Cerita Cinta Mika

Cerita Cinta Mika
Mimpi Mika


__ADS_3

#CeritaCintaMika


#CintaMasaKecil


Part.1


Mimpi Mika.


"Mia, kamu dimana, Mia... ?!," suara anak lelaki itu terngiang jelas di telinga Mika. Pandangan mata Mika samar melihat sosok bayangan anak kecil seumurnya kini mulai mendekatinya.


"kamu?! siapa ?," tanya Mika dengan suara bergetar, keringat dingin mulai dirasakan menyentuh dan membasahi keningnya.


"Mia, aku menunggu Mia di sini?," perlahan tubuh kecil Mika mendekati sosok bayangan anak lelaki itu. Mika berusaha memperjelas pandangannya, tapi wajah anak laki-laki itu tak nampak jelas.


"Siapa kamu?," ketika tangan anak itu akan menyentuh lengan Mika, tiba-tiba sosok lelaki kecil itu mulai menghilang di telan kabut putih yang menyelimuti pandangan Mika. Mika mengelengkan kepalanya napasnya memburu perasaannya terasa sesak, bola matanya mengitari sekeliling pandangannya mencari sosok lelaki kecil itu tapi lelaki kecil itu telah menghilang, Mika merasa sendirian dan tak lama setelah itu bayangan mobil mengemudi sangat kencang menghempaskan mobil, menabrak pohon dan darah berceceran di sana.


"Tidak?," jerit Mika dan seketika Mika terhentak dari mimpi degup jantungnya mulai dirasakannya lebih keras dari biasanya.


"Hehm, hehm, hehm," napas Mika terengah-engah tak beraturan, ketika ia mulai membuka matanya. Seakan mimpi itu terasa nyata.


Mika mulai mendudukan badannya dari ranjang, sesaat kemudian ia langsung menangis...


Perasaan sedih, takut, dan kalut bercampur menjadi satu seakan semua rasa kini mulai menghantui pikirannya.


Mika mengambil gelas yang terdapat di tekas disamping tempat tidurnya, dengan tergesa ia menuangkan air di dalam teko setelahnya Ia langsung meminum air putih yang ada di dalam gelasnya itu, dengan tubuh yang masih bergetar dan dada yang bergemuruh hebat. Mika mengatur napasnya agar bisa kembali tenang sambil mengusap keringat yang kini mulai membasahi keningnya.


'Ternyata hanya mimpi,' pikirnya saat itu, 


tapi mengapa mimpi itu selalu saja hadir siapa anak lelaki itu?,' tanya gadis itu di dalam hati, dan mengapa setiap kejadian kecelakaan ketika ia kecil dulu selalu membayang-bayangi mimpinya. Trauma itu selalu ada, dan dada Mika terasa sesak memikirkannya. Mika menaruh gelas itu kembali dan mencoba menenangkan hatinya.


Klek...

__ADS_1


Suara pintu kamar Mika terbuka seketika dan sesosok wanita paruh baya menghampirinya dengan raut wajah yang tampak cemas.


"Mika ada apa sayang?, " tanya Farah, kepada putrinya, Farah duduk di samping Mika dan mengengam tangan Mika dengan lembut.


"Mika mimpi lagi ma! mimpi yg sama," suara Mika terdengar memelas sedih.


"Sayang jangan terlalu di pikirkan mungkin itu hanya bunga tidur saja nak," kata Farah sambil membelai rambut Mika yang panjang dengan penuh kasih sayang.


"Tapi ma, ini bukan yang pertama kali... Akhir-akhir ini Mika selalu memimpikan anak laki-laki itu... Dan dari setiap kejadian kecelakan di saat kecil dulu... Tapi... Tapi selalu saja ketika Mika ingin sekali mengingatnya kepala Mika terasa sangat sakit," suara Mika terbata-bata dan mata gadis itu mulai berembun, tetesan air mata kini lolos di kedua mata beningnya.


"Mika sayang sabar nak, mudah-mudahan suatu saat nanti ingatanmu kembali pulih sayang, maafkan mama karena mama nggak bisa jelasin apapun kepadamu," Farah mengatur napasnya yang terasa sesak, tangannya memegang wajah gadis kecilnya itu dan menatap dengan iba.


