Ceo Perfect Vs Sekretaris Ceroboh

Ceo Perfect Vs Sekretaris Ceroboh
4


__ADS_3

"Kak Leon," ucap Nara seketika


menegang, saat bertemu dengan


seniornya dalam keadaan


memalukan.


Dulu Leon dan Nara pernah


kantor. Namun, lagi-lagi karena


kecerobohannya, ia harus rela


dipecat dari kantor tersebut.


"Nara ... apa yang sedang kau


lakukan?" tanya Leon sekali lagi,


yang menatap heran.


Mendengar pertanyaan pria itu,


dengan cepat Nara berniat ingin


berdiri. Namun, tiba-tiba rok yang


ia kenakan tersangkut di bangku


taman. Hingga membuat wanita


itu hilang keseimbangan dan


seketika bokongnya langsung


mencium aspal.


Duarr!


"Auuw!" Nara seketika merasakan


sakit yang menjalar di sekujur


tubuhnya.


Melihat hal itu, dengan cepat Leon


ingin membantu.


"Nara kau tidak apa-apa? Ayo, aku


bantu berdiri." Pria itu dengan


cepat mengulurkan tangannya.


Sementara Nara, ia langsung


menganggukkan kepala sambil


menahan rasa malu, di hadapan


pria yang dulu sempat ia kagumi.


"Tersebut kasih, Kak. Jangan


khawatir, aku tidak apa-apa,"


jawab wanita itu sambil sesekali


meringis, menahan rasa sakit di


bokongnya.


Leon pun hanya tersenyum, sambil


menggelengkan kepala.


"Hmm, ternyata sikap ceroboh mu


masih belum hilang juga ya,


Nara?" tanya Leon.


Nara pun jadi sedikit salah


tingkah. Karena ia merasa sikap


ceroboh nya itu sudah mendarah


daging, di dalam dirinya.


"Soal itu ... aku juga tidak-"


"Nara, rok kamu .."


Wanita itu pun mengerutkan


keningnya merasa heran, saat


mendengar perkataan Leon


barusan. Sementara Leon, dengan


cepat ia membuka jas yang


Dikenakannya, lalu ia lilitkan di


pinggang wanita itu, sambil


membuang muka.


"Maaf, aku hanya ingin


membantumu," ucap Leon yang


merasa sedikit tidak enak.


Kini tubuh Nara dan Leon begitu


dekat, membuat wanita itu


seketika menegang. Nara juga


sangat malu. Dia tidak tahu harus


meletakkan wajahnya di mana.


Karena rok yang ia kenakan robek


hingga ke pangkal paha, akibat


terjatuh.


Wanita itu pun langsung menutup


wajahnya dengan kedua telapak


tangan, sambil menahan rasa


malu.


"Sudahlah, jangan menutup wajah


seperti itu. Lagi pula tadi aku


hanya melihatnya sekilas, ucap


Leon, yang kini menggaruk


tengkuknya yang tidak gatal.


Sementara Nara, rasanya saat ini


ia ingin sekali menenggelamkan


dirinya ke dalam kali Ciliwung.


Karena ia sangat malu terhadap


pria tersebut.


"Sebaiknya sekarang kau aku antar


pulang," ucap Leon berusaha


mencairkan suasana.


Nara pun mengangguk, sambil

__ADS_1


mengintip di balik sela-sela


jarinya. Melihat kelakuan wanita


itu, Leon hanya menggelengkan


kepala sambil tersenyum.


"Ayo, Nara. Kita ke mobil


sekarang," ajak Leon.


Nara segera mengambil kardus


yang ia letakkan di bangku taman


tersebut. Wanita itu pun segera


mengikuti Leon dari belakang,


Sambil menundukkan kepala.


Leon yang saat ini sudah berjalan


terlebih dahulu, langsung


menghentikan langkahnya.


Membuat Nara tanpa sengaja


menabrak punggung pria itu dari


belakang.


Bruk ...!


"Aduh ...!" ucap Nara sambil


mengelus keningnya.


"Lain kali kalau berjalan itu jangan


menunduk. Jika seperti itu kamu


akan menabrak setiap orang yang


berada di depanmu."


Mendengar perkataan Leon, Nara


langsung mengangkat kepalanya


sambil berusaha tersenyum, ke


arah pria tersebut.


Kini mereka berdua sudah berjalan


beriringan menuju ke dalam


mobil, dengan perasaan canggung.


****


Sementara di perusahaan Power


Company, Alex sangat marah.


Karena lagi-lagi sekretarisnya


Natasha membuat kesalahan.


"Sebenarnya kamu itu bisa bekerja


atau tidak? Kenapa file dokumen


Pembangunan hotel kita yang ada


di Bali kamu gabungkan dengan


jadwal penerbangan saya ke


Singapura?" tanya Alex yang


meminta penjelasan kepada wanita


itu.


