CERPENKU

CERPENKU
Digantung ? (2)


__ADS_3

Saat tiba di kelas, hal pertama yang dilihat oleh Yuri adalah Naswa yang sedang memasangkan dasi milik Rendy. Hal sepele, tapi sukses membuat hati Yuri sakit.


 


"Jangan cemburu, Yuri! Masa ngelihat kayak gitu aja cemburu, sih? Mungkin Rendy nggak bisa masang dasi, makanya dia minta tolong sama Naswa," batin Yuri, matanya terus tertuju ke arah Naswa dan Rendy. Ia mengepalkan tangannya, berusaha tak cemburu. Sebenarnya sudah ke sekian kalinya ia melihat hal-hal semacam ini. Namun, ia tak bisa menghilangkan perasaannya kepada Rendy.


 


"Kalau nggak suka, mending nggak usah dilihat Yur. Daripada ntar sakit," ucap Namira sembari menepuk pelan bahu Yuri.


 


"Nggak kok. Aku nggak cemburu Nam. Lagi pula, aku bukan siapa-siapanya dia. Cuma teman sekelas." Yuri tersenyum. Namun, terkesan terpaksa.


 


"Nah, dari kata-katamu aja udah kelihatan, kalau kamu cemburu."


 


"Kamu bisa bilang nggak cemburu, tapi hati kamu nggak bisa dibohongin, Yur," sambung Namira.


 


"Iya-iya Nam, aku cemburu dikit. Ya udahlah, yuk duduk, gurunya sudah dekat tuh," ucap Yuri sembari menuju ke tempat duduknya, di depan meja Rendy.


 


"Oh iya."


 


Sedangkan Naswa, sudah selesai memasangkan dasi milik Rendy. "Makasih ya, Nas," ucap Rendy.


 


"Sama-sama, Ren," sahut Naswa.


 


"Assalamu'alaikum," ucap Bu Sinta.


 


"Wa'alaikumsalam, Bu," jawab siswa-siswi yang beragama islam.


 


Setelah memastikan bu Sinta duduk di kursi guru, ketua kelas 9A menyiapkan teman-temannya untuk berdoa.


 


"Duduk siap!" pinta Akmal, selaku ketua kelas.


 


"Sebelum belajar, marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa dimulai."


 


"Berdoa selesai."


 


"Selamat pagi, nak."


 


"Pagi Bu..."


 


"Tugas yang ibu kasih minggu lalu, silakan dikumpul," pinta Bu Sinta.


 


Beberapa anak mulai maju dan diikuti yang lainnya.


 


"Yur, sekalian juga bukuku, ya," ucap Namira sambil memberikan buku tugasnya kepada Yuri.


 


"Kumpul sendiri sana!" ucap Yuri.


 


"Aish, mager, Yur. Heheheh."


 


"Huffttt ... dasar mageran," ucap Yuri dan alhasil menerima buku tugas Namira.


 


Saat Yuri ke depan, bersamaan pula dengan Rendy.


 


"Yuri ... maaf ya," ucap Rendy kepada Yuri.


 


"Untuk apa?" Yuri menaikkan alisnya sebelah. Ia heran mengapa Rendy tiba-tiba meminta maaf. Namun, Rendy hanya menatap Yuri tepat di matanya dengan pandangan yang tak terbaca.


 


"Ekhem!" Riski sengaja berdehem karena jalannya ditutup oleh Rendy dan Yuri. Sebenarnya, jika yang lainnya lewat, bisa saja. Tetapi, karena postur tubuh Riski sedikit besar, jadi ia tak bisa lewat. Tiba-tiba Yuri tersadar telah menutupi jalan, akhirnya ia langsung maju mengumpulkan bukunya.


 


"Ada yang tidak mengerjakan tugas?" tanya Bu Sinta.


 


"Nggak ada, Bu," sahut murid-murid serentak.

__ADS_1


 


"Bagus-"


 


"Hadir, Bu," ucap Bagus.


 


"Saya tidak memanggil kamu, Gus."


