
Seminggu sebelum perpisahan, murid-murid kelas 12 IPS 2 menghabiskan waktunya dengan berkumpul bersama. Saat ini mereka sedang membuat lingkaran dan bercerita tentang film, cita-cita, cinta, hobi, dan sebagainya.
"Guys!" ucap Rina.
"Oi," sahut Jidan.
"Bentar lagi kan perpisahan, gimana kalau kita makan-makan di rumah gue?"
Semua pandangan tertuju pada Rina.
"Ini acaranya bukan karena ngerayain ulang tahun lo kan, Rin?" Berhubung kemarin adalah ulang tahun Rina, makanya Shalu bertanya.
"Ya bukan, lah ..." jawab Rina tersipu.
"Oke-oke. Jadi kapan nih acaranya?" tanya Lani.
"Hari ini aja, habis pulang sekolah."
"Makanannya apa nih?" tanya Fahri.
"Sate."
"Uhh mantap," ucap Fina.
"Banyak aja lah satenya?" Ciwa memang laju kalau soal makanan, tetapi walaupun ia sudah makan banyak, tetap saja tak gemuk-gemuk.
"Banyak dong, asalkan kalian bantu juga, ya!"
"Siap, bule' sate," sahut Agung.
"Kasih tau yang lainnya ya suruh datang."
"Iya, Rin. Gampang aja itu," ucap Jidan.
***
"Kriiing ...!"
Sebenarnya ini bel untuk pergantian pelajaran, namun menjelang perpisahan, jadi siswa-siswi dibiarkan untuk bersenang-senang. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh kelas 12 IPS 2. Tetapi, bukannya mereka merasa senang. Melainkan merasa sedih, sebab tinggal menunggu hari saja mereka sudah berpisah.
"Fin, Sal, Ci, ke kantin yuk. Mulai laper, nih," ajak Lani dengan wajah memelas.
"Ayo, dah. Gue juga mulai laper," sahut Fina.
"Sip. Meluncur," ucap Shalu dan Ciwa bersamaan.
"Lo mau makan apa, Lan?" tanya Shalu saat mereka sudah sampai di kantin.
"Makan apa, ya? Makan apa enaknya, Fin?" tanya Lani.
"Gue sih pengen makan mie ... setan!"
__ADS_1
"Ngomong setannya jangan ke gue juga dong, Fin!" ucap Ciwa berlagak marah.
"Hahaha, sori deh."
"Tapi kagak ada mie setan di kantin, sih ..." ucap Lani.
"Pake gofood, lah...," sahut Ciwa.
"Oh iya! Mana hp lo ci, ada aplikasinya, kan?"
"Ada dong."
"Sekalian pesanin aja, 4 ya!"
"Iyaaa."
***
15 menit kemudian. Pak Anto, satpam sekolah memberitahu Ciwa bahwa ada pesanan yang datang atas nama Ciwa. Lalu, Ciwa segera menghampiri kurir itu dan membayarnya. Setelah Fina, Lani, dan Shalu mendengar perkataan pak Anto, mereka pun menyusul Ciwa.
"Yess, akhirnya datang juga," ucap Fina dan langsung mengambil makanannya, di ikuti dengan yang lainnya. Ketika mereka tengah menikmati makanannya, Rina datang menghampiri Shalu.
"Wih ... makan nggak ngajak-ngajak."
"Yah, habisnya lo nggak muncul dari tadi."
"Iya, makan dah, berdua aja kita."
"Asik, ehehe."
"Oh iya, Sal, nanti lo datang kan ke rumah gue?" tanya Rina.
"Emmm, nggak tau, Rin. Sama siapa juga gue kesana," jawab Shalu.
"Astaga, Sal, ngapain bingung. Sama gue aja," sahut Ciwa.
"Oh, tadi lo bawa motor?"
"Iya Sal, mumpung lagi nggak di pake sama kakak gue."
Terlihat Pak Anto berjalan menuju lobby sambil memperhatikan jam dinding. Jika sudah seperti itu, pasti Pak Anto ingin membunyikan bel.
"Kring ... Kriing ... Kriiing ...!" Bel pulang akhirnya berbunyi. Untung saja Rina, Ciwa, Shalu, Fina, dan Lani telah menghabiskan makanannya. Seluruh murid berhamburan menuju tempat parkir. Karena siswa kelas 12 IPS 2 tidak suka berdesakan, alhasil mereka menunggu parkiran hingga tak terlalu ramai.
"Arby! Gue boleh minta tolong?" tanya Ciwa.
"Minta tolong apa?" jawab Arby.
"Tolong keluarin motor gue, ya."
Arby pun pergi ke tempat parkiran dan mengeluarkan motor Ciwa.
__ADS_1
"Thanks ya, Bi."
"Sama-sama, Ci."
"Shalu, Ayo naik. Rina! Lo di depan ya, ntar kita ngikutin," ucap Ciwa.
"Iya, Ci," sahut Rina.
"Ini yang lainnya nggak ada yang mau ganti baju dulu?" tanya Farish.
"Ngapain ganti baju, besok kan nggak di pake lagi," sahut Ucup.
"Ya udah, ayo berangkat!" ajak Agung.
"Ayo...," sahut yang lainnya.
Akhirnya mereka berangkat ke rumah Rina dengan berboncengan. Tanpa mengganti pakaian seragam terlebih dahulu. Shalu dibonceng oleh Ciwa, Lani dengan Fina, Putri dengan Rina, Arby dengan Rido, Lindi dengan Agung, Vera dengan Elisa, Likas dengan Fahri, Ucup dengan Farish, Rino dengan Jidan, dan terakhir Titam dengam Erika.
Lalu, sisanya kemana? Sisanya ingin malam mingguan katanya. Padahal acara makan-makannya tak sampai malam. Sudahlah, bilang saja sedang mager.
Tak lama kemudian, akhirnya sampai juga di rumah Rina. Mereka pun turun dari motor.
"Waw. Ada es dawet lagi. Beli, ah," ucap Ciwa. Disaat cuaca yang panas terik begini mah enaknya minum yang dingin-dingin. Kebetulan ada penjual es dawet sedang mangkal di pinggir jalan dekat rumah Rina.
"Jadi pengen beli juga, deh," ucap Shalu, lalu mendatangi penjual es dawet itu. Setelah membayar es dawet, ia dan yang lainnya pun beranjak masuk ke rumah Rina. Namun, melihat Rina pergi keluar akhirnya mereka tak jadi masuk.
"Lho, mau kemana lagi, Rin?" tanya Likas saat melihat Rina di bonceng oleh Erika.
"Mau ambil arang."
"Ooh gitu ..." Erika pun pergi bersama Erika.
Sambil menunggu Rina beserta arangnya, anak lainnya memilih untuk mencari tempat yang bagus untuk berfoto.
"Tit, fotoin gue di sini, ya," pinta Putri dan menyerahkan ponselnya ke Titam.
"Iya-iya, berpose sudah di situ."
Jangan lupa vote, komen dan sarannya yaa. Jika ada typo atau kekurangan dalam cerita ini, mohon dimaafkan:)
__ADS_1