Natasha pun berusaha


menjawab pertanyaan dari CEO


perfect-nya tersebut.


"Begini, Pak. Kebetulan tadi saya


mendapatkan telepon dari


sekretaris Pak Robert, investor


yang akan menanamkan saham di


pembangunan hotel kita yang ada


Di Bali. Pak Robert berpesan, ingin


bertemu dengan Anda minggu


depan di Singapura. Kebetulan dia


ada urusan di sana. Makanya file


tersebut saya gabungkan. Karena


saya pikir, minggu depan Anda


juga akan mengadakan rapat


dengan Pak Liamn di sana," jelas


Natasha panjang lebar, berharap


Alex bisa mengerti.


Namun, bukan Alex namanya jika


tidak mendapatkan julukan CEO


perfect dari para pegawainya.


Karena laporan yang ia terima


harus detail, sesuai dengan urutan,


serta bagiannya masing-masing.


"Apa kamu tidak tahu urusan saya


dengan pak Robert dan pak Liam


itu berbeda?" tanya Alex yang


tidak puas dengan jawaban, yang


diberikan oleh Natasha barusan.


Wanita itu hanya bisa menghela


napas. Karena ia sangat yakin pasti


Alex akan selalu menyalahkan


pekerjaannya.


"Saya tahu, Pak. Urusan Anda


dengan pak Robert dan pak Liam


itu berbeda. Jika pak Robert


membahas tentang pembangunan


hotel di Bali. Sementara pak Liam


membahas tentang perkembangan


Supermarket Anda di Singapura.


Saya rasa tidak ada salahnya saya

__ADS_1


menggabungkan kedua file


tersebut. Karena saya pikir Anda


sama-sama akan melakukan


perjalanan bisnis ke Singapura."


Kali ini Natasha berharap, jika


CEO-nya itu mengerti dengan


penjelasan yang ia berikan.


"Hmm, tapi tetap saja apa yang


kamu lakukan itu salah. Karena


kedua file dokumen ini isinya


berbeda.


Secepatnya kamu bikin laporan


Baru secara terpisah. Saya kasih


waktu 15 menit untuk


memperbaikinya," perintah Alex


yang tidak bisa lagi diganggu


gugat.


Natasha pun segera keluar dari


ruangan pria itu dengan perasaan


kesal. Kali ini kesabarannya sudah


habis. Karena ia sudah tidak


sanggup lagi menahan rasa sakit


hati. Saat bekerja dengan CEO


perfect yang selalu komplain,


dengan hal-hal yang sepele.


Setelah selesai mengerjakan tugas


yang diberikan Alex, ia langsung


Print out surat pengunduran diri


yang sudah lama tersimpan di


laptopnya.


"Ya, sudah saatnya aku resign dari


perusahaan ini. Karena percuma


memiliki gaji di atas UMR, tapi


batinku tersiksa, akibat ulah CEO


perfect itu yang seenak jidatnya.


Aku juga sudah tidak sanggup lagi,


menerima koreksi yang pria itu


berikan. Karena terkadang, apa


yang ia koreksi terlalu berlebihan."


Saat ini Natasha berusaha


menenangkan dirinya. Setelah


merasa yakin dengan keputusan


Yang akan ia ambil, wanita itu


segera pergi melangkahkan kaki ke


ruangan CEO-nya tersebut


"Permisi, Pak. Saya ingin


menyerahkan file dokumen yang


sudah saya perbaiki. Sesuai


dengan keinginan Anda," jelas


Natasha.


Alex langsung mengambil


dokumen tersebut, lalu memeriksa


semua isinya. la merasa puas


karena akhirnya Natasha mau


mengikuti perintahnya.


"Ya sudah, laporan kamu saya


Terima. Kamu silahkan kembali


berkerja," perintah Alex.


Namun, Natasha tetap berdiri di


hadapannya sambil menyodorkan


sepucuk surat untuk pria tersebut.


"Surat apa ini?" tanya Alex yang


merasa penasaran.


"Sebaiknya Anda buka saja, Pak.


Nanti juga Anda akan tahu apa isi


surat tersebut," jawab wanita itu


dengan santainya.


Namun, Alex tidak ingin


memeriksanya. Karena itu hanya


membuang-buang waktunya saja.


"Sebaiknya cepat kamu katakan.


Karena saya tidak ingin


membuang-buang waktu, dengan


hal-hal yang tidak penting," jelas


Alex.


Natasha pun berusaha


menenangkan dirinya. Karena ia


tidak ingin terpancing emosi, saat


mendengar perkataan Alex


barusan.


"Saya ingin menyerahkan surat


pengunduran diri, Pak. Karena


mulai hari ini, saya akan resign


dari perusahaan Power Company."


"Apa? kamu mau resign?

__ADS_1


.........


bersambung


__ADS_2