
"Pak Seno, saya mohon jangan
lakukan itu. Saya berjanji akan
bekerja lebih hati-hati lagi," pinta
Nara dengan nada memelas.
Namun, Seno sama sekali tidak
ingin mentolerir kesalahan wanita
itu lagi. Karena Nara sudah
berkali-kali melakukan
kecerobohan yang sama.
Membuatnya merasa muak dengan
hal tersebut.
"Saya bosan mendengar kalimat
itu, setiap kali kamu melakukan
kecerobohan. Sebaiknya segera
angkat kaki dari perusahaan ini!"
Setelah memberikan perintah
dengan tegas, Seno segera pergi
meninggalkan Nara dalam keadaan
marah.
Kini Nara hanya bisa terduduk
lemas di lantai, sambil
mengacak-acak rambutnya secara
kasar.
"Sudahlah Nara, jangan bersikap
kekanakan seperti itu.
Mulai sekarang kamu harus sedikit
mengurangi kecerobohan mu. Jika
tidak, di mana pun kau bekerja,
kau pasti akan selalu dipecat,"
ucap Nesa yang merupakan teman,
sekaligus rekan kerjanya.
"Stop, Nesa. Sebaiknya kau jangan
menceramahi ku. Sudah cukup
aku menerima ceramah dari ayam
jago itu. Saat ini telingaku sudah
hangat dan butuh istirahat," jawab
Nara yang segera pergi
meninggalkan temannya tersebut.
Ayam jago yang dimaksud Nara
adalah Seno, yang merupakan
Bosnya di kantor. Nara
memberikan gelar tersebut, karena
Seno menyisir rambutnya ke
depan. Mirip dengan jambul yang
dimiliki oleh ayam jago.
Nesa yang mendengar perkataan
temannya barusan hanya bisa
menggelengkan kepala. Karena
cuma Nara yang berani
memberikan gelar tersebut, kepada
bos mereka.
****
Saat ini Nara sudah berada di
dalam ruangannya. la segera
Membuat surat pengunduran diri
dan membereskan barang-barang
pribadi miliknya, sambil
mengumpat Seno habis-habisan.
"Baru punya perusahaan kecil saja,
sudah belagu. Awas kau ayam jago.
Suatu saat nanti akan aku beli
perusahaan mu." Nara berkata
dengan sombongnya, sambil
menyumbat salah satu lubang
hidungnya yang kini mimisan,
dengan menggunakan tisu
Tak lama kemudian, Nara pun
selesai membereskan semua
barang-barang pribadi miliknya.
Ia pun segera berjalan ke ruangan
Seno, sambil membawa
barang-barang pribadinya
tersebut. Karena wanita itu berniat
ingin menyerahkan surat
pengunduran diri kepada pria itu.
Seno yang saat ini sedang
memeriksa beberapa berkas
penting, sangat terkejut. Ketika
melihat penampilan Nara yang
sedikit acak-acakan, sambil
membawa kardus di dalam
gendongannya.
"Ada perlu apa kamu datang ke
ruangan saya?" tanya Seno dengan
Tatapan mengintimidasi.
Namun, Nara sama sekali tidak
takut. Karena sebentar lagi ia akan
menjadi mantan sekretaris
perusahaan tersebut.
"Begini ayam ja-"
Sejenak Nara pun terdiam, sambil
__ADS_1
merubah panggilannya. Karena
tadi hampir saja ia keceplosan.
"Ayam? Sebenarnya apa lagi yang
ingin kau sampaikan Sekretaris
Ceroboh?" tanya Seno yang kini
sudah melipat kedua tangannya,
sambil menyandarkan tubuh di
Kursi kebesarannya dan menatap
tajam ke arah wanita itu.
Nara segera mengambil surat
pengunduran diri yang ia letakkan
di dalam kardus dan
diserahkannya kepada pria
tersebut.
"Sesuai permintaan Anda, saya
sudah membuat surat
pengunduran diri dari perusahaa
ini. Jadi saya ingatkan, Anda
jangan lupa mentransfer gaji
terakhir, serta pesangon saya.
Kalau begitu saya permisi."
Setelah mengatakan kalimat itu,
Nara langsung pergi begitu saja.
Membuat Seno hanya bisa
melongo, sambil mengerutkan
keningnya.
"Dasar wanita aneh. Baguslah jika
dia sudah resign dari Antika
Group. Karena jika terlalu lama
aku memiliki sekretaris seperti
wanita itu, bisa-bisa aku
mendapatkan serangan jantung
mendadak." Seno akhirnya bisa
bernapas lega. Karena wanita yang
mampu membuat emosinya naik
turun sudah mengundurkan diri.
****
Saat ini Nara segera keluar dari
perusahaan tersebut, sambil
membawa kardus berisi
barang-barang pribadinya. Banyak
pasang mata yang menatap heran
ke arah wanita itu. Karena
penampilannya kini bagaikan
singa yang siap menerkam
mangsa.
berlari menghampiri temannya
tersebut.
