Change To Beauty

Change To Beauty
Change XX


__ADS_3

...***...


Glenda melangkah keluar dari dalam mobil bersama dengan Malvin yang kemudian menghampiri tempatnya berdiri saat ini, sementara itu; Dallen melajukan mesin mobilnya menuju tempat biasa ia memarkirkan mobilnya. Glenda terdiam memandangi bangunan megah dihadapannya, ia berdecak kagum saat melihat bangunan rumah Malvin yang tampak begitu indah dengan gaya arsitektur yang luar biasa, setiap detailnya membuat rumah itu tampak begitu mewah seperti sebuah istana, apalagi dipadukan dengan warna keemasan. Bahkan kalau dibandingkan dengan rumahnya, rumah Malvin tampak lebih mewah walaupun ukurannya sama.


Malvin melangkah menaiki tangga untuk bisa tiba di teras depan rumahnya, ia berhenti sejenak saat mendapati Glenda yang masih diam mengangumi rumahnya. "Apa yang kau lakukan di sana? Kau tidak ikut?" Tuturnya membuat Glenda tersadar dari lamunannya, ia segera berjalan mengikuti Malvin dari arah belakang; menaiki tangga sampai tiba di teras depan. Di sebelah samping kanannya, Glenda dapat melihat sebuah meja bundar kecil dengan dua kursi yang terbuat dari besi. Meja itu mengarah pada pemandangan danau yang begitu indah di sebelah rumahnya, di ujung danau itu; Glenda dapat melihat indahnya Dreamtopia dihadapannya.


__ADS_1


"Indah," gumamnya seraya tersenyum memandang ke arah sana. Malvin hanya diam dan memperhatikan Glenda sebelum kemudian menghampiri pintu dan membukanya. Glenda ikut melangkah masuk melewati pintu, terus melangkah hingga menemukan ruang tamu diseberang kanan; di sisi ruangan itu terdapat beranda yang menghadap ke arah danau yang tadi dilihatnya, Glenda menoleh ke arah lain dan mendapati ruangan yang lebih luas di sana dengan sofa yang lebih nyaman dan televisi super besar di sudut ruangannya, ada juga beberapa hiasan dinding seperti lukisan dengan bingkai warna keemasan dan sebuah lemari pendek dengan hiasan yang tampak mewah diatasnya, di sisi lain ruangan yang lebih luas itu terdapat ruangan lain yang tampak seperti ruang makan, dapur, dan kamar mandi.


Glenda mengalihkan pandangannya ke arah lain, ada dua tangga dihadapannya yang mengarah ke sisi yang berbeda yang satu ke atas dan yang satu ke bawah, di samping tangga yang menuju bawah terdapat lift kecil di sana. "Rumahnya benar-benar indah, ditambah lagi… rapi," inner-nya seraya terus mengedarkan pandangannya sementara Malvin berhenti ditempatnya saat ini. Pria itu berbalik memandanginya.


"Kau bilang, kau akan bekerja di sini 'kan?" Ujarnya. Glenda menganggukkan kepala sembari menatapnya. "Aku akan menunjukkan kamarmu, setelah itu Dallen akan menjelaskan semua tugas yang harus kau kerjakan di rumah ini." Malvin melangkah memimpin di depan, berjalan menuju arah ruang televisi; melewati ruang tengah. Ia lalu berhenti di depan satu pintu yang ada di sana. Malvin membuka pintu tersebut menampakkan sebuah ruang tidur yang begitu nyaman, walaupun tidak terlalu besar tapi ruangannya cukup nyaman. "Ini ruangan mu," tuturnya.


"Ternyata walaupun tidak ada orang selain Malvin di rumah ini, rumahnya tetap bersih dan terawat," gumam Glenda pelan. Tidak lama Dallen mengetuk pintu kamarnya yang masih terbuka, Glenda menoleh ke arahnya dan mendapati pria itu tengah berdiri di ambang pintu kamarnya. "Aku akan menjelaskan semua tugasmu," kata Dallen. Glenda berjalan menghampirinya dan mulai mengikuti kemana arah Dallen mengajaknya pergi, pria itu menjelaskan semua hal mengenai pekerjaan yang harus ia kerjakan, mulai dari jangan sampai ada setitik debu pun di rumah karena Malvin sangat membencinya dan teliti kelewat batas, lalu jangan sampai telat membangunkan Malvin saat hendak pergi kerja, jangan mengganggunya saat bekerja dan lain sebagainya. Dallen mengajaknya berkeliling dari lantai tiga, lantai dimana ruang kerja Malvin, kamar, hingga ruangan utama pribadi miliknya yang lain berada, berlanjut ke lantai dua dimana ruang tengah, dapur serta ruang tamu berada, dan ke lantai pertama yang letaknya berada di lantai bawah; di lantai pertama tidak terlalu banyak hal yang harus Glenda lakukan karena di lantai bawah itu hanya ada kolam renang dalam ruangan serta sebuah tempat minum teh kecil saja yang letaknya di luar ruangan, berlanjut ke taman yang semula di lihatnya; taman yang menghadap ke arah danau, lalu naik ke taman yang berada di atas hingga ke halaman depan, garasi dan lain sebagainya.

__ADS_1


Glenda menyimak dengan seksama setiap penjelasan dari Dallen yang menjelaskan secara rinci dan mendetail. Setelah mendengar penjelasan dari Dallen; menurut Glenda bukankah hal yang sulit baginya untuk mengurus rumah Malvin, pasalnya ia juga sudah terbiasa mengurus rumah miliknya yang sama besarnya seperti milik Malvin. "Dan yang paling penting yang harus aku sampaikan adalah, tidak ada yang betah untuk bekerja di sini. Karena tuan yang sangat teliti dan sangat sulit untuk mengambil hatinya, jadi tidak heran banyak sekali orang yang tidak betah bekerja di sini. Orang terakhir yang bekerja di sini, hanya bertahan sekitar dua Minggu." Jelas Dallen. Glenda hanya mengangguk-angguk menyimak penjelasannya. "Tenang saja, aku akan bertahan lebih lama dibandingkan semua pegawai yang lain. Dan aku pastikan, aku akan bisa bertahan mengerjakan semua ini," ujar Glenda penuh keyakinan. "Sepertinya kau begitu percaya diri." Dallen menatapnya dengan raut wajah bingung.


"Aku akan melakukan semuanya semampuku, lagipula tampaknya ini bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan." Glenda penuh percaya diri. "Pekerjaan sebanyak tadi kau bilang bukan hal yang sulit? Apakah ada yang salah denganmu?" Dallen tidak habis pikir.


"Ini hanya pekerjaan rumah sehari-hari, jadi apa susahnya. Omong-omong terima kasih karena sudah menjelaskan semua pekerjaan yang harus aku lakukan, selanjutnya biar aku yang urus. Aku akan bekerja keras." Glenda tersenyum, ia lantas beranjak pergi dari tempatnya berada saat ini meninggalkan Dallen yang masih diam ditempatnya seraya memandangi Glenda yang kini melangkah masuk ke dalam rumah. "Aku tidak tahu bagaimana cara berpikirnya, padahal begitu banyak pekerjaan yang harus ia lakukan di rumah ini, tapi kenapa dia berpikir semua pekerjaan ini adalah pekerjaan yang mudah?" Dallen memonolog; ia menaikkan sebelah aslinya bingung. Tidak lama, Dallen lantas beranjak pergi dari tempatnya berada sekarang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2