"Maaf nak, karena ketika kecil dulu kamu tidak dalam pengasuhan mama, maafkan mama sayang, karena dulu tak merawatmu hingga kamu mengalami trauma akibat kecelakan itu!," mata Farah mulai memerah dan Farah perlahan mulai mengigit bibirnya getir.


"Mama yang salah nak, tidak bisa merawatmu dengan baik, karena terlalu sibuk bekerja, tanpa menghiraukan tugas mama untuk bisa lebih menjagamu dengan baik." dan seketika air mata melesat di wajah Farah, menguar menjadi butiran-butiran bening yang tak bisa tertahankan lagi Farah mulai terisak dan ada hati yang kembali merasakan luka.


Wanita paruh baya itu seakan menelan getir rasa penyesalannya yang begitu dalam, kehilangan sosok lelaki yang dicintainya karena sebuah keegoisannya yang lebih mencintai pekerjaannya hingga ia melalaikan sebuah tugas mulia menjadi seorang istri dan seorang ibu untuk ke dua putra dan putrinya.


---Desi.Septiana---


Malam itu hujan lebat disertai petir.


Ketika itu suaminya Tomi baru saja pulang dari kantor, wajah Tomi tampak sangat gelisah ketika ia ingin menyampaikan permintaannya kepada istrinya. Mungkin akan sulit untuk Farah menerimanya tapi bagaimanapun Tomi harus membicarakannya cepat ataupun lambat.


Farah mendekati suaminya dan segera menyiapkan hidangan di ruang makan keluarga, ia mulai memperhatikan suaminya yang akhir-akhir ini terasa ada yang berbeda seakan banyak sekali beban yang ada di dalam pikirannya, Farah mencoba untuk bisa membicarakannya setelah selesai makan nanti.


Setelah makan malam selesai, Tomi ternyata lebih dulu mulai mencoba berbicara kepada Farah tentang keinginannya yang ingin membawa putrinya Mika kembali bersamanya, seakan Tomi tidak bisa lagi membendung keinginannya itu.


"Mah, Mika kapan dibawa pulang? kamu kapan akan berhenti bekerja mah, kasihan Mika, ia tinggal jauh bersama Ibumu disana, anak kita masih terlalu kecil, kasihan Ia sangat butuh kasih sayangmu!," Tomi memulai pembicaraan dimalam itu suaranya pelan mengiba, memberi ruang istrinya agar lebih mengutamakan kedua anak-anaknya.


"Iya pah, Mama juga inget Mika, tapi pekerjaan mama pun nggak bisa ditinggalkan kan," Farah menjawab suaminya dengan ragu.

__ADS_1


Saat itu Farah yang notabenenya seorang wanita karir, seakan bingung untuk bisa memilih. Farah ketika itu selalu saja mengutamakan pekerjaannya. Karena baginya pekerjaannya adalah sebuah kebanggan yang selama ini ia impikan. Hingga ia lebih memilih menitipkan putri kecilnya kepada ibunya yang tinggal berjauhan dari dirinya.


"Terus apa kita harus selalu menitipkan anak kita di Ibumu... Kasihan ibu dan kasihan juga Mika, anak kita masih butuh kasih sayang kita mah, beberapa bulan ini aku sering merindukan Mika, mah?," suara Tomi seakan meninggi, ketika Farah seolah tidak terlalu meghiraukannya untuk membawa putri kecilnya itu kembali.


Berawal dari Tio, anak sulung yang dari kecil sudah dititipkan ke Asrama pondok. Kini Mika pun juga bernasib sama, Tomi begitu merasa iba kepada ke dua anak-anaknya. Tomi menyadari kedua anak-anaknya kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya hingga kesabaran Tomi sudah diambang batasnya. Tomi tak bisa menahan lagi kerinduan pada putri semata wayangnya itu.


"Terus, Mama harus bagaimana pah, masa Mama harus berhenti dari pekerjaan Mama," tanya Farah tak kalah meninggi saat itu.egonya masih tak mau menerima untuk bisa melepaskan karir cemerlangnya yang mulai menanjak.


