. Lista panik, takut orangtuanya menemukan pintu kamar Lista dalam keadaan rusak.


Lista bergegas turun tanpa mengucapkan apa pun lagi. Dia berlari tanpa berpikir apa pun atau mendengar teriakan Arta di belakangnya.


“Bunda? Ayah?” Lista berteriak mencari, karena rumahnya tampak sepi. Dia berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Saat sampai, Lista mematung di tempat. Pintu kamarnya baik-baik saja seolah tidak ada apa-apa semalam.


“Lista? Kamu dari mana aja?” Bunda muncul dari lantai bawah. Dia terlihat sangat khawatir. “Bunda kok nggak bisa buka kamar kamu? Kamu baik-baik saja, kan? Jendela kamar kenapa bisa pecah?”


Rentetan pertanyaan tersebut membuat Lista bungkam. Berbohong memang pernah dilakukannya, tetapi tidak terlalu sering sehingga Lista bingung harus menggunakan kebohongan jenis apa supaya orangtuanya tidak khawatir.


“Tadi malam ... anu ... apa ya? Anu ....” Lista mengedarkan pandangan mencari sebuah jawaban. Matanya lalu berhenti pada kalung indah di leher bundanya. “Ada maling, Bun. Lista takut jadi tutup pintu kamar pake meja belajar. Jendela rusak karena Lista kabur dari rumah supaya nggak ketangkep maling.”


“Terus kamu tidur di mana? Bunda tanya Aila, kamu nggak tidur di rumahnya. Terus di mana?” Bunda memandang khawatir.


“Di rumah temen yang lain, Bun. Ada rumah temen Lista yang lebih deket dari rumahnya Aila.”


Mulut bunda terbuka, Lista dengan cepat memutar otak supaya bundanya tidak bertanya lebih lanjut.


“Bun, Lista bisa telat nih. Gimana cara masuk kamarnya?” tanya Lista.


“Bunda panggil Ayah sebentar.” Bunda berlalu dengan tatapan bingungnya. Namun, itu tidak setara dengan kebingungan Lista sekarang ini.

__ADS_1


Apa makhluk semalam hanyalah halusinasi Lista? Tapi jika hanya halusinasi, kenapa Arta menolongnya seolah percaya dengan apa yang dilihat Lista?


•••


__ADS_2