
#CeritaCintaMika
#CintaMasaKecil
Part.2
Persahabatan Mika.
Setelah sholat subuh, pagi ini Mika bergegas mandi dan menyiapkan segala perlengkapan belajar yang akan ia bawa ke sekolahnya. Jam masih menunjuk angka enam pagi. Mika melihat Farah dan Bi Kimi yang menyiapkan berbagai macam hidangan makanan untuk keluarganya. Mika mendekati Farah memeluknya dari belakang dan menyapanya dengan wajah manisnya. Membuat Farah terkejut dan membalas senyum manis kepada putri semata wayangnya itu.
"Assalamulaikum mamahku cantik," sapa Mika mengucap salam sambil kembali melepas pelukannya kepada mama tercintanya.
"Waalaikumsalam sayang," jawab Farah sembari membalas senyum Mika, dan kembali sibuk dengan mempersiapkan hidangan dipagi hari.
"Udah kamu siapin perlengkapan sekolah yang harus kamu bawa kesekolah sayang," tanya Farah.
"Iya udah mah, mana kak Tio?," tanya Mika sambil celingak-celinguk, matanya melirik ke sekeliling ruang makan mencari sosok lelaki yang tinggal dirumahnya itu.
"Kak Tio tadi udah Mama bangunin, Mama lihat dia sholat tapi nggak tahu tuh, belum keluar juga dari kamarnya sepertinya dia tidur lagi, mungkin kelelahan pulang dari kantor, kamu bangunin lagi sana entar kamu terlambat lagi," jawab Farah sambil pergi mengambil makanan yang baru dimasak oleh Bi Kimi karena masih sibuk mempersiapkan makanan di meja makan.
Tio Alfarizi.
Adalah kakak kandung Mika satu-satunya. setelah Tomi, papah yang di cintainya meninggal, Tio mengemban tugas untuk bisa menjadi seorang CEO muda di perusahaan milik papahnya saat itu. Karena Mika dan Tio terpaut umur yang jauh berbeda. Tio pria Muda berusia 24 tahun, berperawakan tinggi, berwajah tampan dan manis seorang kakak penyayang yang sangat baik hati dan ramah.
Sedangkan Mika gadis manis berusia 14 tahun, cantik dan lincah selalu smart dan banyak disukai oleh teman-temannya dan menjadi gadis populer disekolahnya karena banyaknya cowok yang memperebutkannya untuk menjadi kekasihnya disekolahnya.
Saat mika di titipkan di kampung halaman tempat ibunya berada, Mika masih terlalu kecil dan Tio sudah bersekolah di Asrma pondok.
Tio pria yg mandiri dan ia sangat menyayangi Mika dan mamahnya. Setelah Tomi tiada, Tio rela mengorbankan masa mudanya untuk menjadi tulang pungung di dalam keluarganya, bagi Farah Mamah tercinta dan Mika adik semata wayangnya.
Rasa sayang Tio kepada keluarganya bagitu besar hingga ia tak ada waktu untuk memikirkan hal lain selain Mamah dan Mika adik tercintanya, Tio sampai harus mengorbankan kehidupan pribadinya sendiri karena lebih mengutamakan Mika, Ia tidak ingin Mika merasa kehilangan sosok papah walau pun Tio sedikit agak usil tapi bagi Mika, Tio adalah Kakak yang terbaik dan Mika sangat menyayangi kakak yang selalu bertangung jawab dalam kehidupannya itu.
Klek... Mika membuka kenop pintu kamar Tio nampak seorang lelaki dengan perawakan tinggi sedang rebahan diatas sajadah.
"Kak bagun, udah pagi cepet bangun!?," wajah Mika hanya terpelongo di depan pintu kamar Kakaknya.
"Hem, kamu ganggu aja" jawab Tio sambil mengeliat, dengan wajah malasnya.
"Kak Tio, cepet bangun anterin Aku ke sekolah!" rengek Mika manja. Mika menghampiri Kakaknya itu dengan wajah yang tertekuk.
"Berangkat sendiri aja dong udah gede ini masih mau dianterin aja," goda Tio dengan manis, sambil menguap dan menahan uapan nya dengan tangan.
"Aku maunya dianterin Kakak," Mika mendekati Tio sambil megoyang-goyangkan tangan Tio agar Tio bagun dari rebahannya.
