
"Bagi yang tidak mempunyai buku paket, silakan gabung dengan temannya yang punya," ucap Bu Dira.
Wajar saja sebagian yang memiliki buku paket Bahasa Indonesia, karena stoknya memang terbatas. Apalagi kelas 9 ada 3 kelas. Serentak murid kelas 9A mulai berebutan tempat duduk untuk berbagi buku paket. Sisa Rendy dan Faiz yang belum mendapatkan teman.
"Ris, kamu punya buku paket, kan? Aku sama kamu, ya?" pinta Rendy.
"Iya, aku punya, tapi aku sama Faiz," sahut Riski.
Seketika Faiz menjulurkan lidahnya ke arah Rendy, lalu tertawa.
"Oke, mau nggak mau aku sama Yuri," gumam Rendy.
"Yuri, aku boleh gabung sama kamu gak?"
"Hm? Iya, boleh," jawab Yuri dan langsung bergeser sedikit.
'Ya ampun ... jantungku nggak bisa diajak kompromi, ya? Maka nih anak di sampingku lagi,' gumam Yuri sambil menatap buku paket di depannya, menyembunyikan wajahnya yang kini mulai merona.
"Baik. Semuanya sudah bergabung kan?"
"Sudah, Bu," jawab seluruh murid di kelas.
"Oke, sekarang buka buku paket kalian halaman 57," pinta Bu Dira.
"Silakan dibaca-baca dulu materinya. Jika ada yang tidak dipahami, bisa ditanyakan ke saya."
"Baik, Bu ..."
__ADS_1
Keadaan kelas pun menjadi hening, tak seperti biasanya. Mungkin mereka ingin serius belajar kali ini. Baguslah kalau begitu.
***
Tak terasa jam menunjukkan pukul 09:29. Satu menit lagi bel istirahat akan berbunyi. Tanpa disadari oleh Bu Dira, sebagian siswa memandang jam tangannya, menunggu satu menit yang sangat diharapkan. "Kring... Kriing... Kriiing...!" Terdengar sorakan 'yess' dari beberapa kelas. Termasuk kelas 9A. Bu Dira hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan muridnya.
"Tugasnya jangan lupa dikerjakan, ya!" Bu Dira mengingatkan.
"Siap, Bu," jawab seisi kelas serentak sembari memasukkan peralatan belajarnya kedalam tas. Sebelumnya mereka tak pernah memasukkannya kedalam tas, hanya menaruh di atas meja. Namun setelah insiden banyak yang kehilangan pulpen, pensil, atau pengaris, akhirnya mereka tak menyimpannya lagi di meja.
"Yuri, ke kantin yuk," ajak Namira.
Saat Yuri berjalan ke kantin, ia merasa ada yang mengelus puncak kepalanya sejenak dan bersamaan juga ia merasa seperti tersengat listrik. Ketika ia menoleh ke kanan, ternyata itu ulah Rendy.
"Gas terus Ren, gas," ucap Faiz sambil tertawa.
"Ckckck Ren ... Ren," ucap Riski menggelengkan kepala. Yuri mulai kesal berada di situasi ini, dan akhirnya ia cepat-cepat menarik lengan Namira untuk lekas pergi ke kantin.
"Wisss Yuri lah ... ihiyy." Namira malah ikut menggoda Yuri saat sampai di kantin.
"Ish Namira ..." ucap Yuri sembari menyumpal mulut Namira dengan sepotong roti O yang baru ia beli.
"Thanks, ya rotinya, heheheh."
__ADS_1
"Ya, sama-sama. Awas aja kalau masih kayak tadi, ya," ucap Yuri dengan sengaja memelototkan matanya ke arah Namira.
"Nggak mau, ah, biar nanti disuapin roti lagi."
"Pokoknya nggak disuapin roti lagi! Nanti langsung aku panggilkan Arden aja, baru bilang 'Namira suka sama kamu,' wlee." Ucapan Yuri sukses membuat Namira ngambek.
"Sudahlah Nam, bercanda ..." Yuri menampakkan senyum manisnya.
"Iya-iya ... mana bisa juga aku betah marahan sama kamu sayuri saus tiram, hahahah."
"Kring ... Kriing ... Kriiing ...!" Bel masuk akhirnya berbunyi. Bertepatan juga makanan Yuri dan Namira telah habis. Mereka pun kembali ke kelas. Saat tiba di kelas, hal pertama yang dilihat oleh Yuri adalah...
Jangan lupa vote, komen, dan sarannya dong kak. Mohon maaf jika terdapat typo.
__ADS_1