Nara pun membalikkan tubuhnya,
Dengan wajah malas menatap ke
arah wanita itu.
"Ada apa Nesa? Jika kau ingin
menasehatiku lagi, sebaiknya tidak
usah. Karena saat ini aku butuh
pekerjaan, bukan butuh nasehat,"
ucap Nara yang menghela napas
secara kasar, sambil meniup
poninya.
Nesa yang sudah tahu sifat
temannya itu, tidak ambil pusing.
la langsung memeluk Nara dengan
begitu erat.
"Aku hanya turut prihatin dengan
Keadaanmu, Nara. Aku aku akan
selalu berdoa, supaya kau
secepatnya mendapatkan
pekerjaan. Cayo, Nara!" Nessa
berusaha menyemangati temannya
itu sambil tersenyum.
Nesa yang begitu perhatian, segera
memperbaiki rambut, serta
pakaian yang dikenakan oleh
temannya. Agar tidak terlihat
acak-acakan.
"Selesai. Kalau begini kan, kau
terlihat lebih rapi. Mulai sekarang,
kau harus menjaga penampilanmu
Nara. Ingat, kau itu seorang
Sekretaris. Walau terkadang, kau
sedikit ceroboh, hehehe.
Nara pun memberangus, ketika
mendengar perkataan temannya
itu barusan.
"Hey, mukanya jangan ditekuk
seperti itu dong. Apa yang aku
katakan tadi adalah fakta. Aku
harap kau bisa berubah, Nara,"
pinta Nesa sambil menggenggam
tangan sahabatnya.
Nara akhirnya mengangguk, lalu
segera memeluk sahabatnya
__ADS_1
tersebut.
"Akan aku usahakan, terima kasih
atas nasehatmu. Kalau begitu aku
permisi dulu. Jaga dirimu
baik-baik, selamat bekerja dengan
si ayam jago."
Setelah mengatakan kalimat
tersebut, Nara segera membalikkan
tubuhnya. Membuat Nesa hanya
bisa menggelengkan kepala,
melihat kelakuan sahabatnya
tersebut.
*****
Saat ini di jalan, Nara sedikit
kebingungan. Jika harus pulang ke
Rumah sambil membawa
barang-barang pribadinya. la takut
akan mengecewakan kedua orang
tuanya. Karena semenjak ayahnya
mengalami kebangkrutan, hanya
Nara yang diharapkan membantu
perekonomian keluarga. Karena
adik laki-lakinya, masih
bersekolah.
"Apa yang harus aku lakukan
sekarang? Di mana lagi aku harus
mencari perusahaan yang mau
menerimaku bekerja?" tanya
wanita itu dalamn hati, sambil terus
berpikir.
Nara pun memutuskan untuk
duduk disalah satu bangku taman,
yang berada tidak jauh dari
tempatnya berdiri. Dari tadi ia
asyik berpikir, sambil menopang
dagu dengan kedua tangannya.
Namun, tanpa disangka Nara
melihat seorang pria yang begitu
dibencinya, sedang berjalan
bergandengan tangan dengan
wanita, yang dulu pernah menjadi
selingkuhannya.
"Arvin," ucap Nara, lalu dengan
cepat wanita itu berlari dan
bersembunyi dibalik bangku
Taman tersebut.
"Semoga saja mereka tidak
melihatku," pinta wanita itu yang
merasa khawatir. Karena Arvin
dan wanita yang sedang
bersamanya, sedang berjalan
menuju ke arah dirinya.
Sejenak Arvin menghentikan
langkahnya. Ketika melihat kardus
yang di dalamnya berisi buku,
yang sudah tidak asing lagi di mata
pria itu. Arvin pun berniat ingin
mengambil buku tersebut. Namun,
wanita yang berada di sampingnya
langsung melarang.
"Sayang, apa yang sedang kamu
lakukan? Nanti dikira kamu
mencuri. Cepat taruh buku itu.
Lebih baik sekarang kamu temani
aku ke salon. Soalnya aku sudah
lama tidak manicure, pedicure,"
pinta wanita itu dengan nada
manja, membuat Nara ingin
muntah saat mendengarnya.
"Cuuiih! Manicure, pedicure, dasar
belagu. Biasanya juga memotong
kuku dengan pisau kater. Sekarang
kena batunya si Arvin. Dia
bagaikan kerbau yang ditusuk
hidungnya. Hmm, tapi syukurlah
mereka berdua sudah pergi.
Ternyata wanita manja itu yang
menjadi kekasihnya. Jika
dibanding diriku, jelas wanita itu
kalah banyak," umpat Nara yang
merasa tidak suka. Karena dulu
Arvin adalah kekasihnya, yang
berselingkuh dengan wanita
tersebut.
Ketika ia sedang asyik berjongkok
di balik kursi taman, tiba-tiba ada
suara pria yang memanggil namanya
"Nara? Kamu Nara kan? Apa yang
sedang kamu lakukan di situ?"
deggg
bersambung
__ADS_1