Ceo Perfect Vs Sekretaris Ceroboh

Ceo Perfect Vs Sekretaris Ceroboh
5


__ADS_3

"Apa alasan kamu resign?


Bukankah saya sudah memberikan


gaji yang cukup tinggi kepadamu?"


tanya Alex meminta penjelasan.


Natasha pun segera menjawab


alasan yang sebenarnya.


"Sepertinya saya tidak bisa


mengikuti cara kerja Anda yang


begitu perfect, yang tidak bisa


mentolerir satu kesalahan, walau


sekecil apa pun. Makanya saya


Memilih mengundurkan diri. Saya


harap Anda bisa segera


menemukan pengganti saya, sesuai


dengan cara kerja Anda."


Alex sangat terkejut, ketika


mendengar keputusan


sekretarisnya itu yang sangat


tiba-tiba. Karena saat ini banyak


pekerjaan yang harus mereka


selesaikan.


"Kamu tidak bisa mengambil


keputusan sepihak Natasha. Apa


kamu tidak tahu, jilka perusahaan


sedang banyak pekerjaan? Saya


harap kamu bisa bersikap


Profesional, jangan kekanakan."


Natasha pun semakin kesal saat


mendengar perkataan dari pria itu


barusan.


"Maaf, Pak. Saya sudah berusaha


bersikap profesional, tapi


sepertinya standar Anda terlalu


tinggi. Membuat saya kesulitan


untuk mengimbanginya. Saya


harap Anda mengerti dan


menerima keputusan saya untuk


mengundurkan diri. Kalau begitu


saya permisi."


Setelah mengatakan kalimat


Tersebut, Natasha langsung pergi


begitu saja meninggalkan Alex,


yang saat ini sudah mengepalkan


kedua telapak tangannya.


"Dasar tidak becus! Dia pikir aku


tidak bisa mencari sekretaris yang


lebih berkompeten darinya. Hmm,


kita lihat saja nanti. Aku pasti bisa


menemukan sekretaris yang sesuai


dengan standar ku." Alex berkata


dengan sombongnya. Ketika


menatap kepergian Natasha dari


ruangannya.


Alex pun langsung memerintahkan


Riko asisten pribadinya, untuk


Segera datang ke ruangannya.


"Ya, Bos. Ada apa Anda memanggil


saya?" tanya Riko yang saat ini


sudah berada di ruangan pria


tersebut.


"Sekarang juga kamu sebarkan


pengumuman lowongan pekerjaan


sebagai sekretaris, di media cetak,


serta elektronik," perintah Alex.


Riko sangat terkejut, ketika


mendengar perintah dari CE0-nya


tersebut.


"Memangnya Anda mau


menambah sekretaris lagi, Bos?"


Tanya Riko penasaran.


"Tidak. Barusan Natasha sudah


menyerahkan surat pengunduran


dirinya. Secepatnya kamu harus


mencari pengganti wanita itu,"


pintah Alex sambil merapikan jas


yang ia kenakan.


Riko pun seketika mengerutkan


keningnya. Karena setahu pria itu,


hanya Natasha yang betah menjadi


sekretaris Alex selama ini.


"Natasha mengundurkan diri,


Bos?" tanya Riko yang seakan tidak


percaya.


"Ya, seperti yang kamu dengar.


Sebaiknya kamu segera laksanakan


perintah yang saya berikan."


Riko langsung menganggukkan


kepala, lalu keluar dari ruangan


bosnya tersebut. la segera


memasang pengumuman


lowongan pekerjaan dibeberapa


media, sesuai yang diperintahkan


Alex kepadanya. Riko berharap,


secepatnya bisa menemukan


sekretaris yang sesuai dengan


kriteria bosnya tersebut.


*****


Tak terasa hari pun mulai beranjak


petang. Mobil yang dikendarai


Leon, kini tepat berhenti di depan


rumah kediaman keluarga Nara.

__ADS_1


Namun, dari tadi Nara hanya diam


saja. Seperti tidak berniat keluar


dari dalam mobil. Karena saat ini


ia bingung, jika kedua orang


tuanya tahu kalau ia sudah dipecat


lagi dari pekerjaannya. Karena


kardus yang ia bawa.


"Nara, sudah sampai. Apa kamu


mau aku temani masuk ke dalam?"


tanya Leon kepada wanita itu.


Nara pun langsung menggelengkan


kepala, menolak keinginan pria


tersebut.


"Tidak usah, Kak Leon. Kalkak


pasti lelah habis seharian bekerja.


Nara bisa berjalan sendiri, tidak


perlu ditemani, Kak," tolak wanita


itu.


Ketika ia hendak mengambil


kardus yang berada di belakang


tempat duduknya, seketika ide pun


muncul di benak Nara.


"Kak Leon, aku bisa minta tolong


tidak?" tanya wanita itu dengan


Wajah penuh harap.


"Hmm, Memangnya kamu minta


tolong apa Nara?" tanya Leon.


Nara pun segera menyampaikan


maksudnya kepada pria tersebut.


"Begini, Kak. Kebetulan aku baru


saja dipecat dari perusahaan


tempatku bekerja. Namun, aku


tidak ingin kedua orang tuaku


tahu, tentang masalah ini.


Makanya aku ingin menitipkan


barang-barang pribadiku sama Kak


Leon. Agar mereka tidak curiga.


Aku harap Kakak mau menerimanya.


Aku berjanji, jika


sudah mendapatkan pekerjaan,


aku akan langsung mengambilnya


kembali," pinta Nara dengan nada


mohon.


Seketika Leon pun tersenyum


ketika mendengar permintaan


Nara barusan. Karena bukan


sesuatu yang aneh lagi baginya,


saat mendengar wanita itu dipecat,


dari tempatnya bekerja.


