Change To Beauty

Change To Beauty
Change XXIV


__ADS_3

***


Austin menoleh ke arah Glenda yang kini berdiri tak bersua diambang pintu kamarnya seraya menatapnya yang tengah menjamah tubuh Anastasya yang berada tepat dibawahnya, wanita itu memejamkan kedua matanya sembari terus mengerang seiring dengan ritme Austin yang semakin cepat. Pria itu kembali fokus pada Anastasya, semakin mempercepat geraknya hingga pelepasannya tiba. "Ngh…" Anastasya mencapai kepuasan. Austin melepaskan diri, ia melangkah turun dari ranjang dalam keadaan tanpa busana, pria itu kemudian meraih kimono mandi miliknya yang tergeletak di atas kursi meja kerjanya. Ia berjalan menghampiri Glenda dengan santainya, bahkan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. "Kau datang, sayang?" Ucap Austin yang kini berdiri di depan Glenda dengan tangannya sibuk mengikat tali kimononya, menutupi bagian bawahnya yang masih sedikit tegang.


PLAKKK

__ADS_1


Glenda menamparnya keras, wajahnya sudah berlinang air mata sejak ia melihat apa yang baru saja terjadi tepat dihadapannya. Dan tanpa malunya pria itu berbicara santai seakan tak memiliki dosa sama sekali. Austin sedikit meringis, ia memegangi pipinya yang terasa panas bercampur perih akibat tamparan Glenda. Sudut bibir Austin sampai mengeluarkan darah saking kencangnya Glenda menamparnya. "A-apa yang kau lakukan dengannya…?" Glenda berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak, matanya melirik pada Anastasya yang terbaring di atas ranjang dalam keadaan penuh keringat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh polosnya. Wanita itu terkulai dalam keadaan terpejam, napasnya juga masih tampak tak beraturan. Austin menoleh ke arah yang dilihat Glenda.


"Memangnya kau tidak bisa melihat apa yang baru saja kami lakukan? Bukankah kau melihatnya dengan sangat jelas?" Ujarnya santai. Glenda mendelik ke arahnya, ia benar-benar tidak percaya Austin bisa dengan santainya menanggapi setiap kalimat yang ia lontarkan. "Aku baru saja bercinta dengannya," bisik Austin yang membuat Glenda tertohok dibuatnya.


"Ja-jadi… selama ini kalian selingkuh di belakangku…?" Dada Glenda benar-benar terasa sesak, air mata terus berjatuhan membasahi wajah besarnya.

__ADS_1


"Anastasya, kita berteman sudah sangat lama… tapi kau… beraninya sekarang kau merebut tunanganku! Aku akan membuatmu menyesal!" Glenda hendak masuk dan menyerang Anastasya, tapi Austin lebih dulu menahannya dan mendorong Glenda hingga tersungkur jatuh dilantai, benturan keras sampai membuat tempatnya berpijak itu bergetar. Glenda meringis kesakitan, ia mendongak menatap tajam Austin dihadapannya.


"Tidak akan aku biarkan kau menyentuh Anastasya sedikitpun, apalagi untuk menyakitinya." Austin menekan kalimatnya. Glenda tertatih, ia berdiri di depan Austin. Glenda mengatur napasnya agar lebih tenang, ia mengusap air mata yang mengalir membasahi pipinya. "Ba-baiklah… aku tidak akan menyakitinya, asalkan kau mau memilih… kau tinggalkan dia dan terus bersamaku, atau kau pilih dia dan kehilangan semuanya?" Glenda sudah tidak tahan lagi. Austin yang mendengarnya terkekeh pelan, ia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Bahkan orang bodoh pun tahu."

__ADS_1


***


__ADS_2