
"Kak Leon," ucap Nara seketika
menegang, saat bertemu dengan
seniornya dalam keadaan
memalukan.
Dulu Leon dan Nara pernah
kantor. Namun, lagi-lagi karena
kecerobohannya, ia harus rela
dipecat dari kantor tersebut.
"Nara ... apa yang sedang kau
lakukan?" tanya Leon sekali lagi,
yang menatap heran.
Mendengar pertanyaan pria itu,
dengan cepat Nara berniat ingin
berdiri. Namun, tiba-tiba rok yang
ia kenakan tersangkut di bangku
taman. Hingga membuat wanita
itu hilang keseimbangan dan
seketika bokongnya langsung
mencium aspal.
Duarr!
"Auuw!" Nara seketika merasakan
sakit yang menjalar di sekujur
tubuhnya.
Melihat hal itu, dengan cepat Leon
ingin membantu.
"Nara kau tidak apa-apa? Ayo, aku
bantu berdiri." Pria itu dengan
cepat mengulurkan tangannya.
Sementara Nara, ia langsung
menganggukkan kepala sambil
menahan rasa malu, di hadapan
pria yang dulu sempat ia kagumi.
"Tersebut kasih, Kak. Jangan
khawatir, aku tidak apa-apa,"
jawab wanita itu sambil sesekali
meringis, menahan rasa sakit di
bokongnya.
Leon pun hanya tersenyum, sambil
menggelengkan kepala.
"Hmm, ternyata sikap ceroboh mu
masih belum hilang juga ya,
Nara?" tanya Leon.
Nara pun jadi sedikit salah
tingkah. Karena ia merasa sikap
ceroboh nya itu sudah mendarah
daging, di dalam dirinya.
"Soal itu ... aku juga tidak-"
"Nara, rok kamu .."
Wanita itu pun mengerutkan
keningnya merasa heran, saat
mendengar perkataan Leon
barusan. Sementara Leon, dengan
cepat ia membuka jas yang
Dikenakannya, lalu ia lilitkan di
pinggang wanita itu, sambil
membuang muka.
"Maaf, aku hanya ingin
membantumu," ucap Leon yang
merasa sedikit tidak enak.
Kini tubuh Nara dan Leon begitu
dekat, membuat wanita itu
seketika menegang. Nara juga
sangat malu. Dia tidak tahu harus
meletakkan wajahnya di mana.
Karena rok yang ia kenakan robek
hingga ke pangkal paha, akibat
terjatuh.
Wanita itu pun langsung menutup
wajahnya dengan kedua telapak
tangan, sambil menahan rasa
malu.
"Sudahlah, jangan menutup wajah
seperti itu. Lagi pula tadi aku
hanya melihatnya sekilas, ucap
Leon, yang kini menggaruk
tengkuknya yang tidak gatal.
Sementara Nara, rasanya saat ini
ia ingin sekali menenggelamkan
dirinya ke dalam kali Ciliwung.
Karena ia sangat malu terhadap
pria tersebut.
"Sebaiknya sekarang kau aku antar
pulang," ucap Leon berusaha
mencairkan suasana.
Nara pun mengangguk, sambil
__ADS_1
mengintip di balik sela-sela
jarinya. Melihat kelakuan wanita
itu, Leon hanya menggelengkan
kepala sambil tersenyum.
"Ayo, Nara. Kita ke mobil
sekarang," ajak Leon.
Nara segera mengambil kardus
yang ia letakkan di bangku taman
tersebut. Wanita itu pun segera
mengikuti Leon dari belakang,
Sambil menundukkan kepala.
Leon yang saat ini sudah berjalan
terlebih dahulu, langsung
menghentikan langkahnya.
Membuat Nara tanpa sengaja
menabrak punggung pria itu dari
belakang.
Bruk ...!
"Aduh ...!" ucap Nara sambil
mengelus keningnya.
"Lain kali kalau berjalan itu jangan
menunduk. Jika seperti itu kamu
akan menabrak setiap orang yang
berada di depanmu."
Mendengar perkataan Leon, Nara
langsung mengangkat kepalanya
sambil berusaha tersenyum, ke
arah pria tersebut.
Kini mereka berdua sudah berjalan
beriringan menuju ke dalam
mobil, dengan perasaan canggung.
****
Sementara di perusahaan Power
Company, Alex sangat marah.
Karena lagi-lagi sekretarisnya
Natasha membuat kesalahan.
"Sebenarnya kamu itu bisa bekerja
atau tidak? Kenapa file dokumen
Pembangunan hotel kita yang ada
di Bali kamu gabungkan dengan
jadwal penerbangan saya ke
Singapura?" tanya Alex yang
meminta penjelasan kepada wanita
itu.