"Kak Leon kenapa tersenyum?


Kalau memang Kakak keberatan,


ya sudah tidak"


boleh menitipkan barang


pribadimu itu padaku," Leon


langsung memotong pembicaraan,


membuat mata wanita itu seketika


berbinar.


"Terima kasih, Kak. Aku berjanji


secepatnya akan mnengambil


barang-barang pribadi ku, jika aku


diterima kerja. Aku juga berjanji


akan mentraktir Kakak, setelah


mendapatkan gaji pertamaku


nanti." Nara berkata dengan


antusias. Karena saat ini ia merasa


lega, Leon mau membantu dirinya.


"Sebenarnya kau tidak perlu


mentraktirku Nara, tapi jika kau


memaksa, ya aku tidak akan


menolak, hehe."


Nara pun tersenyum, ketika


mendengar perkataan Leon


barusan.


"Oh ya, Kak. Jasnya aku pinjam


dulu ya, nanti aku kembalikan,"


ucap wanita itu yang mendapatkan


anggukan dari Leon.


Nara pun tersenyum menatap ke


arah Leon. Sambil berpamitan, ia


lalu turun dari mobil pria itu.


Leon kini hanya bisa menatap


Nara dari kejauhan.


"Hmm, Nara. Walau sedikit


ceroboh, tapi dia wanita yang


sangat menyenangkan. Padahal


saat ini ia baru saja kehilangan


pekerjaan, tapi wanita itu masih


bisa tersenyum tanpa beban.


Semoga saja nanti ada perusahaan,


yang mau menerimanya bekerja."


Setelah mengatakan kalimat


tersebut, Leon segera melajukan


mobilnya dengan perasaan hangat.


Hingga tanpa ia sadari, sebaris


senyuman terukir di sudut bibirnya.


****


Kini kicauan burung pun mulai


saling bersahut-sahutan.


Menambah keindahan suasana


pagi yang datang, menggantikan


malam yang telah berlalu.

__ADS_1


Jam pun sudah menunjukkan


pukul delapan pagi. Alex baru saja


tiba di kantornya bersama Riko.


Pria itu sangat terkejut, ketika


melihat barisan panjang para


pelamar di depan perusahaannya.


"Sudah aku duga, pasti banyak


Yang akan melamar untuk posisi


sekretaris di perusahaan ku. Kerja


bagus Riko. Ayo, kita interview


mereka sekarang juga," perintah


Alex yang sudah berjalan ke


ruangannya, diikuti Riko dari


belakang.


Namun di luar dugaannya. selama


melakukan interview tidak ada


satupun pelamar yang sesuai


dengan kriterianya.


"Bagaimana bos? Apakah pelamar


yang ke-50 itu sesuai dengan


kriteria Anda?" tanya Riko dengan


Alex hanya bisa menggelengkan


kepala, menjawab pertanyaan yang


Riko berikan. Sementara Riko, ia


langsung menghela napas. Karena


ia sudah menduga, hal ini akan


terjadi. Mengingat CEO-nya yang


begitu perfect, dalam memilih


setiap calon pegawai di


perusahaan Power Company.


"Bos, ini pelamar yang ke-51. Saya


harap pelamar yang terakhir ini,


sesuai dengan kriteria Anda," ucap


Riko lalu mempersilahkan seorang


wanita berpakaian ketat, masuk ke


dalam ruangan Alex.


"Hai, Pak. How are you?" tanya


wanita itu sambil mengedipkan


sebelah matanya, membuat Alex


seketika bergidik ngeri.


"Maaf, ada perlu apa Anda datang


ke ruangan saya?" tanya pria itu.


"Kenapa Anda menanyakan


kalimat itu, Pak? Bukankah Anda


sedang membuka lowongan


pekerjaan dengan posisi sekretaris


di perusahaan ini? Tentu saya


ingin mendapatkan lowongan


tersebut. Agar bisa melayani


Anda," ucap wanita itu dengan


nada menggoda.


Alex langsung melipat kedua


tangannya, lalu memasang


tampang wajah dingin.


"Maaf, Nona. Saya rasa Anda tahu


di mana letak pintu keluar. Karena


saat ini saya sedang mencari


sekretaris yang berkompeten.


Bukan seorang pemain sirkus,"


ucap Alex dengan sarkas, membuat


wanita itu sedikit tersinggung.


"Apa maksud perkataan Anda,


Pak? Kenapa Anda tega


mengatakan saya seorang pemain


sirkus?" tanya wanita itu yang


merasa tidak terima.


Dengan santainya, Alex segera


menjawab pertanyaan dari wanita


itu.


"Saya tidak punya maksud


apa-apa, tapi dilihat dari


penampilan, serta make up Anda


yang begitu mencolok, saya


khawatir membuat klien saya


ketakutan, lalu kabur."


Wanita itu sangat marah, ketika


mendengar Alex yang menghina


dirinya.


"Perkataan Anda sangat


keterlaluan, Pak. Saya juga tidak


Sudi bekerja di perusahaan in.


Semoga neraka menantimu kelak.


Permisi!"


Melihat wanita itu yang keluar


dalam keadaan marah, membuat


Riko yang melihatnya hanya bisa


menggelengkan kepala. la pun


segera masuk ke dalam ruangan


bosnya tersebut.


"Bos. Apa Anda tidak tahu, jika itu


adalah pelamar terakhir. Kenapa


Anda juga menolaknya?" tanya


Riko.


"Saya tidak bisa menerimanya,


Karena dia bukan kriteria yang


saya cari," jawab Alex dengan


santainya.


"Pak Alex, sebenarnya Anda ingin


mencari sekretaris atau mencari


calon istri, yang sesuai dengan


kriteria Anda?"

__ADS_1


...............


Bersambung.


__ADS_2