Ceo Perfect Vs Sekretaris Ceroboh

Ceo Perfect Vs Sekretaris Ceroboh
1


__ADS_3

"Dasar tidak becus! Percuma saya


membayar gaji kalian, jika kalian


sama sekali tidak bisa bekerja.


Membuat laporan bulanan saja


kalian selalu salah. Sebaiknya


kalian kembali saja ke bangku


kuliah. Karena saya tidak


mentolerir satu kesalahan pun."


Suara seorang pria menggema di


ruangan tersebut. Begitulah yang


selalu diterima para pegawai di


sana. Jika mereka mengadakan rapat bulanan diperusahaan power company.


Pria tersebut merupakan CEO di


perusahaan itu. Dia seorang CEO


muda yang sangat perfect.


Membuat karyawannya merasa


kesulitan dalam bekerja. Pria itu


bernama Alex Demian. Seorang


pria berusia 25 tahun, yang sampai


detik ini tidak memiliki kekasih.


"Maafkan kami, Pak. Kami akan


merevisi lagi laporan bulanan


kami, sesuai dengan permintaan


Anda," ucap Natasha, yang


merupakan sekretaris di sana.


sekretarisnya tersebut.


"Hmm, saya sudah bosan


mendengar kamu mengatakan


kalimat yang sama dan berulang


setiap bulannya. Apakah kosakata


kamu sangat minim, sehingga


kamu tidak memiliki kalimat lain?


Bahkan setiap bulan mata saya


selalu sakit. Saat melihat laporan


yang kamu berikan. Apakah kamu


tidak bisa membedakan mana yang


seharusnya ditulis dengan huruf


kapital dan mana yang tidak?"


tanya Alex.


Para pegawai yang berada di sa


ingin sekali tertawa. Ketika


mendengar koreksi yang diberikan


oleh CEO mereka. Begitu detail,


seakan mereka sedang melakukan


konsultasi skripsi, dengan dosen


pembimbing.


"Maafkan saya, Pak. Saya memang


sedikit lemah dalam segi


kepenulisan. Namun, saya


pastikan laporan saya itu sangat


valid dan isinya tidak akan


mengecewakan Anda. Lagi pula


saya sedang membuat laporan


bulanan, Pak. Bukan membuat


novel yang harus benar dalam segi kepenulisan, serta PUEBI-nya."


Natasha berusaha membela diri,


karena baginya koreksi Alex terlalu


berlebihan.


Sementara pegawai lain berusaha


menahan tawanya. Ketika


mendengar perdebatan antara


CEO dan sekretaris perusahaan


tersebut.


"Itu menurut kamu, tapi tidak


menurut saya. Karena bagi saya,


sekecil apa pun itu, walau cuma


satu huruf yang salah. Itu artinya


fatal."


Natasha akhirnya memutuskan


untuk diam.


Percuma Jika ia harus


berdebat dengan Alex. Karena pria


itu sangat pintar dan bisa mencari


celah, sekecil apa pun kesalahan


itu.


Kini mata Alex tertuju kepada


salah seorang pegawai pria yang


berada di ruangan rapat tersebut.


"Kamu Andre, tolong rapikan


pakaianmu. Lengan kemeja mu


jangan digulung seperti itu.


Sebaiknya di kancing saja, biar


terlihat rapi. Kalau seperti itu,


kamu terlihat seperti debt


collector.


Seketika Riko yang merupakan


asisten pribadi Alex, langsung


tertawa. Ketika mendengar

__ADS_1


perkataan CEO-nya barusan. Alex


pun mengalihkan pandangannya


ke arah Riko, membuat pria itu


langsung diam sambil menahan


gelak tawanya.


"Bukankah sudah saya katakan,


jika ingin menghadiri rapat, kalian


semua harus berpakaian rapi.


Jangan asal-asalan."


Andre hanya bisa mengangguk


dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Karena ia tidak ingin terkena


semprotan lagi dari CEO-nya


tersebut.


"Baik, saya tunggu sampai nanti


sore. Jika laporan kalian masih ada


yang salah, sebaiknya kalian


kembali ke bangku kuliah. Karena


perusahaan Power Company,


hanya membutuhkan orang-orang


yang berkompeten."


Setelah mengatakan kalimat itu,


Alex segera bangkit dari kursi


kebesarannya.


la langsung pergi meninggalkan ruangan rapat,


diikuti oleh Riko yang selalu setia


menemani ke mana ia pergi.


Sementara para pegawai yang


berada di ruangan rapat, langsung


menghela napas panjang. Mereka


merasa lega, saat melihat Alex


yang sudah pergi meninggalkan


ruangan tersebut.


"Yang sabar ya, Sha. Pak Alex


orangnya memang seperti itu,


sangat perfect dalam segala hal.


Sampai-sampai lengan kemejaku


yang aku gulung ke siku saja, ia


mengomentarinya," ucap Andre


yang datang menghampiri rekan


kerjanya.