"Berhentilah bekerja mah, dan rawatlah Mika dan Tio dengan baik, bisnis Papah juga sekarang sudah Alhamdulilah apalagi yang kita cari mah, hidup kita tak kan lama bila kita harus berjauhan dengan anak, bagaimana cara kita mempertangung jawabkannya pada tuhan," bujuk Tomi saat itu dengan wajah yang penuh harapan agar istrinya bisa mengerti keinginannya itu.


"Tapi pah?," ketika Farah akan mengelak, Tomi memotong kata-katanya.


"Sudahlah mah, apa lagi yang kita cari, kalo kita berpisah jauh dari anak-anak kita, Mika masih sangat terlalu kecil, Mika masih ingin mendapatkan kasih sayangmu mah," suara Tomi penuh penekanan seakan Ia memohon pada istri tercintanya. Farah menatap mata suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Air matanya tak mampu menahan keinginan Tomi untuk bisa membawa putrinya kembali. Akhirnya Farah mengalah. Farah berhenti dari pekerjaannya, atas permintaan Tomi.


Ketika akan menjemput Mika, Tomi bersikeras ingin menjemputnya sendiri, tanpa di temani supir pribadinya dan tanpa ingin ditemani Farah, seakan firasat ketika itu sangat jelas. Tapi takdir tak mampu di lawan takdir Tuhan sudah menjadi suatu ketetapan, hanya saja yang Farah yakini saat itu. Tomi ternyata ingin membawa Mika kembali pulang dan mengantikan kehadiran Tomi untuk bisa menemani Farah mengantikannya dengan senyum Mika. Di malam itu Tomi begitu bahagia ketika Farah menyetujuinya untuk membawa Mika kembali tinggal bersamanya.


Karena ketika kecil Mika, dititipkan oleh kedua orang tua Mika dirumah Oma, dikampung yang nun jauh disana di tempat tinggal ibunya Farah. Ketika di tengah perjalanan mobil Tomi yang di tumpangi Mika terhempas menabrak pohon untuk menghindari mobil sedan yang melaju kencang yang berlawanan arah.


Tak lama setelah itu, Tomi dan Mika di bawa ke rumah sakit, Mika yang koma dan Tomi yang dalam keadaan sekarat tak sadarkan diri, beberapa saat kemudian Tomi pun sadar tapi sebelum menghembuskan napas terakhir nya Tomi berpesan agar Farah menjaga Tio dan Mika, Tomi menitipkan Tio dan Mika kepada Farah untuk bisa menjaganya dengan baik dan memberikan kasih sayang seorang ibu seutuhnya, dan tak lama setelah itu Tomi meninggal.


Tapi Mika akhirnya bisa terselamatkan, walaupun harus mengalami masa keritis dan melalui proses medis yang panjang, akhirnya Mika terselamatkan dengan adanya keazaiban Tuhan dan atas doa Farah yang begitu menyesali dari sebuah kegoisannya untuk tetap menjadi wanita karir di bandingkan menjadi seorang istri dan ibu dari kedua anak-anaknya, Farah begitu sangat terpukul dengan kejadian itu. Hingga ia beberapa waktu mengurung diri di kamarnya, tapi semangatnya mulai kembali ketika ia memperhatikan ke dua putra dan putrinya yang masih membutuhkan kasih sayangnya dan sehingga Ia pun harus bertahan hidup untuk ke dua anak-anaknya tercinta.


---Desi.Septiana---


Akhirnya Mika pun menyadari kesalahannya yang mengungkit kisah masa lalu yang suram yang membuat Farah begitu sangat terpukul.


"Maafkan Mika mah, ini semua bukan salah mama ini semua sudah ketentuanNya, jangan menyalahkan mama lagi, Mika nggak mau mamah menangis," Mika memeluk Farah dan Farah pun membalas pelukan Mika.


Di malam itu tangis Farah dan Mika pecah bersamaan.


Seakan setiap kata maaf tidak bisa terganti dengan sebuah kata penyesalan.

__ADS_1


Mika bejanji untuk tidak mengungkitnya lagi, walau Mika begitu sulit mengenang kisah di masa lalunya. Karena Mika harus mengalami amnesia. Di malam yang naas itu, Mika harus kehilangan kenangan masa kecilnya.


#Bersambung.


__ADS_2