 


"Hehehe, iya-iya bu.


 


"Baik, kita lanjut materi, ya."


 


 


***


 


"Kriiing ...!" Pelajaran kedua pun berakhir. Dilanjut pelajaran ketiga.


 


"Sekian untuk hari ini, sampai ketemu di minggu depan. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


 


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


 


"Oh iya, sekarang pelajarannya siapa?" tanya Bu Sinta.


 


"Pelajarannya Pak Dito, Bu," jawab Yuri.


 


"Ooh. Pak Dito tidak ada. Kalian di kelas saja, belajar ya!"


 


"Oke, Bu."


 


"Yess, Pak Ditonya nggak ada," ucap Faiz sambil berdiri diatas kursinya dan melambaikan tangannya. Untung saja Bu Sinta sudah keluar kelas. Kalau belum keluar, bisa bisa di suruh push up deh.


 


"Alhamdulillah, jamkos," ucap Yuri.


 


 


"Mendingan bobo ganteng," ucap Joni yang bersiap untuk tidur dengan beralaskan tas miliknya.


 


"Hedeh, tidur aja kerjaanmu. Belajar dong, biar pintar," celetuk Akmal.


 


"Belajar mulu dari tadi, ntar aku makin botak."


 


"Yaelah, kamu botak bukan gara-gara belajar yaa."


 


"Udah deh, Mal, orang mau tidur diajak ngobrol mulu." Joni langsung menutup wajahnya dengan jaket dan bersiap untuk bobo ganteng (katanya).


 


 


Anak-anak yang lain mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan Yuri membaca novel yang ia bawa dari rumah. Ditengah-tengah Yuri membaca novelnya, ia merasa ada yang memperhatikannya. Dan benar saja, Rendy berada di hadapannya. Tak lama, Rendy mulai menyanyikan lagu Armada band sambil tersenyum menatap Yuri.


 


 


🎶🎶


 


Salahkah bila aku mencintaimu


 


Dan berharap engkau kan jadi milikku


 


Walau banyak yang bilang kau tak pantas untukku


 


Sayang ku mohon jangan tolak cintaku


 


Jiwa ragaku ini hanya untukmu


 

__ADS_1


Aku rela berkorban demi cintamu itu


 


Biarlah orang berkata apa


 


Manusia tiada yang sempurna


 


Ku terima kau apa adanya


 


Yang penting aku bahagia


 


"Gilaaa ... makin baper kan aku," batin Yuri.


 


'Bagus banget lagi suaranya. Tuh mata bisa nggak sih, ngelihat ke lain. Ntar jantungku loncat gimana? Eh bentar-bentar, kan aku lagi marah sama dia,' batinnya.


 


Tak sadar Yuri sampai terhanyut dalam nyanyian Rendy. Ditambah suaranya memang sangat cocok jika menyanyikan lagu itu.


 


"Asik ... dinyanyikan sama Rendy, lah," ucap Faiz.


 


"Apaan sih Faiz nih," sahut Yuri.


 


"Tembak sudah, Ren ..." ucap Riski.


 


"Pokoknya PJ ku (Pajak Jadian) jangan lupa lah, kalau nanti kalian jadian," ucap Namira.


 


"Kenapa kalian nggak jadian aja, sih? Toh, udah saling suka. Serasi pula." Faiz tak habis pikir dengan jalan pikir Rendy.


 


"Ngapain pacaran? Mending langsung di halalkan." Rendy menaik-naikkan alisnya.


 


"Baru kelas 9, weh!" ucap Faiz.


 


"Kan bukan sekarang, pais pisang!"


 


'Jadi, sebenarnya dia udah tau perasaanku? Dan dia juga suka sama aku?' gumam Yuri.


 


'Tau ah, bikin pusing deh kamu, Ren!' lanjut Yuri.


 


 


 


 


 


 


...End...


 


 


 


 


 


 


Terimakasih karena masih stay sama ceritaku. Jangan lupa vote dan komennya ya semuanya...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2