CERPEN

CERPEN
SURAT 2


__ADS_3

"sampai kapan kamu mau seperti ini ?"


"Betul kata Ibuk mu...sudah banyak pria yang ingin melamar mu...semuanya kau tolak"


"Ayah ibu percayalah padaku dia pasti kembali...dia sudah berjanji akan menikahi ku jika perang ini usai"


"Lihatlah diluar sana...sudah setahun sejak perang berhenti...kita saja tidak tau apakah dia masih hidup?"


"Ayah jangan bicara seperti itu...dia tidak mungkin meninggalkan aku"


"Apalagi yang kamu tunggu nak dengarkan kata orang tua mu ni...sampai kapan kau mau seperti ini"


"Udahlah buk ayah, aku capek, aku ingin tidur. biarkan aku beristirahat"


Sudah 3 tahun lamanya sejak kepergian mu. Aku rindu padamu. Kepada senyummu kepada sosok mu. Aku rindu akan semua itu. Rindu akan hari-hari yang kita habiskan bersama. Berat bagiku untuk melihat mu pergi. Padahal kita sudah merencanakan semuanya. Kita sudah tentukan hari pernikahan kita. Kupilih gaun terbaik untuk pernikahan kita, tapi semua itu sirna karna perang bodoh ini. Perang ini merenggut kau dariku. Kurelakan kau pergi dengan janji yang kita buat. Tahun pertama berat bagiku untuk tidak mengingat mu. Setiap hari aku hanya bisa menangis sambil berdoa agar kau tetap selamat. Kau selalu mengirimi ku surat. Memberitahu bahwa kau baik-baik saja. Mengungkapkan rindu mu.


Tahun kedua aku mulai bisa mengendalikan emosi ku. Walaupun terkadang berat untuk tidak mengingat mu.


Kau tetap mengirimi ku surat. Walau tidak sering, tapi cukup untuk mengobati rindu ku.


Tahun ketiga aku sudah mulai terbiasa dengan rindu. Aku harus tetap tegar.


Walaupun terkadang aku mulai meragukan janji kita. Sudah lama juga sejak terakhir kali kau mengirimi ku surat.


Kini perang usai. Tidak ada juga kabar darimu. Orang-orang yang mengikuti perang perlahan mulai kembali. Tapi, tidak dengan dirimu. Kutanya kepada mereka tentang mu. Tidak ada satupun yang tau tentang kabarmu. Perlahan-lahan aku mulai meragukan janji kita, untuk bersama. Aku saja tidak tau apakah kau masih hidup, atau mungkin telah mati karna perang ini. Tetapi, hatiku selalu berkata lain. Hatiku selalu percaya bahwa di suatu tempat disana kau masih memegang teguh janji itu.


Tok...tok..tok


Suara ketukan pintu membangunkan ku dari lamunan panjang ku. Aku segera membuka pintu.


"Ini ada surat hmmm...... Camelia apakah itu anda tidak tercantum nama pengirimnya hanya alamat dan tulisan itu"

__ADS_1


Camelia aku langsung mengambil surat itu dari tangan pak pos. Aku langsung pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku langsung membuka surat tersebut.


"Hei...


Apa kabar mu?


Apakah kau baik-baik saja?


Aku selalu rindu akan dirimu?


Wajah mu


Senyum mu yang indah itu


Tidak pernah kulupakan


Baik badai menerjang ku tak pernah lupa


Apa kau rindu padaku?


Lihat langit malam ini


Begitu indah


Rembulan terlihat semakin indah bersama dengan bintang yang bertebaran


Ku merindukan saat-saat itu


Dimana kita memandang langit di hamparan bunga yang luas itu


Jika kau rindu

__ADS_1


Lihat lah langit malam


Lihat rembulan yang indah itu


Lihat lah bintang-bintang itu


Dan ucapkan lah mantra nya


"Camelia"


Air mata mulai berjatuhan membasahi surat tersebut.


Tidak sia-sia aku terus memegang janji kita. Kau masih hidup ternyata dan kau mengirimi ku surat yang begitu indah. Aku segera mengambil secarik kertas dan mulai menulis.


Apa kabar mu?


Dimana kah dirimu?


Aku merindukan kehadiran mu


Aku rindu semua tentang dirimu


Kapan kau akan kembali?


Biarkan malam menjadi saksi akan cinta kita


Biarkan angin membawa kabar bagi kita


Aku akan selalu menunggu mu


Walau badai sekalipun

__ADS_1


__ADS_2