CERPENKU

CERPENKU
Two De


__ADS_3

"Lisa Blackpink! Woy, tungguin gue," panggil Deskara sambil berlari menyusul Delisa. Delisa pun memelankan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.


 


"Lo sih jalannya lelet banget, udah mau telat nih," ucap Delisa sambil memandang jam tangannya dan raut wajahnya cemas.


 


"Santuy, dong, Lis. Sekali-kali telat mah nggak apa-apa lah. Lagian gurunya juga ngerti kok kalau kita jalan kaki," ucap Deskara sembari merangkul Delisa yang kini wajahnya berubah merah. Entah karena apa.


 


"Sekali-kali pala lo gundul! Udah berkali-kali keles telatnya!" ujar Delisa dengan suara nyaringnya.


 


"Nah ... makanya ayo berangkat sekarang sebelum makin telat." Deskara melembutkan suaranya sambil tersenyum lalu tangannya beralih menggenggam tangan Delisa. Tak lama setelahnya, Delisa menepuk dahinya saat melihat jam tangannya, menunjukkan pukul 08:00. Sedetik mereka bertatapan kemudian berlari menuju sekolah.


 


 


***


 


Upacara bendera telah usai saat mereka berdua sampai di depan gerbang SMK Mutiara. Delisa membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan dua botol air mineral. Yang satu untuknya dan satunya diberikan kepada Deskara.


 


"Nihh, minumh," ucap Delisa dengan napas ngos-ngosan.


 


"Thanks," jawab Deskara sambil menerima botol pemberian Delisa.


 


Saat Deskara ingin meneguk airnya, "Stop! Minum tuh sambil duduk. Kebiasaan nih, santan kara," cegah Delisa.


 


Deskara hanya terkekeh lalu berjongkok dan meminum airnya. Delisa pun meminum airnya sambil berjongkok. Tanpa mereka sadari, Bu Marsya atau lebih dikenal dengan guru terkiller se-SMK Mutiara sedang berkacak pinggang memandang dua murid tersebut.


 


Cukup sabar Bu Marsya memandang mereka namun tak ada satupun dari mereka yang menyadari kehadirannya. Setelah mereka berdua menghabiskan minum dan memasukkan botol kemasan itu ke tempat sampah.


 


"Heh Tude! Kenapa kalian masih di sini?! Sudah terlambat, malah santai lagi!" ucap Bu Marsya sambil menjewer telinga mereka.


 


"Ampun Bu, sakit," ucap Delisa dengan wajah pura-pura kesakitan.


 


"Bu, nyakitin wanita itu dilarang, lho. Ntar dosa." Deskara sudah seperti menceramahi Bu Marsya.


 


"Kamu kira saya bukan wanita?!" Bu Marsya terlihat memunculkan dua tanduk di kepalanya. Hahahah bercanda.


 


"Memangnya Delisa nyakitin Ibu?" tanya Deskara dengan wajah sok polosnya. Pertanyaan tersebut jelas memancing emosi Bu Marsya.

__ADS_1


 


"Kalian ini ... cepat masuk! Hormat di depan tiang bendera sampai jam pelajaran pertama selesai!" perintah Bu Marsya. Kemudian Pak Udin, satpam sekolah segera membukakan gerbang.


 


"Siap, Bu Marsya and the bear," ucap dua murid tersebut sambil hormat kepada Bu Marsya yang kini makin naik darah. Mereka berlari terlebih dahulu di iringi tawa mereka.


 


 


***


 


Mau tak mau, Delisa dan Deskara (2 De) menuruti perintah Bu Marsya. Dan saat ini mereka tengah hormat di depan tiang bendera. Untung saja cuaca pagi ini tak sepanas omongan tetangga. Upss.


 


"Lho, Tude?! Kalian ngapain di situ?" tanya Luna, sahabat Deskara dan Delisa.


 


"Lagi nyapu lapangan! Udah tau lagi hormat pake nanya lagi, huh," jawab Delisa.


 


"Ehehe, bercanda, Lis."


 


"Eh, btw, napa lu keluar-keluar? Belajar sana," ucap Deskara.


 


 


"Kampret!" ucap 2De bersamaan.


 


"Kalo gitu mah mending gue makan di kantin," ujar Deskara sembari menurunkan tangannya yang awalnya hormat.


 


"Eh, bentar. Tapi, di kelas lagi nggak ada tugas kan?" Dari sini sudah kelihatan jika Delisa sangat anti tidak mengerjakan tugas.


 


"Nggak ada dikasih sih," jawab Luna.


 


"Sip dah, yuk, ke kantin," ajak Deskara dengan semangatnya.


 


"Ashiaaap," jawab Delisa dan Luna bersamaan. Mereka pun akhirnya menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka.


 


Sesampainya di depan pintu kantin, apakah yang terjadi?


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


Pak Misran baru saja ingin keluar dari kantin. Sementara Luna, Deskara, dan Delisa mematung di depan pintu. Bagaimana tidak? Jam pelajaran pertama di kelas mereka ialah Pak Misran. Dan mereka kepergok ingin ke kantin.


 


"Eh, Pak Misran," sapa Deskara dengan wajah seperti tertangkap basah.


 


"Iya. Kenapa kalian keluar-keluar? Cepat masuk ke kelas. Jam pelajaran saya kan ini?" tanya Pak Misran.


 


"Iya, Pak," jawab Delisa.


 


"Yaah, Pak, Bapak aja boleh makan sebelum masuk ke kelas, masa kami nggak boleh makan juga, Pak?" keluh Luna.


 


"Siapa suruh tidak makan dulu di rumah. Sudah-sudah! Cepat masuk kelas. Ini pelajaran saya hanya sebentar kok," ucap Pak Misran.


 


"Iya-iya, Pak," ucap mereka bertiga sembari berjalan menuju kelas mereka, XI TKJ 1.


 


'Sebentar dari mananya? Sebentar menurut Pak Misran tuh. Jam pelajarannya sebentar, belajarnya terasa lama. Bagi saya lama banget Pak!' batin Luna.


 


 


***


~End~


 


Jangan lupa vote, komen, dan sarannya yaa. Terima kasih sudah membaca cerita ini.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2