
Bel berdering tiga kali, menandakan waktu istirahat telah tiba. "Ada yang mau ke kantin nggak, nih?" tanya Arin pada sahabat-sahabatnya.
"Sebentar. Aku selesaikan catatanku dulu. Tinggal sedikit lagi, kok," sahut Leni.
"Yang lainnya, ada ada yang mau ke kantin nggak? Misha?" tanya Arin sekali lagi.
"Ah, iya. Mau dong," jawab Misha.
"Cepat, Len. Aku butuh asupan es leci, nih." Selu sudah tak sabar ingin meminum es kesukaannya.
"Nah, sudah selesai, yuk," ucap Leni dan langsung menggandeng sahabat-sahabatnya. Mereka enam bersahabat, yaitu Arin, Misha, Leni, Fita, Manda, dan Selu.
Sesampainya di kantin, Selu langsung maju paling depan agar cepat dilayani.
"Bu, es kayak biasanya ya, satu," ucap Selu pada ibu kantin.
"Oke," sahut ibu kantin.
"Sel, memang rasa es lecinya enak, ya?" tanya Fita penasaran.
"Kalo nggak enak ya nggak mungkin aku beli lah, Fita!"
"Iya juga sih. Hehehe."
"Ini es-nya, Selu," ucap Ibu kantin sambil memberikan es leci kepada Selu.
"Makasih, Bu. Ini uangnya."
"Aduh, ngeliat Selu beli es leci, jadi pengin," ucap Manda.
"Pengin apa, Man?" tanya Misha.
"Ya pengin beli es leci juga, Bambang," sahut Manda.
"Bambang Bambang, orangnya nggak ada salah, kok disebut-sebut," ucap Leni.
"Jadi kalian udah, nih, belinya?" tanya Selu.
"Ya udah, yuk, ke kelas," ajak Misha.
"Tapi, aku mau beli es leci dulu, deh," ucap Manda.
"Ya udah, cepat sana," sahut Fita.
Usai belanja di kantin, mereka pergi ke kelas. Karena, saat ini kantin sedang ramai dan tak ada satu pun kursi yang kosong.
"Eh, hari ini pada beli cemilan semua, ya," ucap Arin yang menyadari bahwa sahabat-sahabatnya kebanyakan membeli camilan.
"Sengaja, Rin. Nanti malah ngantuk kalo udah pelajaran Sejarah," sahut Manda.
"Yee ... kamu mah, memang tukang tidur." Arin menoyor jidat Manda.
Akhirnya mereka sampai di kelas dan mulai memakan camilan mereka.
"Eh, kalian udah dengar nggak tentang Dilah?" tanya Arin. Bau perghibahan mulai tercium, guys.
"Memangnya kenapa si Dilah?" tanya Misha penasaran.
"Kemarin dia resmi pacaran sama kakak kelas yang paling tinggi itu," jawab Arin.
"Aduh, Arin ghibah lagi. Dosa, tau. Lagi pula, itu urusannya dia, kan?" sahut Fita.
"Ehehehe, sori, khilaf," ucap Arin sambil nyengir.
"Khilaf kok, keseringan," sahut Fita.
"Selu, minta es batumu, ya? Punyaku udah habis," lanjut Fita.
"Demen banget sih, sama es batu."
"Abisnya keriuk-keriuk kayak keripik sih, Sel, hahaha," ucap Fita. Saat Fita menyendok es batu memakai sedotan, tiba-tiba ...
"Srak-srak!" (Begitu nggak sih, bunyinya? Wkwk✌). Butiran-butiran es batu dari gelas es milik Selu tumpah di atas meja. Untung saja hanya tinggal es batunya.
"Yah, tumpah, Sel ... maaf ya?" ucap Fita merasa bersalah.
"Hmm, nggak apa deh. Ada tisu nggak?" Selu menatap mejanya yang kini telah basah.
"Ada, nih." Manda menyerahkan tisunya ke Selu.
