
Gua langsung ngejar si Meldo keluar. Dia jalan nya cepat banget, buat gua kuwalahan ngejer dia.
"Eh tunggu dong kak." ucap gua sambil lari.
Seketika Meldo berhenti dengan ekspresi yang gak bisa gua tebak.
"Apa?." Jawab dia ketus.
"Emm, kita duduk disitu yuk, sambil biacarain hal ini."
Gua sama Meldo duduk dibangku kecil dekat trotoar taman. Didepan taman terdapat lapangan badminton yang setiap sore nya selalu rame dengan orang-orang yg main badminton disitu.
"Kak, kenapa kakak menyetujui pernikahan nya tiba-tiba?." tanya gua penasaran.
"Ya lo juga, kenapa pasrah gitu aja? Yaudah gua ikutan aja."
"Hah? Terus gimana sama kuliah kita?."
"Gini yaa.. Kita nikah cuma sebatas status diatas kertas aja. Gak lebih dari itu. Setelah menikah, kita urus diri masing-masing aja. Lo urus urusan lo, gua urus urusan gua. Lo mau ngapain aja, terserah, mau punya pacar juga terserah. Begitu juga gua, gua mau ngapain aja terserah gua, dan lo gak usah ikut campur dengan urusan gua, begitupun sebaliknya. Deal?." ucap Meldo dengan tampang serius nya.
"Terus? Tinggal kita gimana kalo udah nikah?."
"Kita tinggal di apartment aja, gak usah di rumah orang tua gua. Masalah biaya, lo gak usah pikirin. Tabungan gua cukup untuk bayar sewa apartment selama setahun."
"Tapi kalau orang tua kita gak ngijinin, gimana?."
"Banyak nanya deh lo. Udah, lo gak usah pikirin itu. Serahin semua sama gua. Gua cape banget harus nurutin mau nya Papa terus. Pokoknya, ikutin aja alur dari gua." ucap Meldo dengan lantang.
Gua menunduk dan berpikir banyak atas omongan yang udah di sampaikan Meldo tadi.
"Yuk balik, kita suruh para orang tua rese itu mengurus gereja untuk pemberkatan pernikahan kita." ucap Meldo sambil berdiri.
Gua kaget dong, kenapa secepat ini?
"Kak, harus secepat ini juga ya?." tanya gua dengan paniknya.
"Biar urusannya cepat selesai. Gua udah males sama semua ini. Kita pemberkatan aja dulu. Dihadirin beberapa keluarga aja. Resepsi nya kapan-kapan, atau gak usah aja sekalian." ucap Meldo langsung pergi gitu aja.
Gua gak ngikutin dia. Gua kembali duduk sambil nunduk dan nutupin muka gua dengan kedua tangan. Gua gak abis pikir kalo hidup gua bakal kayak gini jadinya. Jujur sih, gua seneng nikah sama Meldo karena dia yang gua taksir selama ini. Tapi disisi lain, gua gelisah juga, takut kalo Meldo semena-mena sama gua karena dia gak ada rasa cinta sama sekali sama gua.
Gua gak tega sebenarnya ngejalanin rumah tangga ini dengan penuh drama, dengan perjanjian-perjanjian konyol macam tadi. Itukan berarti gua udah termasuk membohongi orang tua gua.
Akhirnya gua memutuskan untuk balik kerumah. Sesampai dirumah, gua heran karena rumah sepi. Cuma ada Meldo diruang tamu sambil makan cemilan dan mainin handphone nya.
"Kok sepi kak? Pada kemana ya?." ucap gua heran.
"Ke gereja, ngurus semuanya." jawab Meldo tanpa memandang gua dan fokus sama handphone nya.
__ADS_1
"Kok kita gak ikut?."
"Biarin aja mereka yg urus dan mereka yg repot. Kan mereka yg mau kita nikah. Ngapain sih lo mikirin banget?."
"Gua mau tidur ah, cape banget dari nyampe tadi belom ada tidur. Kamar lo mana?." lanjut Meldo dan berdiri.