"Iya bawel ntar kak Tio ganti baju dulu baru anterin kamu, cepet kamu makan entar kamu telat lagi," jawab Tio sambil membangunkan tubuhnya dan tidak lupa mencubit pipi adik kesayanganya Itu, sekilas Mika meringis sambil memegang pipinya menahan rasa sakit dari keusilan sang kakak seketika tanpa berpikir panjang Mika pun akhirnya refleks menepuk bantal ke wajah Tio untuk membalas kejahilan Tio yang sudah mecubit pipinya, Mikapun berlari untuk menghindari kejahilan kakaknya yang akan membalasnya.
"Baiklah kak aku makan dulu ya," Mika tersenyum sambil menjulurkan lidahnya ke Tio, yang mengaduh ketika bantal guling itu terkena wajahnya.
"Mika ...!?," Ucap Tio agak sedikit berteriak, Mika bukannya menjawab malah pergi meninggalkan Tio. Tio tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepalanya sambil bergegas pergi kekamar mandi untuk bersiap-siap mengantarkan adik tersayangnya.
---Desi.Septiana---
Pagi ini dering bell sekolah berbunyi di setiap penjuru sekolah. Bertepatan dengan itu Tio telah sampe mengantarkan Mika di depan gerbang pintu sekolah.
Mika bergegas keluar dari mobil dan segera pamit kepada Tio.
"Kak, aku udah telat aku masuk dulu ya," pamit Mika seraya mencium punggung tangan Tio dan sekejab kemudian ia berlari-lari kecil untuk masuk ke dalam lingkungan sekolan karena takut terlambat, untung saja saat itu pintu gerbang masih terbuka. Mika langsung menuju kelas dan langsung menuju tempat duduknya di bangku pertengahan para siswi kelas 9A.
__ADS_1
Disana juga telah menunggu ke Tiga sahabatnya Lea, Anatasya, dan Marsella. Mika di sambut dengan senyum ke tiga sahabatnya itu.
"Assalamualaikum, man-teman ?," sapa Mika sambil meletakan tasnya dimeja tempat duduk Mika.
"Walaikum salam," berbarengan ke tiga sobatnya itu menjawab.
"Mika kenapa lo telat si? nggak biasanya," tanya Marsella yang langsung duduk di samping Mika, sambil menatap sahabatnya itu.
"Ia Mik, ko lo telat si? kitakan khawatir gue kira lo nggak sekolah, gue wa tapi hp lo nggak aktif-aktif" ujar Lea menimpali. Mika hanya tersenyum sambil tak lupa ia menggeradah tasnya untuk mencari ponsel yang belum ia aktifkan.
"He he, ia gue lupa ngaktifin hp gue, lagian sekali-kali nggak apa-apakan bikin kalian khawatir hehehe," sahut Mika ngeyel, Ia nampak tak terlalu memperdulikan protes teman-temannya, Mika malah asik menghidupkan handphonenya siapa tahu ada pesan masuk yang belom sempat terbaca.
"Dasar lo Mik... hem " sewot Anatasya, sambil mendegus kesal.
"Ya udah deh yang penting lo nggak kenapa-kenapa untung aja ibu Lusi belum dateng kalo nggak lo siap-siap aja di hukum hehehe" Anatasya tertawa cekikikan sambil meledek.
Mika hanya menatap kesel ke sobat yang satunya itu, Anatasya termasuk sahabat yg sering ceplas-ceplos dan kekanak-kanakan kepolosannya terkadang membuat sahabat-sahabatnya jengkel, tapi dengan berjalannya waktu Mereka bisa memahami sifat masing-masing.
"Jangan nyumpahin gue gitu juga kali," Mika berbicara sambil memanyunkan bibir nya beberapa centi.
"Hehehe sory Mik, hehe jangan ngambek gue cuma bercanda kok" Mika menyambut perminta maafan Anatasya dengan senyum sumringahnya.
Beberapa saat kemudian Vani berlari-lari kecil sambil duduk di jajaran tempat bangku Mika berada.
"Lo dari mana Van? " Tanya Mika yang bertanya pada sahabat yang baru datang nya itu,
Vani menoleh kepada sahabatnya itu seketika Mika tampak tersenyum melihat Vani tampak ngos-ngosan seperti di kejar anjing galak. Di iringi dengan senyum Marsella dan Lea dan tawa lepas Anatasya yang langsung membuat Lea memukulnya agar Anatasya menghentikan gelak tawanya yang berlebihan yang tampak sekali meledek Vani. Hingga menjadi pusat perhatian dari penghuni kelasnya. Tapi sejenak kemudian teman-teman sekelas pun sudah kembali dengan aktifitasnya masing-masing karena telah mengetahui karakter seorang Anatasya yang kekanak-kanakan.