"Makasih," ucap Selu sambil menerima tisunya dan mengelap mejanya.
Karena Fita tak sengaja menumpahkan es batu Selu, alhasil ia yang membuang es batu dan gelas es tersebut.
"Sini aku yang buang, Sel," ucap Fita sembari keluar kelas.
Ketika Fita sudah membuang es batu yang tertumpah tadi, ia melihat Arji mengepel lantai di luar kelas.
"Lho, tumben rajin, Ji," ucap Fita.
"Aku kan udah rajin dari dulu, Fit," canda Arji.
"Iya deh, rajin dari dulu. Oh iya, kemana Denis? Biasanya sama-sama terus," tanya Fita.
"Hadir," sahut Denis yang baru muncul sembari memberikan es leci ke Arji.
"Nah, gitu dong. Makasih. Lain kali, jangan numpahin es leciku lagi, ya," ucap Arji.
"Iya-iya."
"Oh ... jadi tadi tuh es lecimu tumpah, makanya kamu ngepel?"
__ADS_1
"Ho-oh."
"Kirain beneran rajin." Fita menggelengkan kepalanya.
"Kring ... kring ... kring ...!" Tak terasa bel masuk berbunyi. Manda keluar kelas untuk membuang bungkus camilan miliknya dan sahabat-sahabatnya.
Pelajaran Sejarah pun di mulai. Tak sedikit murid yang terlihat mengantuk. Bahkan ada yang menutupi wajahnya dengan buku paket agar tak ketahuan sedang tidur. Siapa lagi kalau bukan Fita.
***
Jam menunjukkan pukul 12.33. Tiga menit berlalu sejak bel pulang berbunyi. Manda, Misha, dan Leni masih menunggu jemputan di gerbang, sedangkan tiga sahabatnya sudah pulang duluan.
"Aku haus, Len. Beli minum, yuk," ajak Misha.
"Sama, aku juga haus. Kamu juga mau beli kah, Man? tanya Leni.
"Nggak, kalian aja," jawab Manda.
Akhirnya Misha dan Leni beranjak menuju warung di samping sekolah. Mereka membeli es yang sama, yaitu es leci. Sepertinya mereka ketularan Selu yang tak pernah alpa minum es leci.
"Leni! Misha! Aku duluan, ya." Manda melambaikan tangannya ke arah sahabatnya itu sembari naik ke motor Abangnya. Leni dan Misha pun membalas dengan lambaian tangan sembari berjalan ke depan gerbang setelah membayar es yang di belinya.
"Bruk!"
Misha tersandung batu hingga es leci miliknya tumpah ke tanah.
"Aduh ..." ringis Misha. Leni segera membantu Misha berdiri dan mengecek apakah ada yang terluka.
"Kamu nggak kenapa-kenapa, Mis? Ada yang sakit?" tanya Leni prihatin.
"Ada, di sini yang sakit." Misha menunjuk letak jantungnya sambil memperlihatkan wajahnya seperti wajah bayi yang ingin menangis.
"Hah?" Leni tak mengerti, namun dua detik kemudian baru ia paham.
"Astaga, Misha! Udah tersandung, tapi masih mikirin es? Ck ck. Beneran nih, nggak ada yang luka?" tanya Leni.
"Hehehe, nggak ada kok," jawab Misha. "Aku nyantap punyamu, ya?"
"Kayak apa aja deh kamu. Biasanya juga langsung ambil," sahut Leni sambil menyodorkan segelas es leci.
"Huft, alhamdulillah, nggak kering lagi tenggorokanku," ucap Misha lega.
"Tin tin!" Akhirnya jemputan Misha datang juga.
"Hei, Leni," sapa Ibu Misha.
"Hei juga, Tante," balas Leni.
"Bareng aja, yuk. Kan, rumah kita searah," ajak Ibu Misha.
***
Keesokan harinya.