"Tenang, Ndre, i'm fine. Lagi pula


bukan hal baru lagi melihat pak


Alex bersikap seperti itu.


Untunglah dia tidak menjadi


seorang dosen. Jika seandainya itu


dibimbingnya. Pasti banyak yang


DO. Akibat skripsinya yang selalu


dipersulit."


Andre setuju mendengar


perkataan Natasha barusan.


Karena mereka saja sangat


kewalahan, melihat sikap CEO


mereka yang selalu ingin perfect.


"Aku yakin, itu semua terjadi


karena pak Alex kelamaan jomblo,


Sha. Jadi dia itu ibarat gurun pasir


yang gersang, karena lama tidak


ditimpa hujan. Akhirnya ya,


berdebu. Hehehe."


Natasha pun ikut tertawa, ketika


mendengar celotehan rekan


kerjanya barusan.


"Bisa jadi, Ndre. Karena selama


tiga tahun aku bekerja di perasaan


ini, tidak pernah sekalipun aku


mendengar kabar, jika pak Alex


memiliki kekasih.


Apa jangan-jangan, dia itu penyuka


sesama jenis?" tanya Natasha


penasaran.


Ternyata perbincangan mereka


berdua menjadi gosip di kantor.


Karena banyak pegawai yang


mengira, jika Alex penyuka sesama


jenis.


Gosip tersebut terdengar di telinga


Alex. Namun, pria itu sama sekali


tidak peduli, tapi tidak bagi


maminya yang sangat peduli akan


hal tersebut.


Renata pun segera memanggil


putranya ke rumah. Karena ia


ingin mendengar penjelasan


langsung dari putranya, tentang


gosip yang beredar.


"Alex. Apa benar gosip yang


sedang viral di kantormu ... jika

__ADS_1


kamu seorang penyuka sesama


jenis?" tanya Renata dengan


kilatan marah.


Alex pun menanggapi pertanyaan


maminya dengan santai. Karena ia


tidak ingin terpancing dengan


gosip tersebut.


"Itu hanya gosip murahan, Mi.


Jangan terlalu dipercaya. Apa


Mami tidak lihat ... kalau Alex


sosok pria tampan yang


sempurna? Jika Alex mau, bukan


perkara sulit untuk mencari


seorang wanita. Hanya saja, Alex


belum menemukan wanita yang


sempurna di mata Alex. Karena


terkadang, mereka terlalu manja


dan sangat memusingkan kepala."


Mendengar jawaban putranya,


membuat Renata makin


bertambah marah.


"Alex! Kamu tidak boleh berkata


Seperti itu. Mau sampai umur


berapa kamu menikah? Apa kamu


mau dibilang perjaka tua? Apalagi


gosip di kantor yang mengatakan,


jika kamu itu penyuka sesama


jenis. Sungguh sangat memalukan.


Pasti nanti Mami akan menjadi


bahan ledekan teman-teman


arisan Mami."


Alex pun terdiam, ketika


mendengar perkataan maminya


barusan.


"Mami harus percaya sama Alex.


Gosip itu tidak benar. Bukankah


sudah Alex katakan, banyak wanita


Di luar sana yang antri mengejar


Alex. Jadi, Mami jangan


mengkhawatirkan soal itu." Alex


pun berusaha memberikan


pengertian kepada maminya.


Karena wanita itu selalu


mendesaknya untuk menikah.


"Ya sudah, kalau begitu kamu pilih


salah satu dari mereka dan segera


kamu nikahkan wanita, yang


menjadi pilihanmu. Jika tidak,


Mami yang akan mencarikannya


untukmu," ancam Renata.


Mendengar hal tersebut, Alex


segera menolaknya. Karena ia


Paling benci yang namanya


perjodohan.


"Sebaiknya Mami tidak usah


repot-repot. Karena Alex bisa


ncarinya sendiri," jawab pria itu


dengan sangat yakin.


Senyum pun kini terukir di wajah


Renata. la pun segera


memanfaatkan perkataan putranya


barusan.


"Baik, secepatnya kamu harus


memperkenalkan calon istrimu


kepada Mami dan juga di hadapan


orang banyak.


Bukankah dua minggu lagi ulang tahun


perusahaan? Mami akan


menunggu kedatangan mu dengan


seorang wanita yang menjadi calon


istrimu, bukan Riko asisten


pribadimu."


Deg!


Alex hanya bisa meneguk saliva,


ketika mendengar perkataan


Renata barusan. la pun segera


berpamitan, dengan alasan ada


rapat penting yang harus ia hadari.


Karena jika terlalu lama berada di


sana, ia yakin akan banyak


permintaan aneh dari maminya.


Kini penampilan Alex yang


biasanya perfect, berubah menjadi


acak-acakan. Pria itu sudah berada


di dalam mobil dengan dasi yang


longgar, serta kemeja yang tidak


beraturan. Melihat hal itu, seketika


Riko pun bertanya.

__ADS_1


"Bos, are you okay?"


Bersambung.


__ADS_2