
"Apa alasan kamu resign?
Bukankah saya sudah memberikan
gaji yang cukup tinggi kepadamu?"
tanya Alex meminta penjelasan.
Natasha pun segera menjawab
alasan yang sebenarnya.
"Sepertinya saya tidak bisa
mengikuti cara kerja Anda yang
begitu perfect, yang tidak bisa
mentolerir satu kesalahan, walau
sekecil apa pun. Makanya saya
Memilih mengundurkan diri. Saya
harap Anda bisa segera
menemukan pengganti saya, sesuai
dengan cara kerja Anda."
Alex sangat terkejut, ketika
mendengar keputusan
sekretarisnya itu yang sangat
tiba-tiba. Karena saat ini banyak
pekerjaan yang harus mereka
selesaikan.
"Kamu tidak bisa mengambil
keputusan sepihak Natasha. Apa
kamu tidak tahu, jilka perusahaan
sedang banyak pekerjaan? Saya
harap kamu bisa bersikap
Profesional, jangan kekanakan."
Natasha pun semakin kesal saat
mendengar perkataan dari pria itu
barusan.
"Maaf, Pak. Saya sudah berusaha
bersikap profesional, tapi
sepertinya standar Anda terlalu
tinggi. Membuat saya kesulitan
untuk mengimbanginya. Saya
harap Anda mengerti dan
menerima keputusan saya untuk
mengundurkan diri. Kalau begitu
saya permisi."
Setelah mengatakan kalimat
Tersebut, Natasha langsung pergi
begitu saja meninggalkan Alex,
yang saat ini sudah mengepalkan
kedua telapak tangannya.
"Dasar tidak becus! Dia pikir aku
tidak bisa mencari sekretaris yang
lebih berkompeten darinya. Hmm,
kita lihat saja nanti. Aku pasti bisa
menemukan sekretaris yang sesuai
dengan standar ku." Alex berkata
dengan sombongnya. Ketika
menatap kepergian Natasha dari
ruangannya.
Alex pun langsung memerintahkan
Riko asisten pribadinya, untuk
Segera datang ke ruangannya.
"Ya, Bos. Ada apa Anda memanggil
saya?" tanya Riko yang saat ini
sudah berada di ruangan pria
tersebut.
"Sekarang juga kamu sebarkan
pengumuman lowongan pekerjaan
sebagai sekretaris, di media cetak,
serta elektronik," perintah Alex.
Riko sangat terkejut, ketika
mendengar perintah dari CE0-nya
tersebut.
"Memangnya Anda mau
menambah sekretaris lagi, Bos?"
Tanya Riko penasaran.
"Tidak. Barusan Natasha sudah
menyerahkan surat pengunduran
dirinya. Secepatnya kamu harus
mencari pengganti wanita itu,"
pintah Alex sambil merapikan jas
yang ia kenakan.
Riko pun seketika mengerutkan
keningnya. Karena setahu pria itu,
hanya Natasha yang betah menjadi
sekretaris Alex selama ini.
"Natasha mengundurkan diri,
Bos?" tanya Riko yang seakan tidak
percaya.
"Ya, seperti yang kamu dengar.
Sebaiknya kamu segera laksanakan
perintah yang saya berikan."
Riko langsung menganggukkan
kepala, lalu keluar dari ruangan
bosnya tersebut. la segera
memasang pengumuman
lowongan pekerjaan dibeberapa
media, sesuai yang diperintahkan
Alex kepadanya. Riko berharap,
secepatnya bisa menemukan
sekretaris yang sesuai dengan
kriteria bosnya tersebut.
*****
Tak terasa hari pun mulai beranjak
petang. Mobil yang dikendarai
Leon, kini tepat berhenti di depan
rumah kediaman keluarga Nara.
__ADS_1
Namun, dari tadi Nara hanya diam
saja. Seperti tidak berniat keluar
dari dalam mobil. Karena saat ini
ia bingung, jika kedua orang
tuanya tahu kalau ia sudah dipecat
lagi dari pekerjaannya. Karena
kardus yang ia bawa.
"Nara, sudah sampai. Apa kamu
mau aku temani masuk ke dalam?"
tanya Leon kepada wanita itu.
Nara pun langsung menggelengkan
kepala, menolak keinginan pria
tersebut.
"Tidak usah, Kak Leon. Kalkak
pasti lelah habis seharian bekerja.
Nara bisa berjalan sendiri, tidak
perlu ditemani, Kak," tolak wanita
itu.
Ketika ia hendak mengambil
kardus yang berada di belakang
tempat duduknya, seketika ide pun
muncul di benak Nara.
"Kak Leon, aku bisa minta tolong
tidak?" tanya wanita itu dengan
Wajah penuh harap.
"Hmm, Memangnya kamu minta
tolong apa Nara?" tanya Leon.
Nara pun segera menyampaikan
maksudnya kepada pria tersebut.
"Begini, Kak. Kebetulan aku baru
saja dipecat dari perusahaan
tempatku bekerja. Namun, aku
tidak ingin kedua orang tuaku
tahu, tentang masalah ini.
Makanya aku ingin menitipkan
barang-barang pribadiku sama Kak
Leon. Agar mereka tidak curiga.
Aku harap Kakak mau menerimanya.
Aku berjanji, jika
sudah mendapatkan pekerjaan,
aku akan langsung mengambilnya
kembali," pinta Nara dengan nada
mohon.
Seketika Leon pun tersenyum
ketika mendengar permintaan
Nara barusan. Karena bukan
sesuatu yang aneh lagi baginya,
saat mendengar wanita itu dipecat,
dari tempatnya bekerja.
"Kak Leon kenapa tersenyum?