"Gue habis dari toilet kebelet pipis, takut terlambat entar dihukum bu lusi hehe" jelas Vani dengan wajah yang tampak kelelahan. Mika menyodorkan Air botol bekelannya kepada Vani untuk meredakan rasa haus dan lelahnya.
"Nih minum," tanpa basa-basi Vani langsung membuka tutup botol dan langsung meminumnya meneguk airnya hingga terasa kerongkongannnya kini terasa nyaman kembali.
"Banyak amat Van entar lo ngompol lagi hahaha... " Gelak tawa anatasya meledek sahabatnya itu karena nampak lucu ketika Vani nampak begitu kehausan dan menghabiskan setengah air dari botol yang diberikan Mika.
"Dasar lo Nas suka banget buly orang " Marsella hanya mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Sory Van gue kan cuma ngingetin aja hehe" ucap Anatasya sambil cengengesan,
"Iya deh gimana elo aja Nas yang penting lo seneng aja hehe... Lo kan suka nyebelin gitu " Vani yang sudah biasa dengan sikap temannya itu akhirnya hanya bisa memakluminya saja. Kompak sahabat-sahabatnya yang lain tersenyum dan tertawa bersamaan.
Beberapa saat kemudian semua muridpun duduk yang rapi di tempat masing-masing ketika ibu Lusi guru mata pelajaran matematika telah dateng ke kelasnya. Dikarenakan waktu pelajaran yang akan segera dimulai.
---Desi.Septiana---
Bell sekolah tanda istirahat pun berbunyi, Murid-murid Smp Tunas Harapan Bangsa berhaburan keluar dengan berbagai aktifitasnya ada yang ke kantin, ada yang masih di kelas sambil nyemil bekelannya dari rumah ada yang kebelet pipis dan buru-buru terbirit-birit ke kamar mandi dan banyak lagi dengan aktivitasnya masing-masing.
Tapi seperti biasanya Mika, Lea, Marsella, Anatasya dan Vani, janjian untuk nongki-nongki di kantin, ke lima sahabat itu dengan sumringah memasuki area kantin sekolahannya. Seperti biasa Mika dan Lea berburu mencari bangku yang kosong untuk menandai kalo bangku telah terisi oleh ke lima gadis itu. Sedangkan ke tiga sobatnya Marsella Anatasya dan Vani sibuk memesan makanan. Setelah memesan makanan mereka kembali mencari Mika dan Lea yang sudah lama menunggu pesanan mereka.
"Gimana udah pesen baso nya ke Mas Iwan?," tanya Mika ketika melihat temen-temannya datang.
"Iya udah, kaya nya ngantri deh," jawab Anatasya sambil duduk di samping Lea. Dan berbarengan Marsella dan Vani ikutan duduk disamping Mika.
"Sabar dulu aja entar juga dianterin," ujar Lea sosok temen yang paling sabar dan dewasa.
"Iya, tapi perut gue udah keroncongan" Anatasya menimpali.
"Sama gue juga," celoteh Vani ikut-ikutan.
__ADS_1
"Ya elah paling beberapa menit juga dah nyampe sabar dulu aja kali, kalian ini kaya orang kelaperan aja," potong Marsella agak sedikit jengkel seketika, hingga membuat temen-temannya tertawa dan saling melirik.
Setelah menunggu kurang lebih 10 menit Mang Iwan dan pelayannya mengantarkan baso, mie ayam dan juice pesenan ke lima gadis-gadis itu.
Langsung saja Anatasya dan Vani dengan sigap menyantap makanannya berebutan membuat ke tiga teman-temannya refleks tertawa melihat tingkah Vani dan Anatasya yang tidak sabaran.
---Desi.Septiana---
Selesai makan ke lima gadis itu Asik kongke-kongke nggak jelas, Marsella yang asik ngobrolin tentang pacarnya ke Mika dan Lea yang dengan ikhlas mau mendengarkan curhat sobatnya itu, Vani yang sibuk dengan hp nya melihat-lihat status facebook dan ig teman-teman sosmednya dan Anatasya yang masih sibuk makan.
Deris pacar Marsella nggak sengaja juga melihat keasikan lima gadis itu, matanya tertuju pada Marsella.