"Eh? Hah? Tidur di kursi aja." ucap gua gugup.
"Lah? Nanti kan mereka pulang lagi. Masa iya gua tidur disini?."
"Yaudah, itu kamar gua yg nomor 3. Jalan lurus aja."
Meldo langsung beranjak dan masuk ke kamar gua. Gua panik banget, semoga aja dia gak bongkar-bongkar. Dan untungnya, gua udah beresin semua pakaian-pakaian kedalam lemari.
((skip...skip))
Papa nya Meldo, Mama dan Papa balik kerumah. Dan gua langsung manggil Meldo dan bangunin dia. Gua sama Meldo pun beranjak ke ruang tamu.
Kita semua duduk dengan tenang diruang tamu. Gua liat Meldo yang menopang tangan kanan nya di dagu nya karena dia masih ngantuk berat.
Mereka menceritakan semua proses pemberkatan. Mama bilang, pihak gereja tidak menerima pemberkatan pernikahan kalau tidak ada catatan dari sipil terlebih dahulu. Itu berarti, pernikahan ini akan diadakan dalam beberapa hari kedepan.
Malam harinya, gua duduk di gazebo kecil yang ada di halaman depan rumah sambil liat-liat pesan masuk di handphone gua.
Gak lama, si Nita nelfon..
"Lah? Kok lemes gitu? Kenapa?." ucap nita heran.
"*Nit gimana dong? Hiks... Hiks..."
"Lah? Kok nangis? Lo kenapa?
"Gua mau nyeritain sesuatu, tapi lo jangan bilang-bilang ya?."
"Iya, kenapa*?."
Gua menceritakan semuanya sama Nita. Dan dia kaget sekaligus syok denger penjelasan gua termasuk perjanjian konyol yang dibuat Meldo.
"Ya Allah, Tesiii.. Lo yang sabar ya. Tenang aja kalo lo udah balik kesini, gua bakal ngasih peringatan ke Meldo biar dia gak seenaknya sama lo." ucap Nita dengan penuh yakin.
Gak lama, tiba-tiba ada yang duduk disebelah gua. Dia Meldo, dan gua kaget.
"Hallo nit, udah dulu ya. Byee." tanpa menunggu respon Nita, gua langsung matiin telfonnya.
"Nelpon siapa?." tanya Meldo.
"Temen." ucap gua sedikit segan
__ADS_1
"Besok kita disuruh ke capil buat urus semuanya. Huh, ribet banget dah. Mana gua harus ngerjain skripsi lagi."
"Emm, kakak udah sempro belum?."
"Belum, masih beberapa yang harus di perbaiki. Kesel."
"Yaudah, nanti kalau udah nikah nanti, kakak fokus urus skripsi aja."
"Ya harus. Gua juga udah biacara sama orang tua kita tadi, kalo mereka gak usah usik-usik soal anak setelah kita nikah nanti."
Seketika gua terdiam dan merenungkan semuanya. Sungguhkah?
"Eh, nama lo siapa tadi? Lupa gua." tanya Meldo.
"Tesi.."
"Oke.."
"Masalah tempat tinggal itu, udah kakak sampein belum ke mereka?."
"Belum, nanti aja pas udah nikah. Selesai pemberkatan langsung gua bilang ntar."
Gua mengangguk yakin sama ucapan Meldo.
"Emmm, kakak ada pacar?." tanya gua dengan pelan.
"Gak ada. Lo tenang aja. Gua gak suka berurusan soal cinta. Tapi kalau lo punya pacar, lo lanjut aja hubungan itu, gapapa."
"Eh, engga kok. Gua gak ada pacar." ucap gua.
"..... Emmm kak? Walaupun pernikahan kita hanya sebatas status diatas kertas, gapapa kan kalo sewaktu-waktu gua perhatian sama kakak dan khawatir sama kakak?." ucap gua dengan hati-hati.
Meldo keliatan kaget dan diam sejenak..
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca 💞
__ADS_1