Kalau memang Kakak keberatan,
ya sudah tidak"
boleh menitipkan barang
pribadimu itu padaku," Leon
langsung memotong pembicaraan,
membuat mata wanita itu seketika
berbinar.
"Terima kasih, Kak. Aku berjanji
secepatnya akan mnengambil
barang-barang pribadi ku, jika aku
diterima kerja. Aku juga berjanji
akan mentraktir Kakak, setelah
mendapatkan gaji pertamaku
nanti." Nara berkata dengan
antusias. Karena saat ini ia merasa
lega, Leon mau membantu dirinya.
"Sebenarnya kau tidak perlu
mentraktirku Nara, tapi jika kau
memaksa, ya aku tidak akan
menolak, hehe."
Nara pun tersenyum, ketika
mendengar perkataan Leon
barusan.
"Oh ya, Kak. Jasnya aku pinjam
dulu ya, nanti aku kembalikan,"
ucap wanita itu yang mendapatkan
anggukan dari Leon.
Nara pun tersenyum menatap ke
arah Leon. Sambil berpamitan, ia
lalu turun dari mobil pria itu.
Leon kini hanya bisa menatap
Nara dari kejauhan.
"Hmm, Nara. Walau sedikit
ceroboh, tapi dia wanita yang
sangat menyenangkan. Padahal
saat ini ia baru saja kehilangan
pekerjaan, tapi wanita itu masih
bisa tersenyum tanpa beban.
Semoga saja nanti ada perusahaan,
yang mau menerimanya bekerja."
Setelah mengatakan kalimat
tersebut, Leon segera melajukan
mobilnya dengan perasaan hangat.
Hingga tanpa ia sadari, sebaris
senyuman terukir di sudut bibirnya.
****
Kini kicauan burung pun mulai
saling bersahut-sahutan.
Menambah keindahan suasana
pagi yang datang, menggantikan
malam yang telah berlalu.
__ADS_1
Jam pun sudah menunjukkan
pukul delapan pagi. Alex baru saja
tiba di kantornya bersama Riko.
Pria itu sangat terkejut, ketika
melihat barisan panjang para
pelamar di depan perusahaannya.
"Sudah aku duga, pasti banyak
Yang akan melamar untuk posisi
sekretaris di perusahaan ku. Kerja
bagus Riko. Ayo, kita interview
mereka sekarang juga," perintah
Alex yang sudah berjalan ke
ruangannya, diikuti Riko dari
belakang.
Namun di luar dugaannya. selama
melakukan interview tidak ada
satupun pelamar yang sesuai
dengan kriterianya.
"Bagaimana bos? Apakah pelamar
yang ke-50 itu sesuai dengan
kriteria Anda?" tanya Riko dengan
Alex hanya bisa menggelengkan
kepala, menjawab pertanyaan yang
Riko berikan. Sementara Riko, ia
langsung menghela napas. Karena
ia sudah menduga, hal ini akan
terjadi. Mengingat CEO-nya yang
begitu perfect, dalam memilih
setiap calon pegawai di
perusahaan Power Company.
"Bos, ini pelamar yang ke-51. Saya
harap pelamar yang terakhir ini,
sesuai dengan kriteria Anda," ucap
Riko lalu mempersilahkan seorang
wanita berpakaian ketat, masuk ke
dalam ruangan Alex.
"Hai, Pak. How are you?" tanya
wanita itu sambil mengedipkan
sebelah matanya, membuat Alex
seketika bergidik ngeri.
"Maaf, ada perlu apa Anda datang
ke ruangan saya?" tanya pria itu.
"Kenapa Anda menanyakan
kalimat itu, Pak? Bukankah Anda
sedang membuka lowongan
pekerjaan dengan posisi sekretaris
di perusahaan ini? Tentu saya
ingin mendapatkan lowongan
tersebut. Agar bisa melayani
Anda," ucap wanita itu dengan
nada menggoda.
Alex langsung melipat kedua
tangannya, lalu memasang
tampang wajah dingin.
"Maaf, Nona. Saya rasa Anda tahu
di mana letak pintu keluar. Karena
saat ini saya sedang mencari
sekretaris yang berkompeten.
Bukan seorang pemain sirkus,"
ucap Alex dengan sarkas, membuat
wanita itu sedikit tersinggung.
"Apa maksud perkataan Anda,
Pak? Kenapa Anda tega
mengatakan saya seorang pemain
sirkus?" tanya wanita itu yang
merasa tidak terima.
Dengan santainya, Alex segera
menjawab pertanyaan dari wanita
itu.
"Saya tidak punya maksud
apa-apa, tapi dilihat dari
penampilan, serta make up Anda
yang begitu mencolok, saya
khawatir membuat klien saya
ketakutan, lalu kabur."
Wanita itu sangat marah, ketika
mendengar Alex yang menghina
dirinya.
"Perkataan Anda sangat
keterlaluan, Pak. Saya juga tidak
Sudi bekerja di perusahaan in.
Semoga neraka menantimu kelak.
Permisi!"
Melihat wanita itu yang keluar
dalam keadaan marah, membuat
Riko yang melihatnya hanya bisa
menggelengkan kepala. la pun
segera masuk ke dalam ruangan
bosnya tersebut.
"Bos. Apa Anda tidak tahu, jika itu
adalah pelamar terakhir. Kenapa
Anda juga menolaknya?" tanya
Riko.
"Saya tidak bisa menerimanya,
Karena dia bukan kriteria yang
saya cari," jawab Alex dengan
santainya.
"Pak Alex, sebenarnya Anda ingin
mencari sekretaris atau mencari
calon istri, yang sesuai dengan
kriteria Anda?"
__ADS_1
...............
Bersambung.