Change To Beauty

Change To Beauty
Change XXIII


__ADS_3

...***...


"Kau kenapa?" Tanya Malvin membuat Glenda seketika tersadar dari lamunannya. Glenda mendongak beradu pandang dengan Malvin dihadapannya, "tidak. Aku tidak apa-apa, aku hanya baru tahu kalau makanannya ternyata seenak ini," gumamnya seraya tersenyum. Malvin hanya mengangguk-angguk pelan lalu kembali pada makanannya, begitu pun dengan Glenda yang kini menikmati makanannya dengan sangat lahap.



...*...


"Selamat pagi." Sapa Dallen pada Glenda yang berdiri di depan pintu masuk. "Selamat pagi juga untukmu." Sahut Glenda seraya tersenyum simpul. "Bagaimana hari bekerja pertamamu? Apakah tuan banyak menyusahkanmu?" Dallen sedikit berbisik agar tuannya itu tidak marah, walaupun faktanya Malvin masih berada di dalam rumahnya untuk mempersiapkan diri. "Tidak juga, walaupun aku sempat dimarahi beberapa kali. Tapi aku bisa menyelesaikan semuanya sesuai dengan permintaan tuan." Jawab Glenda.


"Benarkah?" Glenda menganggukkan kepalanya, "kerja bagus kalau begitu." Dallen menunjukkan dua jempolnya. Glenda hanya tersenyum menanggapinya. Tak lama Malvin melangkah keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang sudah sangat rapi dan tas kerja yang sudah berada dalam genggamannya. "Ayo berangkat," ujarnya membuat fokus keduanya beralih.


"Baik, tuan." Dallen mengangguk, ia lalu beralih pandang sejenak pada Glenda. "Lain kali kita lanjutkan pembicaraan kita." Tuturnya, Glenda menganggukkan kepalanya. Dallen lantas beranjak pergi dari tempatnya berada saat ini, melangkah menghampiri mobil yang sejak tadi terparkir di sana. Malvin beralih pandang pada Glenda, "ingat ucapanmu! Jangan pergi kemana-mana tanpa seizin ku. Kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa hubungi aku dengan ponsel yang aku berikan. Di sana ada nomorku. Jangan pergi sendiri, kau tidak tahu jalanan di sini. Jadi kalau ada apa-apa, hubungi aku dan jangan menyusahkan aku dengan pergi sendiri keluar tanpa kabar!" Malvin menekankan.

__ADS_1


"Baik tuan." Glenda menganggukkan kepalanya. "Aku akan pulang malam, jadi siapkan makanannya sebelum aku pulang. Aku akan pulang sekitar jam delapan, dan kau harus menghidangkan semuanya tepat waktu." Malvin melirik pada jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.


"Aku mengerti." Kata Glenda. Malvin lalu beranjak pergi dari sana dan melangkah menuruni tangga, menghampiri Dallen yang sejak tadi menunggunya di depan pintu mobil. "Hati-hati di jalan tuan, Dallen!" Teriak Glenda seraya melambaikan tangannya, wajahnya menampakkan senyuman. Malvin hanya menatap tanpa membalas ucapannya, ia lalu masuk dan duduk di jok belakang. Dallen balas melambaikan tangan pada Glenda seraya tersenyum, tak lama setelah menutup pintu mobil; ia lalu melangkah memasuki mobil lalu duduk di jok pengemudi.


Malvin terdiam sejenak melihat Glenda lewat jendela mobilnya. Tak lama ia beralih pada Dallen di jok belakang. "Siang nanti pergilah ke gym dan buatkan kartu membership untuknya." Titahnya pada Dallen. "Ya tuan? Siapa? Maksud anda untuk Glenda?" Dallen berusaha memperjelas maksud dari Malvin. "Hm…" sahutnya. "Tapi… ada apa memangnya tuan?" Dallen menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Kau tidak perlu tahu, ikuti saja perintahku!"


"B-baiklah tuan…" gumam Dallen. Malvin lalu memerintahkan Dallen untuk melajukan mobilnya, sejurus kemudian mobil yang mereka tumpangi bergerak pergi dari tempatnya berada saat ini.


...*...


"Tamu? Siapa?" Tanya Dallen. "Salah satu kolega kami, beliau ingin mendiskusikan mengenai projects lanjutan yang akan mereka kerjakan." Jelas Melody, Dallen mengangguk-angguk menanggapi ucapannya.

__ADS_1


"Apakah sudah lama?"


"Sudah sejak tadi, dan tampaknya beliau masih berbincang." Katanya. Lampu telpon di meja kerjanya menyala, membuat Melody beralih pandang padanya. "Maaf, pak direktur memanggil saya. Saya harus masuk," ujarnya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu di sini."


"Iya. Kalau begitu saya permisi." Melody beranjak masuk ke dalam ruangan Malvin, sementara Dallen melangkah menuju sofa yang ada untuk menunggu mereka selesai melakukan pertemuan. Tak lama menunggu, akhirnya beberapa orang pria keluar dari dalam ruangan Malvin bersama dengan Melody yang hendak mengantarkan mereka hingga ke depan. Setelah benar-benar pergi, Dallen lalu melangkah masuk ke dalam ruangan Malvin. Pria itu kini seorang diri di dalam sana tengah sibuk dengan pekerjaannya yang masih belum selesai.


"Tuan, aku sudah menyelesaikan tugas yang anda perintahkan," ujarnya sambil menghampiri Malvin lalu menyodorkan kartu membership gym di tangannya pada Malvin. Ia menaruhnya di atas meja kerjanya. "Baiklah, terima kasih," ujarnya. "Kalau begitu saya permisi." Dallen membungkuk sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Malvin seorang diri dalam ruangannya.


...*...


Pukul delapan malam tepat, Glenda baru menyelesaikan semua tugas memasaknya dan ia sudah menghidangkan semuanya di atas meja makan yang ada di ruang makan. "Selesai," gumamnya seraya tersenyum, ia lalu melepaskan apron yang terpasang di tubuhnya lalu menaruh kembali benda tersebut ke tempatnya semula. "Sekarang aku hanya tinggal menunggu tuan pulang," gumamnya. Glenda sudah selesai melakukan tugas rumahnya yang lain, mulai dari mencuci, menyapu, mengepel, dan lain sebagainya. Ia juga sudah mandi dan berganti pakaian, sekarang ia hanya perlu menunggu Malvin kembali dari kantor. Suara mesin mobil yang didengarnya spontan membuat perhatian Glenda tersita. Ia bergegas melangkah menuju pintu masuk untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"Selamat datang, tuan." Sapa Glenda sembari membuka pintu masuk, Malvin melangkah masuk dengan raut wajah yang sama datarnya seperti tadi pagi. Ia melangkah tanpa menghiraukan perkataan Glenda. Wanita itu menutup pintu masuk saat melihat Dallen yang langsung pergi setelah mengantarkan Malvin pulang. Glenda segera berlari mengejar tuannya, membawakan tas kerja dan jasnya lalu menaruhnya di kursi yang ada di ruang makan. Malvin terduduk di salah satu kursi, melipat kedua lengan kemeja panjangnya hingga siku lalu melonggarkan sedikit dasi yang mengikat lehernya. "Sepertinya yang tuan minta, saya sudah memasak semuanya tepat waktu," ucapnya seraya tersenyum. Malvin terdiam sejenak memandangi setiap makanan yang tersaji dihadapannya, semuanya masih tampak hangat. Kepulan asap dapat dilihatnya.


...***...


__ADS_2