Gadis yang akhir-akhir ini dirindukannya karena telah menjadi kekasihnya gadis itu akhirnya menjadi miliknya setelah beberapa cara di lakukan Deris untuk meyakinkan Marsella agar Marsella mau menjadi pacarnya. Deris langsung menghampiri ke lima gadis itu.
"Hai guys, kalian pada ngapain?," sapa Deris dengan sedikit berteriak sembari mengebrakan meja dan langsung meberikan senyum lebarnya.
Marsella menoleh ke suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya berbarengan ke tiga sahabatnya pun sama-sama menoleh pada cowok yang baru datang itu, Anatasya yang doyan makan dan sedang menghabiskan makanan sisa Lea karena Lea tidak menghabiskan makanannya tersedak, karena kaget.
"Uhuk... uhuk... uhuk " tangan Anatasya langsung mengambil gelas yang berisi air yang berada di depannya, Anatasya langsung meminumnya dan menghabiskannya.
"Ya ampun lo Der, bikin Tasya kaget aja!" Mika mendumel ketika melihat sobatnya tersedak.
"Eh sory-sory Nat hehehe" ujar Deris sambil nyengeh dengan senyum nyengirnya.
"Iya nggak apa-apa" jawab Anatasya setelah sedikit agak baikan, dan menepuk-nepuk dadanya perlahan.
"Lo mau ngapain pasti mau nyari Marsella," celoteh Lea sambil melirik Marsella, Marsella cuma senyam-senyum mesem semburat rona merah telah terpancar di wajah cantiknya.
"hehehe iya gue mau cari Marsella, kangen ke pacar gue yang cantik ini wajarkan " sahut Deris, seketika ke tiga sahabat Marsella terseyum berbarengan, hanya Vani saja yang nampak tak bersemangat, wajah Vani tampak seperti tak menyukai dengan kedatangan Deris menemuai Marsella.
"Ya udah Sell pergi sama pacar lo sana," usir Mika menggoda sobatnya itu.
"Jangan marah dong Teman-teman " ujar Marsella dengan wajah yang memerah.
"Hehehe nggaklah lo kan baru pacaran" jawab Lea sambil tersenyum.
"Oke gue pergi dulu ya, tunggu gue dikelas aja hehehe," ucap Marsella sambil beranjak berdiri dengan senyum yang selalu terpancar di matanya.
"Yeeui geer siapa juga yang mau nunggu elo disini" celoteh Vani sambil tersenyum kecut dan memutar bola mata malas.
"Hehehe iya deh, gue pergi dulu ya" Marsella mendekati Deris, sambil malu-malu menghampiri kekasihnya itu.
"Thanks ya, gue ma Sella cabut dulu daah!" pamit Deris sambil memegang tangan Marsella dan Marsella pun mengikuti langkah Deris meninggalkan teman-temannya.
"Apaan si, si Deris tu nyebelin banget ngenganggu kebersamaan kita aja semenjak Marsella pacaran, perasaan jadi sibuk sama si Deris mulu ish... nyebelin banget si," celoteh Vani sewot dengan muka masamnya.
"Kok gitu si Van merekakan lagi pacaran," tanya Mika sambil mengernyitkan dahinya, melihat tingkah Vani yang tampak tak suka melihat Marsella berpacaran dengan Deris.
"Ya... Hem... Marsella kan lagi sama kita ngapain juga mesti di ajak-ajak sama Dia, kaya yang nggak ada waktu aja, ini kan tempat sekolahan bukan tempat pacaran" sunggut Vani seketika agak kikuk dan terbata mencari alasan yang tepat.
"He lo cemburu ya? " tanya Anatasya sambil menunjuk jari tengahnya pada Vani dan menatapnya dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Ish... siapa juga yang cemburu, punya cowok gitu gue si ogah," timpal Vani menutupi dari setiap perasaan hatinya yang gelisah karena Vani di dalam hatinya ternyata menyimpan rasa suka kepada Deris.
"Iya maksud gue lo cemburu karena Marsella udah punya pacar sedang kita Jones, ya kan hehehe" sahut Anatasya sambil nyegir menggoda Vani, ke dua sahabatnya Mika dan Lea ngikut nyegir dengan tingkah Anatasya.
"Nggak kok, ngapain juga mesti cemburu," elak Vani.
__ADS_1
"Udah-udah kalian ini ribut mulu ayo kita pergi ke kelas," kata Lea menenangkan dan mengajak ke tiga sahabatnya pergi kembali ke dalam kelasnya. Setelah membayar makanannya ke empat gadis itu pun kembali kedalam kelas.
#Bersambung