CERITA TIDAK TERSRDIA

CERITA TIDAK TERSRDIA
Wedding Day..


__ADS_3

.. Meldo POV ..


'Kenapa dia ngomong gitu ke gua? Apaan sih ni cewek! Bikin gua baper aja." gua membatin dalam hati.


"Ya terserah lo ajalah." ucap gua.


--------------------


.. Rain POV ..


"whaaaaattttttttt?!! Nikah sama meldo? Lo serius? Si Tesi nya lagi halu kaliiii."


Gua sama Nita ketemuan di cafe kecil yg gak jauh dari kosan kita. Nita buru-buru ngajak gua ketemu karena mau nyeritain sesuatu katanya. Saat sampai, dia langsung nyeritain semuanya dan itu buat gua kaget setengah mati.


"Tesi nya sendiri yang bilang sama gua Rain, masa iya gua boong. Dia aja sampe nangis karena gak mau di kawinin." ucap Nita serius.


"Terus, kita ngga diundang nih?."


"Kayaknya ngga deh. Soalnya nikahannya pun tertutup. Cuma keluarga doang yg hadir."


"Astaga Tesiiiii.. Disisi lain, dia beruntung sih bisa nikah sama cowo yang dia suka selama ini. Tapiiii, masalahnya ada di Meldo, tu orang gak cinta sama Tesi. Gua takut kalo Tesi tersakiti ntar."


"Ih Rain, lo apaan sih. Jangan ngomong gitu ah. Doain aja yg terbaik buat mereka."


((skip...skip..))


.. Tesi POV ..


Beberapa hari kemudian, tiba lah hari itu, hari dimana gua akan bersanding sama seorang pria yang gua kagum-kagumi selama ini. Bertatapan dengan cermin yang ada dihadapan gua, gua berbicara dalam hati dan memohon doa pada Tuhan agar gua diberikan Berkat yang melimpah untuk bisa menaungi rumah tangga ini.


Setelah beberapa jam, akhirnya gua selesai di rias dan langsung keluar kamar. Diluar, semua udah pada nunggu gua. Ada tambahan tamu, yaitu Mama nya Meldo yang baru nyampe semalam dan langsung mengikuti upacara pernikahan ini.


Di ruang tamu, kita berdoa sebentar agar pernikahan ini berjalan dengan lancar. Sesudah itu, gua langsung masuk mobil dengan di tuntun oleh Mama Papa. Gua degdegan sekaligus takut. Selama di perjalanan gua gak berhenti untuk memanjatkan Doa pada Tuhan.


((skip..skip..))


Di ujung Altar sana sudah ada pria yang akan bersanding dengan gua sekaligus menyambut gua diujung Altar.

__ADS_1


Dengan perlahan, gua berjalan sambil di tuntun Papa, dengan pertanda, kalau Papa akan menyerahkan gua kepada orang yang akan di percayakannya untuk menemani gua di masa yang akan datang.


Sesampainya di Altar, Papa memberikan tangan gua kepada Meldo, dan Meldo menyambut itu. Kita langsung duduk, karena acara awal ialah beribadah terlebih dahulu. Sesudah itu, sumpah pernikahan akan di ucapkan.


"Kalo ada waktu yang tepat dan pas, kita bisa cerai.!! " Bisik Meldo ke gua.


Sontak gua kaget dan langsung menatap dia yang ada di samping gua.


"Soal itu kita bisa bicarakan nanti.!!!." Bisik gua namun terlibat tegas.


20 menit acara Ibadah itu berjalan dengan sakral. Gua sama Meldo langsung bertekuk lutut dan seorang Pastor memberkati kita dengan doa-doa dan segala permohonan dengan sakral.



Setelah itu, kita langsung berdiri dengan berhadapan dan saling menatap. Gua gak sanggup natap mata Meldo. Meldo menatap gua dengan sedikit termenung. Gak tau apa yang ada didalam pikirannya saat ini. Setelah itu, Pastor memberi instruksi pada kita untuk mengucapkan janji pernikahan.


Janji ucapan pernikahan itu begitu manis terdengar dari bibir Meldo. Tapi gua yakin, itu hanya sebatas kata dan betapa dosa kami berjanji dengan semena-mena di hadapan Tuhan. Saat giliran gua mengucapkan janji itu, air mata gua gak tertahan. Gua bener-bener gak sanggup mengucapkan janji palsu ini di hadapan Tuhan.


Dan akhirnya, gua sama Meldo SAH menjadi suami istri..


Gaun yang gua pake cukup ribet dan gak nyaman. Akhirnya gua memutuskan untuk ganti gaun lebih enteng dan nyaman.


Setelah berganti dan kembali menuju tempat keluarga berkumpul, Mama manggil gua dan nyuruh gua ke taman samping untuk melakukan sesi foto bersama Meldo.


Dengan berbagai pose sang fotografer dengan semangatnya memotret gua dan Meldo. Sederhana aja sih memang. Gak yang wah banget. Tapi jujur, gua bahagia banget nget nget..



Setelah selesai foto, kita lanjut makan dengan keluarga. Sesi makan berlangsung dengan tenang. Sampai semua selesai, Meldo membuka suara perihal tempat tinggal yang akan kita huni nantinya.


"Mah, Pah.. Meldo mau bicara dan tolong dengar secara seksama." tegas Meldo.


"Meldo dan Tesi akan tinggal sendiri, dan gak akan tinggal di rumah Mama Papa. Rencana, kita bakal tinggal di apartment. Sewa apartment udah aku bayar. Tinggal di tempatin aja. Dan jangan ada yg membantah." tegas Meldo yang yakin dengan perkataan nya.


"Terserah kamu saja Meldo. Asalkan kamu jaga Tesi dengan baik-baik." ucap Papa meldo.


((skip..skip..))

__ADS_1


.. Meldo POV ..


Saat sedang berbicara santai usai selesai makan, tiba-tiba Mama mertua gua manggil.


"Meldo, boleh kita bicara?." ucap Mama mertua.


"Ya, boleh mah." ucap gua sambil bingung.


"Tidak disini. Ayo ikut Mama."


Gua ngikutin Mama. Dan sekarang kita ada di halaman dan berbicara di balik mobil.


"Meldo, Mama tau, kamu tidak mencintai Tesi. Karena biar bagaimana pun, pernikahan ini mendadak dan terkesan terburu-buru. Tetapi, walaupun kamu tidak mencintai Tesi, bolehkan Mama memohon sesuatu padamu?." ucap Mama mertua yang buat gua degdegan.


"Bo..boleh mah." ucap gua dengan gugupnya.


"Tolong, kamu jaga dia dengan baik. Perhatikan segala perbuatan yang akan menyakitinya. Jangan kasar sama dia.. Kamu tenang aja Meldo, Mama udah bicara sama Tesi mengenai kewajibannya sebagai seorang istri. Yakni, yg selalu menghormati mu, dan memberikan yg terbaik buatmu. Bisakah kamu berbuat demikian, Meldo?." ucap Mama mertua dengan penuh harap.


" Mah, Meldo akan lakukan apa yang Mama minta. Walaupun sikap Meldo seperti ini, tapi gak pernah sekalipun Meldo berbuat kasar pada wanita Mah. Mama tenang aja, Meldo akan jaga Tesi dengan baik." ucap gua dengan penuh keyakinan.


Setelah itu Mama mertua meluk gua dengan hangat.


"Semoga kalian bahagia selalu ya nak."


.


.


.


.


.


.


Terimakasih yang sudah membaca..

__ADS_1


__ADS_2