Usai pelajaran Penjasorkes, si Namber (enam bersahabat) bergegas ke kantin. Awalnya mereka berniat mengganti pakaian olahraga, namun rasa hareudang sudah meronta-ronta.
"Bu, es lecinya enam, ya," pinta Selu.
"Siap," sahut Ibu kantin.
Sebenarnya, hanya mereka berlima yang ingin membeli es leci, akan tetapi Fita dihantui rasa penasaran dengan es leci plus ia merasa berbeda sendiri nantinya. Jadi, ia pun memutuskan untuk membeli es leci.
Setelah mendapat es leci masing-masing, mereka menuju ke kelas. Ketika beberapa langkah lagi sampai di kelas, tiba-tiba sebuah bola terlempar mengenai gelas es milik Fita.
"Crakss!"
Untungnya Fita cepat menghindar, jadi hanya es-nya yang terlepas dari genggamannya.
"Riko!" teriak Fita. Riko pun berlari mendatangi Fita.
"Aduh ... gimana ini? Maaf ya, Fit. Aku ganti aja, ya?" ucap Riko gelisah.
"Oke, aku maafin. Nggak usah diganti, Rik."
"Nggak-nggak, pokoknya aku harus ganti." Setelah Riko mengatakan itu, ia berlari ke kantin.
'Ini kayaknya balasanku yang kemarin, deh,' batin Fita.
"Hei, kok pada diam? Ayo masuk ke kelas," ajak Fita sembari masuk ke kelas.
Di kelas.
"Hei, kalian udah ngerjakan tugas Matematika?" tanya Arji.
"Astaga! Aku lupa kerjakan!" Leni menepuk jidatnya dan langsung mengambil buku Matematikanya.
"Biasanya kamu yang paling rajin, Len. Hahaha," sindir Arji.
"Namanya juga lupa, Ji," ucap Leni yang sudah berkutat dengan tugasnya hingga ia mengabaikan es lecinya.
"Nggak usah dikerjakanlah, Len. Lagi pula, jarang diperiksa tugasnya sama Bapaknya. Kita aja nggak kerjakan, kok," hasut Arin sambil meletakkan es lecinya di dekat es leci lainnya.
"No comment," sahut Leni.
Dari kejauhan terlihat Riko sedang berlari sambil membawa segelas es leci.
__ADS_1
"Huh ... hah ... huh. Fita, nih es lecinya," ucap Riko terengah-engah setiba di kelas. Riko langsung meletakkan es lecinya berdekatan dengan es leci yang lain. Mungkin karena terburu-buru meletakkannya, es leci milik mereka hampir saja tertumpah jika tidak ditahan oleh Misha.
"Huft, hampir aja tumpah," ucap Selu lega.
"Makasih ya, Riko," ucap Fita sambil tersenyum.
"Iya, Fit. Sekali lagi aku minta maaf, ya," sahut Riko dan melenggang pergi.
"Aduh, ada yang salah lagi. Denis! Pinjam tipp-ex, dong. Lempar aja," pinta Leni.
"Nih." Denis melemparkan tipp-ex kearah tangan Leni. Namun, lemparannya meleset dan malah mengenai beberapa es leci yang awalnya tersusun di meja Leni. "Srak srash!"
"Upss. Maaf-maaf." Denis terlihat takut karena enam bersahabat itu memelototinya.
"Astaga! Bukuku basah!" jeritan Leni sambil mengibaskan bukunya.
Misha hanya melongo memandang kejadian tepat di hadapannya.
"Sebentar aku ambil pel." Arin bergegas menuju toilet, namun ...
"Bruk!"
Arin tak menyadari bahwa air es leci mereka sudah menjalar ke bawah sepatunya, alhasil ia terpeleset.
"Auh ..." ringis Arin.
'Sial! Kesialan macam apa ini?!' batin Arin kesal.
~END~
Jangan lupa vote, komen, dan sarannya yaps. Bye...
__ADS_1