Natasha pun berusaha
menjawab pertanyaan dari CEO
perfect-nya tersebut.
"Begini, Pak. Kebetulan tadi saya
mendapatkan telepon dari
sekretaris Pak Robert, investor
yang akan menanamkan saham di
pembangunan hotel kita yang ada
Di Bali. Pak Robert berpesan, ingin
bertemu dengan Anda minggu
depan di Singapura. Kebetulan dia
ada urusan di sana. Makanya file
tersebut saya gabungkan. Karena
saya pikir, minggu depan Anda
juga akan mengadakan rapat
dengan Pak Liamn di sana," jelas
Natasha panjang lebar, berharap
Alex bisa mengerti.
Namun, bukan Alex namanya jika
tidak mendapatkan julukan CEO
perfect dari para pegawainya.
Karena laporan yang ia terima
harus detail, sesuai dengan urutan,
serta bagiannya masing-masing.
"Apa kamu tidak tahu urusan saya
dengan pak Robert dan pak Liam
itu berbeda?" tanya Alex yang
tidak puas dengan jawaban, yang
diberikan oleh Natasha barusan.
Wanita itu hanya bisa menghela
napas. Karena ia sangat yakin pasti
Alex akan selalu menyalahkan
pekerjaannya.
"Saya tahu, Pak. Urusan Anda
dengan pak Robert dan pak Liam
itu berbeda. Jika pak Robert
membahas tentang pembangunan
hotel di Bali. Sementara pak Liam
membahas tentang perkembangan
Supermarket Anda di Singapura.
Saya rasa tidak ada salahnya saya
__ADS_1
menggabungkan kedua file
tersebut. Karena saya pikir Anda
sama-sama akan melakukan
perjalanan bisnis ke Singapura."
Kali ini Natasha berharap, jika
CEO-nya itu mengerti dengan
penjelasan yang ia berikan.
"Hmm, tapi tetap saja apa yang
kamu lakukan itu salah. Karena
kedua file dokumen ini isinya
berbeda.
Secepatnya kamu bikin laporan
Baru secara terpisah. Saya kasih
waktu 15 menit untuk
memperbaikinya," perintah Alex
yang tidak bisa lagi diganggu
gugat.
Natasha pun segera keluar dari
ruangan pria itu dengan perasaan
kesal. Kali ini kesabarannya sudah
habis. Karena ia sudah tidak
sanggup lagi menahan rasa sakit
hati. Saat bekerja dengan CEO
perfect yang selalu komplain,
dengan hal-hal yang sepele.
Setelah selesai mengerjakan tugas
yang diberikan Alex, ia langsung
Print out surat pengunduran diri
yang sudah lama tersimpan di
laptopnya.
"Ya, sudah saatnya aku resign dari
perusahaan ini. Karena percuma
memiliki gaji di atas UMR, tapi
batinku tersiksa, akibat ulah CEO
perfect itu yang seenak jidatnya.
Aku juga sudah tidak sanggup lagi,
menerima koreksi yang pria itu
berikan. Karena terkadang, apa
yang ia koreksi terlalu berlebihan."
Saat ini Natasha berusaha
menenangkan dirinya. Setelah
merasa yakin dengan keputusan
Yang akan ia ambil, wanita itu
segera pergi melangkahkan kaki ke
ruangan CEO-nya tersebut
"Permisi, Pak. Saya ingin
menyerahkan file dokumen yang
sudah saya perbaiki. Sesuai
dengan keinginan Anda," jelas
Natasha.
Alex langsung mengambil
dokumen tersebut, lalu memeriksa
semua isinya. la merasa puas
karena akhirnya Natasha mau
mengikuti perintahnya.
"Ya sudah, laporan kamu saya
Terima. Kamu silahkan kembali
berkerja," perintah Alex.
Namun, Natasha tetap berdiri di
hadapannya sambil menyodorkan
sepucuk surat untuk pria tersebut.
"Surat apa ini?" tanya Alex yang
merasa penasaran.
"Sebaiknya Anda buka saja, Pak.
Nanti juga Anda akan tahu apa isi
surat tersebut," jawab wanita itu
dengan santainya.
Namun, Alex tidak ingin
memeriksanya. Karena itu hanya
membuang-buang waktunya saja.
"Sebaiknya cepat kamu katakan.
Karena saya tidak ingin
membuang-buang waktu, dengan
hal-hal yang tidak penting," jelas
Alex.
Natasha pun berusaha
menenangkan dirinya. Karena ia
tidak ingin terpancing emosi, saat
mendengar perkataan Alex
barusan.
"Saya ingin menyerahkan surat
pengunduran diri, Pak. Karena
mulai hari ini, saya akan resign
dari perusahaan Power Company."
"Apa? kamu mau resign?
__ADS_1
.........
bersambung